Masyarakat Dekat Aliran Sungai Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Sleman – Masyarakat di dekat aliran sungai yang berhulu dari Gunung Merapi diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi. Begitu juga masyarakat di kawasan perbukitan yang rawan longsor. Saat hujan turun harus lebih waspada.‬

“Kewaspadaan ini perlu ditingkatkan juga terkait penetapan Bupati Sleman,  jika selama 40 hari kedepan sejak 21 Oktober 2016 Sleman siaga darurat banjir dan longsor‬,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Selasa(25/10).

Dikatakan Makwan melalui  Keputusan Bupati Sleman Nomor 64/ tentang Status Siaga Darurat Banjir dan Tanah Longsor Bupati tersebut masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan ancaman bencana banjir maupun tanah longsor.‬

Keputusan Bupati Sleman tersebut juga untuk menyikapi datangnya musim hujan dan sebagai antisipasi cuaca ekstrem sehingga dipandang perlu menaikkan status kewaspadaan wilayah setempat ke status siaga darurat banjir dan tanah longsor.‬

‪Selain itu Makwan juga mengingatkan  para penambang pasir liar di sungai berhulu Gunung Merapi juga  meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman bencana banjir di hulu sungai Merapi dan tanah longsor.‬ Dalam SK tersebut juga disebutkan wilayah Sleman yang rawan banjir dan longsor adalah Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan dan Prambanan

‪”Masih banyak penambangan yang ada di sekitar aliran sungai di lereng Merapi, kami imbau untuk berhati-hati,” kata Makwan.‬

Makwan mengatakan, penambangan pasir tersebut tersebar di beberapa aliran sungai, seperti Sungai Kuning, Gendol, dan Opak.‬

‪”Bahayanya ketika curah hujan tinggi, menyebabkan banjir. “Kemudian, air hujan membebani tanah di tebing sungai yang labil. Bisa berakibat terjadinya longsor. Karena beban air berat menyebabkan longsor di tebing-tebing sungai,” katanya.‬

‪Warga Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Badi mengatakan penambangan di lereng Merapi tidak hanya memakai manual saja. Namun, alat berat pun sekarang sudah mulai muncul kembali.‬

“Kami hanya ingin agar ada penataaan. Supaya tidak terjadi dampak berkepanjangan. Pemulihannya akibat penambangan ini juga nanti bagaimana,” katanya.




Pemkab Sleman Tetapkan Siaga Darurat Banjir dan Tanah Longsor

Bupati Sleman Tinjau Kesiapan PeralatanSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menetapkan Kabupaten Sleman dalam status siaga darurat banjir dan longsor. Penetapan siaga darufat banjir dan longsor tersebut dituangkan dan Keputusan Bupati Sleman Nomor 64/ tentang Status Siaga Darurat Banjir dan Tanah Longsor. Selama 40 hari, mulai 21 Oktober hingga 30 November 2016 dan penetapan dilakukan tanggal 21 Oktober 2016.

Menindaklanjuti keputusan Bupati tersebut telah dilakukan Apel siaga di lapangan Denggung Tridadi Sleman, Minggu (23/10) dengan  inspekur upacara Bupati Sleman.

“Wilayah Kabupaten Sleman mempunyai nilai indeks tertinggi dalam resiko bencana dibanding dengan daerah lain di DIY dengan skor 97, hal ini mengingat ada 7 ancaman bencana yakni errupsi Gunung Merapi, banjir lahar dingin, gempa bumi, tanah longsor, angin kencang/puting beliung, kekeringan dan kebakaran. Untuk mengurangi resiku bencana itu,” Kata Drs Kunto Riyadi MPPM, Plt Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs. Kunto Riyadi, MPPM disela-sela apel siaga penanggulangan bencana sekaligus peringatan bulan pengurangan resiko bencana 2016.

Apel siaga diikuti sekitar 1200  peserta dari KODIM, Polres, Basarnas, PolPP, Dishubkominfo, Dinas Kesehatan, Disnakersos, 8 Komunitas relawan, 5 SSB (Sekola Siaga Bencana), dan 4 desa tangguh bencana.

Sri Purnomo menyampaikan bulan Oktober ini merupakan bulan Pengurangan Resiko Bencana, yang jatuh pada tanggal 13 Oktober yang lalu. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya mengurangi resiko bencana mengingat wilayah Sleman termasuk daerah rawan bencana.
Budaya pengurangan resiko bencana bisa dilakukan masyarakat Sleman.

Kuncinya adalah kerjasama semua pihak. Mulai dari pemerintah, komunitas, LSM dan masyarakat itu sendiri.

