Petani Ikan Sleman Didorong Produksi Pakan Sendiri

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman terus mendorong petani maupun kelompok petani ikan di Kabupaten Sleman untuk memproduksi pakan ikan sendiri guna menekan biaya produksi.
”Seiring perkembangan budi daya perikanan, pakan ikan menjadi salah satu kebutuhan yang tidak dapat dikesampingkan. Terlebih, harga pelet pabrikan terus naik. Padahal pakan menjadi komponen pokok produksi dengan porsi mencapai 70-80 persen,” kata Ir Widi Sutikno MSi, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Kamis (20/10).
Menurut Widi, untuk mengatasi persoalan tersebut sejumlah kelompok tani di Sleman kini mengembangkan pembuatan pakan secara mandiri.
”Ini juga menjadi salah satu unggulan. Dengan bantuan teknologi dan sarana mesin, bisa dihasilkan pakan mandiri yang memiliki kualitas baik,” kata Widi.
Widi menambahkan dengan dukungan produksi pakan mandiri ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman optimis sektor perikanan di Sleman dapat terus berkembang. Bahkan memiliki prospek dijadikan kawasan wisata.
”Sektor perikanan di Sleman tumbuh relatif pesat. Petani di sejumlah wilayah kecamatan telah mengembangkan sistem minapadi. Ke depan bukan tidak mungkin budi daya perikanan di Sleman ini bisa menjadi daya tarik wisata minat khusus,” tutur Widi.
Widi mengatakan, hasil panenan ikan maupun padi yang diperoleh dari pola pertanian minapadi cukup menggembirakan.
”Bahkan minapadi di Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan menjadi kawasan percontohan yang diakui secara internasional,” katanya.
Widi mengatakan, nantinya pakan mandiri juga akan diregistrasi dan menerapkan standar nasional Indonesia (SNI). Karena itu, petani harus memperhatikan kandungan gizi dalam pakan. Dicontohkan untuk pakan lele, kandungan proteinnya berkisar 24-28 persen, sedangkan ikan nila 26-30 persen.
Sedangkan untuk menjaga standar mutu, penyimpanan bahan baku pelet perlu diperhatikan terutama menyangkut higienitas, sehingga ikan yang diberi pakan pelet itu nantinya juga layak dikonsumsi.
”Selain itu dalam pembuatan pakan mandiri disarankan agar menggunakan bahan baku lokal,” kata Widi.

