Kirab Gunungan Buku untuk Tingkatkan Minat Baca‬

20161113_092132Sleman – Gemar membaca buku, pengetahuan dan informasi akan terbuka lebar. Bermula dari ide untuk mengajak masyarakat gemar membaca, warga Padukuhan Kwadungan Widodomartani Ngemplak Sleman memiliki kreatifitas dengan menggelar kirab gunungan buku. Kirab gunungan  buku yang berlangsung, Minggu (13/11) cukup menarik perhatian masyarakat yang dilalui kirab.

‪Dua gunungan yang disusun dari beragam buku diarak di sepanjang jalan desa menempuh jarak sekitar 3 kilometer yang dimulai dari halaman kantor lama Kecamatan Ngemplak menuju Taman Baca Masyarakat (TBM) Kerai di Kwadungan.‬ ‪Ada sekitar 300 buku yang disusun menjadi bentuk gunungan yang kebanyakan merupakan buku cerita dan ilmu pengetahuan umum.‬

‪Tampak pula sebuah replika buku berukuran besar dan gunungan hasil bumi turut diarak bersama bergada prajurit . Gunungan buku dan hasil bumi itu lalu jadi bahan rebutan oleh masyarakat, terutama anak-anak.‬

‪Menurut Dukuh Kwadungan, Nanang Sujatmiko, kirab ini digelar untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat. Apalagi saat ini minat baca masyarakat setempat masih rendah. Orangtua kurang aktif dalam menumbuhkan minat baca pada anak-anaknya.‬

‪Karena itu dikatakan Nanang perlu adanya rangsangan tertentu untuk membuat masyarakat khususnya kaum muda merasa haus pengetahuan dan membaca buku.‬ Di antaranya dengan mengaktifkan perpustakaan desa dan TBM. Saat ini, ada sekitar 2500 buah koleksi buku yang dimiliki.‬

‪Fungsi buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan disebutnya tak bisa tergantikan meski kini anak-anak juga akrab dengan perangkat modern untuk akses informasi. Namun, ada fungsi sosial yang terkandung dalam kegiatan membaca buku dan tak bisa didapat dari gadget.‬

‪”Dengan membaca buku di TBM atau perpustakaan desa, kita juga turut bersosialisasi dengan masyarakat lain. Ini tentu tidak akan didapatkan dari gadget. Melalui kegiatan kirab buku ini, kami ingin  pola pikir masyarakat terhadap buku itu berubah. Karenaa membaca buku itu perlu,” tutur Nanang.‬




Seluruh Puskesmas Sleman Terakreditasi

Sleman – Sebanyak 25 Puskesmas di Kabupaten Sleman telah tersertifikasi akreditasi. Hal ini merupakan wujud komitmen pemerintah daerah setempat dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.‬

“Dari 25 Puskesmas tersebut 2 Puskesmas terakreditasi utama, 8 Puskesmas terakreditasi madya, dan 15 Puskesmas terakreditasi dasar,” kata dr Mafilindati Nuraini MKes pada resepsi Hari Kesehatan Nasional ke 52 Kabupaten Sleman di aula Monumen Jogja Kembali, Sabtu (12/11).

Menurut Linda berdasarkan laporan dari Subdit Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Sleman menjadi satu-satunya Kabupaten yang seluruh Puskesmasnya terakreditasi.

“Akhir tahun 2015 hingga awal tahun 2016 kami mengusulkan sertifikasi akreditasi secara serentak 25 Puskesmas di Sleman. Alhamdulillah semuanya terakreditasi dan ini sebagai wujud komitmen Kabupaten Sleman untuk meningkatkan pelayanan dan mutu dibidang kesehatan,” kata Linda.

Sementara Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), drg Tini Suyanti Sugandi MKes menyampaikan bahwa pelaksanaan program Akreditasi FKTP saat ini telah memasuki tahun kedua setelah ditetapkannya Peraturan Menteri Kesehatan no 46 tahun 2015 yang menjadi dasar hukum pelaksanaannya.

Dalam kurun waktu bulan Januari sampai dengan November 2016 telah ada sebanyak 697 Puskesmas di 24 Provinsi yang telah disurvei dan sebagian telah ditetapkan kelulusannya.

Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes  mengapresiasi atas pencapaian akreditasi seluruh Puskesmas di Sleman. Sri Muslimatun menghimbau agar pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman terus ditingkatkan baik mutu maupun pelayanan, sehingga tiga tahun kedepan akreditasi dapat ditingkatkan.

”Dengan momen peringatan HKN tahun 2016 yang bertemakan Indonesia Cinta Sehat, saya  mengajak seluruh jajaran Pemkab Sleman, khususnya aparat di bidang pelayanan kesehatan untuk terus meningkatkan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam pembangunan bidang kesehatan. Mari kita terus menggali inovasi baru yang lebih beragam untuk mendorong prakarsa dan peran masyarakat dalam upaya membangun Sleman,” kata Sri Muslimatun.

