BPBD Sleman Sosialisasikan Penerapan Sister School

Sleman – Ancaman bencana letusan gunung Merapi terus diwaspadai dengan menyiapkan berbagai sarana dan prasarana baik bagi para warga, khususnya anak sekolah serta prasarana fisik lainnya. 

Seperti halnya yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dengan melakukan sosialisasi penerapan sister school yang dilaksanakan, Selasa (27/9) di Hotel Prima dengan peserta 50 orang dari SKPD terkait, sekolah, dunia usaha serta pemangku kepentingan.

Dikatakan  Kunto Riyadi, Pj Pelaksana tugas BPBD Sleman kegiatan ini merupakan upaya  menyiapkan personil dalam penerapan Sister School yang akan dilanjutkan dengan fasilitasi sosialisasi di 4 sekolah sebagai sasaran yakni SD Tarakanita Ngembesan Turi dengan sekolah persaudaraannya SMP Alosius Turi, serta SD Pandanpuro II dengan sekolah persaudaraannya SD Muh Pakem.

Selanjutnya juga akan diteruskan dengan gladi lapang di 4 sekolah sasaran. Kegiatan ini dilakukan agar sekolah yang masuk dalam KRB III bila suatu saat terjadi bencana tidak terganggu dalam belajar mengajarnya serta sekolah sasaran siap menerima siswa yang terkena dampak erupsi Merapi.

Hal ini juga diungkapkan  Jazim Sumirat SH yang mewakili Bupati Sleman disela-sela membuka sosialisasi, bahwa Kabupaten Sleman merupakan satu dari 136 kota yang memiliki indeks resiko bencana tinggi. Menyadari hal ini, Pemkab Sleman berupaya melakukan langkah mitigasi bencana.

Tidak hanya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar tidak terhambat akibat terjadinya bencana. Berlatarbelakang hal tersebut, Pemkab Sleman melaksanakan kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dengan mengembangkan sister school atau sekolah penyangga.

Melalui kegiatan ini sekolah terdampak dipersaudarakan melalui pembuatan MOU persaudaraan dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman. Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.

“Sosialisasi ini menjadi langkah pertama, sarana menyiapkan kesiapsiagaan komponen sekolah dalam menghadapi kemungkinan kondisi kedaruratan,” kata Jazim.

Melalui sosialisasi lanjutnya, diharapkan akan semakin memantapkan langkah dan upaya dalam melakukan penanganan bencana di wilayah Kabupaten Sleman. Dengan berbekal pengetahuan yang memadai dalam menghadapi bencana maka akan dapat bertindak tepat dan efisien. Sampai saat ini di Sleman telah terbentuk 20 sister school, 8 sekolah siaga bencana dan 39 organisasi relawan dengan jumlah relawan 1512 orang.

Selain itu juga telah memetakan potensi kerawanan bencana, serta pemasangan early warning system. Hingga Februari 2016 BPBD Sleman bekerjasama dengan Dishubkominfo dan warga masyarakat telah mengelola sejumlah 88 EWS banjir lahar dingin, 4 EWS awan panas, 3 EWS tanah longsor dan 1 EWS curah hujan.
Dengan fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun korban materiil saat terjadinya bencana.




Pemkab Sleman Sweeping Siswa Bolos Sekolah

2-2Sleman – Untuk menertibkan siswa yang bolos sekolah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam hal ini Dinas Pendidilkan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) melakukan sweeping siswa. Sweeping yang dilakukan Senin (26/9) melibatkan Disdikpora sebagai leadeng sektor, Polres Sleman, BNNK Sleman, Satpol PP, juga bagian Humas. 

“Sweeping terbagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok I dengan wilayah sasaran Kecamatan Kalasan, Prambanan dan Berbah, sedang kelompok II dengan sasaran Kecamatan Ngaglik, Ngemplak dan Cangkringan, dan kelompok III dengan lokasi Kecamataan Tempel, Turi dan Pakem,” kata Dra Sri Winarti, Kabag Humas Sleman, Senin (26/9).

Menurut Sri Winarti, dari tiga kelompok tersebut dengan menyusuri lokasi yang disinyalir sebagai tempat nongkrong siswa yang bolos ternyata tidak dijumpai. Hanya saja saat kelompok II dengan menyusuri lokasi sekitar stadion Maguwoharjo, monumen plataran, Obyek wisata Blue Legoon di wilayah Kecamatan Ngemplak juga tidak menjumpai siswa yang bolos sekolah.

