‪”Mina Ngremboko” Budidayakan Ikan di Lahan Pekarangan Kosong Milik Warga

Sleman – Dengan memanfaatkan lahan pekarangan kosong milik warga,  Kelompok Petani Ikan “Mina Ngremboko” Dusun Bokesan Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman membudidayakan ikan air tawar.

‪”Kami terus berusaha mengembangkan usaha pembibitan maupun pembesaran ikan air tawar. Belum lama ini lahan seluas satu hektare di dekat Sungai Gendol diubah menjadi kolam ikan,” kata Ketua Petani Ikan “Mina Ngremboko”, Saptono di Sleman, Jumat (30/9) .‬

‪Menurut Saptono, setiap rumah warga juga diwajibkan untuk mempunyai kolam ikan. Terutama mereka yang masuk dalam anggota kelompok “Mina Ngremboko”.‬

‪”Upaya ini dilakukan dan dikembangkan agar kebutuhan bibit ikan air tawar di seluruh nusantara bisa terus terpenuhi. Selain itu masyarakat setempat bisa semakin sejahtera di tempat asalnya sendiri. Bibit ikan dari sini, saat ini sudah hampir terdistribusikan ke suluruh Indonesia,” katanya.‬

‪Saptono mengatakan, selain budidaya ikan, juga tanaman telah dirambah KPI Mina Ngemboko. Terutama jenis-jenis tanaman yang bisa sebagai penyerap air.‬

‪”Dengan demikian maka ekowisatanya bisa nyambung,” katanya.

Wisatawan yang berkunjung ke desa wisata Dusun Bokesan ini  tak hanya belajar mengenai budi daya ikan saja. Namun, anak-anak bisa mengenalkan berbagai jenis tanaman dan semakin peduli terhadap lingkungannya,” tutur Saptono.‬

‪Sementara Bendahara KPI “Mina Ngremboko”, Jarot Wibowo mengatakan selain bibit juga hasil produksi makanan ikan telah banyak permintaan.‬

‪”Kami di sini juga membuat pakan ikan sendiri, untuk menekan biaya dalam budi daya ikan. Selain itu juga berbagai olahan makanan berbahan dasar ikan, seperti abon ikan, bakso ikan dan lainnya,” katanya.‬

‪Ia menambahkan, dari berbagai jenis usaha yang dikembangkan KPI “Mina Ngremboko” ini omzet per tahun bisa mencapai lebih dari Rp12 miliar.‬

‪”Omzet hingga Rp 12 miliar lebih ini berasal dari penjualan bibit ikan, pakan ikan dan produk olahan lainnya. Budi daya ikan telah banyak meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Dusun Bokesan,” kata Jarot.




Kesenian Tradisional Didorong Dukung Objek Wisata‬

‪Sleman – Kesenian tradisional maupun upacara adat yang banyak terdapat di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman didorong untuk dapat mendukung objek wisata daerah Sleman.‬

‪”Kesenian tradisional dapat ditampilkan di objek-objek wisata di lereng Merapi sehingga bisa memberikan warna di setiap objek wisata,” kata Camat Cangkringan, Drs Edi Harmana, di Sleman, Jumat (30/9).‬

‪Menurut Edi, dengan penampilan kesenian tradisional tersebut diharapkan pengunjung tidak merasakan kebosanan dengan destinasi yang monoton.‬

‪”Dorongan ini ditujukannya ke objek wisata lingkup Lava Tour Merapi. Karena destinasinya hanya itu-itu saja,” kata Edi.‬

‪Edi menambahkan wisatawan yang menyewa jip wisata kemudian dibawa berkeliling di seputaran lereng Merapi. Melihat bekas-bekas erupsi 2010.‬

‪”Kalau ke makam ya hanya melihat makam saja. Saya ingin ketika di suatu tempat singgahan, ada yang menyambut. Utamanya kesenian adatnya sendiri. Seperti jathilan, atau tari-tarian lainnya agar pengunjung tidak bosan,” tutur Edi.‬

‪Edi mengatakan, dengan memberikan warna di objek wisata ini, maka “Lava Tour Merapi” akan terus bisa hidup. Meski saat ini objek-objek wisata lainnya mulai tumbuh di Sleman.‬

‪Penggunaan kesenian adat seperti ini juga telah dilakukan di Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Pakem Sleman. Pada kegiatan tertentu pihak pengelola mengundang kesenian yang khas dari Sleman.‬

‪”Ini sekaligus menghidupkan kesenian tradisional. Setiap tahun selalu ada seperti keroncong atau jatilan dari Kaliurang,” kata Kepala UPT MGM, Suharno.




