Sleman Raih Juara Ke – 3 Indonesia Digital Economy Award 2016

IMG_0163Sleman – Sleman raih juara ke – 3 dalam ajang Indonesia Digital Economy Award (IDEA) 2016 di Casablanca Mall, Jakarta, Rabu (11/5). IDEA merupakan sebuah wadah apresiasi terhadap pelaku bisnis dan juga pemerintah baik tingkat kota dan kabupaten yang telah menerapkan sistem digital dalam pemerintahannya.

Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, . mengatakan dengan pemanfaatan sistem digital diharapkan pelaku ukm baik skala kecil dan menengah mampu melebarkan pangsa pasar yang lebih luas. dengan sistem digital pula diharapkan tingkat ekonomi masyarakat berangsur meningkat lebih baik lagi.

Adapun kategori dalam ajang IDEA 2016 tersebut meliputi kategori kota terbaik I diraih oleh Bandung, ke – II Bogor, dan ke – III Tangerang. Untuk kategori Kabupaten terbaik I diraih Sragen, ke – II Banyuwangi dan ke – III Kabupaten Sleman.

Sedangkan untuk Special Mention diraih oleh Kabupaten Maros dan Kota Balikpapan, serta kategori Rising Star diraih oleh Kota Semarang dan Kabupaten Bojonegoro.

Eko Indrajit sebagai perwakilan dari dewan juri IDEA 2016 menyampaikan baik dari sektor bisnis dan pemerintahan memiliki keunggulan masing-masing yang bisa diterapkan. Dengan banyaknya peserta yang menyampaikan gagasan beserta ide terkait digitalisasi di Indonesia, Eko meyakini bahwa kedepan Indonesia tidak akan kalah dengan negara-negara lain.

“Yang terpenting gagasan dan ide mereka dapat diimplementasikan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” pungkas Eko.




Safari Jumat Terakhir Sebelum Memasuki 1 Abad Sleman di Pondokrejo

Bupati Sleman Berdialog Dengan MasyarakatSleman – Tim Safari Jumat Kabupaten Sleman yang terdiri dari Bupati Sleman, Forum Komunikasi  Pimpinan Daerah , BUMD dan SKPD, Camat Tempel, Kepala Desa dan Perangkat se-Kecamatan Tempel melaksanakan sholat Jumat yang dilanjutkan dengan ramah tamah warga di Masjid Al Ikhsan  Jlopo, Pondokrejo, Tempel Sleman.

Camat  Tempel Wildan Solichin dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa dengan kehadiran tim safari Jumat  diharapkan dapat mendekatkan masyarakat dengan pejabat pemerintah Kabupaten Sleman.

“Harapannya kegiatan ini dapat lebih mendekatkan masyarakat dengan para pejabat Pemkab serta secara langsung dapat mengetahui segala potensi yang dimiliki Desa Pondokrejo,” tutur Wildan, Jumat (13/5).

Fatchurohman selaku selaku Kepala Dusun Jlopo mengungkapkan bahwa padukuhan Jlopo yang berada di tepi Kali Krasak dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah tersebut mayoritas kegiatannya di bidang keagamaan karena seluruh warganya adalah muslim.

Menurutnya berbagai kegiatan pengajian rutin  dilaksanakan setiap harinya seperti TPA, Quranan, Yasinan, serta pengajian lain dan kegiatan seni Islami seperti Hadroh.

“Pada bulan Juli nanti Padukuhan Jlopo akan maju ke lomba DBKS tingkat Kabupaten, semoga dengan kegiatan safari ini dapat lebih memotivasi kami untuk menggiatkan keagamaan di kampung ini,” jelas Fatchurohman.

Sementara itu Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI mengapresiasi segala kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di Padukuhan Jlopo tersebut.

Menurutnya kegiatan Safari Jumat tersebut merupakan kegiatan Safarai Jumat terakhir sebelum memasuki 1 abad Kabupaten Sleman. Sri Purnomo menghimbau agar warga masyarakat Padukuhan Jlopo untuk terus melestarikan kegiatan keagamaan yang ada, terlebih lebih kurang dari sebulan lagi bulan Ramadhan akan tiba.