Setelah menyusuri beberapa tempat tersebut, di toko kelontong di utara RM Morolejar tim sweeping menjumpai dua siswa sebuah SMK  swasta di Pakem sedang berada di toko tersebut dengan alasan sudah pamit, tetapi saat ditanyakan surat izinnya tidak dapat menunjukkan.

Saat itu juga tim memberi pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya dengan membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh siswa yang bersangkutan dan diketahui oleh Kepala Sekolah dan Orangtua, dan nantinya harus diserahkan ke kantor Disdikpora Sleman.

Sedangkan tim I mendapati 4 anak usia sekolah yang kedapatan mengkomsumsi minuman keras, karena tidak memakai identitas sekolah dan mengaku bukan pelajar maka penanganannya diambil alih oleh Polsek Prambanan.

Sementara kelompok III mendapati 6 siswa , 5 diantaranya dari sebuah SMA Swasta di Pakem berada diluar pada jam sekolah dan telah diberi peringatan, sedang 1 siswa dari sebuah MAN di wilayah Sleman utara kedapatan membawa obat  ( kemungkinan obat terlarang) karena didapat secara illegal.




Minat Masyarakat Terhadap Seni dan Budaya Tinggi‬

Sleman – Kecintaan dan minat masyarakat Sleman  untuk melestarikan seni dan budaya dinilai cukup tinggi. Selain kelompok-kelompok kesenian dan budaya untuk tetap melestarikan, minat masyarakat untuk menyaksikan kegiatan tersebut juga cukup besar.‬

‪Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir  AA Ayu Laksmi Dewi TP MM, Senin (26/9) mengatakan minat masyarakat untuk menyaksikan kegiatan seni dan budaya cukup tinggi. Hal itu menjadi salah satu alasan Disbudpar sering menyelenggarakan event-event seni dan budaya.

Disebutkan event seperti Pelangi Budaya Merapi yang baru selesai dilaksanakan selama tiga hari Jumat-Minggu (23-25/9) di komplek lapangan Denggung dan lapangan Pemkab Sleman  juga bagian dari pembinaan kelompok-kelompok seni dan budaya yang ada di wilayah Sleman.

‪Kondisi tersebut, menurut Ayu, dapat dilihat dari  pelaksanaan Kirab Pelangi Budaya yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman tersebut, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan beragam pentas dan atraksi kesenian jathilan, orchestra serenade, tarian teatrikal, flashmop di Panggung KRT Pringgodiningrat.

“Meski diselingi hujan, antusiasme peserta dan masyarakat cukup tinggi menyaksikan parade tersebut,” kata Ayu.‬

‪Ditambahkan Ayu, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional masyarakat. Pasalnya potensi seni dan budaya di wilayah Sleman cukup besar berikut kreativitas masing-masing.

“Pentas kesenian dan budaya yang ditampilkan menyesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing wilayah. Mereka mampu mengemas penampilannya sesuai kreatifitas tiap-tiap kelompok,” tutur Ayu.




Pembangunan Pariwisata Hendaknya Terintegrasi dan Multisektor‬

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengatakan pembangunan pariwisata hendaknya dilakukan terintegrasi dan multisektor untuk menciptakan akselerasi yang seimbang.‬

‪”Baik wisata alam, pendidikan, budaya, olah raga maupun wisata minat khusus oleh seluruh pemangku kepentingan,” kata Sri Muslimatun, Senin (26/9).‬

‪Menurut Sri Muslimatun, upaya pengembangan ini dilakukan mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu sektor strategis, sebagai salah satu penopang pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sleman yang tumbuh cukup stabil dengan peningkatan rata-rata sebesar 5,28 persen dengan kondisi pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 4,72 persen.‬

‪”Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman pada 2015 mencapai wisatawan, yang terdiri wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara, atau meningkat 26,18 persen dari tahun sebelumnya dengan jumlah wisatawan,” katanya.‬

‪Dari angka statistik tersebut lanjut Sri Muslimatun, masih optimis dapat meningkat sebagaimana target kunjungan wisatawan 2016 Kabupaten Sleman sebesar wisatawan.‬

‪”Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inovasi dengan menciptakan event-event rutin, guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik nusantara maupun manca negara,” tuturnya.‬

‪Sri Muslimatun menambahkan upaya ini selaras dengan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan lama tinggal wisatawan di Kabupaten Sleman.‬

‪”Sleman merupakan kawasan yang strategis, memiliki berbagai `comparative advantage` dengan potensi kewilayahan yang menarik di berbagai sektor, yang telah didukung dengan ketersediaan tenaga kerja terampil dan terdidik, aksesibilitas yang memadai, serta ketersediaan prasarana dan sarana yang mendukung upaya pengembangan pariwisata berkesinambungan di Kabupaten Sleman,” katanya.




