Radiasi Menara Seluler di Padukuhan Jangkang Dikaji

IMG_0057Sleman – Diera keterbukaan akan akses dan perolehan informasi memberikan kemudahan tersendiri dalam pembangunan masyarakat. Koordinasi serta pertukaran informasi semakin mudah dilakukan dengan keberadan telepon seluler. Kebutuhan masyarakat akan penggunaan telepon seluler sudah tidak dapat dipungkiri lagi, bahkan bagi sebagian orang kebutuhan terhadap penggunaan telepon seluler telah sampai pada tahap ketergantungan.

Hal tersebut berimplikasi terhadap penyebaran jaringan seluler diberbagai wilayah oleh para provider seluler.  Disisi yang berbeda keberadaan serta penggunaan seluler menibulkan kekhawatiran tersendiri bagi sebagian kalangan utamanya bagi masyarakat yang tinggal disekitar menara seluler.

“Kekhawatiran yang sering timbul adalah terkait dampak negatif radiasi yang mungkin ditimbulkan bagi masyarakat sekitar menara. Untuk itu, keberadaan dan pembangunan menara telekomunikasi tentu harus merujuk pada kebijakan dan tata aturan yang berlaku sehingga keberadaanya secara menyeluruh dapat berdampak positif bagi kehidupan masyarakat,” kata Drs Iswoyo Hadiwarno, Penjabat Sekda Sleman disela-sela membuka acara presentasi kajian radiasi menara seluler di padukuhan Jangkang Widodomartani Ngemplak Sleman di Aula Bappeda Sleman, Selasa (20/9).

Disampaikan Iswoyo bahwa dalam upaya mewujudkan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Sleman sendiri telah menetapkan kebijakan di bidang telekomunikasi, salah satu kebijakan di bidang telekomunikasi yang ditempuh adalah pengaturan dalam hal pembangunan menara telekomunikasi.

Guna mengatur dan memberikan kepastian hukum bagi pembangunan menara telekomunikasi dan retribusi izin pembangunan menara telekomunikasi seluler di wilayah Sleman, Pemkab Sleman menetapkan beberapa regulasi diantaranya melalui penetapan Perda No. 7 Tahun 2015 tentang Pengendalian Menara Telekomunikasi.

“Kebijakan ini ditetapkan sebagai upaya dalam mengendalikan pendirian menara telekomunikasi sehingga pembangunannya memenuhi aspek tata ruang, aspek keamanan dan aspek kepentingan umum,” kata Iswoyo.

Selain itu Pemkab Sleman juga telah menerbitkan Perda No. 4 Tahun 2012 tentang Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi serta Perbup No 9 Tahun 2005 tentang Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi Seluler.

Berbagai regulasi ini juga dimaksudkan sebagai upaya perlindungan hukum bagi hak-hak masyarakat berkaitan dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan menara. Namun demikian lanjut Iswoyo, berbagai upaya dalam pengelolaan menara telekomunikasi ternyata masih menyisakan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat sekitar.

“Untuk itu, saya berharap paparan ini mampu menjawab kekhawatiran yang ada didasarkan pada kajian ilmiah sehingga kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan,” tutur Iswoyo.

Iswoyo juga berharap hasil kajian ini dapat menjadi masukan bagi jajaran Pemerintah yang hadir utamanya jajaran Pemerintah Kecamatan dan Desa yang notabene bersinggungan langsung dengan masyarakat untuk dapat menginformasikan ke masyarakat sekitar menara sehingga kekhawatiran ini tidak tambah meluas dan menjadi ke khawatiran yang tidak berdasar.

Sedangkan Prof. Ir Sunarno MEng yang juga Guru besar Teknik/Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM dalam penelitiannya antara lain menyampaikan bahwa penelitian dilakukan dalam rangka untuk mengukur dan meneliti dampak radiasi gelombang elektromagnetik  terhadaap tubuh manusia pada teknologi BTS (Baase Transmission Station), terutama pada sistem BTS yang menggunakan  teknologi GSM/DCS.

