Desa Caturtunggal Jadi Sasaran Gerakan Jumat Bersih

Sleman – Musim penghujan yang tak menentu di Kabupaten Sleman dan lingkungan padat penduduk yang kotor bisa menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menjangkiti warga Sleman.

Tim Pokjanal DBD Kabupaten Sleman Jumat (9/9) beranggotakan dari Dinas Kesehatan, TNI/POLRI, Pemerintah Desa Caturtunggal, serta Pemerintah Kecamatan Depok dan Puskesmas Depok I, Depok II dan Depok III, dibantu Kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik),dan Relawan Radio Amatir melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk di Dusun Tambakbayan, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok.

Kawasan ini merupakan daerah padat penduduk dan didominasi kos-kosan mahasiswa. Sebanyak 19 RT disisir oleh Tim Pokjanal DBD, termasuk penghuni kos-kosan tanpa terkecuali diminta menunjukkan bak mandinya untuk diperiksa oleh Jumantik. Satu-persatu pintu kamar kos diketuk dan diperiksa.

Apabila tim menemukan genangan air dalam suatu wadah atau botol di luar rumah maka akan langsung dibalik supaya tidak menampung air hujan lagi.

Pemantauan dengan melihat langsung pekarangan/halaman bak mandi, tempat penampungan air, dispenser dan sangkar burung. Dari 333 titik/rumah ditemukan 78 rumah atau titik Positif ada jentik sehingga ABJ baru mencapai 76,5% masih di bawah  angka Bebas Jentik yaitu 95%.

Hasil dari pemantauan terdapatnya sarang nyamuk/jentik ternyata terdapat di pekarangan/halaman rumah warga yaitu  pada bak mandi, ban bekas, bekas wadah minuman kemasan, ember cat, kwali bekas yang dibuang oleh warga sembarangan sehingga dapat menampung air hujan untuk sarang nyamuk.

Tim Pokjanal DBD mengingatkan kepada warga dan kader di Dusun Tambakbayan bahwapenderita DBD di Kabupaten Sleman meningkat dibanding tahun 2015 lalu.

Sampai  dengan bulan September ini sudah mencapai 616 kasus termasuk di antaranya 11 orang meninggal dunia, angka sudah melebihi jumlah selama tahun 2015 lalu padahal saat ini masih bulan September.

Pemerintah Desa  Caturtunggal bersama  kader jumantik senatiasa mengingatkan warga termasuk penghuni kos-kosan agar peduli dan menjaga kebersihan  lingkungan dari ban bekas, pot, kaleng  yang bisa menampung air hujan serta genangan got yang mampet, karena akan tumbuh  jentik.

Kades Caturtunggal, Agus Santoso mengharapkan agar tidak hanya aparat pemerintah dan kader saja yang melaksanakan kegiatan bersih-bersih tapi juga warga masyarakat pun diharapkan juga sadar akan kebersihan lingkungan dan memantau jentik di rumahnya masing -masing.***




Biro Travel Eropa Tertarik Destinasi Sleman

Buyer lokal saat mengunjungi Stand STD Kabupaten   SlemanSleman – Kabupaten Sleman sebagai salah satu pilot project nasional Sustainable Tourism Development (STD) mengikuti promosi wisata dalam ajang Pacific Asia Travel Association (PATA) Travel Mart 2016 yang diselenggarakan pada tangal 7 – 9 September 2016 di ICE BSD City Tangerang Banten.

Keikutsertaan Kabupaten Sleman dalam booth bersama dengan beberapa daerah lain ini difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata RI. PATA merupakan organisasi yang beranggotakan lebih dari 97 National Tourism Organisation dari berbagai negara didunia.

Dan, 100 perusahaan maskapai penerbangan internasional, puluhan perusahaan pelayaran internasional, 150 institusi pendidikan papan atas serta ribuan perussahaan yang bergerak dibidang pariwisata. PATA Travel Mart 2016 ini merupakan yang ke-39 kalinya, dan sebagai tuan rumah Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir. AA Ayu Laksmidewi TP MM di Sleman, Jumat (9/9) mengharapkan dengan keikutsertaan Kabupaten Sleman dalam ajang internasional ini dapat memberikan referensi kepada para buyers dan pengunjung pameran tentang destinasi wisata di Kabupaten Sleman.

“Untuk selanjutnya mereka akan memasukkan agenda-agenda kunjungan wisatanya di beberapa destinasi wisata unggulan di Kabupaten Sleman,” kata Ayu.

Dikatakan Ayu, destinasi wisata unggulan yang dapat dijual secara internasional diantaranya Candi Prambanan, Museum Ullen Sentalu, Museum Gunungapi Merapi, Volcano Tour Merapi dan Sendratari Ramayana. Selain itu masih terdapat banyak pilihan yang mungkin bisa dijadikan paket-paket wisata.

Selain untuk mempromosikan destinasi wisata, keikutsertaan Kabupaten Sleman juga dimaksudkan untuk mensosialisasikan Kabupaten Sleman sebagai salah satu pilot project Program Sustainable Tourism Development (STD).

Yang dalam hal ini pengembangan destinasi wisata di Kabupaten Sleman mengedepankan pada aspek-aspek keberlanjutan yang meliputi manajemen, lingkungan, sosial budaya dan ekonomi.

Salah satu buyer asal Hungaria Timea Nyul dari Vista Travel Agencies menyatakan ketertarikannya terhadap daya tarik yang ditawarkan Kabupaten Sleman. Meskipun selama ini baru mengenal Candi Borobudur, pihaknya akan mencoba menawarkan potensi Sleman kepada para kliennya. Karena Sleman ternyata tidak jauh dari Candi Borobudur.




