Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi Perebutkan Total Hadiah Rp. 64 Juta

Sleman – Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi digelar selama 3 hari mulai Jum’at – Minggu 23-25 September 2016 di Kompleks Lapangan Denggung Sleman Yogyakarta. Event ini memperebutkan total hadiah sebesar juta untuk tiga kategori yaitu Festival Kesenian Sleman, Festival Bregada Prajurit dan Kirab Pelangi Budaya.

Demikian dinyatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM, Kamis 22 September 2016 dikantornya Jl. KRT Pringgodiningrat Beran Tridadi Sleman Yogyakarta.

Rangkaian Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi diawali Jum’at 23 September 2016 pukul dengan pertunjukan jathilan “Sekar Gadung” dari Kecamatan Turi. Sedangkan upacara pembukaan secara resmi akan dilakukan oleh Bupati Sleman pada pukul WIB dilanjutkan dengan pertunjukan reog “Kudho Wiromo” dari Kecamatan Berbah dan pementasan 3 (tiga) dalang anak.

Pada malam harinya mulai jam WIB dipentaskan gejog lesung, ande-ande lumut, kethoprak lesung, srandul, sampakan, langentoyo dan dadungawuk.

Di hari kedua, Sabtu 24 September 2016 mulai pukul  –  WIB diawali dengan pertunjukan jathilan, dilanjutkan pukul – WIB dengan kirab festival bregada prajurit dengan start Lapangan Denggung dan finish di Lapangan Pemda. Pada malam harinya mulai pukul di Gedung Serbaguna disajikan wayang suket, emprak, jeber juwes, kethek ogleng, dadungawuk, srunthul, sampakan.

Hari ketiga, Minggu 25 September 2016 diawali pada pukul  WIB di Panggung KRT Pringgodiningrat dipentaskan atraksi kesenian jathilan, orchestra serenade, tarian teatrikal, flashmop dilanjutkan dengan kirab pelangi budaya Bumi Merapi yang terdiri atas 50 kontingen seni budaya dari berbagai kalangan dan komuitas, 10 kelompok museum dan 7 kontingen perwakilanluar daerah, yaitu Riau, Lampung, Papua, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTB dan Bali.

Total hadiah juta akan diberikan kepada para pemenang Festival Kesenian Sleman, Festival Bregada Prajurit dan Kirab Pelangi Budaya. Penampil Terbaik 1 – Terbaik 5 Festival Kesenian Sleman secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp.4 juta, Rp,3,5 juta, Rp.2,5 juta, Rp.2 juta, Rp.2 juta.

Sedangkan Penampil Terbaik 1 – Terbaik 6 Festival Bragada Prajurit yang tampil Sabtu 24 September 2016 secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp.5 juta, Rp.4,5 juta, Rp.4 juta, Rp.3 juta, Rp.2 juta dan Rp.1,5 juta.  Penampil Terbaik 1 – Terbaik 6 Kirab Pelangi Budaya yang tampil Minggu 25 September 2016 secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp.8 juta, Rp.6,5 juta, Rp.5 juta, Rp.4 juta, Rp.3,5 juta dan Rp.3 juta.




Pemkab Kembangkan Desa Mandiri Pangan

IMG_8531Sleman – Kemandirian pangan merupakan langkah yang harus diwujudkan terlebih dahulu untuk mencapai kedaulatan pangan. Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tengah berupaya mengembangkan Desa Mandiri Pangan sebagai upaya dalam meningkatkan sistem mandiri pangan serta meningkatkan ketahanan pangan di pedesaan.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengungkapkan hal tersebut disela-sela Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke XXXVII di halaman Kantor Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Kamis (22/9).

Menurut Sri Purnomo, desa yang mendapat program desa mandiri pangan diantaranya desa Wukirharjo Kecamatan Prambanan, Desa Sumberejo Kecamatan Tempel, Desa Margomulyo Kecamatan Seyegan, Desa Sendangagung Kecamatan Minggir, Desa Margoagung Kecamatan Seyegan, Desa Mororejo Kecamatan Tempel, Desa Caturharjo Kecamatan Sleman dan Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan.