Lebih lanjut disampaikan bahwa  hasil rancangan alat ukur dalam penelitian tersebut berupa detektor gelombang elektromagnetik, pengukur kekuatan medan, dan juga model perhitungan untuk  analisisefek radiasinya. Peserta dalam presentasi kajian tersebut  para kepala SKPD terkait, para Camat dan Kades.




TMMD Sleman Dilaksanakan Diperbukitan Wukirsari Prambanan

IMG_8322Sleman – Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung tahap II Tahun 2016 tingkat Kabupaten Sleman dilaksanakan di wilayah perbukitan di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman. Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes membuka kegiatan tersebut di Balai Desa Wukirharjo Prambanan, Selasa (20/9).

Menurut Perwira Sie Teritorial Kodim 0732/Sleman Kapten Inf Arly Iskandar, kegiatan TMMD berlangsung selama 21 hari dimulai dari tanggal 20 September hingga 10 Oktober 2016.

Arly menjelaskan bahwa  pelaksanaan TMMD di Desa Wukirharjo  mempunyai dua sasaran yaitu  fisik dan non fisik. Sasaran fisik sendiri menurut Arly berupa kegiatan pembangunan maupun rehab bangunan seperti cor blok jalan dengan lebar 3 meter sepanjang 750 meter, pembuatan talud atau drainase sepanjang 20 meter, rehab masjid, pembuatan 1 unit pos kamling, dan lantainisasi 3 unit rumah.

“Untuk sasaran non fisik kami melakukan penyuluhan-penyuluhan seperti wawasan kebangsaan, Kamtibmas dan Napza, kesehatan dan KB, pertanian, serta penyuluhan lingkungan hidup,” jelas Arly.

Sementara Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jendral TNI Jaswandi dalam sambutannya yang dibacakan Sri Muslimatun mengharapkan agar segala hasil pembangunan atau pengembangan sarana dan prasarana fisik yang telah dibangun nantinya dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dipelihara dengan baik oleh Pemda beserta segenap warga masyarakat di wilayah setempat untuk kepentingan rakyat banyak.

Menurut Jaswandi, program TNI Manunggal Membangun Desa Sengkuyung adalah Program yang dilaksanakan oleh Kodam IV/Diponegoro dalam rangka tugas imbangan pada pelaksanaan TMMD Reguler yang dilaksanakan di wilayahnya.

Untuk hasil kegiatan non fisik berupa penyuluhan-penyuluhan, Jaswandi berharap benar-benar dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mendorong inovasi dan kreatifitas masyarakat serta tumbuhnya rasa cinta tanah air.

Lebih lanjut Pangdam mengungkapkan pelaksanaan kegiatan operasional TMMD Sengkuyung yang dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan ini pada dasarnya mempunyai beberapa sasaran, diantaranya, tumbuh dan berkembangnya kesamaan visi, misi antara aparatur Pemda dan para tokoh masyarakat secara terpadu dan melembaga dalam memberdayakan masyarakat dan lingkungannya.

“Dalam konteks kepentingan akselerasi pembangunan, program TMMD bertujuan untuk mewujudkan ruang, alat dan kondisi juang serta kemanunggalan TNI-Rakyat serta dalam rangka membantu Pemda untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan,” jelasnya.




Disdikpora Sleman Dorong Pengembangan Sekolah Ramah Anak‬

‪Sleman – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Sleman terus mendorong pengembangan sekolah ramah anak.‬ Saat ini sudah ada 39 sekolah yang dicanangkan ramah anak tersebar di 17 kecamatan. Tahun ini ditargetkan jumlahnya bisa bertambah.‬

‪“Sekolah ramah anak terus dikembangkan. Pada prinsipnya, tidak sekedar memberi pemahaman tentang perilaku tapi juga fasilitasi secara edukasi, dan fisik kemudian mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh dari proses pembelajaran,” kata Arif Haryono SH, Kepala Disdikpora Sleman, Selasa (20/9).‬

‪Pencanangan sekolah ramah anak mengacu pada landasan hukum berupa Peraturan Bupati Nomor 19 tahun 2015. Dijelaskan Arif, ada beberapa konsep dalam kebijakan sekolah ramah anak ini. Diantaranya belajar untuk mengetahui, dan belajar melaksanakan.‬