Pada kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga menyerahkan langsung trophy berbagai lomba bidang kesehatan diantaranya Lomba Desa Siaga, Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Lomba Komunitas Jumantik, dan Lomba Sekolah Sehat.

Sri Muslimatun berharap dengan prestasi maupun penghargaan yang telah diberbagai kesehatan tersebut dapat menjadi pemicu bagi semua untuk lebih mening­katkan pemba­ngunan di sektor-sektor lainnya serta mampu memotivasi untuk me­ningkat­kan kesa­daran seluruh warga Sleman untuk membudayakan pola hidup bersih dan sehat.




Desa Tridadi Deklarasikan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Sleman – Desa Tridadi Kecamatan Sleman mendeklarasikan sebagai desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). 

Desa STBM merupakan desa yang masyarakatnya sudah menerapkan 5 pilar STBM di antaranya stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun, pengolahan air minum dan makanan dengan aman, pengolahan sampah rumah tangga, serta pengolahan limbah cair rumah tangga dengan aman.

Selain masyarakat sudah menerapkan 5 Pilar STBM, masyarakat juga bersedia menjadi Natural Leader, dimana Natural Leader adalah seseorang yang bersedia dengan suka rela menjadi pendamping, pembina dan melakukan monitoring kepada masyarakat dalam kegiatan penerapan STBM 5 Pilar di dusun yang ada di Desa Tridadi Sleman.

Natural Leader yang berasal dari tokoh masyarakat, kader kesehatan, PKK, karang taruna dan tokoh agama. Deklarasi Desa Tridadi Desa STBM ini dikuatkan oleh SK Camat Sleman Nomor : 80/Kep Camat/2016.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang menghadiri deklarasi tersebut menyampaikan sangat mendukung dan menyambut baik dalam pelaksanaan “Deklarasi Masyarakat Desa Tridadi sebagai Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Desa STBM)” oleh masyarakat Desa Tridadi.

Sri Purnomo bangga terhadap masyarakat Desa Tridadi karena merupakan satu-satunya desa di Provinsi DIY yang mendeklarasikan sebagai Desa STBM.

Karena itu Sri Purnomo berharap adanya deklarasi ini dapat menginspirasi desa yang lain sehingga mereka juga terdorong untuk segera mewujudkan Desa STBM. Pemerintah telah melakukan pemicuan STBM kepada 86 Desa di Kabupaten Sleman.

Namun, sampai saat ini baru ada 67 desa yang sudah mendeklarasikan pilar 1 sebagai Desa Stop BABS sehingga masih ada 19 Desa yang belum. Bagi Desa stop BABS, Sri Purnomo berharap agar masyarakatnya untuk segera melaksanakan 4 pilar yang lain agar dapat menjadi Desa STBM.

Sementara itu bagi 19 desa yang belum, agar jajaran pemerintah desa memberikan perhatian yang lebih agar tidak tertinggal dengan desa yang lain.

Selain itu  ditambahkan Sri Purnomo bahwa untuk pemenuhan sanitasi dasar yang layak sampai ke pelosok desa serta untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, memerlukan upaya yang komprehensif, terintegrasi dan dukungan kerjasama lintas sektor, baik pemerintah maupun segala lapisan masyarakat dalam kesuksesan pelaksanaan kegiatan STBM dengan 5 pilarnya.

Melalui dana desa diharapkan dapat mengalokasikan kegiatan untuk sanitasi lingkungan dan pemeliharaan sanitasi lingkungan, pembangunan air bersih di skala desa, pengelolaan sampah, pembentukan dan peningkatan kapasitas kader di tingkat desa, serta kegiatan promosi kesehatan dan gerakan hidup bersih dan sehat yang dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat.

Kepala Desa Tridadi, Kabul Muji Basuki menjelaskan bahwa untuk mengelola sampah rumah tangga dilakukan pemilahan di sejumlah 17 lokasi sesuai jumlah dusun yang ada di Desa Tridadi, saluran pembuangan air limbah 3548.

Kabul mengatakan keberhasilan Desa Tridadi dalam penerapan STBM 5 pilar terbukti berdampak pada menurunnya kasus penyakit berbasis lingkungan seperti DBD pada tahun 2014 sejumlah 14 kasus, tahun 2015 sejumlah 10 kasus dan tahun 2016 sampai dengan bulan November 2016 sejumlah 9 kasus.

Sedangkan penyakit diare pada tahun 2014 sejumlah 79 kasus, tahun 2015 sejumlah 56 kasus, tahun 2016 sampai dengan bulan November sejumlah 32 kasus.

