10 Ribu Pengunjung Ditargetkan Penuhi “Merapi Night Festival”‬

Sleman – Gelaran “Merapi Night Festival” akan digelar akhir pekan ini di Lapangan Hutap Pager Jurang, Kepuharjo, Cangkringan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM menuturkan, acara tersebut diselenggarakan hari Minggu (27/11).

“Pertunjukkan ini sangat baik untuk mendukung pariwisata di Kabupaten Sleman,” kata Ayu di Pemkab Sleman, Kamis (24/11). ‬

Oleh karena itu, Ayu berharap ke depannya acara yang terselenggara atas kerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY ini dapat dijadikan agenda tahunan.‬ Merapi Night Festival dikemas dalam bentuk sajian musik dengan genre Jazz Etnik.

Dalam kesempatan tersebut akan dimeriahkan oleh Iga Mawarni dan Gitaris Kadek Mahardika serta komunitas musik Jazz Etnik dari Yogyakarta. Selain komunitas Jazz Etnik, Merapi Night Festival juga akan dimeriahkan oleh 51 komunitas dari Yogyakarta dan sekitarnya.

‪Kepala Seksi Objek Tujuan Wisata Dinas Pariwisata DIY, Wardoyo menyampaikan, Merapi Night Festival akan menyuguhkan pagelaran musik jazz etnik dengan bintang-bintang ternama. Di antaranya Iga Mawarni, gitaris Kadek Rahardika, dan Purwanto and friend.‬

‪Selain itu, acara ini juga akan diisi dengan agenda “night coffee and comunity” dengan menghadirkan Kopi Merapi dari Warung Kopi Sumijo. Wardoyo berharap pagelaran di kawasan Lereng Merapi ini bisa menarik banyak pengunjung. ‬

‪”Target kami 10 ribu pengunjung. Kemarin surat undangan yang disebar juga cukup banyak. Kami yakin target itu tercapai,” katanya.‬

Menurut Wardoyo, “Merapi Night Festival” akan dikembangkan sebagai ikon kegiatan DIY, sebagaimana Jazz Gunung Jawa Timur, Jazz Hutan Bogor, dan Jazz di Atas Awan Dieng.‬

‪Wardoyo berharap, ke depannya agenda ini dapat dimasukkan ke dalam kalender event nasional milik Kementerian Pariwisata. Dengan catatan sudah memiliki tanggal dan lokasi pelaksanaan yang jelas. ‬

‪Selain “Merapi Night Festival”, Dinas Pariwisata DIY juga akan mengembangkan pertunjukan ikonik lainnya di Gunungkidul. ‬

“Di Gunungkidul kita gelar orkestra dengan tajuk Geopark Night Specta tanggal 7 Desember,” kata Wardoyo.




Hujan Deras Akibatkan Banjir dan Longsor di Sleman‬

Sleman – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Sleman sejak Rabu (23/11) malam hingga Kamis (24/11) dini hari menyebabkan banjir di wilayah Kecamatan Godean dan Gamping Sleman.‬

‪”Bahkan akibat hujan deras terrsebur di wilayah Kecamatan Gamping sebuah tanggul ikut longsor,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Kamis (24/11) siang.‬

‪Menurut Makwan, tanggul yang longsor digerus air hujan terjadi di Perumahan Green Madani, Jitengan Desa Balecatur Kecamatan Gamping.‬ Tanah lonsor yang menyertai jebolnya tanggul terjadi pada Rabu (23/11) malam, sekitar pukul WIB.‬

‪Tanah longsor tersebut dikatakan Makwan mengakibatkan satu rumah warga milik Surahman (52) rusak parah, sehingga keluarga yang terdiri dari lima jiwa yakni empat dewasa dan satu balita diungsikan untuk sementara waktu sambil menunggu perbaikan rumah yang rusak.‬

‪Sedang panjang tanggul yang longsor sekitar 50 meter dengan ketinggian tiga meter. Selain itu, satu tiang pal listrik ikut roboh.




Sleman Borong Kejuaraan Kuliner

Sleman – Selama ini Sleman sering memborong kejuaraan dalam berbagai lomba. Kali ini Sleman membuktikan keberhasilan itu dengan memborong kejuaraan dalam Festival Kuliner Desa Wisata dan Kampung Wisata se DIY yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DIY, 24 November 2016 di Desa Wisata Kalaijo Pajangan Bantul.

