Kenduri Pohon Ajang Lestarikan Mata Air Desa Wonokerto

Sleman – Kenduri pohon adalah bentuk ekspresi budaya dari komitmen bersama semua pihak baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan semua stakeholder yang peduli untuk melestarikan dan menyelamatkan mata air agar tetap mengalir menurut Kepala Desa Wonokerto Tomon Haryo Wirosobo di Kantor Desa Wonokerto, Kamis (13/10).

Acara tahunan ini akan dilaksanakan pada hari minggu tanggal 23 Oktober 2016 pukul WIB bertempat di Tunggularum Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Acara tersebut sekaligus meresmikan hutan lindung dan penanda tanganan komitmen bersama tentang penyelamatan dan kelestarian mata air oleh Gubernur .

Acara ini merupakan rangkaian Gelar Potensi dan Budaya WONOKERTO EXPO TAHUN 2016 yang akan dibuka pada tanggal 18 Oktober 2016. Acara tersebut akan dimeriahkan dengan pameran potensi desa seperti kuliner, kerajian dan pariwisata serta penampilan seni pertunjukan kerakyatan yang ada di Desa Wonokerto dan diakhir kegiatan pada tanggal 23 Oktober 2016 adalah Kenduri Pohon.

Wonokerto adalah desa paling atas diutara Daerah Istimewa Yogyakarta yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah disisi barat dan gunung merapi disisi utara yang merupakan daerah tangakapan air dan menjadi wilayah penyangga ketahanan suplay air ke daerah yang ada dibawahnya yaitu Jogjakarta. Oleh sebab itu penyelamatan dan pelestarian mata air ini tetap terjaga sampai kapanpun.

Salah satunya program yang dikembangkan untuk menyelamatkan dan melestarikan mata air adalah dengan menanam berbagai jenis tanaman yang mampu menahan dan menyimpan air di sepanjang aliran sungai seperti gayam, beringin, bambu, jampe, rampleras, keluwih.

Selain itu, banyak ditanam jenis tanaman yang memiliki nilai historis dan filosofis mulai langka diantaranya tesek, mentaok, nagasari, pronojiwo, kemenyan, timoho, cendana, kepel, duwet putih, nam-nam, tersono, mawar dan samolo.




Pasca Longsor, Obyek Wisata Kaliurang/Tlogo Putri Tidak Ditutup

Sleman – Terkait longsor di kawasan Tlogo Putri Kaliurang yang terjadi Selasa (11/10) malam, kawasan obyek wisata Kaliurang Tlogo Putri tidak ditutup. Sehingga pengunjung wisata Kaliurang pada hari Kamis (13/10) tetap bisa menikmati keindahan obyek wisata tersebut.

“Tidak ditutupnya kawasan Kaliurang/Tlogo Putri pasca longsor  terungkap saat rapat koordinasi di Posko Utama Pakem Kamis(13/10). Hadir pada pertemuan tersebut antara lain dari BPBD Sleman, Balai TNGM Jogja, PDAM Sleman, Dinas SDAEM Sleman, Kepala Desa Hargobinangun Pakem, Kepala Desa Umbulharjo Cangkringan dan pejabat terkait lainnya,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti, Kamis (13/10).

Dikatakan Sri Winarti, sebelumnya memang ada berita jika obyek wisata Kaliurang ditutup dan itu tidak semuanya benar. Memang diakui Sri Winarti, infornmasi dari pihak TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi) Jogja bahwa yang ditutup hanya  Obyek Wisata Alam Muncar di Air Terjun karena terjadi longsor.

“Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan semata-mata untuk keselamatan pengunjung,” kata Sri Winarti.

Sedangkan terkait Air bersih yang bersumber dari  mata air di sekitar Kaliurang yang berdampak putusnya saluran air/peralon milik PDAM Sleman yang berakibat terganggunya pelanggan PDAM, mulai Kamis ini sudah normal kembali, hanya debitnya memang belum maksimal, direncanakan Kamis sore ini sudah normal seperti semula hingga konsumen tidak perlu kawatir.

Sedangkan longsor yang terjadi di  tebing sisi barat jembatan Plunyon Kali Kuning selebar 5 meter dengan tinnggi 18 meter saat ini sudah dilakukan perbaikan dengan membersihkan  material longsoran dan alur sungai tidak tertutup material longsoran dan untuk irigasi tidak terganggu.

Sementara longsor yang terjadi di Kaliurang ada 3 lokasi yaitu longsor di area wisata air terjun muncar dan oleh TNGM memang ditutup untuk sementara waktu, Untuk longsor di area wisata arah Pronojiwo ada 4 titik, dan longsor diatas bekas kolam renang Tlogo Putri ada 1 titik.