Untuk itu pelaksanaan Hari Pangan Sedunia ini dikatakan Sri Purnomo merupakan momen untuk meningkatkan pemahaman, kepedulian dan menggalang kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam meningkatkan sinergi dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

“Saya berharap ke depan pengembangan desa mandiri pangan terus ditingkatkan agar langkah kita menuju kedaulatan pangan dapat segera tercapai. Saya mengajak semua pihak untuk bersama-sama membuat trobosan dan inovasi untuk dapat mengelola potensi pangan lokal agar lebih optimal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan kita secara berkelanjutan,” papar Sri Purnomo.

Sementara  Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi menjelaskan bahwa penyelenggaraan Hari Pangan Sedunia di Kabupaten Sleman yang diselenggarakan tanggal 22-23 September 2016 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan pangan lokal sebagai pangan alternatif.

Aneka lomba olahan pangan berbahan dasar lokal seperti penggunaan talas, daging itik, ikan air tawar, dan salak sebagai bahan dasarnya diselenggarakan dalam acara tersebut.

“Pemanfaatan bahan dasar lokal ini untuk mendorong ide kreatif masyarakat untuk menciptakan varian produk baru sehingga olahan bahan pangan lokal nantinya memiliki nilai ekonomi yang lebih dan kedepan diharapkan menjadi alternatif bahan pangan,” jelas Widi.

Selain lomba olahan bahan pangan juga terdapat berbagai kegiatan dalam acara tersebut yang diantaranya paparan inovasi teknologi pertanian, temu usaha, serta bazar yang diikuti 50 kelompok usaha dari Asosiasi Bidang Pertanian Perikanan dan Kehutanan, Pengusaha Olahan Makanan, serta bidang lainnya.

“Kami berharap dengan Peringatan Hari Pangan Sedunia ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi pangan lokal sehingga dapat membangun terwujudnya ketahanan pangan sesuai dengan tema HPS XXXVI yaitu Membangun Kedaulatan Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal,” tambah Widi.




Desa Banyuraden Gamping, Lomba TOGA Nasional

IMG_8425Sleman – Desa Banyuraden Kecamatan Gamping Sleman yang diwakili oleh Dusun Modinan dan Dusun Geplakan menjadi empat besar nasional mewakili Provinsi DIY dalam lomba Penilaian Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Tingkat Nasional.

Menurut Ketua Tim Penilai Pusat Meinarwati Apt MKes  ketika mengunjungi  Dusun Modinan,  Kamis (22/9) Desa Banyuraden akan bersaing dengan 3 desa lainnya dari perwakilan Provinsi Lampung, Riau, dan Gorontalo.

Meinarwati menjelaskan bahwa tujuannya bersama tim yang terdiri dari lima orang berkunjung ke Desa Banyuraden adalah untuk melakukan verifikasi lapangan.  Vverifikasi ini lanjut Meinarwati merupakan tindak lanjut dari verifikasi dokumen yang telah dikirimkan untuk mengikuti seleksi tingkat nasional.

“Kegiatan Penilaian Pemanfaatan TOGA merupakan salah satu implementasi dari program asuhan mandiri Pemanfaatan TOGA dan Akrupesur yang bertujuan mendorong masyarakat agar mampu mengatasi gangguan kesehatan ringan dengan prinsip kesadaran, keinginan sendiri, kebersamaan, kemandirian, komitmen dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” jelas Meinarwati.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang menyambut langsung kedatangan tim penilai pusat menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga masyarakat Desa Banyuraden, Gamping atas prestasi yang telah diraih dalam bidang TOGA sejauh ini.

Sri Purnomo berharap proses penilaian yang dilakukan dapat memenuhi seluruh indikator penilaian sehingga mampu mengantarkan Desa Banyuraden, Gamping sebagai pemenang dalam Lomba Pemanfaatan TOGA Tingkat Nasional.