Dalam penyampaiannya, materi anti kekerasan terhadap anak diintegrasikan lewat mata pelajaran. Isinya dengan konteks masing-masing mata pelajaran (mapel) semisal Pendidikan Agama, PPKn, dan IPS.‬

‪Arif menilai sejauh ini implementasi konsep ramah anak di sejumlah sekolah sudah cukup baik. Bagi sekolah yang belum menerapkan, pihaknya mendorong agar secepatnya bisa terealisasi.‬

‪Meski diakui Arif masih ada beberapa kendala yang dijumpai di lapangan, terutama menyangkut ketersediaan sarana fisik. Contohnya rasio yang belum berimbang antara jumlah siswa dengan sarana kamar kecil.‬

‪Sementara Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes juga mengingatkan pembelajaran di sekolah ramah anak tidak hanya bertumpu pada upaya melindungi anak dari pihak eksternal. Di sekolah, para siswa juga diberi pemahaman untuk mengidentifikasi jenis-jenis kekerasan yang mungkin mereka alami.‬

‪“Jika anak sudah diberi pemahaman, maka saat terjadi tindak kekerasan, mereka akan lapor kepada pihak berwenang,” kata Sri Muslimatun.‬

‪Sri Muslimatun berharap upaya ini dapat membantu menghilangkan kekerasan terhadap anak, sekaligus memenuhi hak mereka.




Kesehatan Jamaah Haji Sleman Terus Dipantau Kemenag

Sleman – Kesehatan jamaah haji dari Kabupaten Sleman hingga kepulangan mereka ke tanah air setelah menjalankan salah satu Rukun Islam di Tanah Suci Mekah terus mendapat pemantauan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten.

‪”Jamaah haji dari Kabupaten Sleman dijadwalkan mulai tiba di tanah air pada 27 September mendatang. Dan faktor kesehatan jamaah haji akan terus dipantau hingga mereka tiba di Sleman,” kata Silvia Eosetti, Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Selasa (20/9).

‪Menurut Silvia, meski sudah selesai menjalankan ibadah haji di tanah suci, diharapkan para jamaah haji tetap menjaga kesehatan selama perjalanan pulang.‬

“Kami akan memantau terus kesehatan tiap jamaah haji melalui petugas medis yang mendampingi. Tiap kloter didampingi satu dokter dan dua paramedis,” katanya.‬

‪Dikatakan Silvia jamaah haji asal Sleman tahun ini sebanyak 992 orang. Mereka terbagi dalam enam kloter, yakni Kloter 23 SOC, 24 SOC, 25 SOC, 26 SOC, 27 SOC, dan 29 SOC. ‬

“Jamaah haji Sleman bersama jamaah dari Kabupaten/Kota lainnya di DIY masuk dalam jadwal terbang pulang dari Arab Saudi mulai 26 September, meliputi kloter 23 SOC (Sleman dan Kota Yogyakarta), 24 SOC (Sleman dan Bantul), dan 25 SOC (Sleman). Mereka akan tiba di Embarkasi Donohudan pada 27 September,” tutur Silvia.‬

‪Kemudian pada hari berikutnya yakni jadwal terbang untuk Kloter 26 SOC (Sleman dan Bantul) serta Kloter 27 SOC (Sleman dan Gunung Kidul) pada 27 Septermber dari Arab Saudi dan tiba 28 Sptember.‬

“Terakhir, jamaah haji Sleman Kloter 29 SOC dijadwalkan tiba di Solo pada 29 September,” katanya.‬

‪Diungkapkan Silvia hampir 80 persen jamaah haji asal Sleman berusia lanjut atau di atas usia 50 tahun. Bahkan, beberapa orang jamaah juga terindikasi menderita penyakit seperti kelainan fungsi ginjal dan jantung.‬

‪”Usia yang lanjut tersebut cukup rentan terhadap penyakit maupun penurunan kondisi fisik,” katanya.‬

‪Silvia mengatakan satu jamaah asal Sinduadi, Mlati, Djumirah (81), meninggal dunia setelah menginjakkan kaki di Padang Arafah.‬

“Kemungkinan karena kelelahan dan kondisi fisik menurun karena usianya sudah cukup lanjut,” pungkas Silvia.‬




Pemkab Apresiasi Penyelenggaraan Event Untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan

DSC_8363 (1024 x 678)Sleman – Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun Mkes bersama pelukis Kartika Afandi, serta Asisten Deputi Strategi Pemasaran Wisata RI Wati Nurani MHum didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Sleman Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM serta Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Edy Setijono, menorehkan tinta dikanvas menandai dibukanya Ratu Boko Festival. 