Masyarakat di Perbukitan Prambanan Diminta Waspadai Longsor‬

Sleman – Masyarakat yang tinggal  di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman tanah longsor karena curah hujan yang mulai tinggi pada beberapa hari terakhir ini.‬

‪”Tercatat ada 289 Kepala Keluarga atau 867 jiwa tinggal di kawasan rawan longsor di kawasan perbukitan  Kecamatan Prambanan. Karena itu kami menghimbau masyarakat setempat untuk mengintensifkan ‘jaga warga’ saat malam hari dengan tingginya curah hujan beberapa hari terakhir ini,” kata Camat Prambanan, Drs Abu Bakar, Kamis (29/9).

‪Menurut Abu Bakar, jumlah jiwa yang berada di daerah bahaya tersebut tersebar di beberapa dusun, yakni Dusun Gayam, Watugudeg, Kalinongko Kidul, Lemahbang, Klumprit 1 dan Klumprit 2, Watukangsi, Kikis, Gedang, Pereng, Sengir, Gamparan, Dayakan, Dawung, Sembir, dan Nglengko.‬

‪Curah hujan tinggi ketika malam hari, beberapa hari belakangan ini. Ancaman tanah longsor dirasa lebih berisiko dibandingkan siang hari.‬ ‪Untuk itu Abu Bakar meminta  masyarakat  terus melakukan kesiapsiagaannya, serta mengintensifkan “jagawarga”, dan melakukan pemantauan di titik-titik rawan longsor.‬

Ketika ada potensi ancaman, mereka pun akan melakukan koordinasi memberikan peringatan kepada warga. Selain itu juga komunitas relawan setempat, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) telah siaga. ‬

‪”FPRB Bandung Bondowoso siap siaga terus memantau setiap perkembangan, terutama saat turun hujan deras,” kata Abu Bakar.‬

‪Abu Bakar menambahkan, ketika nantinya ada bencana, kegiatan evakuasi juga sudah ada prosedurnya. Mereka yang terkena dampak akan diungsikan terlebih dahulu di lokasi aman, balai desa, atau sekolah terdekat.‬

‪”Bencana longsor memang menjadi ancaman tahunan di Kecamatan Prambanan. Hampir setiap tahunnya selalu terjadi, karena letak geografisnya lebih banyak perbukitan,” tutur Abu Bakar.‬

Sementara ‪Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan mengatakan curah hujan akhir-akhir ini dirasa cukup tinggi.‬

‪”Sampai saat ini masih nihil kejadian. Alat peringatan dini, telah diaktifkan di Prambanan untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat akan ancaman bencana longsor. Bencana longsor tetap kami waspadai. Semua bencana, ancamannya sama,” kata Makwan.‬




Pemkab Kembangkan Pewarna Alami di Sentra Batik Plalangan

IMG_9046Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) tengah mengembangkan batik pewarna alami. Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI disela-sela pengukuhan sentra batik di Dusun Plalangan Pandowoharjo,  Kamis (29/9) menyampaikan bahwa dalam pengembangan pewarnaan batik alami Pemkab Sleman melakukan kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi. 

“Pengembangan warna alami ini merupakan wujud kepedulian Pemerintah dalam menjaga kelestarian alam dengan mengupayakan peralihan dari batik pewarna sintetis menjadi batik pewarna alam yang ramah lingkungan,” jelas Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo pewarna batik alami seperti penggunaan tanaman indigo dan daun bambu yang sudah kering mempunyai kelebihan dan kekurangan. Penggunaan bahan alami  terbentur pada penyediaan bahan baku dan harga yang jauh lebih tinggi dari pewarna sintetis.

Selain itu warna yang dihasilkan dari pewarna alami lebih soft. Namun diakui Sri Purnomo, hal tersebut tidak masalah  karena akan menjadi daya tarik tersendiri seiring berkembangnya ragam batik di Indonesia.

“Melalui penelitian dan uji coba tentunya kedepan pewarna alami akan terus berkembang dan dapat bersaing dengan pewarna sintetis,” tutur Sri Purnomo.

Sri Purnomo berharap dengan dikukuhkannya sentra batik Dusun Plalangan, Pandowoharjo, Sleman dengan brand ‘Ayu Arimbi’ dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi batik yang ada di  wilayah Plalangan, sekaligus mampu menjadi daya dukung bagi peningkatan kemandirian perekonomian warga setempat.