“Kegiatan yang ada di Padukuhan ini saya harapkan agar terus dijaga dan ditingkatkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta dengan adanya safari ini semoga dapat meningkatkan ukuwah islamiyah kita bersama,” tutur Sri Purnomo.




Pemeriksaan Kesehatan Gratis Bagi Pedagang Pasar Gamping

Ukur Tensi PasienSleman – Perhatian Pemerintah Kabupaten Sleman di bidang kesehatan dalam melayani masyarakat terus di tingkatkan, hal tersebut dibuktikan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para pedagang pasar dalam rangka menyambut 1 abad Sleman yang diadakan oleh Dinas Pasar Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Bank BPD DIY  di Pasar Gamping Sleman, Jumat (13/5).

Pemilihan Pasar Gamping sebagai tempat pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis menurut Kepala Dinas Pasar, Dra Tri Endah Yitnani, MSi karena letaknya diareal cekungan sehingga ketika terjadi hujan di beberapa titik lokasi di Pasar Gamping tergenang air.

Hal tersebut menurut Endah berpotensi menimbulkan penyakit karena genangan air bercampur dengan sampah yang ada.

“Pemeriksaan kesehatan gratis ini kami selenggarakan untuk mengetahui sejauh mana kesehatan para pedagang, karena aktifitas perdagangan di pasar merupakan salah satu penompang perekonomian,” kata Endah.

Endah juga menambahkan bahwa Pasar Gamping sendiri memiliki luas kurang lebih 1 hektar dan melibatkan aktifitas ekonomi 1200 orang pedagang di dalamnya dalam pemeriksaan kesehatan gratis ini pihaknya menggandeng Puskesmas Gamping I dan Gamping II sebagai tenaga medis untuk melakukan pengecekan kesehatan serta pemberian obat jika ada pedagang yang terindikasi sakit.

Direktur Utama Bank BPD DIY Drs Bambang Setiawan Ak MBA yang juga hadir menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan gratis yang diikuti oleh 120 peserta tersebut merupakan rangkaian kegiatan bakti sosial yang di lanjutkan dengan pemberian bantuan fasilitas umum berupa bantuan tikar dan rehab mushola di areal pasar.

“Roda ekonomi di wilayah DIY bergerak dengan cepat, pasar adalah salah satunya. Kesehatan bukan segala-galanya namun tanpa kesehatan segalanya tidak berarti, sebisa mungkin kesehatan harus diperhatikan,” tutur Bambang.

Sementara itu Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI  menyambut baik acara bakti sosial tersebut. Menurutnya pasar tradisional tidak kalah dengan pasar modern karena memiliki segmen tersendiri.

“Perkembangan demi perkembangan sudah tercapai, fasilitas umum seperti tempat ibadah juga sudah melengkapi fasilitas umum di pasar. Tinggal kita menjaganya, serta yang tidak kalah penting adalah kesehatan diri kita sendiri sebagai modal utama beraktifitas,” kata Sri Purnomo.




Seabad Sleman Diisi Bakti Sosial dan Seni Budaya

Bupati Sleman Serahkan Bantuan Bedah RumahSleman – Hari Jadi 1 Abad Sleman, selain diisi dengan kegiatan seni dan budaya, aneka lomba dan bentuk kegiatan lain juga diisi dengan kegiatan bakti sosial bagi masyarakat Sleman yang kurang mampu.

Bakti sosial disampaikan bantuan langsung berupa 100 rehab rumah masing-masing Rp 12 juta, bantuan 100 unit sepeda untuk siswa SMP dan SMA/SMK, bantuan 150 kacamata bagi anak SD/MI, bantuan alat bantu dengar untuk 100 penderita gangguan pendengaran, pembuatan 1000 KTP dan akte kelahiran serta bantuan buku khutbah Jumat untuk 2100 masjid di Rumah Dinas Bupati, Jumat (13/5).

