Tidak Ikut Ujian, Empat Siswa SD di Sleman Terancam Tidak Lulus

Sleman – Sebanyak empat orang siswa dari beberapa sekolah berbeda di Sleman  terancam tidak lulus Ujian Sekolah (US) 2016. Pasalnya, keempat siswa SD tersebut tidak menghadiri ujian selama dua hari berturut-turut tanpa keterangan apapun.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Arif Haryono SH mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan ketidakhadiran empat siswa dalam US 2016 yang berlangsung 16-18 Mei 2016 ini.

Menurut Arif, Dari siswa di 522 sekolah penyelenggara yang terdaftar sebagai peserta ujian, empat siswa diketahui tidak hadir pada ujian hari pertama dan kedua.

“Kalau tanpa keterangan, tentu tidak bisa ikut ujian susulan. Harus mengulang sekolah atau ikut kejar paket,” kata Arif, Rabu (18/5).

Adapun ujian susulan rencananya akan digelar pada Senin (23/5) mendatang. Pihaknya masih meneliti alasan sebenarnya keempat siswa tersebut tak hadir dalam ujian.

Arif memerinci, berdasarkan data dari posko pemantauan Ujian Nasional Disdikpora Sleman , 4 tidak hadir tanpa keterangan, sakit 10.

“Di luar empat siswa yang tidak hadir tanpa keterangan, siswa berhalangan hadir dengan keterangan izin karena sakit 10 anak,” kata Arif.

Meski begitu, Arif menyebut bahwa secara umum pelaksanaan ujian tersebuit cukup lancar. Posko tidak menerima laporan permasalahan terkait lembar naskah soal maupun lembar jawab.

“Harapan kami, ujian berlangsung sukses dan prestasi anak didik meningkat. Juga sukses penyelenggaraan UN dengan hasil yang jujur,” tambah Arif.




Disbudpar Sleman Siap Gelar Pentas Jathilan 24 Jam

Sleman – Dalam rangka untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke 100 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman akan menghelat Pentas “Njathil 24 Jam”, pada hari Sabtu-Minggu (21-22/5) di Halaman Parkir Sindu Kusuma Edupark Jl Jambon Sinduadi Mlati Sleman.

“Pentas Njathil 24 jam tersebut semuanya dilakukan oleh kelompok jathilan putri yang dimulai Sabtu 21 Mei 2016 pukul WIB hingga Minggu 22 Mei 2016 pukul WIB,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Selasa (17/5).

Ayu menambahkan bahwa penyelenggaraan pentas jathilan 24 jam tersebut dimaksudkan sebagai ajang eksibisi, ekspresi dan apresiasi seni kerakyatan jathilan. Ajang ini untuk memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok jathilan melakukan pementasan didepan publik secara luas.

“Harapannya mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk dapat tampil dan disaksikan oleh masyarakat luas,” tutur Ayu.

Dalam kesempatan tersebut akan ditampilkan 17 kelompok jathilan secara bergantian dengan peserta masing-masing kurang lebih 35 orang seniman per kelompok.

“Dengan demikian setidaknya 600 an seniman jathilan akan menampilkan kebolehannya dihadapan masyarakat luas,” tambah Ayu.

Selain itu upaya ini juga dimaksudkan untuk melakukan regenerasi seniman dengan persyaratan diikuti oleh seniman yang berusia dibawah 35 tahun. Dengan demikian diharapkan kesenian jathilan yang merupakan asset kesenian rakyat akan dapat diuri-uri dan dilestarikan oleh generasi muda.

Adapun jadwal pementasan Jathilan 24 Jam tersebut adalah  Sabtu, 21 Mei 2016 mulai pukul  WIB akan dipentaskan 8 (delapan) kelompok jathilan, yaitu Kudo Wiromo dari Berbah, Turonggo Budaya Rukun dari Kalasan, Kridha Turonggo Budaya dari Cangkringan, Tirta Manunggal dari Seyegan, Turangga Budaya dan Panca Wisesa dari Godean, dan Laras Giri Seta dan Gamping.

Sedangkan Minggu 22 Mei 2016 mulai pukul WIB akan dipentaskan Turonggo Macho Budaya dari Prambanan, Kuda Taruna dari Ngemplak, Sadar Budaya dari Minggir, Sekar Gadung dari Turi, Beksa Putra Seta dari Moyudan, Ngesti Turangga Budaya dari Godean, Turangga Mudho Budaya dari Kecamatan Sleman, Asmara dari Ngaglik.

Sebagai pentutup rangkaian jathilan 24 jam tersebut akan dipentaskan hingga pukul  WIB dengan Kesenian Angguk.