“Dari beberapa titik longsor tersebut saat ini sudah dilakukan pembersihan material longsoran,” tutur Sri Winarti.




Pemkab Mangayubagyo Haji Sleman

IMG_9956Sleman – Ibadah haji merupakan ibadah yang memiliki tempat khusus di hati dan pandangan masyarakat, baik secara personal maupun sosial. Secara personal banyak sekali kaum muslim yang merindukan untuk dapat hadir di rumah Allah tersebut agar dapat beribadah secara khusyuk dan mendapat ”ganjaran” yang besar.

Dari sisi sosial, ada penghargaan yang lebih, yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka yang telah berhaji. Hal ini dapat dilihat dari gelar Haji yang diberikan kepada mereka.

Dalam interaksi sosial, masyarakat juga akan lebih menghargai dan menghormati para Haji ini. Bagi masyarakat, seorang haji adalah pribadi yang telah memiliki kadar keislaman dan keimanan yang lebih tinggi, pengetahuan agama yang luas, dan kemampuan ekonomi yang lebih.

“Wajar, jika kemudian para Haji ini memiliki status sosial yang tinggi di lingkungan masyarakatnya. Mereka biasanya dikategorikan sebagai sesepuh atau tokoh masyarakat,” kata Dra Hj Sri Muslimatun MKes, Wakil Bupati Sleman disela-sela mangayubagyo kepulangan jamaah haji Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Kamis (13/10).

Disamaikan Sri Muslimatun  bahwa banyak hal kehidupan beragama yang dapat dicontohkan kepada masyarakat antara lain ketaatan melaksanakan sholat berjamaah ke masjid, membiasakan membaca Al Qur’an, membiasakan memberikan sedekah.

Serta menjalin hubungan silaturahmi dengan lingkungan, sehingga kehidupan beragama di kalangan masyarakat makin mantap, makin semarak, makin rukun dan damai, yang akhirnya akan melahirkan kehidupan masyarakat yang maju, rukun dan damai dalam lindungan Allah SWT.

Sedangkan Kepala Bagian Kesra Drs Herry Sutopo mengatakan bahwa tujuan mangayubagyo haji antara lain sebaagai saraana silaturahmi antara jamaah haji dengan Bupati dan pejabat Pemkab Sleman, juga sebagai bentuk kepedulian Pemkab Sleman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Sleman yang menunaikan ibadah haji.

Sementara  Plh Kepala Kantor Kemenaag Sleman Drs H Nurhuda MSi menambahkan bahwa awal jamaah haji Kabupaten Sleman yang berangkat tahun 2016 ini 994 jamaah, tetapi yang benar-benar berangkat hanya 992 jamaah karena 2 orang gagal berangkat, 2 yang gagal berangkat karena masalah kesehatan.

Sedang jamaah haji Kabupaten Sleman yang meninggal di Arafaah sebanyak 1 orang yaitu Ny Djumirah  Karto Temon. Dan jamaah haji kabupaten sleman yang meninggal di Tanah Air setelah 1 minggu kepulangan sebanyak 1 orang  yaitu  Muhammad Syahrir Lutan  karena sakit kanker paru-paru.




Korban Kekerasan Perempuan dan Anak Masih Sulit Didata

Sleman – Kasus kekerasan masih menjadi momok bagi kalangan perempuan dan anak di Sleman bahkan kasus kekerasan ini masih sulit didata. Meski demikian sepanjang tahun 2015, Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan (KBPMPP) Sleman sedikitnya telah menerima 539 laporan tindak kekerasan baik terhadap perempuan dan anak-anak.‬

‪Tingginya angka pengaduan itu menjadi keprihatinan tersendiri bagi Kepala Badan KBPMPP Sleman, dr Nurul Hayah MKes. Dia bersama anggotanya terus intens melakukan sosialisasi untuk mendorong kaum perempuan dan anak-anak agar tidak takut melapor.‬

‪“Kami sudah membuat forum penanganan kekerasan di tingkat kecamatan. Disana masyarakat bisa mengadu yang selanjutnya akan diteruskan ke UPT P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak),” kata Nurul Hayah, Kamis (13/10).‬

‪Nurul Hayah memperkirakan, fakta di lapangan, kasus kekerasan anak dan perempuan jumlahnya lebih banyak dari laporan yang masuk. Fenomena  ini dikarenakan banyak korban yang enggan atau takut melapor.‬

‪Alasannya kebanyakan khawatir persoalan rumah tangga yang dihadapi justru akan bertambah pelik. Padahal, kata Nurul Hayah, dalam menangani aduan pihaknya mengedepankan langkah penyelesaian secara sosial.‬

‪Korban akan dipertemukan dengan pihak terlapor untuk bersama-sama mencari solusi. Selama proses mediasi di P2TP2A, korban juga didampingi oleh konselor.‬

‪”Jadi penanganan atau penyelesaiannya tidak selalu berakhir pada upaya hukum. Kami prioritaskan rumah tangga korban bisa tetap utuh jika pelaku kekerasan adalah pasangannya,” kata Nurul Hayah.