“Semoga capaian ini semakin menambah semangat dan motivasi warga masyarakat dalam memanfaatkan dan mengembangkan hasil TOGA, sekaligus menjadikan Desa Banyuraden sebagai role model bagi desa lainnya dalam memanfaatkan pekarangan dan lahan lainnya untuk pengembangan tanaman obat yang pada akhirnya bermuara kepada penguatan ekonomi dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Sleman,” tutur Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo pemanfaatan TOGA merupakan salah satu upaya mendukung Program Indonesia Sehat yang mengedepankan paradigma sehat, yakni paradigma yang menekankan pada tindakan promotif dan preventif sebagai pilar utama upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan multi sektor. Kedepan kebun TOGA di desa Banyuraden akan dimanfaatkan sebagai wisata TOGA.

Melalui pengembangan TOGA, masyarakat secara mandiri dapat mengatasi masalah gizi melalui kecukupan makan sayur dan buah setiap hari. Masyarakat secara mandiri bisa memanfaatkan pekarangannya untuk memenuhi kebutuhan sayur, buah dan tanaman obat.

“Dengan pemanfaatan TOGA ini diharapkan tidak ada lagi “lahan tidur” di sekitar kita. Mengingat lahan tidur pun jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi sumber penyakit menular,” tutur Sri Purnomo.




Pemkab Sleman Gelar MTQ Sekolah Umum

1-2Sleman – Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah umat Islam, khusus­nya dalam membaca, memahami dan menghayati Kitab Suci Al Qur’an khususnya dikalangan pelajar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyelenggarakan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) bagi sekolah umum se Kabupaten Sleman.

“Melalui kegiatan MTQ ini diharapkan para siswa sekolah umum akan  termotivasi untuk membaca, mempelajari dan melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat didalam Al Qur’an,” kata Drs Hj Sri Muslimatun MKes usai membuka MTQ bagi sekolah umum  di SMKN 1 Cangkringan Sleman, Kamis (22/9). Pembukaan itu sendiri ditandai dengan pemukulan Bedog.

Menurut Sri Muslimatun melalui kegiatan MTQ ini para peserta, mau­pun masyarakat, diharapkan tidak saja mampu melafalkan ayat-ayat Al Qur’an dengan tartil, namun yang lebih penting adalah mampu melaksanakan ajaran-ajaran yang tercantum di dalam Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Mengingat selama ini umat Islam yang mampu membaca dan menulis Al Qur’an cukup banyak, namun belum seluruhnya mampu melaksanakan ajaran yang ada secara kaffah.

“Dengan demi­kian keberadaan Kitab suci Al Qur’an di rumah kita atau di tempat ibadah, tidak hanya sekedar menjadi pajangan maupun sebagai simbol ke-Islaman namun ajaran-ajarannya diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari,” kata Sri Muslimatun.

Disampaikan pula bahwa sangat ironis apabila umat Islam hanya mampu membaca Al Qurán namun tidak bisa mengamalkan ajaran-ajaran yang ada didalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai umat Islam, kita harus mampu memahami serta mengaplikasikan isi kandungan dalam Al Qur’an secara menyeluruh dan sempurna,”  tambah Sri Muslimatun.

Apalahi mengingat apa yang tercantum dalam Al Qur’an merupakan petunjuk, acuan serta kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh umat Islam dalam menjalani kehidupan di dunia. Al-Qur’an merupakan sumber utama syariat Islam yang me­muat seperangkat aturan yang mengatur lalu lintas hubungan manusia dengan Allah, hubungan dengan sesamanya dan hubungan antar manusia dengan alam dan lingkungannya.

“Dengan berpegang pada ajaran Al Qur’an, maka kita akan dapat bertahan dalam menghadapi segala  permasalahan yang ada,” katanya.