“Yang terpenting adalah kepedulian terhadap pengurangan resiko bencana. Peduli dan segera bertindak apabila menemui korban atau dampak kebencanaan yang lain,” kata Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo bencana, apapun itu bentuknya harus diwas­padai sedini mungkin. Oleh karenanya semua pihak harus memper­siapkan diri  dengan bekal pengetahuan dan keterampilan untuk bertindak cepat dan tepat apabila terjadi bencana.

Dengan dimilikinya pengetahuan dan juga keterampilan dalam menghadapi situasi darurat, diharapkan seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi suatu bencana.

Apel siaga diakhiri dengan penyerahan hadiah lomba desa tangguh bencana juara I Desa Pandowoharjo, II Desa Trimulyo, III Desa Donokerto, IV desa Lumbungrejo sementara untuk Lomba Skeolah siaga bencana Juara I SMP N 2 Berbah, II SMPN 2 Ngaglik, III SMP N I Kalasan dan IV SM Muh Ngemplak.

Juga diserahkan hadiah lomba berupa tenda kepada pemenang lomba pendirian tenda antar komunitas relawan sebagai juara I Relawan Jalin Komunikasi Mandiri, II SAR Linmas Korwil VII dan 3 Relawan Parel GO.

Selanjutnya Sri Purnomo juga melakukan inspeksi terhadap peralatan penanggulangan bencana diantaranya perlengkapan reaksi cepat penanganan pohon tumbang, peralatan, pemadam kebakaran, bolduser, perahu karet kendaraan pendukung truk, armada ambulans dan lainnya.




Santri Diminta Perkuat Jiwa Relejius dan Nasionalisme

hari-santriSleman – Hari Santri Nasional di Kabupaten Sleman diperingati dengan upacara Bendera di Lapangan Denggung yang diikuti oleh sekitar 3000 santri, dari pesantren, anak-anak sekolah MI, MTS, MA, Sabtu (22/10). Bertindak selaku inspektur upacara Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI.

Menurut Ihsan Rofiki selaku Ketua Panitia kegiatan peringatan hari Santri Nasional di Kabupaten Sleman juga dimeriahkan dengan berbagai lomba yakni PBB, photografi santri, mewarnai bagi anak RA/TK, lomba ruus tahlil, dan lomba adzan.

Sri Purnomo menyampaikan  peran santri pada jaman dahulu tidak lepas dari perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan  dan dalam mengusir penjajah, sehingga para santri secara historis telah dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa.

Momen ini dapat digunakan untuk  mengenang jasa ulama dan kyai dalam sehingga dapat memotivasi para santri di masa kini untuk dapat meneladani dan melanjutkan perjuangannya.

Peringatan ini juga dapat diambil manfaat untuk menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, sebagai pemersatu langkah bagi seluruh santri mengingat tantangan kedepan semakin berat.

“Para santri diharapkan dapat selalu memperkuat jiwa religius ke Islaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan,” kata Sri Purnomo.

Pondok Pesantren sebagai lembaga dahwah dan pendidikan juga diharapkan dapat mencetak ulama yang dapat mengedepankan nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat dan dapat menjadi garda terdepan dalam perjuangan melawan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Menghadapi tantangan global, para santri dapat menjadi pelopor dalam gerakan anti narkoba, anti kekerasan dan anti radikalisme yang marak dewasa ini,” tutur Sri Purnomo.

Pada akhir acara dilaksanakan karnaval santri, yang dilakukan peserta upacara melewati depan panggung kehormatan kemudian keluar lewat Jl KRT Pringgodiiningrat dan finish di Masjid Agung Sleman DR. Wahidin Sudiro Husodo.




Alumni STPDN Angkatan 07 Adakan Bakti Sosial Serahkan Pohon Penghijauan

Berikan Bibit PohonSleman – Sebanyak 1000 batang bibit tanaman jambu Dalhari, mangga, sirsat ratu dan rambutan telah diserahkan kepada Kepala BLH Sleman yang diwakili Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup Sugeng Riyanta ST MM dari Dragon Sunardi Sinaga mewakili Bhakti Purna Praja STPDN angkatan 07.

Dragon Sinaga juga sebagai Asisten Deputi Gubernur Bidang Transportasi Provinsi DKI Jakarta, penyerahan dilakukan di Museum Gunungapi Merapi (MGM) Pakem Sleman, Sabtu (22/10).

Penyerahan bantuan bibit tanaman tersebut sebagai bentuk kepedulian Alumni STPDN angkatan 07 yang tersebar di seluruh Indonesia untuk penghijauan di Kabupaten Sleman khususnya di wilayah Pakem. Disamping sebagai penghijauan , juga merupakan tanaman buah yang dapat dimanfaatkan masyarakat kelak kalau sudah berbuah.