Semula Kawasan Kumuh, Sekarang Brajan Jadi Sentra Kerajinan Bambu

IMG_0686Sleman – Pada mulanya Dusun Brajan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman adalah kawasan yang kumuh dengan ekonomi masyarakat dibawah garis kemiskinan. Namun berkat kesadaran masyarakat untuk hidup lebih baik, Dusun Brajan menjadi Dusun yang berkembang terutama dalam hal kerajinan bambu.

Berkat kegigihan masyarakatnya untuk meningkatkan perekonomiannya Dusun Brajan telah dikukuhkan menjadi Sentra Industri Kerajinan Bambu oleh Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes,  Senin (26/9). Pengukuhan tersebut merupakan wujud komitmen Pemkab Sleman dalam pengembangan produksi kerajinan bambu menindaklanjuti Surat Keputusan Bupati Sleman No. 57 Tahun 2016 tentang Sentra Industri di Kabupaten Sleman Tahap II.

Sulisman selaku Ketua Kelompok Pengrajin Bambu Brajan menjelaskan bahwa Dusun Brajan mulai merintis menjadi sentra kerajinan bambu dimulai pada tahun 1991. Sebelum tahun 1990 awalnya Dusun Brajan merupakan kawasan kumuh dengan ekonomi masyarakat dibawah garis kemiskinan, hampir setiap rumah terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan jarang anak-anak muda yang bersekolah karena kekurangan biaya.

Keadaan tersebut menjadikan masyarakat Brajan harus memutar otak yang pada akhirnya dengan bekal kemampuan menganyam bambu mereka mulai memberanikan diri memproduksi kerajinan hingga sekarang.

“Dengan bambu tersebut lambat laun kehidupan ekonomi masyarakat Brajan meningkat yang akhirnya bisa bertahan dan menjadi sumber penghasilan warga hingga sekarang,” kata Sulisman.

Menurut Sulisman pada tahun 2004 Dusun Brajan dicanangkan menjadi Desa Wisata Cinderamata Kerajinan Bambu. Sempat vakum beberapa tahun baru pada tahun ke 5 dikelola dan dikembangkan lagi oleh warga masyarakat.

Saat ini di Dusun Brajan terdapat kurang lebih 120 pengrajin dan 8 pengepul produk kerajinan. Brajan juga menjadi tempat study wisata kerajinan dengan menyediakan homestay yang mampu menampung 50 orang.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sleman, Drs Pustopo menyampaikan bahwa tujuan pengukuhan sentra industri adalah untuk meningkatkan kompetensi sentra dalam kancah ekonomi global. Selain itu juga untuk meningkatkan peran serta kelembagaan sentra dalam pemberdayaan ekonomi melalui sentra industri kecil.

“Pada tahun 2015 Kabupaten Sleman mengukuhkan 10 sentra kerajinan, dan 2016 ini mengukuhkan 6 sentra termasuk Dusun Brajan,” jelas Pustopo.

Sementara Sri Muslimatun berharap dengan dikukuhkannya Dusun Brajan, Sendangagung, Minggir Kabupaten Sleman dapat meningkatkan dan pengembangkan potensi kerajinan bambu yang ada di  wilayah Brajan.

Muslimatun juga  mengajak seluruh pelaku industri, stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama memajukan potensi UKM yang ada di masing-masing wilayah. Salah satu caranya adalah dengan ikut menggunakan produk-produk tersebut, sehingga produk-produk UKM dapat menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Lebih lanjut Muslimatun menambahkan bahwa salah satu pelaku usaha yang memiliki eksistensi penting dalam pembangunan perekonomian daerah di Sleman adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Keberadaan UMKM, memiliki hubungan positip dalam program pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pada akhir tahun 2015 Kabupaten Sleman memiliki UKM,” kata Sri  Muslimatun.