BPBD Evaluasi Status Siaga Bencana‬ di Sleman

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman mengevaluasi status siaga  bencana di daerah Sleman yang akan berakhir 30 November 2016 mendatang.

‪”Evaluasi ini untuk menentukan keberlanjutan cuaca ekstrem. Kalau masih berlangsung akan diperpanjang untuk mengantisipasi risiko bencana,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman di Sleman, Rabu (23/11).

‪Dikatakan Makwan sampai saat ini belum ada pertimbangan kelanjutan status siaga darurat bencana banjir dan longsor di Kabupaten Sleman.

‪”Status siaga bencana di Sleman baru mau dilakukan evaluasi, kalau memang potensinya tetap tinggi akan diperpanjang,” kata Makwan.‬

‪Menurut Makwan  pertimbangan perpanjangan salah satunya perkiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogja akan kondisi cuaca yang dialami di wilayah Sleman.‬

‪”Kalau memang masih ada ancaman cuaca ekstrem maka harus siaga,” katanya.‬

‪Makwan mengatakan selama pemberlakuan status siaga bencana di Sleman beberapa waktu lalu sudah ada belasan bencana yang terjadi di antaranya banjir genangan di Jombor, longsor tebing dan jalan di delapan titik serta beberapa kali terjadi angin kencang.‬

‪Makwan menambahkan antisipasi telah dilakukan dengan menyiagakan para personel dan berkoordinasi dengan komunitas relawan yang ada.‬

“Setidaknya antisipasi itu bisa meminimalkan kerugian maupun korban,” tutur Makwan.‬

‪Titik longsor yang terjadi salah satunya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) di Kabupaten Sleman.‬ Kepala TNGM, Edy Sutiyarto mengatakan kondisi kawasan di lereng selatan Merapi saat ini sudah aman. Beberapa titik sudah dipasangi papan peringatan kepada pengunjung agar lebih berhati-hati terutama saat terjadi hujan.




Wisata Budaya Sleman Diharapkan Miliki Karakter

Sleman – Wisata Sleman di bidang budaya yakni desa wisata diharapkan memiliki karakter sesuai daerah masing-masing, bukan hanya latah seperti desa lain.

Oleh karena itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman meminta kepada pengelola desa wisata untuk memunculkan potensi khas yang dimiliki masing-masing desa.

selama ini masih ada kesan latah yang mana tampilan masing-masing desa seakan sama. Hanya pemandangan alam yang ditonjolkan tanpa mengeksplorasi keunggulan lainnya.

“Kita akan gali potensi yang ada agar masing-masing desa wisata itu memiliki karakter,” kata Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Kepala Disbudpar Sleman, Rabu (23/11).

Upaya ini dilakukan agar lebih dari 30 desa wisata di Sleman mampu menyuguhkan potensinya masing-masing. Karena jika hanya latah desa wisata tanpa menggali potensi yang ada, perlahan-lahan akan mati.

Di satu sisi, kata Ayu, Disbudpar harus merespon baik munculnya desa wisata di Sleman. Namun di sisi lain jika tidak ada potensi yang ditunjukkan hanya akan sama dengan desa wisata yang berangsur hilang.

“Pembedanya itu apa. Potensi utama dari desa itu apa. Di sini memang ide dan kreativitas harus dimunculkan,” jelas Ayu.

Selama ini Disbudpar memang sudah mengapresiasi keberadaan desa wisata baru yang bermunculan. Ayu mengakui jika tidak ada dana khusus untuk pembangunan fisik di desa wisata. Hanya saja bantuan diberikan dalam bentuk pelatihan.

Seperti pembinaan sumber daya manusia (SDM) yang mengelola desa wisata, sosialisasi sadar wisata, sosialisasi sapta pesona, penataan kamar home stay, dan masih banyak lagi.

Kegiatan seperti ini diberikan khususnya pada desa wisata yang masih masuk dalam kategoti tumbuh. Di Sleman, ada 14 desa wisata yang masuk dalam kategori tumbuh,  8 desa wisata berkembang dan 9 desa wisata mandiri.

Sementara untuk kategori desa wisata mandiri, seperti Desa Wisata Pulesari, Disbudpar sudah tidak banyak berkontribusi. Beberapa desa bahkan sudah memiliki jaringan dengan pihak lain yang mampu mendatangkan pemasukan.

Ayu menjelaskan bahwa kerja sama ini bukan berarti ditumbuhi investor. Bukan berarti investor datang dan mengubah konsep yang telah dibentuk pengelola sejak awal. Namun mereka hanya membantu promosi agar desa wisata mampu mendatangkan wisatawan.