Adopsi Pohon, Selamatkan Bantaran Sungai Kuning

WhatsApp Image 2016-12-06 at  AMSleman – Bertempat di bantaran sungai Kuning, Sempu, Desa Wedomartani,, , sejumlah mahasiswa berbagai perguruan tinggi di DIY yang tergabung dalam Sekber Mahasiswa Pecinta Alam (mapala) Devisi Konservasi bekerjasama dengan Komunitas Pelestari Sungai Kuning, Jogja, melakukan aksi tanam bibit pohon gayam, Minggu (4/12) pagi.

Aksi tersebut berlatar keprihatinan atas banyaknya sejumlah tebing bahkan bantaran sungai yg rawan longsor akibat penambangan pasir liar ug marak terjadi di Sungai Kuning.

“Dengan terus terjadinya penambangan pasir yg juga nengeruk tebing sungai, maka sejumlah pohon juga ikut ditebang, bahkan hilang,” tegas Ketua Komunitas Pelestari Jali Kuning Jogja, Yudi Sunyoto.

Yudi menyatakan, beragam vegetasi di pinggir sungai yg berfungsi sebagai penahan longsor dan erosi, kini banyak hilang. Jarak bibir sungai dengan permukiman pun, kian dekat. Sehingga dikhawatirkan, jika terjadi banjir kecil saja, aliran sungai akan masuk ke permukiman warga di Perumahan Puridomas, yang berbatasan langsung dengan sungai Kuning.

Aktivitas penambangan pasir di Sungai Kuning Jogja memang kian marak. Meski dilakukan manual namun kerusakannya sangat masif. Tak hanya pasir di tengah sungai yang dikeruk, bibir dan tebing sungai pun mulai banyak yang dijarah untuk diambil pasirnya.

Menurut informasi dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Tri Bayu Adji, pihaknya selama ini belum pernah mengeluarkan rekomendasi terkait penambangan pasir di Sungai Kuning, Jogja.

“Meski sudah diberi papan peringatan batas sempadan sungai, hingga peringatan larangan menambang & penolakan oleh warga terkait penambangan pasir. Bahkan pernah dilakukan sidak oleh aparat, para penambang rupanya tak peduli, dan kini kian nekat membabat tebing juga,” tegas Yudi.

Aksi tanam pohon yang dilakukan sejumlah mapala tersebut, sebagai upaya menyelamatkan bantaran sungai dari kerusakan yang lebih parah. Koordinator Sekber Mapala Divisi Konservasi DIY Pipit Noviyani mengungkapkan, aksi ini sebagai upaya keterlibatan langsung mapala dalam menyelamatkan lingkungan. Tercatat ada sekitar 27 mapala di DIY yang terlibat dalam aksi di Sungai Kuning.

“Kami mengangkat tema Bakti Kali untuk Bumi. Pola yang dilakukan adalah adopsi pohon. Jadi tiap mapala yang ikut menanam, punya tanggingjawab pula merawat & memelihara hingga tumbuh besar,” terang Pipit.

Sebelumnya, pada Sabtu (3/12/2016) malam, betempat di pinggir Sungai Kuning, Sempu, dengan berkemah dengan tenda-tenda, dilakukan sarasehan tentang pentingnya melakukan konservasi di pinggir sungai. Khususnya menanam pohon yang mampu menyimpan air. Sehingga keberadaan mata air di pinggir sungai terus terjaga.

Turut hadir sebagai narasumber dalam sarasehan malam itu, Kasie Pengendalian Pencemaran BLH DIY Reni Anggraeni dan Ketua Komunitas Tarub,Jogja Kamaludin.

“Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menanam pohon memang tak mudah. Maka, harus dimulai dari diri sendiri dulu. Mari melakukan konservasi pada diri kita dulu. Dengan cintai dan rawat pohon-pohon di sekeliling kita,” ajak Bang Udin, sapaan akrab Kamaludin.




Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan di Sleman Meningkat

Sleman – Tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan. Tercatat hingga bulan November 2016 jumlah pengaduan atas korban kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 133 orang.‬

‪Kepala UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sleman, Iscahyawati mengatakan bahwa selama ini kekerasan di Sleman terus mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun.

“Kekerasan tersebut berupa pelecehan seksual, tindak pemerkosaan, banyak anak yang menjadi korban dan juga pelaku, bahkan di antaranya masih di bawah umur,” kata Iscahyawati, Jumat (9/12).‬

‪Iscahyawati melanjutkan, sejauh ini sebanyak 133 laporan masuk ke lembaganya terkait dengan perlakuan tindak kekerasan. Namun data tersebut diakuinya belum diakumulasikan dengan sejumlah lembaga lainnya seperti Polres, Dinas Pendidikan, serta lembaga pemerhati anak dan perempuan.

