Pernikahan Dini di Sleman Meningkat

Sleman – Dispensasi kawin adalah penetapan Pengadilan Agama yang berisi tentang pemberian izin kelonggaran untuk melangsungkan perkawinan karena sebab dan akibat tertentu antara lain calon suami atau isteri atau kedua-duanya yang belum memenuhi syarat umur dilangsungkannya perkawinan menurut UU Perkawinan nomor 1 tahun l974, yaitu bagi laki-laki kurang dari  usia 19 tahun dan perempuan belum mencapai usia 16 tahun.

“Selama tiga tahun terakhir ini di Kabupaten Sleman terjadi peningkatan dibawah umur,” kata Dr Ahmad Mujahidin SH MH,  Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Sleman  pada saat workshop di Aula Bappeda Sleman, Rabu (26/10).

Dikatakan Ahmad Mujahidin,  di Kabupaten Sleman terjadinya pernikahan dibawah umur dalam 3 tahun terakhir jumlahnya meningkat, yaitu pada tahun 2014 mencapai 109 pernikahan, tahun 2015 sebanyak 132 dan pada tahun 2016 sampai bulan September mencapai 79.

Sedang usia perkawinan di Kabupaten Sleman  yang dimohonkan penetapan dispensasi di Pengadilan Agama sampai dengan September 2016 menurut umur yang lebih dari 15 tahun untuk laki-laki 3,22% bagi perempuan 62,5%, lebih dari 16 tahun laki-laki 0% dan perempuan 37,5%.

Yang jelas tambah Ahmad Mujahidin bahwa  pernikaahan usia dini rentan terhadap berbagai masalah, diantaranya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kerawanan penyakit reproduksi terhadap perempuan.

Diungkapkan Ahmad Mujahidin bahwa prinsip pematangan calon mempelai dimaksudkan  bahwa calon suami istri  harus telah matang jasmani dan rohani  untuk melangsungkan perkawinan, agar supaya  dapat memenuhi  tujuan luhur dari perkawinan dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. Oleh karena itu harus dicegah perkawinan dibawah umur.

Dan sesuai UU perkawinan nomor 1 tahun 1974 perkawinan  hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun.

Sedang calon suami istri yang belum mencapai usia 19 dan 16 tahun yang ingin melangsungkan perkawinan, orangtua yang bersangkutan harus mengajukan permohonan dispensasi kawin kepada Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar’iyah.

Sementara Prof Dr Susetiawan menyampaikan bahwa Indonasia termasuk negara dengan persentase  pernikahan usia muda tinggi didunia (rangking 37)  tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja.

Disampaikan pula bahwa anak-anak  perempuan yang menikah muda menghadapi akibat buruk terhadap kesehatan mereka sebagai dampak dari melahirkan dini, peningkatan resiko KDRT, gizi buruk, dan gangguan kesehatan seksual dan reproduksi.

Mereka mengalami kondisi yang buruk untuk seluruh indikator sosial dan ekonomi dibandingkan dengan anak perempuan yang menunda usia perkawinan, termasuk tingkat pendidikan yang lebih rendah  dan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi. Workshop yang diselenggarakan oleh Dukcapil Sleman tersebut diikuti dari KUA se Kabupaten Sleman, Kecamatan se Kabupaten Sleman juga SKPD.




Bencana Di Sleman Sulit Dipetakan

Sleman – Kabupaten Sleman termasuk 136 kota di Indonesia yang memiliki indeks kebencanaan paling tinggi dengan skor 97.‬ Tercatat w‪ilayah Sleman, memiliki tujuh ancaman bencana, mulai dari erupsi Gunung Merapi, banjir hujan lahar, gempa bumi, tanah longsor, angin kencang (puting beliung), kekeringan dan kebakaran.‬

“Selain angin ribut atau puting beliung, petir, banjir dan tanah longsor perlu diwaspadai,” kata Drs Kunto Riyadi, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Rabu (26/10).