Gubernur Resmikan 3 Gedung Pelayanan Terpadu di Sleman

Gubernur DIY Tinjau Sarana dan PrasaranaSleman – Layanan terpadu satu atap sudah menjadi keharusan di era yang semakin maju ini. Demikian  ditegaskan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono ke X disela-sela peresmian gedung pelayanan terpadu RSUD Sleman, gedung Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT), dan gedung Kantor Kecamatan Sleman yang berlangsung di auditorium Gedung Baru RSUD Sleman, Selasa (17/5).

Sultan menjelaskan bahwa diperlukan leadership yang kuat dalam layanan terpadu satu atap untuk mengarahkan tujuan, sasaran layanan, dan memastikan agar semua elemen internalnya terlibat dalam pencapaiannya.

“Layanan terpadu satu atap memiliki prinsip cepat, mudah, murah, aman dan ramah. Ketiga kantor layanan ini harus memberikan perhatian penuh terhadap kepuasan pasien, investor dan pengusaha, serta masyarakat yang dilayaninya,” kata Sultan.

Menurut  Sultan layanan terpadu untuk publik secara umum harus memiliki enam prinsip yaitu sistem manajemen mutu yang diterapkan ke seluruh organisasi, menentukan interaksi, menetapkan kriteria dan metoda untuk menjamin efektifitas layanan dan pengendaliannya.

Serta, menjamin ketersediaan sumber daya dan informasi untuk mendukung operasi dan monitoring, melaksanakan pemantauan dan penilaian analisis kinerja, serta melaksanakan tindakan untuk menjamin pencapaian rencana dan perbaikan berkelanjutan.

Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menjelaskan bahwa pembangunan gedung Pelayanan Terpadu RSUD Sleman merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk mewujudkan masyarakat Sleman yang sejahtera.

Menurutnya atas dasar hal tersebut pembangunan gedung pelayanan kesehatan yang representatif merupakan kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi jajaran pemerintah.

“Sampai dengan 31 April 2016 ini, jumlah pasien rawat inap mencapai sedangkan pasien rawat jalan atau poliklinik telah mencapai . Selain itu selama tahun 2016, RSUD Sleman juga telah melayani   rawat darurat, 382 persalinan, 673 pembedahan dan hemodialisa,” jelas Sri Purnomo.

Pembangunan Gedung Pelayanan Terpadu RSUD Sleman dengan bangunan 2 basement dan 5 lantai ini dimulai pada tahun 2013 dan selesai di tahun 2016 ini, telah siap digunakan untuk pelayanan rumah sakit yang meliputi 16 layanan sesuai standar penilaian Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Selama kurang lebih 3 tahun proses pembangunan gedung, pada tahap eksisting menghabiskan dana sebesar Rp 157,79 miliar  yang terdiri dari Rp 112,54 juta  berasal dari dana APBD, Rp 13,29 miliar berasal dari dana BLUD, dan Rp 31,96 miliar  berasal dari dana pinjaman.

Proses pembangunan gedung BPMPPT dimulai dari tahun 2013 dan selesai pada tahun 2015 dengan menghabiskan dana sebesar Rp 4,84 miliar. Pembangunan ini juga dilengkapi dengan akses jalan dari Jalan Magelang dan dari Beran untuk memudahkan masyarakat menuju gedung BPMPPT.

Keberadaan gedung baru ini memudahkan masyarakat dalam memproses perizinan diantaranya Izin perubahan penggunaan tanah, IPT, siteplan, SKTBL, IMB, IMB reklame, Izin Gangguan, SIUP, TDUP dan Pemondokan.

Sedangkan pembangunan gedung Kecamatan Sleman dimulai tahun 2014 terdiri dari 2 lantai dengan luas keseluruhan seluas 760 M2. Proses pembangunan Gedung Kecamatan Sleman ini menghabiskan dana sebesar Rp 2,58 miliar.

“Gedung baru ini, kami fungsikan sebagai gedung pelayanan terpadu Kecamatan Sleman,” kata Sri Purnomo.

Untuk selanjutnya, mulai tahun ini,  juga akan di bangun pendopo dan penataan halaman, dengan rencana anggaran sebesar Rp 1,16 miliar.