Dalam mewujudkan pengarusutamaan gender ini, pihaknya tidak berjalan sendiri. Masing-masing SKPD juga memiliki anggaran khusus yang mendukung kebijakan responsif gender.‬

‪Contohnya Dinas Sosial dengan kegiatan yang berkaitan difabel, dan pengentasan kemiskinan, serta Bappeda yang menyusun rencana aksi daerah terhadap gender.

Mulai tahun ini pihaknya berkomitmen menyukseskan program three ends yakni mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia, dan kesenjangan ekonomi pada kaum perempuan. Kinerja P2TP2A juga semakin ditingkatkan dengan sertifikasi agar layanannya sesuai standar.




Pangkalan Terpaksa Jual Elpiji di atas HET

Sleman – Harga Eceran Tertinggi (HET) gas elpiji kemasan 3 kilogram atau gas melon telah ditetapkan oleh Pemerintah DIY sebesar per tabung.‬ Namun di Sleman, harga itu bisa meninggi sekitar Rp 17 ribu ketika sampai di tangan konsumen.‬

‪Informasi yang berhasil dihimpun, tingginya harga elpiji melon tersebut agaknya  sudah terjadi sejak di tingkat pangkalan lalu berlanjut ke pengecer.‬ ‪Sehingga harga yang ditebus masyarakat sebagai pengguna sudah tinggi ada yang Rp 20 ribu hingga Rp 23 ribu.‬

‪Setidaknya, hal itulah yang diakui seorang pemilik pangkalan gas elpiji di wilayah Kalasan bahwa dirinya menjual gas melon dengan harga Rp16 ribu atau selisih lebih tinggi Rp 500 dari HET.‬

‪Hal ini dilakukannya mengingat pangkalan lain di sekitar wilayahnya juga melakukan hal serupa. Bahkan, harga jualnya lebih mahal darinya.‬

“Saya jual Rp16 ribu itu paling murah. Pangkalan yang lain malah jual Rp17-18 ribu,” kata pria yang tak mau disebutkan namanya, Kamis (13/10).

‪Meski harga jualnya dinaikkan di atas HET, stok gas di pangkalannya selalu habis diserap pembeli.‬

Saat ini, ia menerima kiriman elpiji dua kali dalam sepekan, masing-masing kiriman sebanyak 40 tabung.‬ Pengiriman sejauh ini berjalan lancar meski stok langsung habis oleh konsumen.‬

‪Dia mengaku tidak banyak pilihan selain mengikuti pola harga itu karena ada sedikit tekanan dari pemilik pangkalan lain.‬ Mau tidak mau ia pun harus mengikuti aturan main penjualan elpiji yang dibuat secara ilegal tersebut. Dia sendiri sebenarnya takut dengan praktik melanggar aturan yang dijalaninya.

“Ya saya juga takut kalau ketahuan Hiswana (Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi) atau Pertamina. Nanti pangkalan saya bisa ditutup. Tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya. Maka itu, ia merasa berada dalam situasi yang cukup dilematis.

Sementara Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Sapto Winarno mengatakan, HET dibuat agar pihak pangkalan langsung bisa melayani para konsumen akhir, bukan hanya pengecer.‬

Namun, harga gas melon yang melampaui HET ketika sampai di tangan masyarakat pengguna melalui pengecer tak bisa dikontrol.‬ Kewenangan kontrol harga oleh dinas, Pertamina dan Hiswana Migas hanya di tingkat agen dan pangkalan.‬

‪”Kalau ada pangkalan yang memberi harga di atas HET, tentu akan kami tindak. Mereka kan juga sudah punya kontrak soal itu dengan Hiswana dan Pertamina,” kata Sapto.‬

‪Dikatakan Sapto, pihaknya akan menelusuri adanya kemungkinan pangkalan nakal yang menjual gas di atas HET.‬ Sejauh ini, dalam pantauannya, ketersediaan gas elpiji tabung hijau itu di pasaran masih stabil tanpa kekosongan.‬ Kuota elpiji melon untuk Kabupaten Sleman sebesar tabung per hari dan masih mampu menutup kebutuhan masyarakat.