Seluruh ajaran yang ada dalam Al Qur’an tidak pernah ketinggalan jaman, sehingga isi Al Qur’an senantiasa sesuai diamalkan kapanpun dan dimanapun. Untuk itu, Al Qur’an sangat perlu dibaca secara rutin karena dengan rutinitas tersebut lambat laun akan menambah ilmu agama.

“Selain dibaca, kesempur­na­an ilmu agama adalah diamalkan, oleh karena itu saya ber­harap agar melalui MTQ ini kita termotivasi untuk mengamalkannya,” tutur Sri Muslimatun.

Sedang Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sleman, Arif Haryono SH menyampaikan bahwa tujuan MTQ tersebut  untuk meningkatkan ketrampilan baca tulis Al Qur’an serta pendalaman isinya, memupuk rasa cinta Al Qur’an meningkatkan penghayatan dan pengamalan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, serta menumbuh kembangkan bakat, minat, kemampuan , peserta didik dibidang keagamaan.

Jenis/macam yang dilombakan dalam MTQ tersebut MTQ dan puitisasi saritilawah putra dan putri SD, MTQ putra/putri SMP, SMA/SMK,  MTQ  putra/putri SD, SMP, SMA/SMK, MTQ putra/putri SD, SMP, SMA/SMK,  doa setelah adzan dan iqomah putra SD, SMP, SMA/SMK, lomba pidato /ceramah agama putra/putri SD, SMP, SMA/SMK, CCA SD, SMP, SMA/SMK.

Dan, Musabaqoh seni lukis Islam SD, MSQ SMP, SMA/SMK,  Musabaqoh kutbah Jumat putra SMP, SMA/SMK, lomba Nasyid putra SMA/SMK,  lomba kaligrafi putra putri SMP, SMA/SMK dan lomba kebersihan dan kemakmuran Mushala sekolah (LKKMS) SD, SMP, SMA/SMK. Jumlah peserta MTQ tersebut sebanyak 432 peserta dan 11 Mushala.




Sleman Raih Dua Penghargaan

DSC_2418Sleman – Dalam ajang Indonesia’s Atratractiveness Award 2016 yang diselenggarakan Tempo Media Group, Kabupaten Sleman mendapat 2 penghargaan. Kabupaten Sleman terpilih menjadi Kabupaten Terbaik peringkat 7 dari 24 Kabupaten yang terpilih dari seluruh Indonesia.

Sementara untuk Kabupaten terbaik Kategori Pariwisata Sleman terpilih nomor 2 setelah Kabupaten Badung dan di atas Kabupaten Buleleng. Penghargaan Kabupaten terbaik diserahkan Menpan RB Ri Asman Abnur dan penghargaan pariwisata diserahkan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi RI di Ballroom 2 Hotel Mulia Senayan Jakarta, Jumat  (22/9) lalu diterima oleh Assekda Bidang Pembangunan Dra Suyamsih, MPd.

‪Menurut Direktur Tempo, Bambang Harymurti, penghargaan ini diberikan kepada 12 pemerintah Provinsi, serta 72 Kabupaten dan Kota yang memperlihatkan kemajuan pertumbuhan perekonomiannya. Untuk memperlihatkan kemajuan, harus ada peningkatan produktivitas hingga 60 persen.

Menurut Bambang peningkatan tersebut dapat dicapai dengan cara peningkatan investasi dan pelayanan publik. Investasi bukan saja membawa modal, tapi juga keahlian masyarakat, sehingga produktivitas meningkat.

Penentuan Nominasi penghargaan didasarkan pada kontribusi PDRB diatas 25 % dan pengukurannya menggunakan 4 dimensi yakni investasi, infrastruktur, pariwisata dan pelayanan publik.

Penilaian dilakukan berdasarkan data primer dan sekunder, untuk data sekunder berasal dari berbagai instansi seperti BKPM, BPS, Bank Indonesia dan kementrian-kementrian. Sedangkan data primer dilakukan dengan cengan cara Mystery Calling terhadap 12 institusi di masing-masing Kabupaten.‬