Dinamika Masyarakat Sleman Sangat Tinggi

Sleman – Kondisi masyarakat Kabupaten Sleman yang sangat heterogen, di satu sisi menjadi kekayaan sumber daya manusia, di sisi lain memiliki konsekuensi di bidang ketentraman dan ketertiban umum, dimana dinamikanya sangat tinggi dan mengandung potensi konflik.
“Di bidang pemerintahan umum saat ini juga masih terdapat konflik sosial dan konflik SARA di masyarakat,” kata Dra Hj Sri Muslimatun MKes, Wakil Bupati Sleman disela-sela acara pengajian pembinaan rohani bagi PNS Pemkab Sleman dan kalangan TNI/Polri di Masjid Agung Soedirohusoedo Sleman, Selasa (11/10). Dikatakan Sri Muslimatun, sebagai anggota masyarakat, pegawai Pemkab Sleman berasal dari masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat.
Sesuai pedoman etika bermasyarakat maka pegawai Pemkab Sleman sudah selayaknya siap mewujudkan pola hidup sederhana, tanggap keadaan lingkungan masyarakat, berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat, memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama, dan menumbuh kembangkan keharmonisan saling pengertian.
Dalam hal ini, pegawai dalam kehidupannya di tengah masyarakat selayaknya menjadi figur yang dapat diteladani dan dapat membimbing, sehingga apa yang diperbuat akan dipercaya dan dicontoh oleh masyarakat.
“Selain itu mereka sangat berperan dalam membina umat beragama dengan pengetahuan dan wawasannya sehingga mampu menularkan sikap saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama,” kata Sri Muslimatun.
Disampaikan pula bahwa pengertian hijrah ada dua, yaitu hijrah fisik dan hijrah maknawiyah.
Hijrah fisik adalah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah, hijrah maknawiyah adalah berpindah dari kegelapan menuju terang benderang, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan menuju kepandaian, dari kemalasan menuju kerajinan, dari kekafiran menuju keimanan, dari kemusyrikan menuju ketauhidan, dari kekufuran menuju kesyukuran, dari kehinaan menuju kehormatan.
Sri Muslimatun mengajak Peringatan Tahun Baru Hijriyah kali ini bisa dijadikan tonggak awal revolusi mental pegawai Pemerintah Kabupaten Sleman untuk membangun sumberdaya manusia yang berkualitas.
Dengan semangat Tahun Baru Hijriyah pegawai diajak untuk berhijrah atau berpindah dari sifat/tempat yang buruk ke sifat/tempat yang lebih baik sehingga dapat menjadi pegawai-pegawai yang ber-ahklak mulia, suri tauladan yang baik dan menjadi penerang baik dalam memberikan pelayanan publik di lingkungan pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Sedangkan Ustad KH Muhammad Syaebani MA dalam tausiahnya menyapaikan bahwa penyakit yang paling sulit dan bahkan belum ada obatnya adalah penyakit mata , yaitu mata duitan. Untuk itu diharapkan masyarakat lebih banyak dzikir dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, agar terhindar dari penyakit mata tersebut.
Lebih Lnjut disampaikan bahwa disamping penyakit mata masih ada lagi penyakit yaaitu penyakit kurang bersyukur, karena kebanyakan orang masih meraasa kurang dengan apa yang didapat.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan Baznas kabupaten Sleman uang sejumlah Rp 5 juta kepada 8 kelompok, antara lain PAUD, Masjid, Mushala, Kelompok kerja penyuluh agama.