Demikian dinyatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA ayu Laksmidewi TP, MM, Jum’at 25 November 2016 dikantornya Jl. KRT Pringgodiningrat Beran Tridadi Sleman Yogyakarta.

Ayu menambahkan bahwa Sleman mengirimkan 4 desa wisata yaitu Sidoakur, Kelor, Pancoh dan Tanjung dari keseluruhan peserta dari kabupaten/ kota se DIY sebanyak 40 kelompok. Kategori yang dilombakan meliputi ingkung, gudeg manggar, sate klathak dan mie lethek dengan unsure penilaian kekompakan dan kerjasama, penampilan sajian, rasa, kreativitas penyajian, bahan dan keserasian, ketepatan waktu serta kebersihan dan kerapian.

Dalam festival tersebut Sleman memperoleh prestasi sebagai Juara 1 Kategori Sate Klathak oleh Desa Wisata Sidoakur Jethak II, Juara Favorit Desa Wisata Kelor, Juara 1 Kategori Mie Lethek oleh Desa Wisata Tanjung, Juara 3 Kategori Ingkung oleh Desa Wisata Sidoakur Jethak II, Juara Harapan 1 Kategori Gudeg Manggar oleh Desa Wisata Tanjung dan Juara Harapan 1Kategori Ingkung oleh Desa Wisata Pancoh.

Ayu sangat mengapresiasi perolehaan kejuaraan yang diperoleh desa-desa wisata Sleman. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan dan kualitas desa wisata di Sleman dinilai sudah cukup baik dibuktikan dengan kualitas sajian kuliner yang sungguh menggembirakan.

Oleh karenanya diharapkan para pengelola desa wisata di Sleman untuk terus berjuang keras berkreasi daan berinovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan yang dating ke desa wisata. Kejuaraan bukanlah akhir dari perjuangan, yang terpenting adalah implementasi dari semangat untuk memberikan pelayanan yang prima kepada wisatawan.




Tubing Lava Bantal Siap Jadi Alternatif Wisata di Sleman

Sleman – BPPS Bentuk Pokdarwis Desa Kalitirto Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) menginisiasi terbentuknya Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Desa Kalitirto, Berbah, Sleman. Pokdarwis merupakan representasi masyarakat setempat hendak bekerjasama dengan kelompok Tirta Wisata. operaror wisata Tubing Lava Bantal di desa tersebut.

“Kawasan Lava Bantal di Kali Opak ini sangat ideal untuk segera dipasarkan sebagai tujuan baru wisata edukatif,” kata Guntur Eka Prasetya, SH MH, Ketua BPPS, Jumat (24/11).

Guntur menegaskan dalam setiap produk objek wisata, harus menggandeng dan sinergis dengan masayarakat setempat agar handarbeni dan mendapat manfaat untuk kesejahryeraan.

Selebihnya, peran pemerintah juga sangat penting sebagai pemangku kebijakan. Terkait dengan objek geowisata edukatif Tubing Lava Bantal tersebut, Kamis (23/11) telah dilakukan tubing (wisata air arus menggunakan ban) percobaan (trial) sekitar 25 pioner.

Jarak tempuh sementara 2 km memerlukan waktu 60 menit saat arus deras. Dapat lebih lama jika debit arus Kali Opak di bawah standar. Guntur juga menjelaskan saat ini secara swadaya sedang dipersiapkan minimal 100 set perlengkapan tubing, lengkap dengan standar keamanan untuk wisata arus air.

Sedang pelatihan pemandu wisata dan sosialisasi Tubing Lava Bantal dilakukan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Ditargetkan, pertengahan Desember objek sudah soft launching. Sehingga dapat menjadi alternatif wisata libur akhir tahun.

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Shavitri Nurmala Dewi MA, yg ikut serta trial tubing Kamis yll, menegaskan Lava Bantal sangat potensial sebagai objek geowisata efukatif di Sleman.

“Lokasi mudah dijangkau dari jalan raya Jogjs- Solo. Bahkan dapat dipaketkan dengan wisata kawasan Candi Prambanan ” kata Shavitri.

Diakui, masih banyak yang harus disempurnakan. Terutama peralatan keselamatan, infrastruktur lain dan asuransi.

“Pemerintah siap mendukung lahirnya objek wisata baru ini ” kata Shavitri.

Sebagai wujud dukungan, dalam waktu dekat Disbudpar Sleman memfasilitasi pelatihan pemandu wisata.