Pasca Penetapan SKPD, Sleman Marathon Siapkan Personil dan Anggaran

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah selesai melakukan pembahasan perombakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ditetapkan bersama DPRD Kabupaten Sleman pada Senin (31/8) lalu.

Terkait hal tersebut Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pembangunan Kabupaten Sleman Dra Suyamsih MPd di Sleman, Kamis (8/9) menyampaikan bahwa saat ini Pemkab Sleman secara paralel sedang merancang penataan  SDM, keuangan, dan asset setelah penetapan perombakan SKPD.

Senada dengan Suyamsih, Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Hery Dwi Kuryanto SH menjelaskan bahwa saat ini Pemkab Sleman sedang mematangkan penataan organisasi yang dipimpin oleh Sekda menindaklanjuti Perda Perangkat Daerah.

“Pemkab Sleman saat ini secara maraton membahas percepatan penetapan APBD 2017, penataan SDM dan sarana prasarana yang sudah menyesuaikan dengan struktur kelembagaan baru,  targetnya bisa selesai akhir November 2016,” kata Heri.

Heri juga menjelaskan bahwa SKPD di Lingkungan Pemkab Sleman yang sudah ditetapkan yaitu Sekretariat DPRD, Inspektorat Kabupaten, Satuan Polisi Pamong Praja, 21 Dinas, 5 Badan, dan 17 Kecamatan.

Penetapan ini menurut Heri merupakan komitmen Bupati Sleman dan DPRD Kabupaten Sleman untuk melaksanakan PP No. 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah serta menjalankan instruksi pusat.

“Berdasarkan PP No. 18 tahun 2016, Perangkat Daerah baik yang digabung maupun dipisah dengan pendekatan urusan karena kelembagaan dibentuk berdasarkan rumpun urusan  sebagai mana urusan-urusan yang diatur dalam UU tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,” jelas Heri.***




‬Sapi Pemakan Sampah Sulit Dipantau

Sleman – Sapi pemakan sampah memang tidak direkomendasikan untuk hewan kurban pada hari raya Idul Adha. Namun Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman kesulitan untuk memantau penjualan atau peredaran ternak sapi pemakan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Piyungan, Kabupaten Bantul.‬

‪”Kami memang tidak merekomendasikan sapi pemakan sampah sebagai hewan kurban. Namun kami juga kesulitan untuk memantau penjualan atau peredaran sapi yang berasal dari TPA sampah Piyungan,” kata Kepala DPPK Kabupaten Sleman, Ir  Widi Sutikno MSi di Pres room Pemkab Sleman, Kamis (8/9).

‪Dijelaskan Widi, secara fisik sapi pemakan sampah memang tidak ada bedanya dengan sapi dari kandang-kandang ternak masyarakat.‬ Tidak adanya perbedaan yang signifikan ini yang menyulitkan dalam pemantauan.

“Kami hanya mengharapkan kepada pedagang hewan kurban untuk tidak mengambil atau menjual sapi pemakan sampah ini,” kata Widi.‬

‪Selain itu Widi juga mengingatkan bagi masyarakat yang hendak membeli hewan kurban diharapkan bisa langsung membeli di kelompok-kelompok ternak sapi, karena lebih terjamin kelayakannya.‬

‪”Para peternak di kelompok biasanya sudah menyiapkan hewan kurban sejak beberapa bulan sebelumnya melalui kegiatan penggemukan sapi. Sapi-sapi tersebut lebih terjamin kesehatannya, selain karena selalu ada petugas yang memantau, juga kebersihan kandang lebih terjamin,” kata Widi.‬

‪Kepala Bidang Peternakan DPPK Kabupaten Sleman, Ir Suwandi Aziz meminta masyarakat selektif dalam memilih hewan kurban. ‬ Sapi pemakan sampah tidak boleh dikonsumsi karena rawan menimbulkan penyakit, namun pengendaliannya diakui cukup sulit. Untuk menekan keberadaan sapi pengkonsumsi limbah dibutuhkan kesadaran dari kalangan peternak.




Dari Hasil Pantauan, Puluhan Sapi di Sleman Terserang Virus Orf

Sleman – Menjelang Hari raya Idul Adha, tim Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman intens melakukan pantauan di lapangan.

Sampai sekarang sudah 50 lokasi yang dipantau antara lain di Kecamatan Ngemplak, Godean, Mlati, Ngaglik, Depok, Sleman, dan Gamping. Dari hasil monitoring sejauh ini ditemukan puluhan ternak sapi terinfeksi virus orf.

“Berdasar pantauan kami ada 34 ekor sapi yang terkena virus orf. Ciri-cirinya peradangan di sekitar mulut yang mengakibatkan nafsu makan hewan berkurang drastis,” kata Kepala DPPK Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, Kamis (8/9).

Selanjutnya ternak sapi yang dinyatakan positif terjangkit orf diminta agar diafkir atau disendirikan. Sebab jika dibiarkan, dapat menyebar ke ternak lain yang berada dalam satu kelompok bahkan proses penularan berlangsung hanya dalam waktu semalam. Mengingat penyembuhannya butuh waktu lama,  peternak disarankan menunda penjualan hewan ternak yang terjangkit virus orf.

“Dagingnya masih layak konsumsi tapi secara bisnis bisa membuat rugi karena menilai jual. Karena itu sebaiknya ternak diobati dulu,” kata Widi.

Selain virus orf lanjut Widi, penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah scabies, dan pink eye. Tim telah menemukan satu sapi terkena penyakit kulit scabies, dan 16 ekor terjangkit pink eye. Adapun total ternak yang telah diperiksa sebanyak 461  ekor sapi, domba, dan 159 kambing. Monitoring ini akan terus berlangsung hingga H-1 Idul Adha.