Kirab Bregada Prajurit Tetap Memukau Pengunjung

IMG_0038Sleman – Meski sempat diguyur hujan yang cukup deras, 34 Bregada Prajurit Tradisional dari 17 Kecamatan se Kabupaten Sleman tetap memukau pengunjung disepanjang jalur kirab antara Lapangan Denggung dan Lapangan Pemda Sleman, Sabtu  (24/9).

Ke 34 Bregada Prajurit tersebut adalah Bregada Sunan Kalijogo dari Margodadi Seyegan, Bregada Sastro Wilogo dari Sumbersari Moyudan, Bregada Mbah Demang dari Banyuraden Gamping, Bregada Catur Manunggal dari Tamanmartani Kalasan, Bregada Wargo Upoyo dari Sindumartani Ngemplak, Bregada Tunggulsari dari Margorejo Tempel, Bregada Bondo Koro dari Tirtomartani Kalasan, Bregada Sunan Kalijogo dari Sumbersari Moyudan.

Dan, Bregada Manunggaling Kawulo dari Tegaltirto Berbah, Bregada Wulung Galih dari Condongcatur Depok, Bregada  Waneng Caki dari Margorejo Tempel, Bregada Nyi Prembun dari Sukoharjo Ngaglik, Bregada Wanasela dari Sambirejo Prambanan, Bregada Sentono Budoyo dari Sinduadi Mlati, Bregada Dandang Rekso dari Pandoworejo Sleman, Bregada Mbah Bokeri dari Tlogoadi Mlati, Bregada Lombok Abang dari Umbulharjo Cangkringan.

Selanjutnya Bregada Pangeran Diponegoro dari Margomulyo Seyegan, Bregada Ngrowhood dari Girikerto Turi, Bregada Kyai Kelir dari Sendangagung Minggir, Bregada Prawireng Sigenting dari Sidoagung Godean, Bregada Pager Bumi dari Wonokerto Turi, Bregada Pangeran Poerboyo dari Sendangtirto Berbah, Bregada Kadilobo dari Purwobinangun Pakem.

Serta, Bregada Sunan Kedung dari Caturharjo Sleman, Bregada Gagak Suro dari Sidomulyo Godean, Bregada Ki Ageng Tunggul Wulung dari Sendangagung Minggir, Bregada Notoyodo dari Sariharjo Ngaglik, Bregada Jogoyudo dari Wukirharjo Prambanan, Bregada Tambak Kali dari Argomulyo Cangkringan, Bregada Kromo Dipo dari Candibinangun Pakem, Bregada Wirorejo dari Trihanggo Gamping.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM mengatakan   pada hari Minggu (25/9) pentas diawali pada pukul WIB di Panggung KRT Pringgodiningrat.

Kesenian yang dipentaskan berupa atraksi kesenian jathilan, orchestra serenade, tarian teatrikal, flashmop dilanjutkan dengan kirab pelangi budaya Bumi Merapi yang terdiri atas 55 kontingen dari berbagai kalangan dan komuitas seni budaya, museum, sekolah, perwakilan luar daerah yaitu Riau, Lampung, Papua, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTB.

Ayu menambahkan bahwa masyarakat dan wisatawan yang menonton Kirab Pelangi Budaya Budaya Minggu (25/9) pukul – WIB diminta tetap  menjaga keamanan dan ketertiban agar dapat menyaksikan kirab dengan nyaman dan tidak menimbulkan kerusakan taman yang ada disepanjang jalur kirab.

Selain itu diharapkan pula untuk berhati terhadap perhiasan maupun anak-anak kecil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Ditambahkan Ayu, penampil terbaik 1 sampai  terbaik 6 Festival Bragada Prajurit yang tampil Sabtu (24/9) secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp 5 juta, Rp 4,5 juta, Rp 4 juta, Rp 3 juta, Rp 2 juta dan Rp 1,5 juta.