12 SD Ikuti Lomba “Dolanan Anak”‬

Peserta Lomba Menunjukkan KebolehannyaSleman – Sebanyak 12 Sekolah Dasar di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman mengikuti lomba “Dolanan Anak” di Kantor Kecamatan Ngemplak untuk menyemarakkan Satu Abad Sleman, kemarin.‬

‪”Lomba dolanan anak diperankan murid-murid SD secara berkelompok antara lima hingga 12 anak,” kata Ketua Panitia Lomba “Dolanan Anak”, Beska, Selasa (17/5).‬

‪Menurut Beska, jenis “dolanan anak” yang dilombakan meliputi “jaranan”, “jamuran”, permainan egrang, sepatu batok, “jetungan” (petak umpet), tembang-tembang anak, dan lainnya.‬

‪”Kegiatan ini untuk menyemarakan dan memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-100 Tahun atau Satu Abad Kabupaten Sleman,” katanya.‬

‪Beska mengatakan permainan “dolanan anak” merupakan pelestarian terhadap permainan anak-anak waktu lampau sebelum tahun 1990-an.‬

‪”Namun dengan perkembangan zaman dan era digital yang sangat pesat, permainan atau `dolanan anak` pada saat ini sangat jarang dijumpai,” kata Beska.‬

‪Beska menambahkan sebenarnya permainan dolanan anak ini sangat banyak makna pendidikan yang terkandung di dalammnya, di antaranya kekompakan, kejujuran, dan kebersamaan.‬

‪”Nilai-nilai pendidikan yang terkandung tersebut akan menjadikan anak penuh tanggung jawab apabila terlibat dalam permainan,” katanya.‬

‪Sementara Camat Ngemplak Subagyo mengatakan “dolanan anak” memang harus dilestarikan dan diperkenalkan terhadap anak-anak sekarang.‬

‪”Jangan hanya mempelajari teknologi permainan yang ada `handphone atau gaget, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi dan melestarikan budanya,” kata Subagyo.‬

‪Juara lomba “dolan anak” ini untuk juara I SD Randusari, Juara II SD Model, dan Juara III SD Kejambon.




Jalur Wisata Merapi Kaliadem-Kinahrejo Berhasil Dibuka‬

Sleman – Warga di Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan  Sleman berhasil membuka kembali jalur wisata yang menghubungkan kawasan Kaliadem dengan Kinahrejo, Umbulharjo, setelah enam tahun tertimbun material vulkanik erupsi Gunung Merapi pada 2010.‬

‪”Melalui gotong royong masyarakat, akhirnya kami berhasil menemukan jalur jalan aspal antara Kaliadem dengan Kinahrejo, yang sebelumnya tertutup material vulkanis Merapi,” kata Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto, Senin (16/5).‬

Menurut Heri, selain berhasil menemukan jalur wisata yang terpendam, pihaknya juga melakukan perbaikan di jalan yang mengalami kerusakan akibat dampak erupsi Merapi tersebut.‬

“Kami juga membangun jembatan permanen yang roboh akibat terjangan erupsi. Total dana yang kami alokasikan senilai Rp 350 juta yang diambilkan dari APBDes Desa Kepuharjo,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, jalur wisata tersebut menghubungkan destinasi wisata di Kaliadem seperti “bunker” yang juga sudah berhasil digali lagi setelah tertimbun material vulkanik dengan Kinahrejo yang merupakan petilasan atau bekas rumah Mbah Maridjan.‬

‪”Saat ini wisatawan dapat lebih mudah untuk menikmati `volcano tour` baik di `bunker` Kaliadem maupun petilasan Mbah Maridjan,” katanya.‬

‪Heri mengatakan, sebelumnya wilayah Kaliadem merupakan destinasi wisata alam unggulan di wilayah setempat, baik itu untuk kemah maupun outbond dan kegiatan lain serta wisata kuliner khas seperti minuman jahe Merapi.‬

‪”Setelah erupsi Merapi 2006 sebagian wilayah Kaliadem terdampak dan kemudian menjadi wisata `volcano tour` yang banyak diminati wisatawan. Kemudian saat erupsi besar Merapi 2010 wilayah Kaliadem menjadi rata karena tertimbun material vulkanik hingga lebih dari tiga meter,” katanya.‬

‪Sementara itu, objek wisata di Kawan Rawan Bencana (KRB) III Merapi, terus dikembangkan oleh masyarakat lokal. Meski tanpa bantuan dari pemerintah setempat, tiap tahun mengalami kemajuan.‬

‪Seperti di Desa Glagaharjo, Cangkringan, salah satu daerah zona merah tersebut diandalkan sebagai wisata sepeda gunung dan trail.‬

“Dalam waktu dekat, kami juga akan membuat jalur. Untuk sepeda maupun trail ke arah sungai,” kata Tugi Wiyono (41) relawan di Desa Glagaharjo. ‬

‪Ia mengatakan, dengan membuat trek baru tersebut, diharapkan bisa menambah tantangan bagi pengunjung yang merasa penasaran untuk kembali mendatanginya.‬

‪Dikatakan Tugiyo, selain sepeda gunung dan trail, dikembangkan pula pemerahan sapi perah.‬

“Di wilayah ini banyak warga yang mengembangkan usaha sapi perah. Aktivitas warga ini kami kemas sebagai daya tarik wisata,” katanya.