Sugeng Riyanta menyampaikan bahwa bantuan tersebut  akan disalurkan kepada masyarakat khususnya di wilayah Pakem. Dan diharapkan bantuan serupa bisa disampaikan lagi dimasa mendatang.

Sementara itu alumni STPDN angkatan 07 yang ada di Kabupaten Sleman hanya ada 4 orang yaitu Widodo yang bertugas DPKAD Sleman, Heri Kuntadi bertugas di BKD Sleman, Bambang Kuntoro di Kecamatan Prambanan dan Rohmiyanto, menyampaikan bahwa bakti sosial tersebut merupakan agenda kegiatan alumni STPDN angkatan 07 meskipun penyelenggaraannya tidak setiap tahun.

Tetapi paling tidak dua tahun sekali dan bahkan pernah setahun sekali dengan tempat bergantian mencakup seluruh Indonesia. Ditambahkan pula bahwa Bakti Purna Praja STPDN/alumni STPDN angkatan 07 di seluruh Indonesia ada 700-an orang dan tersebar di semua Provinsi/Kabupaten/Kota di Indonesia.

Untuk kegiatan bakti sosial tahun 2016 ini juga melibatkan alumni STPDN seluruh Indonesia, meskipun yang hadir hanya 150-an orang, tetapi sudah mewakili semua Provinsi di Indonesia. Beberapa daerah yang telah dikunjungi sebagai ajang bakti sosial antara lain di Bali, Malang, dan daerah lainnya.




Sleman Launching Desa Melek Politik

Wabup Sleman Serahkan Modul Vocal PointSleman – Pendidikan politik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar melek politik perlu dilakukan. Demikian antara lain diungkapkan Dr Sigit Pamungkas, anggota KPU Pusat ketika menghadiri Sarasehan dan Launching Desa Melek Politik di Balai Desa Sendangsari Minggir Sleman, Sabtu (22/10). Sigit juga menyampaikan bahwa selama ini masyarakat mempersepsikan politik sebagai sesuatu hal yang kotor.

“Dengan hadirnya Desa Melek Politik diharapkan makna politik kembali pada esensinya. Karena politik itu menyangkut kehidupan masyarakat dan bukan merupakan sesuatu yang kotor,” tutur Sigit.

Program Desa Melek Politik lanjutnya, penting untuk bisa dikembangkan didaerah lain. Jika hal tersebut dilakukan maka kesadaran politik masyarakat akan meningkat sehingga bisa mengontrol politik secara baik untuk kepentingan masyarakat luas. Kesadaran politik tersebut menurut Sigit juga akan menghindarkan masyarakat pada praktek money politic yang sering terjadi menjelang pemilihan.

“Politik uang bisa merusak demokrasi, jika masyarakat melek politik tentunya mereka bisa mengontrol aktivitas elite atau calon yang memobilisasi praktek tersebut sehingga politik menjadi lebih bersih,” tambah Sigit.

Launching secara simbolis ditandai dengan penyerahan Modul Vocal Point oleh Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes pada 14 Vocal Poin Desa Sendangsari.

Sri Muslimatun juga menyampaikan  bahwa partisipasi politik akan berlangsung terus menerus dalam kehidupan sehari-hari, karena kebijakan yang dibuat pemerintah terpilih akan berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat.

Kebijakan-kebijakan tersebut akan selalu menyambungkan hubungan antara masyarakat dengan pemerintah sekaligus menunjukkan pentingnya control terhadap mereka yang terpilih.

“Satu hal yang penting dalam pendidikan politik di era modern seperti sekarang ini adalah bagaimana cara memfilter informasi. Media sosial sudah menjadi gaya hidup setiap orang. Jika tidak bisa memfilter tentunya dapat menimbulkan konflik secara horizontal karena biasanya menjelang pemilu, pilkada, pilkades banyak sekali postingan hujatan maupun hasutan untuk menyudutkan lawan politiknya,” jelas Muslimatun.

Sedang sarasehan dan launching Desa Melek Politik tersebut menurut Susilastuti Dwi N, selaku Ketua Tim peneliti Desa Melek Politik menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu output kegiatan penelitian Hibah Bersaing Kemenristek Dikti melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN Veteran Jogja.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menciptakan dan menumbuhkan kesadaran dan perilaku politik yang cerdas dikalangan masyarakat dan meningkatkan partisipasi politik dalam proses pembuatan kebijakan publik.