Penampil terbaik 1 sampai terbaik 6 Kirab Pelangi Budaya yang tampil Minggu (25/9) secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp 8 juta, Rp 6,5 juta, Rp 5 juta, Rp 4 juta, Rp 3,5 juta dan Rp 3 juta.

Ayu juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat umum dan pengguna jalan di Jl. Magelang, Jl. Parasamya dan Jl. KRT Pringgodiningrat yang terpaksa ditutup atau ditutup sebagian untuk pelaksanaan kirab Bregada Prajurit mulai pukul – WIB.




Warga Lereng Merapi Didorong Beternak Sapi‬

Sleman – Prospek budidaya sapi perah di Kecamatan Cangkringan, Sleman cukup menjanjikan. Terlebih selama ini, daerah Cangkringan telah dikenal sebagai sentra peternakan sapi.

‪Pemerintah Kecamatan Cangkringan pun mendorong warganya untuk mengembangkan usaha itu. Khususnya yang saat ini masih bekerja sebagai penambang pasir.‬

‪“Barangkali secara ekonomi, pekerjaan penambang lebih menjanjikan keuntungan. Tapi banyak dampak buruknya selain merusak jalur transportasi,” ungkap Edy Harmanta, Camat Cangkringan, Jumat (23/9).

‪Disamping itu dijelaskan Edy, pekerjaan menambang pasir dirasa sulit untuk dijadikan gantungan nafkah dalam jangka waktu lama. Pasalnya, material pasir yang ditambang lambat laun akan habis.‬

‪“Kalau pasirnya sudah habis, mereka lantas akan mencari kerja dimana. Beda dengan peternakan sapi yang prospeknya berkelanjutan,” katanya.‬

‪Usaha budidaya sapi perah juga bisa dimanfaatkan oleh warga yang secara kelas ekonomi masih berada di tingkatan menengah ke bawah. Terutama warga korban erupsi Merapu yang sekarang tinggal di hunian tetap (huntap).‬

‪Hanya saja, kata Edy, ada kendala yang dihadapi warga huntap jika ingin menambah hewan ternaknya. Sebab, lahan yang ada hanya terbatas sehingga mereka kesulitan untuk memperluas kandang.‬

‪Dia berharap ada solusi dari pemerintah daerah untuk membantu peternak dalam mengembangkan usahanya. Mengingat, potensinya cukup besar bahkan jumlah populasi sapi di Kecamatan Cangkringan mencapai ekor.‬

‪Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Ir Suwandi Azis mengakui, saat ini belum ada program bantuan perluasan kandang ternak di kawasan huntap. Namun dia menyarankan kepada peternak agar mengajukan usulan ke Pemda.‬

‪“Dicoba saja mengajukan bantuan ke Pemda. Jika disetujui, kami akan memproses,” katanya.




Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi Perebutkan Total Hadiah Rp. 64 Juta

Sleman – Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi digelar selama 3 hari mulai Jum’at – Minggu 23-25 September 2016 di Kompleks Lapangan Denggung Sleman Yogyakarta. Event ini memperebutkan total hadiah sebesar juta untuk tiga kategori yaitu Festival Kesenian Sleman, Festival Bregada Prajurit dan Kirab Pelangi Budaya.

Demikian dinyatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM, Kamis 22 September 2016 dikantornya Jl. KRT Pringgodiningrat Beran Tridadi Sleman Yogyakarta.

Rangkaian Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi diawali Jum’at 23 September 2016 pukul dengan pertunjukan jathilan “Sekar Gadung” dari Kecamatan Turi. Sedangkan upacara pembukaan secara resmi akan dilakukan oleh Bupati Sleman pada pukul WIB dilanjutkan dengan pertunjukan reog “Kudho Wiromo” dari Kecamatan Berbah dan pementasan 3 (tiga) dalang anak.

Pada malam harinya mulai jam WIB dipentaskan gejog lesung, ande-ande lumut, kethoprak lesung, srandul, sampakan, langentoyo dan dadungawuk.

