Korpri Sleman Buka Toko AMAN Mart

Bupati SlemanSleman – Berbagai produk unggulan dengan kualitas tinggi dimiliki Sleman, namun masih terkendala dalam pemasarannya. Salah satu upaya mengatasi kendala tersebut Korpri Kabupaten Sleman membuka ’AMAN Mart’ yang diresmikan  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Rabu (28/12).

Sri Purnomo menyampaikan bahwa optimalisasi penggunaan produk lokal tidak cukup dilakukan dengan menjaga kualitas produk oleh pelaku usaha, perlu didukung publikasi dan partisipasi multisektoral sehingga memudahkan bagi pelaku usaha lokal dalam mengembangkan produknya.

Berada di selatan lapangan Pemda Sleman dan bersebelahan dengan kantor Korpri Kabupaten Sleman, kehadiran AMAN Mart dalam menjalankan usahanya selain menjual produk kebutuhan sehari-hari juga menjadi fasilitator produk pertanian seperti beras dan sayur organik hasil petani lokal Sleman serta produk UMKM Sleman.

”Saya mengapresiasi inisiatif Korpri Sleman dengan peluncuran AMAN Mart sebagai prototipe usaha yang mengedepankan produk-produk lokal Sleman. Mudah-mudahan keberadaan AMAN Mart dapat menjembatani kebutuhan konsumen dengan produsen. Untuk itu dibutuhkan peran aktif Korpri untuk jemput bola ke berbagai UMKM sehingga produk yang diperjualbelikan di AMAN Mart semakin beragam,”  kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga menghimbau kepada para pegawai di Sleman untuk memanfaatkan AMAN Mart dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain mudah dan terjangkau berbelanja di AMAN Mart, secara tidak langsung membantu pemberdayaan UMKM dan memajukan perekonomian masyarakat Sleman.

Sementara  Ketua Peringatan HUT ke-45 Korpri Kabupaten Sleman, Retno Susiati SH MM menyampaikan bahwa puncak acara tersebut merupakan tahap akhir dari rangkaian acara peringatan HUT Korpri ke-45 yang dimaksudkan untuk mengapresiasi atas terselenggaranya berbagai kegiatan.

Retno juga mengatakan bahwa pembangunan toko “AMAN Mart” tersebut bertujuan untuk lebih meningkatkan layanan kepada anggota Korpri dengan menyediakan kebutuhan yang lengkap berbagai keperluan. AMAN Mart merupakan pengembangan usaha dari Koperasi Aman sebagai badan usaha Korpri Kabupaten Sleman yang dibentuk tahun 2007 telah melaksanakan beberapa usaha untuk memenuhi kebutuhan anggota Korpri Sleman.

“Pembangunan AMAN Mart sekaligus bentuk partisipasi Korpri Kabupaten Sleman untuk berperan serta memberdayakan UMKM Sleman, oleh karena itu kami menyediakan produk lokal Sleman. Kami mengharapkan keberadaan AMAN Mart dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh anggota Korpri dengan meramaikan dan memenuhi kebutuhannya,” kata Retno Susiati.

Diinformasikan pula disela-sela peresmian AMAN Mart  juga dilakukan penyerahan trophy serta hadiah kepada para juara lomba pengibar bendera, pengucap Panca Prasetya Korpri, memasak nasi goreng, menyanyi kategori Eselon II dan III, menyanyi kategori Eselon IV dan staf, serta paduan suara dalam rangka HUT Korpri ke 45. Penyerahan tersebut dilakukan oleh Bupati didampingi Wakil Bupati Sleman.




Pemkab Sosialisasikan Hasil Pemantauan Bahasa

Sleman – Sosialisasi hasil pemantauan bahasa di media luar ruang tersebut  tentunya akan menjawab fenomena yang ada tersebut dengan berdasar pada hasil pantauan yang komprehensif sehingga hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.

Pantauan tersebut kedepannya juga dapat menjadi bahan referensi bagi SKPD terkait penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan tata bahasa, kaidah bahasa baku baik lisan maupun tulisan.

Disamping itu saya harapkan kedepannya kegiatan ini mampu menjadi media strategis untuk menggugah kembali kesadaran masyarakat dan generasi muda untuk dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes usai membuka sosialisasi hasil pemantauan bahasa di lantai III Pemkab Sleman, Rabu (28/12).

Menurut Sri Muslimatun kegiatan tersebut  mampu menjadi media bagi seluruh peserta yang hadir untuk dapat memunculkan ide dan gagasan mengenai langkah strategis dalam upaya merevitalisasi penggunaan bahasa Indonesia baik dalam ruang publik maupun dalam keseharian.

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwasanya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik diruang publik maupun administrasi masih terbilang lemah. Hal ini dapat terlihat dari seringnnya penggunaan istilah dalam bahasa asing. Padahal istilah-istilah asing tersebut memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia yang dapat digunakan.

“Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sendiri dapat diartikan sebagai pemakaian kata-kata dalam ragam bahasa yang serasi dan selaras dengan sasaran atau tujuannya dan yang terlebih penting lagi adalah mengikuti kaidah bahasa yang baik dan benar,” kata Sri Muslimatun.

Ditambahkan jika merujuk pada Undang-Undang No 24 Tahun 2009 pasal 30 menyatakan bahwasanya Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pelayanan administrasi publik di instansi Pemerintah.

Tentu hal ini harus menjadi perhatian kita bersama jajaran Pemerintah, bukan berarti penggunaan bahasa asing dilarang tapi hendaknya dapat disesuaikan dengan kedudukan dan fungsinya. Jika sasarannya adalah orang Indonesia maka penggunaan bahasa Indonesia tentu lebih tepat.

“Hal yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan semangat dan kecintaan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan sampai fenomena jaman justru menggerus kekayaan bahasa yang kita miliki. Perlu kita ingat bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang menjadi alat pemersatu bangsa ditengah beragamnya bahasa daerah yang kita miliki,” tambah Sri Muslimatun.

Hal ini tentu harus dijaga dan dilestarikan dengan cara menerapkan penggunakaan bahasa Indonesia sesuai tata bahasa dan kaedah yang berlaku. Sedangkan Mulyanto dari Balai Bahasa Jogja menyampaikan bahwa tujuan sosialisasi tersebut untuk memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia sesui dengan amanat UU nomor 24 tahun 2009 dan Pergub Nomor 39 tahun 2015 dan untuk mewujutkan bahasa Indonesia  media luar ruang lebih bermartabat.

Disampaikan pula  bahwa sosialisasi tersebut agar lebih bermanfaat dalam meningkatkan mutu penggunaan dan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia meningkat, sehingga dapat mengembangkan budaya cinta bahasa Indonesia.

Peserta dalam sosialisasi tersebut pada kepala SKPD, camat, dan pejabat dilingkungan Pemkab Sleman. Bertindak sebagai nara sumber Kepala Balai Bahasa Jogja Dr Cipto Suwondo, Sulton Fathoni dari Dishubkominfo, Ir Rin Andriani dari BPMPPT  dan Sri Wantini dari Dikpora Kabupaten Sleman.




Asosiasi Petani Salak Perluas Pasar Ekspor‬

Sleman – ‪Petani salak di Kabupaten Sleman terus berupaya memperluas pasar. Para petani tidak hanya membidik pasar lokal tapi juga pangsa luar negeri.‬ Pengiriman produk untuk ekspor sudah berlangsung sejak tahun 2008 dengan target pertama kali ke China. Pengiriman ke negeri China itu bahkan sudah rutin dilakukan dua kali dalam seminggu.‬

‪Ketua Asosiasi Petani Salak Sleman ‘Prima Sembada’, Maryono mengatakan  tujuan ekspor saat ini sudah merambah ke berbagai negara antara lain Singapura, Kamboja, Australia, dan Eropa.

“Otoritas di New Zealand juga sudah membuka pintu, tapi kami belum mendapatkan eksportir,” kata Maryono, Rabu (28/12).

‪Sementara untuk ekspor ke Eropa, sejauh ini masih dalam tahap MoU dengan jumlah permintaan buah salak sebanyak 360 ton per tahun. Guna memenuhi persyaratan pasar di benua itu, asosiasi telah mengantongi sertifikat dari lembaga sertifikasi organik internasional, IMO Swiss.‬ ‪Adanya sertifikat dari IMO juga memungkinkan peluang ekspor ke Amerika karena dokumen itu berlaku untuk Eropa dan Amerika.

Kami harap pengiriman ke Eropa bisa segera terealisasi. Tidak semua diekspor dalam bentuk buah segar tapi juga produk olahan kering yang sudah dioven,” terang Maryono.‬

‪Di samping itu asosiasi juga sudah menyiapkan sekitar 40 hektare lahan untuk budidaya salak ekspor tersebar di wilayah Pakem, Turi, dan Tempel. Dengan penyiapan lahan itu diharapkan target pengiriman ke luar negeri sebanyak 200 ton bisa tercapai.‬

‪Saat ini ekspor masih sebatas 70 ton per tahun. Salak yang diekspor merupakan jenis pondoh grade B dengan kondisi kematangan 60-70 persen saat dipetik.

“Soal pemenuhan stok, tidak ada kendala. Total produksi salak bisa mencapai ton per tahun,” ujarnya.‬

E‪skpor salak ini lebih memberikan keuntungan petani, karena harganya bisa mencapai kisaran Rp 10 ribu per kg. Sementara jika hanya untuk memenuhi pasaran lokal harganya dari petani hanya berkisar Rp 3000 per kg.