Keberadaan Korpri Jadi Bagian Kehidupan PNS Sleman

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan bahwa penyelenggaraan Musyawarah Korpri Kabupaten Sleman  merupakan langkah yang sangat strategis untuk memelihara dinamika organisasi. Selain itu diharapkan melalui  kegiatan musyawarah tersebut akan muncul berbagai agenda dan action plan dari Korpri Kabupaten Sleman yang merupakan aspirasi dari anggota Korpri dalam upaya menunjukkan dan memperkokoh eksistensi Korpri sebagai sebuah organisasi.

“Diharapkan agar kegiatan musyawarah tersebut dapat menjadi  media koordinasi antara seluruh pengurus dalam upaya melaksanakan program kerja yang dicanangkan. Bahwa seiring dengan besarnya tuntutan dan tantangan yang dihadapi PNS Kabupaten Sleman dalam menyelenggarakan Good Governance, peran Korpri juga harus semakin mampu merespon kebutuhan anggotan,” kata Sri Purnomo usai membuka Musyawarah Korpri  Kabupaten sleman tahun 2016 di lantai III Pemkab Sleman, Kamis (6/10).

Oleh karena itu Sri Purnomo berharap agar kegiatan musyawarah tersebut dapat mengembangkan pemikiran yang mengarah kepada peningkatan profesionalisme aparatur, meningkatkan mutu pelayanan tanpa diskriminatif, memantapkan netralitas dan obyektifitas pelaksanaan tugas serta peningkatan kesejahteraan anggota KORPRI itu sendiri.

“Yang jelas keberadaan Korpri Sleman dalam menjalankan kepengurusannya harus menjadi bagian kehidupan PNS Kabupaten Sleman. Artinya program kerja Korpri Sleman diharapkan dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh anggotanya dan ditingkatkan dari tahun ke tahun, sehingga eksistensi Korpri Kabupaten Sleman dapat dirasakan secara nyata baik dalam meningkatkan profesionalisme PNS maupun dalam peningkatan kesejahteraan PNS,” katanya.

Peran PNS yang tergabung dalam wadah Korpri sangatlah besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pemerintahan dan terciptanya pelayanan prima kepada masyarakat. Banyak hal yang telah dilakukan untuk membawa Sleman ini menjadi kabupaten yang berprestasi di Indonesia.

Kedepan Sri Purnomo berharap Korpri lebih menggali potensi yang ada pada anggotanya, bukan hanya untuk peningkatan kesejahteraan anggotanya, tapi juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sleman.

Hal lain yang perlu lebih diperhatikan adalah masalah transparansi anggaran. Korpri harus menjadi contoh juga bagi organisasi lainnya dalam pengelolaan anggaran yang transparan dan tertib administrasi.

Dengan demikian anggota akan memberikan kepercayaan secara itu Sri Purnomo juga mengharapkan dukungan Korpri unit kerja yang sangat strategis untuk ikut melakukan pembinaan terhadap anggota ke arah profesionalisme. Keberadaan Korpri di unit kerja sebagian besar belum terlihat eksistensinya, aktivitas yang dilakukan masih berorientasi merespon kegiatan yang dilakukan oleh Korpri Kabupaten.

Sedangkan Ketua Dewan pengurus Korpri Kabupaten Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno menyampaikan bahwa tujuan musyawarah  Korpri tersebut untuk melaporkan hasil kerja kepengurusan Dewan Pengurus Korpri periode 2010-2016, juga untuk mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan serta menyusun program kerja  periode 2016-2021.




Agar Tetap Eksis, Perajin Genteng di Sleman Harus Punya Ciri Khas

IMG_9361Sleman – Kecamatan Godean dan Kecamatan Seyegan  sudah sejak lama menjadi sentra produksi genteng di Kabupaten Sleman. Agar keberadaan genteng Godean dan Seyegan tetap eksis harus selalu mempertahankan kualitas dan punya ciri khas itu Desa Margodadi Kecamatan  Seyegan yang juga merupakan sentra Industri Genteng bagi Kabupaten Sleman  telah dikukuhkan sebagai desa sentra industri Genteng, Rabu (5/10).

Pengukuhan dilakukan oleh Asekda Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih. Pengukuhan ditandai dengan penyerahan SK pengukuhan yang diterima ketua Sentra Genteng Margodadi Marsono. Usai pengukuhan, Suyamsih menyampaikan bahwa Industri genteng Margodadi Seyegan telah berkontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat Seyegan. Hal tersebut mengartikan bahwa maju dan mundurnya kegiatan industri genteng di Seyegan akan memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakatnya.

“Saat ini di pasaran banyak produk-produk baru genteng dengan berbagai macam bahan dan model. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan usaha atap bangunan semakin ketat,” kata Suyamsih.

Berkaitan dengan hal tersebut lanjutnya, diharapkan industri genteng Seyegan dapat memenangkan persaingan ini. Dan untuk memenangkan persaingan, para perajin genteng harus mau berinovasi dan memanfaatkan berbagai teknologi yang berkembang untuk mendukung industri genteng mulai dari proses produksi sampai dengan sistem pemasarannya.