Pada kesempatan acara Deklarasi, salah satu warga DesaTridadi, Ny Nunik mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-harinya telah menerapkan STBM, walaupun secara ekonomi merupakan golongan menengah ke bawah. Ny Nunik melakukan STBM untuk lebih menjaga kesehatan keluarganya dengan pola hidup sehat dan bersih.




48 Koperasi di Sleman Non Aktif

Sleman – Perkembangan koperasi di wilayah Sleman menunjukkan tren positif. Tiap tahun selalu terbentuk lembaga baru yang mengusung semangat ekonomi kerakyatan itu. Di sisi lain, jumlah koperasi tidak aktif juga meningkat. Saat ini tercatat sedikitnya 48 koperasi bermasalah.‬

‪Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Sleman, Drs Pustopo mengatakan, koperasi bermasalah disebabkan bebeberapa hal yang lebih bersifat internal. Diantaranya, buruknya sistem manajemen, komunikasi antara pengurus dan anggota tidak sinkron, hingga masalah penggelapan uang anggota.‬

‪Pustopo mengakui, peningkatan jumlah koperasi tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas lembaga. Langkah awal yang ditempuh dinas untuk mengurai benang kusut koperasi dengan mediasi. Kecuali, kasus penyelewengan keuangan.

“Kalau itu kami serahkan ke jalur hukum. Kami hanya menertibkan koperasi yang bermasalah (manajemen),” kata Pustopo, Jumat (11/11).‬

‪Disebutkan, pada 2015 jumlah koperasi di Sleman sebanyak 646 lembaga. Dibanding tahun sebelumnya terjadi penambahan 17 unit. Meski banyak koperasi bermasalah, Pustopo menilai pertumbuhan jumlah lembaga ekonomi skala kecil itu menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas hidup.‬

‪Menurut Pustopo, koperasi merupakan aset penting dalam peningkatan perekonomian. Bertambahnya unit berdampak juga pada peningkatan jumlah keanggotaan koperasi.

Sedang perkembangan koperasi  di Kabupaten Sleman cukup menggembirakan hingga semester pertama tahun 2016 saat ini tercatat ada 654 koperasi dengan jumlah anggota orang.

Sedangkan jumlah aset yang terkumpul mencapai lebih dari Rp 1,1 trilyun dan SHU yang terkumpul dan dibagikan anggota sebesar Rp 32,2 miliar meningkat 11% dari tahun sebelumnya.

“Kami masih telusuri permasalahan di beberapa koperasi. Termasuk mendalami bila ada laporan penyelewengan keuangan,” tutur Pustopo.‬




Pemkab Salurkan Bantuan Anak Asuh 2016

DSC_0941Sleman – Pendidikan wajib belajar sangat penting bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Pendidikan yang semakin tinggi akan meningkatkan kemandirian daerah yang memiliki pengaruh besar terhadap pelaksanaan pembangunan. Sehingga  berbagai program pembangunan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dan efisien.

Untuk mewujudkan hal tersebut Pemkab Sleman bekerjasama dengan Lembaga Orang Tua Asuh (L-OTA) DIY melakukan penyaluran bantuan anak asuh di Kabupaten Sleman yang berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (11/11).

Total bantuan yang diserahkan sebesar Rp 33,720 juta, bantuan beasiswa tersebut diberikan kepada 274 siswa. Bantuan dari Pamela Supermarket sebanyak 60 siswa SD/MI dan 4 anak MTs, serta bantuan dari PT Sari Husada Generasi Mahardhika sebanyak 200 siswa SD/MI dan 10 siswa SMP/MTs.

Dengan alokasi bantuan masing-masing sebesar Rp untuk SD/MI, sedangkan alokasi bantuan sebesar Rp untuk SMP/MTs. Bantuan beasiswa tersebut secara simbolis diserahkan oleh Bupati Sleman.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengapresiasi bantuan semua pihak melalui  L-OTA DIY yang telah memberikan sumbangan positif bagi pendidikan anak-anak di Kabupaten Sleman.

Menurut Sri Purnomo bantuan tersebut sebagai salah satu wujud kepedulian bersama terhadap kesinambungan pendidikan, melihat kendala yang dihadapi adanya masalah biaya.

Sri Purnomo berharap agar anak-anak yang menerima bantuan dapat termotivasi untuk terus giat belajar dengan meraih prestasi di berbagai bidang, serta berusaha sekuat tenaga mengejar cita-cita demi masa depan yang gemilang. Sehingga dapat menjadi anak-anak yang berkualitas dan berdaya saing, yang mempunyai keimanan dan intelektual yang baik sebagai modal untuk membangun daerah, bangsa dan negara.