“Angka ini termasuk tinggi. Dari tahun ke tahun jumlahnya terus naik,” katanya.‬

‪Selama ini lanjutnya pelaporan kekerasan biasanya disebabkan oleh persoalan ekonomi dan hubungan suami-istri yang kurang harmonis (keterbukaan dalam hal komunikasi).

Iscahyawati menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berupaya melakukan upaya-upaya pencegahan diantaranya melalui pembekalan kepada orangtua, misalnya agar dapat memberikan perlindungan. Selain kepada orangtua pun juga dengan memberikan sosialisasi langsung kepada anak.‬

‪Dijelaskan Iscahyawati bahwa pelayanan yang dilakukan pihaknya menggunakan sistem jejaring dengan sejumlah lembaga, di antaranya Forum Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (FPK2PA), Satgas perlindungan Perempuan dan Anak, Komite perlindungan anak di sekolah, serta kader pendamping korban kekerasan dalam 86 desa di 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman.‬

‪Sesuai dengan kewenangannya, Iscahyawati pun menjelaskan bentuk sosialisasi telah disampaikan melalui berbagai media di antaranya melalui leaflet, poster, dan media massa. Masyarakat pun telah memberikan respon yang positif dalam melapor adanya tindak kekerasan perempuan dan anak di Sleman.‬

Dengan upaya tersebut diharapkan masyarakat menjadi paham dan tahu tentang hukum, serta apa yang mesti mereka lalukan ketika mengalami menjadi korban kekerasan.




Wanita Berperan Dalam Pencegahan Kemerosotan Moral

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan bahwa selama ini wanita sangat berperan dalam pencegahan kemorosotan moral yang terjadi saat ini, seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, kekerasan seksual terhadap anak-anak dibawah umur, dan penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja.

“Perempuan Indonesia sudah diakui pula menjadi pelaku utama dalam Ketahanan Keluarga,” kata Sri Purnomo disela-sela Peringatan HUT ke-17 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sleman dengan tema “Penguatan Kualitas Isteri Aparatur Sipil Negara (ASN) Menuju Ketahanan Keluarga” di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (9/12).

Pada kesempatan tersebut juga  dilakukan potong tumpeng yang dilakukan oleh Ny Kustini Sri Purnomo selaku penasehat DWP Kabupaten Sleman didampingi oleh Bupati Sleman, yang diserahkan kepada Ketua Panitia HUT ke-17 DWP yang didampingi oleh Ketua Panitia Dharma Wanita Kabupaten Sleman.

Menurut Sri Purnomo sebagai pelaku utama dalam Ketahanan Keluarga, tugas wanita di era modern pun bertambah dengan membimbing anak-anak agar terhindar dari berbagai dampak buruk internet, diantaranya pornografi online, prostitusi online, ataupun cybercrime dan lainnya.

Karena itu Sri Purnomo minta anggota Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Sleman harus mampu menjadi teladan untuk memilah informasi secara baik dan bijak dalam menggunakan media sosial.

“Mampu secara cerdas dan bijak dalam mensikapi setiap informasi yang didapatnya, mampu memilih mana yang baik dan mana yang negatif,” tuturnya.

Sri Purnomo juga berharap Dharma Wanita Persatuan khususnya di Kabupaten Sleman dapat terus menjadi mitra kerja bagi pemerintah, utamanya dalam mendukung program-program pemerintah yang bertujuan mensejahterakan masyarakat.

Ketua Panitia HUT ke-17 DWP Sleman, Noor Lisnani Arif Haryono menyampaikan bahwa maksud dan tujuan pelaksanaan untuk memperkuat rasa kebersamaan dan bangga terhadap organisasi serta bentuk partisipasi dan kontribusi terhadap program pemerintah.

Untuk memperingati HUT DWP ke-17 tersebut diselenggarakan sejumlah rangkaian kegiatan seperti diantaranya bakti sosial (Selasa/28 Juni 2016).

Dalam bakti sosial ini DWP Sleman membagikan 200 paket sembako murah bagi Pegawai Harian Lepas (PHL) di lingkungan Pemkab Sleman dan memberikan paket sembako gratis bagi warga yang membutuhkan seperti tukang becak, buruh gendong pasar, pemulung sampah.

Selain itu juga diselenggarakan sejumlah rangkaian acara yaitu senam massal, donor darah dan pemeriksaan tulang (Jumat/18 November 2016), pembinaan rohani Islam (Jumat/25 November 2016), pembinaan rohani Nasrani (Jumat/2 Desember 2016) dan lomba kreasi jilbab (Jumat/2 Desember 2016).

Tampil sebagai pemenang dlam lomba kreasi jilbab di antaranya Erlis Nuryaningrum (PDAM), Tiknawati dan Meynita Dyah (Dikpora), Amila Fathania (BPN) dan Evi Laila (Bank Sleman).