“Para perajin genteng Seyegan harus yakin dapat memenangkan persaingan karena setiap produk atap bagunan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sehingga yang menjadi tantangan bagi perajin sekarang adalah bisa apa tidak mempublikasikan kelebihan-kelebihan dari genteng Seyegan sehingga dapat menarik minat masyarakat. Banyak media yang dapat digunakan untuk itu, salah satunya melalui internet,” kata Suyamsih.

Teknologi informasi sekarang semakin murah dan mudah, sehingga sayang bila tidak dimanfaatkan untuk memajukan setiap usaha yang dijalankan. Suyamsih juga berpesan kepada semua perajin genteng di Seyegan khususnya dan Kabupaten Sleman umumnya untuk tetap gigih dan tidak mudah menyerah.

“Hadapilah setiap tantangan bahkan hambatan dengan kerja keras dan kesungguhan berusaha untuk terus meraih  sukses,” katanya.

Ditambahkan Suyamsih bahwa setiap kegiatan yang menyangkut kontrak kerja pembangunan di Sleman harus selalu menggunakaan genteng Sleman.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Sleman, Drs Pustopo mengatakan  tujuan pengukuhan sentra industri genteng untuk meningkatkan kompetensi sentra dalam kancah ekonomi global khususnya dalam cabang industri kimia bahan bangunan, dan untuk meningkatkan peran serta kelembagaan sentra dalam pemberdayaan ekonomi melalui sentra industri kecil.




Lindungi Penemuan Kreatif Masyarakat, Pemkab Sleman Berikan Dana Stimulan

Sleman – Untuk membantu masyarakat dalam pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berkomitmen untuk terus mengembangkan kawasan berbudaya HKI sebagai implementasi Keputusan Kementrian Hukum dan HAM tentang Penetapan Kabupaten Sleman sebagai Kawasan berbudaya HKI. 

Bupati Sleman, Drs H  Sri Purnomo MSI mengungkapkan hal tersebut usai membuka  Seminar Hari Teknologi Nasional ke 21 Tahun 2016 di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Sleman, Rabu (5/10).

Sri Purnomo menjelaskan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Pemkab Sleman telah menganggarkan Rp 40 juta sebagai stimulan biaya sertifikasi HKI di tahun 2016. Dana stimulan tersebut ditujukan untuk mengapresiasi dan melindungi hasil karya warga Sleman serta meningkatkan pemahaman masyarakat pelaku ekonomi akan pentingnya HKI sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan pelaku ekonomi.

”Pemkab Sleman mendorong berkembangnya iklim budaya kreatif dengan mendorong kecamatan sebagai pusat pengembangan budaya dan pusat pertumbuhan ekonomi serta mengapresiasi karya cipta warga Sleman melalui peningkatan kualitas produk, promosi produk, fasilitasi sertifikasi produk, pembinaan dan fasilitasi stimulan pendaftaran HKI,” jelas Sri Purnomo.

Sementara Kepala Bappeda Kabupaten Sleman, drg Intriati Yudatiningsih MKes menyampaikan bahwa pelaksanaan seminar peringatan hari teknologi yang mengambil tema ”Inovasi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa” tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM petani dan UMKM di Kabupaten Sleman.

Selain itu juga bertujuan untuk membangun jejaring antar akademisi, bisnis, pemerintah, dan komunitas. Menurut Intriati inovasi merupakan sebuah hal baru yang pada dasarnya adalah hasil dari sebuah produk. Proses berlangsungnya secara sistematis dan terintegrasi sebagai hasil kosep dari ‘berawal diakhir dan diakhir berawal’.

”Diharapkan dengan seminar ini pelaksanaan Sistem Informasi Daerah dapat meningkatkan nilai tambah yang pada akhirnya dapat mencapai kemandirian dan daya saing produk Kabupaten Sleman,” kata Intriati.

Dalam acara tersebut Bupati Sleman juga secara simbolis menyerahkan bantuan stimulan sebesar Rp 4,4 juta untuk biaya pendaftaran sertifikasi HKI pada Suryadi SPd dengan nama paten penemuan Media Tanam Dari Plastik Kresek (Mediokres) dan Rp 6,3 juta  pada SMK Diponegoro Aliudin dengan nama paten penemuan Motor Anti Begal.




‪Musim Hujan, Sleman Waspadai Banjir dan Longsor‬

Sleman – Musim hujan sudah berlangsung saat ini. Dampak musim hujan banjir dan tanah longsor diperkirakan bakal mengancam di sejumlah kawasan di Kabupaten Sleman terutama di kawasan sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Ancaman itu muncul seiring dengan musim hujan yang sudah berlangsung sejak pertengahan September lalu.

“Selain potensi banjir dan tanah longsor, angin kencang dan petir masih berpotensi di awal musim hujan,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Rabu (5/10).

