Potensi Desa Bisa Dongkrak Perekonomian dan Lapangan Kerja

WhatsApp Image 2016-09-25 at  PMSleman – Pelatihan pemberdayaan ekonomi desa menjadi penting jika melihat potensi yang ada di wilayah desa. Hal ini menjadi satu kekuatan desa untuk bisa mendongkrak perekonomian dan menyediakan lapangan kerja. Demikian pesan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, saat berbincang dengan masyarakat Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman Yogyakarta, Sabtu (24/9).

Menurut Eko Sandjojo, karena yang paling tahu kebutuhan desa adalah masyarakat desa sensiri, maka potensi yang ada di desa itu bisa dikembangkan sesuai keburuhan masyarakat desa dengan tidak mengabaikan potensinya.

“Karena dana desa semakin besar, meningkat menjadi 46 triliun lebih. Jika dana disalurkan ditiap – tiap desa bisa mendapatkan 400 sampai 800 juta per desa, ditambah dana dari provinsi dan kabupaten. Desa bisa mendapatkan lebih dari 1 miliar per desa,” ungkap Eko Sandjojo.

Melihat besaran nominal tersebut, Eko menghimbau agar dana tidak digunakan untuk infrastruktur saja melainkan diarahkan untuk pelatihan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

“Dana dipakai untuk kekmamuran masyarakat desa dan jangan dipakai buat infrastruktur saja, tetapi alangkah baiknya jika untuk pemberdayaan masyarakat desa. Selain itu dana bisa dialokasikan untuk bumdesa, simpan pinjam, penyaluran kur, atau tergantung persiapan masyarakat desa,” jelas Eko Sandjojo.

Desa perlu diadakan pelatihan seperti administrasi, pengelolaan keuangan, manajemen Bumdesa dan pelatihan lain yang mensupport pengembangan perekonomian desa, tambahnya.

Selain itu Menurutnya banyak yang bisa dikembangkan di Desa Umbulharjo selain wisata. Untuk pengembangan Bumdesa, terlihat dengan adanya potensi besar bisa dimanfaatkan, antara lain pengelolaan umbul, ternak, pemanfaatan sampah dan jasa.




BPBD Sleman Himbau Masyarakat Waspadai Ancaman Banjir‬

Sleman – Memasuki musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menghimbau masyarakat mewaspadai ancaman banjir luapan sungai.‬ Selain sungai yang berhulu di Gunung Merapi, sungai kecil juga perlu diwaspadai potensi bencananya.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Makwan  MT masyarakat perlu mewaspadai potensi terjadinya banjir atau limpahan air dari sungai saat musim hujan ini. Terutama, jika terjadi hujan lebat di wilayah hulu namun terang benderang di wilayah aliran hilir.‬

‪”Kondisi ini bisa memunculkan terjadinya peningkatan debit air di kawasan hilir secara mendadak. Air bisa meluap dan menggenangi sekitar bantaran sungai. Ketika musim hujan seperti ini, masyarakat sebaiknya tidak banyak beraktivitas di sekitar alur sungai,” kata Makwan, Kamis (22/9).‬

‪Hal tersebut lanjut Makwan, rawan terjadi untuk sungai-sungai kecil yang alirannya melewati areal pemukiman warga, semisal Sungai Denggung, karena air hujan tidak terserap ke tanah dan langsung terbuang ke sungai.‬

‪”Jika curah hujan tinggi dan debit air meningkat sementara daya tampung sungai terbatas, air bisa meluap dan berpotensi membanjiri pemukiman,” tuturnya.‬

‪Makwan mengatakan, kondisi serupa juga berpotensi terjadi di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi, seperti Sungai Opak, Kuning, Gendol, Boyong dan Krasak.‬ Namun untuk potensi banjir lahar hujan terbilang kecil mengingat struktur badan sungai saat ini masih banyak palung-palung dalam bekas penambangan pasir.

“Jika hujan deras terjadi di wilayah atas, aliran air yang biasanya juga disertai material akan mengisi palung-palung itu terlebih dulu,” katanya. ‬

‪Dengan kondisi tersebut maka potensi ancaman yang bersifat destruktif ke lingkungan pemukiman masih minim terjadi.‬

“Namun kami tetap menghimbau masyarawakat bersikap waspada. Yang sebelumnya pernah ada luapan, harus waspada. Potensi longsor selama musim hujan ini juga perlu diperhatikan,” kata Makwan. Wilayah yang rawan longsor antara lain di Prambanan dan area Sleman Timur.