Di hari kedua, Sabtu 24 September 2016 mulai pukul  –  WIB diawali dengan pertunjukan jathilan, dilanjutkan pukul – WIB dengan kirab festival bregada prajurit dengan start Lapangan Denggung dan finish di Lapangan Pemda. Pada malam harinya mulai pukul di Gedung Serbaguna disajikan wayang suket, emprak, jeber juwes, kethek ogleng, dadungawuk, srunthul, sampakan.

Hari ketiga, Minggu 25 September 2016 diawali pada pukul  WIB di Panggung KRT Pringgodiningrat dipentaskan atraksi kesenian jathilan, orchestra serenade, tarian teatrikal, flashmop dilanjutkan dengan kirab pelangi budaya Bumi Merapi yang terdiri atas 50 kontingen seni budaya dari berbagai kalangan dan komuitas, 10 kelompok museum dan 7 kontingen perwakilanluar daerah, yaitu Riau, Lampung, Papua, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTB dan Bali.

Total hadiah juta akan diberikan kepada para pemenang Festival Kesenian Sleman, Festival Bregada Prajurit dan Kirab Pelangi Budaya. Penampil Terbaik 1 – Terbaik 5 Festival Kesenian Sleman secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp.4 juta, Rp,3,5 juta, Rp.2,5 juta, Rp.2 juta, Rp.2 juta.

Sedangkan Penampil Terbaik 1 – Terbaik 6 Festival Bragada Prajurit yang tampil Sabtu 24 September 2016 secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp.5 juta, Rp.4,5 juta, Rp.4 juta, Rp.3 juta, Rp.2 juta dan Rp.1,5 juta.  Penampil Terbaik 1 – Terbaik 6 Kirab Pelangi Budaya yang tampil Minggu 25 September 2016 secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp.8 juta, Rp.6,5 juta, Rp.5 juta, Rp.4 juta, Rp.3,5 juta dan Rp.3 juta.




Pemkab Kembangkan Desa Mandiri Pangan

IMG_8531Sleman – Kemandirian pangan merupakan langkah yang harus diwujudkan terlebih dahulu untuk mencapai kedaulatan pangan. Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tengah berupaya mengembangkan Desa Mandiri Pangan sebagai upaya dalam meningkatkan sistem mandiri pangan serta meningkatkan ketahanan pangan di pedesaan.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengungkapkan hal tersebut disela-sela Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke XXXVII di halaman Kantor Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Kamis (22/9).

Menurut Sri Purnomo, desa yang mendapat program desa mandiri pangan diantaranya desa Wukirharjo Kecamatan Prambanan, Desa Sumberejo Kecamatan Tempel, Desa Margomulyo Kecamatan Seyegan, Desa Sendangagung Kecamatan Minggir, Desa Margoagung Kecamatan Seyegan, Desa Mororejo Kecamatan Tempel, Desa Caturharjo Kecamatan Sleman dan Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan.

Untuk itu pelaksanaan Hari Pangan Sedunia ini dikatakan Sri Purnomo merupakan momen untuk meningkatkan pemahaman, kepedulian dan menggalang kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam meningkatkan sinergi dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

“Saya berharap ke depan pengembangan desa mandiri pangan terus ditingkatkan agar langkah kita menuju kedaulatan pangan dapat segera tercapai. Saya mengajak semua pihak untuk bersama-sama membuat trobosan dan inovasi untuk dapat mengelola potensi pangan lokal agar lebih optimal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan kita secara berkelanjutan,” papar Sri Purnomo.

Sementara  Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi menjelaskan bahwa penyelenggaraan Hari Pangan Sedunia di Kabupaten Sleman yang diselenggarakan tanggal 22-23 September 2016 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan pangan lokal sebagai pangan alternatif.

Aneka lomba olahan pangan berbahan dasar lokal seperti penggunaan talas, daging itik, ikan air tawar, dan salak sebagai bahan dasarnya diselenggarakan dalam acara tersebut.