Sementara  Kepala Sentra Batik Plalangan Pandowoharjo, Jamaludin menjelaskan bahwa batik  Ayu Arimbi Plalangan berbasis pemberdayaan masyarakat. Berbekal pelatihan membatik dari Disperindagkop Kabupaten Sleman muncul inisiatif untuk merekrut ibu-ibu rumah tangga pra sejahtera di Dusun Plalangan dalam proses produksi batik.

“Alhamdulillah seiring berjalannya waktu batik Plalangan semakin banyak order sehingga mampu mengangkat ekonomi warga kami yang kurang mampu,” jelas Jamaludin.

Jamaludin juga menambahkan bahwa  sentra batik Plalangan mendukung langkah Pemkab Sleman dalam pengembangan pewarna alami. Meskipun bahan baku pewarna alami masih sulit didapatkan untuk warna tertentu, dirinya tetap yakin jika pewarna alami nanti dapat bersaing dengan pewarna sintetis.

”Kami berharap dengan pengembangan warna alami yang dilakukan lambat laun pewarna sintetis dapat ditinggalkan,” tambah Jamaludin.




Bupati Kukuhkan Pengurus Perwira Sleman

2-4Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengukuhkan pengurus Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (Perwira) yang berlangsung di Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (29/9).

Menurut Sri Purnomo, melalui pelantikan Perwira cabang Sleman ini dapat menjadi motor penggerak yang solid bagi kemajuan dan perkembangan Perwira kedepan. Mengingat tantangan kedepan dalam dunia wirausaha juga semakin besar sejalan dengan era ekonomi ASEAN.

“Untuk itu, semoga dengan dilantiknya para pengurus Perwira Cabang Sleman periode 2016 dapat memotivasi semangat seluruh pengurus dan anggota untuk dapat terus berinovasi dalam pengembangan usahanya,” kata Sri Purnomo usai mengukuhkan.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa di era sekarang ini ruang bagi para kaum perempuan untuk mandiri, mengaktualisasikan diri dan berperan diberbagai sektor semakin terbuka lebar, tidak terkecuali dalam dunia wirausaha. Hal tersebut patut disambut baik bagi para kaum perempuan sebagai sebuah kesempatan untuk berkarya dan berkembang secara lebih luas.

“Keberadaan Perwira menjadi wadah yang mampu menjadi daya dukung bagi perkembangan kaum perempuan di bidang wirausaha untuk dapat semakin mengembangkan diri dan usahanya, berkolaborasi/bermitra serta belajar dan berkembang bersama dalam rangka memajukan usahanya serta memajukan perekonomiannya,” tutur Sri Purnomo.

Diharapkan pula keberadaan Perwira Cabang Sleman dapat menjadi inspirasi khususnya bagi para perempuan di Kabupaten Sleman untuk dapat berani melangkah dan memulai usaha dalam upaya turut meningkatkan derajat perekonomian keluarga.

Seperti diketahui, masalah kemiskinan masih menjadi tantangan di Kabupaten Sleman, melalui pemberdayaan perempuan dalam bidang wirausaha diharapkan dapat berkontribusi secara positif dalam pengentasan kemiskinan di Kabupaten Sleman.

“Untuk itu kedepan saya juga berharap Perwira Cabang Sleman dapat pula mendukung berbagai program dan kegiatan pemerintah dalam permberdayaan perempuan, sesuai peran dan fungsinya untuk bersama-sama dapat memajukan kaum perempuan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi di Kabupaten Sleman,” katanya.

Menyikapi tantangan dalam dunia wirausaha yang sekarang ini semakin besar dan ketat perlu disikapi dengan pengembangan manajemen kepengurus­an yang teratur, tertata rapi, baik tenaga, sarana dan dana yang dilakukan secara transparan dan profesional serta penyusunan program dan kegiatan yang terarah sebagai sarana dalam mencapai tujuan organisasi.

Oleh karena itu Sri Purnomo berharap agar semua pengurus beserta anggota Perwira Cabang Sleman mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggungjawab dan bersungguh-sungguh serta mampu menunjukkan eksistensinya di masyarakat khususnya dalam dunia wirausaha.

Sehingga keberadaan Perwira Cabang Sleman tidak hanya dirasakan secara positif bagi seluruh anggotanya namun secara lebih jauh dapat turut berperan aktif dalam membangun masyarakat secara lebih luas. Pelantikan DPC Perwira Sleman dilakukan oleh Ketua DPD Perwira DIY  Dra Hj Tatik Esti Ujiani dilanjutkan penyerahan Pataka. Sedangkan yang dilantik sebagai ketua DPC Perwira Cabang Sleman  Hj Anna Christiana Maria Ernawati dan dilengkapi beberapa bidang.