Kirab Bregada Prajurit Tetap Memukau Pengunjung

IMG_0038Sleman – Meski sempat diguyur hujan yang cukup deras, 34 Bregada Prajurit Tradisional dari 17 Kecamatan se Kabupaten Sleman tetap memukau pengunjung disepanjang jalur kirab antara Lapangan Denggung dan Lapangan Pemda Sleman, Sabtu  (24/9).

Ke 34 Bregada Prajurit tersebut adalah Bregada Sunan Kalijogo dari Margodadi Seyegan, Bregada Sastro Wilogo dari Sumbersari Moyudan, Bregada Mbah Demang dari Banyuraden Gamping, Bregada Catur Manunggal dari Tamanmartani Kalasan, Bregada Wargo Upoyo dari Sindumartani Ngemplak, Bregada Tunggulsari dari Margorejo Tempel, Bregada Bondo Koro dari Tirtomartani Kalasan, Bregada Sunan Kalijogo dari Sumbersari Moyudan.

Dan, Bregada Manunggaling Kawulo dari Tegaltirto Berbah, Bregada Wulung Galih dari Condongcatur Depok, Bregada  Waneng Caki dari Margorejo Tempel, Bregada Nyi Prembun dari Sukoharjo Ngaglik, Bregada Wanasela dari Sambirejo Prambanan, Bregada Sentono Budoyo dari Sinduadi Mlati, Bregada Dandang Rekso dari Pandoworejo Sleman, Bregada Mbah Bokeri dari Tlogoadi Mlati, Bregada Lombok Abang dari Umbulharjo Cangkringan.

Selanjutnya Bregada Pangeran Diponegoro dari Margomulyo Seyegan, Bregada Ngrowhood dari Girikerto Turi, Bregada Kyai Kelir dari Sendangagung Minggir, Bregada Prawireng Sigenting dari Sidoagung Godean, Bregada Pager Bumi dari Wonokerto Turi, Bregada Pangeran Poerboyo dari Sendangtirto Berbah, Bregada Kadilobo dari Purwobinangun Pakem.

Serta, Bregada Sunan Kedung dari Caturharjo Sleman, Bregada Gagak Suro dari Sidomulyo Godean, Bregada Ki Ageng Tunggul Wulung dari Sendangagung Minggir, Bregada Notoyodo dari Sariharjo Ngaglik, Bregada Jogoyudo dari Wukirharjo Prambanan, Bregada Tambak Kali dari Argomulyo Cangkringan, Bregada Kromo Dipo dari Candibinangun Pakem, Bregada Wirorejo dari Trihanggo Gamping.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM mengatakan   pada hari Minggu (25/9) pentas diawali pada pukul WIB di Panggung KRT Pringgodiningrat.

Kesenian yang dipentaskan berupa atraksi kesenian jathilan, orchestra serenade, tarian teatrikal, flashmop dilanjutkan dengan kirab pelangi budaya Bumi Merapi yang terdiri atas 55 kontingen dari berbagai kalangan dan komuitas seni budaya, museum, sekolah, perwakilan luar daerah yaitu Riau, Lampung, Papua, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTB.

Ayu menambahkan bahwa masyarakat dan wisatawan yang menonton Kirab Pelangi Budaya Budaya Minggu (25/9) pukul – WIB diminta tetap  menjaga keamanan dan ketertiban agar dapat menyaksikan kirab dengan nyaman dan tidak menimbulkan kerusakan taman yang ada disepanjang jalur kirab.

Selain itu diharapkan pula untuk berhati terhadap perhiasan maupun anak-anak kecil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Ditambahkan Ayu, penampil terbaik 1 sampai  terbaik 6 Festival Bragada Prajurit yang tampil Sabtu (24/9) secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp 5 juta, Rp 4,5 juta, Rp 4 juta, Rp 3 juta, Rp 2 juta dan Rp 1,5 juta.

Penampil terbaik 1 sampai terbaik 6 Kirab Pelangi Budaya yang tampil Minggu (25/9) secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp 8 juta, Rp 6,5 juta, Rp 5 juta, Rp 4 juta, Rp 3,5 juta dan Rp 3 juta.

Ayu juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat umum dan pengguna jalan di Jl. Magelang, Jl. Parasamya dan Jl. KRT Pringgodiningrat yang terpaksa ditutup atau ditutup sebagian untuk pelaksanaan kirab Bregada Prajurit mulai pukul – WIB.