Menurut Kunto, beberapa lokasi bencana memang sulit dipetakan akibat peningkatan pembangunan akhir-akhir ini. Begitu juga jenis bencana masih sulit diprediksi.‬

‪“Angin kencang dan sambaran petir itu susah dipetakan. Untuk itu, masyarakat lebih baik mengantisipasi ancaman bencana sedini mungkin. Lakukan hal-hal sederhana saja, misalnya memangkas pohon yang rindang, membersihkan selokan, dan sebagainya,” kata Kunto.‬

BPBD Sleman juga telah melakukan sejumlah langkah untuk antisipasi bencana.‬ Untuk memantau aliran sungai terutama yang berhulu di Gunung Merapi, misalnya, saat ini terpasang 9 Early Warning System (EWS).‬

‪EWS tersebut terpasang 3 titik di Sungai Boyong, satu di Sungai Opak dan 5 di Gendol. Tahun 2016 ini, BPBD Sleman menambah pemasangan 3 EWS di hilir Kali Trasi yang merupakan intake Kali Boyong, hulu Kali Kuning di Desa Hargobonangun Kecamatan Pakem dan Kali Krasak di Desa Tunggularum Kecamatan Turi Sleman.‬

Dikatakan Kunto, meski bencana di Sleman sulit dipetakan namun sebagian wilayah potensi bencana sudah dipetakan. Adapun yang belum dapat dipetakan adalah gangguan petir dan angin ribut akibat konsentrasi awan cumulonimbus.‬

‪Berbeda dengan ancaman bencana lainnya, BPBD Sleman telah melakukan pemetaan potensi bencana tanah longsor. “Kesemuanya berada di wilayah Prambanan,” tutur Kunto.

Dijelaskan, keretakan gerakan tanah yang tinggi berada di seluruh desa di Prambanan. Meliputi, Dusun Dawung dan Cepit Desa Bokoharjo, Dusun Jali, Jontro, Kalinongko Kidul, Kalinongko Lor, Gayam, Lemahabang dan Dusun Nawung (Gayamharjo). Selain itu, Dusun Sembir (Madurejo), Dusun Dawangsari, Gunungsari, Nglengkong, Kikis, Gedang, Mlakan dan Dusun Gunung Cilik (Sambirejo).‬

‪Adapun di Desa Sumberejo, potensi longsor terjadi di Dusun Umbulsari A, Umbulsari B, Sengir, Dayakan dan Gamparan. Untuk Desa Wukirharjo, dusunnya meliputi Klumprit I dan II, Candisari, Losari I dan II, serta Watukangsi.‬

‪“Kami terus berupaya melakukan mitigasi bencana dengan melakukan gladi lapang untuk meminimalisir jumlah korban dan memastikan warga memahami apa yang perlu dilakukan ketika bencana datang,” kata Kunto.




Desa Widodomartani Gelar Bedah Buku Kiat Sukses Budidaya Ikan Nila

IMG_6152Sleman – Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY (BPAD DIY)  bekerjasama dengan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman dan Perpustakaan Desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak Sleman menyelenggarakan bedah buku dengan judul Kiat Sukses Budidaya Ikan Nila di Balai Desa Widodomartani Ngemplak, Selasa (25/10).

Kepala BPAD DIY, Budi Wibowo SH MM  menyampaikan bahwa melalui bedah buku akan mendekatkan buku langsung kepada masyarakat yang membutuhkan dan memudahkan penyebaran informasi.

“Melalui bedah buku ini masyarakat akan mendapatkan informasi secara langsung oleh narasumber yang kompeten, dan  buku tersebut dapat diperoleh di Perpustakaan desa. Sehingga perpustakaan desa menjadi  wahana bagi masyarakat dalam pengembangan dan pemberdayaan kreatifitas dan karya masyarakat,” kata Wibowo.

Bedah Buku dengan judul Kiat sukses budidaya ikan nila ini dihadiri oleh sebagian besar komunitas dari Desa Widodomartani yang terdiri dari Kelompok Petani Ikan, Gapoktan, Perpustakaan desa, dusun, pendongeng, GPMB Kab/kec di Sleman, BPAD dan KPD Kabupaten Sleman dan Pemerintah Desa Widodomartani.

Narasumber bedah buku adalah Dr Suwarman Partosuwiryo APi MM (Penulis buku) dari Dinas Kelautan dan Perikanan DIY dengan Pembedah R Widyo Satriyo APi dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman dan Kepala Desa Heruyono ST.

Pada saat yang bersamaan diserahkan  juga SK pada 6 Perpustakaan Padukuhan di desa Widodomartani oleh Kepala Desa Widodomartani dan pemberian buku buku terbitan BPAD DIY dari penerbit Citra Aji Parama yang  menerbitkan buku yang dibedah.