“Pemanfaatan bahan dasar lokal ini untuk mendorong ide kreatif masyarakat untuk menciptakan varian produk baru sehingga olahan bahan pangan lokal nantinya memiliki nilai ekonomi yang lebih dan kedepan diharapkan menjadi alternatif bahan pangan,” jelas Widi.

Selain lomba olahan bahan pangan juga terdapat berbagai kegiatan dalam acara tersebut yang diantaranya paparan inovasi teknologi pertanian, temu usaha, serta bazar yang diikuti 50 kelompok usaha dari Asosiasi Bidang Pertanian Perikanan dan Kehutanan, Pengusaha Olahan Makanan, serta bidang lainnya.

“Kami berharap dengan Peringatan Hari Pangan Sedunia ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi pangan lokal sehingga dapat membangun terwujudnya ketahanan pangan sesuai dengan tema HPS XXXVI yaitu Membangun Kedaulatan Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal,” tambah Widi.




Desa Banyuraden Gamping, Lomba TOGA Nasional

IMG_8425Sleman – Desa Banyuraden Kecamatan Gamping Sleman yang diwakili oleh Dusun Modinan dan Dusun Geplakan menjadi empat besar nasional mewakili Provinsi DIY dalam lomba Penilaian Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Tingkat Nasional.

Menurut Ketua Tim Penilai Pusat Meinarwati Apt MKes  ketika mengunjungi  Dusun Modinan,  Kamis (22/9) Desa Banyuraden akan bersaing dengan 3 desa lainnya dari perwakilan Provinsi Lampung, Riau, dan Gorontalo.

Meinarwati menjelaskan bahwa tujuannya bersama tim yang terdiri dari lima orang berkunjung ke Desa Banyuraden adalah untuk melakukan verifikasi lapangan.  Vverifikasi ini lanjut Meinarwati merupakan tindak lanjut dari verifikasi dokumen yang telah dikirimkan untuk mengikuti seleksi tingkat nasional.

“Kegiatan Penilaian Pemanfaatan TOGA merupakan salah satu implementasi dari program asuhan mandiri Pemanfaatan TOGA dan Akrupesur yang bertujuan mendorong masyarakat agar mampu mengatasi gangguan kesehatan ringan dengan prinsip kesadaran, keinginan sendiri, kebersamaan, kemandirian, komitmen dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” jelas Meinarwati.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang menyambut langsung kedatangan tim penilai pusat menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga masyarakat Desa Banyuraden, Gamping atas prestasi yang telah diraih dalam bidang TOGA sejauh ini.

Sri Purnomo berharap proses penilaian yang dilakukan dapat memenuhi seluruh indikator penilaian sehingga mampu mengantarkan Desa Banyuraden, Gamping sebagai pemenang dalam Lomba Pemanfaatan TOGA Tingkat Nasional.

“Semoga capaian ini semakin menambah semangat dan motivasi warga masyarakat dalam memanfaatkan dan mengembangkan hasil TOGA, sekaligus menjadikan Desa Banyuraden sebagai role model bagi desa lainnya dalam memanfaatkan pekarangan dan lahan lainnya untuk pengembangan tanaman obat yang pada akhirnya bermuara kepada penguatan ekonomi dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Sleman,” tutur Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo pemanfaatan TOGA merupakan salah satu upaya mendukung Program Indonesia Sehat yang mengedepankan paradigma sehat, yakni paradigma yang menekankan pada tindakan promotif dan preventif sebagai pilar utama upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan multi sektor. Kedepan kebun TOGA di desa Banyuraden akan dimanfaatkan sebagai wisata TOGA.

Melalui pengembangan TOGA, masyarakat secara mandiri dapat mengatasi masalah gizi melalui kecukupan makan sayur dan buah setiap hari. Masyarakat secara mandiri bisa memanfaatkan pekarangannya untuk memenuhi kebutuhan sayur, buah dan tanaman obat.

“Dengan pemanfaatan TOGA ini diharapkan tidak ada lagi “lahan tidur” di sekitar kita. Mengingat lahan tidur pun jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi sumber penyakit menular,” tutur Sri Purnomo.