Dikatakan Makwan,  pada musim hujan ini potensi tanah longsor berdasarkan peta dan kebiasaan bakal terjadi di tempat yang tinggi dan tanah yang tidak begitu kuat. Di Kabupaten Sleman empat-tempat itu antara lain terdapat di kawasan bagian utara serta timur yaitu di Pakem, Cangkringan dan perbukitan di Prambanan.

Sementara menurut Makwan bahaya banjir mengancam kawasan di sekitar sungai besar. Seperti Kali Gendol, Kali Opak, Kali Kuning, Kali Boyong dan Kali Krasak. Kali Boyong jika banjir bisa mencapai Kali Code yang melintasi dua kabupaten dan Kota Yogyakarta, sehingga membahayakan warga yang tinggal di sekitarnya.

‬”Bahaya banjir itu tak cuma di sunggai-sungai besar. Sungai-sungai kecil pun harus diwaspadai,” kata Makwan.

Jika hujan lebat, lanjut Makwan terjadinya peningkatan debit air di kawasan hilir secara mendadak dan juga menyebabkan sungai kecil ikut meluap, termasuk Kali Gajah Wong yang melintasi Sleman, Jogja dan Bantul.

Untuk mengantisipasi bencana banjir ini BPBD Sleman dikatakan Makwan, sudah memastikan tanggul-tanggul sejumlah sungai yang melewati wilayah setempat dalam kondisi aman dan sudah siap menghadapi curah hujan tinggi.‬

‪”Tanggul sungai yang rusak telah diperbaiki semua, dan siap saat musim hujan ini. Meski demikian tetap perlu diwaspadai ketika ada penyumbatan alur dan hujan yang terlalu ekstrim,” tuturnya.

‪Ketika ada hambatan aliran atau penyumbatan akibat sampah, maka itu sangat berbahaya, sehingga kemampuan pemantauan sangat diperlukan ketika terjadi curah hujan tinggi.‬

‪”Yang perlu diwaspadai saat turun hujan deras yang cukup ekstrim adalah penyumbatan aliran sungai karena sampah,” katanya.‬

‪Makwan mengatakan, untuk memantau aliran sungai ini pihaknya bermitra dengan seluruh komunitas relawan yang ada di Kabupaten Sleman.‬

‪”Relawan sangat diperlukan kemampuannya untuk memantau, memahami perilaku sungai, serta kecepatannya menyelamatkan korban,” kata Makwan.‬

‪Makwan mengatakan, musim hujan sebelumnya, di Kabupaten Sleman terjadi setidaknya ada 12 peristiwa bencana akibat luapan sungai. Itupun hanya di sungai yang mempunyai hulu Sungai Winongo.




Agar Eksis Ditengah Persaingan Bupati Himbau Perajin Genteng Terus Berinovasi

IMG_9312 (2)Sleman – Persaingan produksi bahan atap bangunan semakin ketat. Terutama produk genteng dengan beraneka ragam jenis dari berbagai macam bahan dan model yang saat ini beredar dipasaran.

Mengantisipasi persaingan tersebut Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI berharap sentra genteng di Sleman khususnya Godean untuk terus berinovasi dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses industri dan pemasaran.

“Persaingan semakin ketat, dengan inovasi dan pemanfaat teknologi tentunya akan mempermudah dalam pengembangan dan pemasaran industri genteng di Godean ini,” tutur Sri Purnomo disela-sela pengukuhan Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal di Kwagon Desa Sidorejo Kecamatan Godean, Selasa (4/10).

Sri Purnomo juga menjelaskan bahwa Kecamatan Godean merupakan pusat industri genteng terbesar untuk wilayah Kabupaten Sleman. Bahan baku lokal untuk produksi genteng juga berasal dari wilayah setempat. Menurutnya bahan baku tanah liat dari Godean juga memiliki kualitas yang baik dan dapat bersaing dengan produk genteng dari luar wilayah Sleman.

Sri Purnomo berharap dengan dikukuhkannya Desa Sidorejo sebagai sentra industri genteng Godean dapat memajukan industri dan mengembangkan potensi yang ada di Sidorejo. Untuk itu Sri Purnomo juga mengajak seluruh pelaku industri, stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama menggunakan produk lokal agar menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Sementara Sukiman selaku Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal menjelaskan bahwa jumlah pengrajin genteng di wilayah Sidorejo sebanyak 85 perajin dari total 358 perajin genteng yang ada di Kecamatan Godean. Menurutnya berbagai macam model genteng diproduksi di wilayahnya seperti Genteng Paris, Turbo, Kodok, Magas, Morano, dan Mantili.

“Selain memproduksi genteng kami juga memproduksi wuwung dan bata merah,” jelas Sukiman.

Sukiman berharap dengan dikukuhkannya asosiasi sentra genteng tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dapat melindungi produksi genteng asli Kabupaten Sleman agar pemasaran genteng lokal dapat berkembang sehingga industri rumah tangga pengrajin genteng dapat bertahan ditengah persaingan.

Selain itu Sukiman juga berharap agar Pemkab Sleman melarang produksi genteng dengan bahan baku dari luar wilayah Sleman agar terjaga kualitas dan produksi genteng yang dipasarkan sesuai asal kewilayahan.