Pemkab Kembali Serahkan Bantuan untuk Sertifikat HKI

Sleman – Kabupaten Sleman tahun 2016 ini kembali memberi bantuan penerbitan sertifikasi HKI (Hak Kekayaan Intelektual) kepada pelaku usaha/UMKM di Kabupaten Sleman. Total yang mendapat bantuan berupa pendampingan dan biaya penerbitan sertifikasi tersebut sebanyak 36 pelaku usaha/penerbitan merek.

Ke 36 tersebut berupa 25 penerbitan Merek, 9 Hak Cipta, 1 Hak Paten. Kepala Bagian Perekonomian, Ir CC  Ambarwati MM mengatakan hal tersebut usai – memberikan pengarahan pada pelaku usaha yang mendapat bantuan penerbitan Sertifikasi di ruang rapat Sekda B, Selasa (25/10).

Menurut Ambarwati bantuan berupa pendampingan dan biaya tersebut dimaksudkan agar produk yang dihasilkan tersebut mempunyai kekuatan dan kepastian hukum sebagai perlindungan terhadap Merek. Bantuan untuk penerbitan Merek masing-masing sebesar Rp 1 juta untuk 25 Merek, sedang bantuan untuk sertifikasi Hak Cipta  antara Rp ,- sampai Rp ,- kepada 9 hasil karya berupa karya tulis/buku maupun hasil Tari.

Sementara untuk  bantuan Hak Paten kepada  SMK Diponegoro Sambego Maguwoharjo Depok berupa  Motor Anti Begal  mendapat bantuan biaya Rp 6,3 juta dan bantuan untuk sertifikasi Hak Paten Sederhana kepada Suryadi berupa Mediokres mendapat bantuan sebesar Rp 4,6 juta.




Produksi Daging Sapi Di Sleman Mengalami Surplus

IMG_9924Sleman – Perkembangan peternakan sapi potong di Kabupaten Sleman sudah semakin menggembirakan.

“Saat ini hasil produksi daging sapi dari peternak di Sleman sudah surplus atau melebihi kebutuhan konsumsi daging sapi Sleman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan daging sapi Sleman hanya mencapai 302 ton,” kata Wakil Bupati Sleman, Drs H Sri Muslimatun MKes ketika menghadiri Tasyakuran Panen Pedet dan Sarasehan Ternak Sapi Potong, Kelompok Ternak Sapi ‘Mergo Andhini Makmur’ di Dusun Bolu, Margokaton Kecamatan Seyegan, Selasa (25/10).

Menurut Sri Muslimatun saat ini terdapat 521 kelompok ternak sapi potong di Kabupaten Sleman, dengan jumlah peternak lebih dari orang. Sedangkan jumlah sapi potong yang diternakkan di Kabupaten Sleman lebih dari ekor.

“Peternakan sapi potong di Sleman pada tahun 2015 berhasil memproduksi daging sapi lebih dari ton. Sementara  pada tahun 2016 sampai bulan September  produksi daging sapi Sleman sudah mencapai lebih dari ton sehingga saya yakin produksi tahun 2016 akan meningkat dibandingkan dengan tahun 2015,” kata Sri Muslimatun.

Sri Muslimatun berharap kondisi suplus daging sapi tersebut dapat terus ditingkatkan sehingga Sleman dapat menjadi lumbung daging sapi bagi daerah lain. Banyak program-program pemerintah yang dilaksanakan untuk mendukung peternakan sapi potong di Sleman.

Program-program itu diantaranya melalui kegiatan pengembangan budidaya sapi potong, penguatan pakan induk sapi potong, penguatan pakan sapi penggemukan, inseminasi buatan, penguatan betina produktif dan lain-lain.

“Saya berharap program dan kegiatan pemerintah untuk mendukung peternakan sapi potong benar-benar bermanfaat dan  dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peternak,” tutur Sri Muslimatun.

Pada acara panen pedet tersebut kelompok ternak Mergo Andhini Makmur juga mengalami peningkatan produksi ternak. Paniman Siswosudarsono, selaku ketua kelompok menyampaikan bahwa saat ini kelompoknya memiliki 59 ekor sapi terdiri dari 40 ekor induk, 11 pedet jantan dan 8 ekor pedet betina ditambah 13 pedet yang lahir di 2016. Jumlah produksi ternak tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 9 ekor pedet.

“Tasyukuran ini sebagai wujud rasa syukur warga atas peningkatan hasil ternak. Saat ini masih ada 10 ekor sapi induk yang sedang bunting, saya berharap kedepan produksi ternak kami akan terus meningkat,” ungkap Paniman.***