Pembukaan dilaksanakan Selasa, (20/9) sore di pelataran Candi Ratu Boko. Selanjutnya lukisan diteruskan oleh Kartika Afandi, serta hadir pula 21 pelukis dari seluruh Indonesia yang ikut meramaikan acara dengan melukis bersama-sama dipelataran Candi. Pada kesempatan tersebut  Sri Muslimatun juga meninjau stand-stand potensi kerajinan maupun aneka jajan dan oleh-oleh pendukung obyek wisata.

Sri Muslimatun juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inovasi dengan menciptakan event-event rutin, guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik nusantara maupun manca negara khususnya di Ratu Boko. Upaya ini menurut Sri Muslimatun, selaras dengan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan lama tinggal wisatawan  di Kabupaten Sleman.

“Sleman merupakan kawasan yang strategis, memiliki berbagai comparative advantage dengan potensi kewilayahan yang menarik di berbagai sektor, yang telah didukung dengan ketersediaan tenaga kerja terampil dan terdidik, aksesibilitas yang memadai, serta ketersediaan prasarana dan sarana yang mendukung upaya pengembangan pariwisata berkesinambungan di KabupatenSleman,” kata Sri Muslimatun.

Pembangunan sektor pariwisata hendaknya dilakukan secara terintegrasi dan multi sektor baik wisata alam, pendidikan, budaya, olahraga, ataupun wisata minat khusus oleh seluruh pemangku kepentingan, untuk meciptakan akselerasi yang seimbang.

Upaya pengembangan ini dilakukan mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu sektor strategis, sebagai salah satu penopang pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sleman yang tumbuh cukup stabil dengan peningkatan rata-rata sebesar 5,28%, dengan kondisi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sebesar 4,72%.

Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman pada tahun 2015 mencapai wisatawan ( wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara), atau meningkat 26,18% dari tahun sebelumnya dengan jumlah wisatawan.

Dari angka statistik tersebut masih optimis dapat meningkat sebagaimana target kunjungan wisatawan 2016 Kabupaten Sleman sebesar  wisatawan.

“Upaya saling mendukung sebagaimana yang dilakukan pada event Ratu Boko Festival ini dapat dikomunikasikan lebih awal lagi kepada seluruh partisipan maupun kepada para pendukung manajerial event, sehingga penyelenggaraan berikutnya akan memiliki gaung yang lebih besar dan memberikan daya tarik yang lebih memikat terhadap wisatawan domestik maupun manca negara,” tutur Sri Muslimatun.

Sementara itu Asisten Deputi Strategi Pemasaran Wisata, Wati Nurani berharap Festifal ini dapat meningkatkan kunjungan wisata, tidak hanya sekedar teori sehingga program budaya yang  basicnya masyarakat dapat terus dikembangkan.

Target wisatawan mencapai 250 ribu sehingga dibutuhkan teknik dan strategi untuk mempromosikan candi Boko bukan hanya wisatawan nusantara tetapi juga mancanegara.

Strategi pemasaran lewat medsos terbukti sangat efektif, sperti halnya kegiatan ini perlu dipromosikan tidak hanya di DIY Jateng saja namun bisa keluar daerah dan mancanegara.

Menurut Dirut PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Edy Setijono kegiatan ini akan berlangsung selama 10 hari hingga 29 September mendatang dimeriahkan dengan penampilan kreativitas seni dari para seniman dari seluruh Indonesia. Yang ditampilkan meliputi tari kreasi, tari klasik, musik jalanan, keroncong, akustik dan lainnya.