Selain itu menurut Drs Agung Armawanto selaku Ketua Panitia Bakti Sosial kegiatan lain yang telah dilakukan yakni sunatan masal, operasi katarak, KB, bantuan bagi anak panti dan lainnya. Bantuan diserahkan oleh Bupati Sleman, Drs Sri Purnomo MSI serta anggota DPRD Sleman disaksikan Ketua Panitia Hari Jadi Soekarno SH.

Sri Purnomo mengatakan kegiatan ini bukan semata-mata bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Sleman namun menjadi momen untuk saling berbagi dan berempati kepada seluruh masyarakat Sleman.

“Melalui kegiatan ini saya berharap terjalin keharmonisan hubungan dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat,” kata Sri Purnomo.

Diharapkan Sri Purnomo bahwa diawali dengan kegiatan ini menjadi pioner terselenggaranya kegiatan-kegiatan sejenis di masa-masa mendatang.

“Kepada para penerima bantuan saya berharap bantuan ini dapat digunakan sebagai modal untuk kegiatan yang lebih produktif,” tuturnya.

Pada para penyandang difabel yang menerima bantuan, semoga bantuan ini dapat membantu keseharian saudara menjadi lebih produktif dari sebelumnya.

Penanganan masalah kemiskinan memerlukan pena­nganan secara terpadu oleh seluruh instansi dan lembaga, baik pemerintah maupun swasta yang ada di Sleman serta dari warga masyarakat yang bersangkutan.

Penanganan tersebut hendaknya juga meliputi berbagai aspek, baik sikap mental, permodalan maupun kesempatan berusaha. Agar penanganan kemiskinan di Sleman memberikan hasil yang optimal, maka penanganannya harus memperhatikan kondisi masyarakat.***




Pelaku UKM Diwadahi Sleman Mall

Sleman – Pesatnya kemajuan teknologi memberi banyak manfaat positif bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Selain mempermudah promosi, fasilitas internet juga membuka kesempatan kepada pelaku UKM untuk mengenalkan produk hingga luar daerah.

Menangkap peluang itu, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sleman bekerjasama dengan salah satu bank BUMN akan menghadirkan website e-commerce Sleman Mall. Laman ini mampu menampung setidaknya 50 UKM.

“Ada beragam jenis usaha yang ditampilkan. Tidak hanya industri tapi juga sektor bisnis lain seperti kuliner dan jasa,” kata Kepala Disperindagkop Sleman, Drs Pustopo, Jumat (13/5).

Portal pemasaran digital  akan diluncurkan bertepatan grand opening pameran potensi daerah dalam rangka hari jadi Sleman ke-100 tahun pada Sabtu (21/5) mendatang. Pada kegiatan pameran itu akan disediakan pojok UKM di show room Disperindagkop yang difungsikan sebagai studio tempat UKM mengakses dan mengelola lapak terpadu .

Saat ini, pihaknya masih menginventarisir UKM yang potensial untuk dipromosikan melalui website. Dinas juga telah membentuk tim menggandeng sejumlah pelaku ekonomi untuk mendesain web sekaligus memantau kualitas usaha yang dinilai layak.

“Barangkali para pelaku usaha itu sudah memiliki lapak online sendiri. Tapi lewat sistem terpadu ini diharapkan semakin memudahkan promosi produk mereka,” ujar Pustopo.

Terpisah, Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sleman, Iswanti mengungkapkan seiring perkembangan zaman, usaha online kini banyak menjamur. Jumlah pastinya akan diketahui berdasar sensus ekonomi 2016 yang proses pendataannya tengah berlangsung.

“Beberapa tahun belakangan, usaha yang sifatnya online memang berkembang pesat. Karena latar belakang itu pula tahun ini sensus menyasar pelaku usaha online,” ujar Iswanti.

Secara umum lanjutnya, berdasar hasil pendataan BPS terakhir tahun 2006 jumlah usaha di Kabupaten Sleman ada unit. Dari jumlah itu, usaha yang masuk kategori mikro sebanyak unit, kecil unit, dan menengah unit.

Namun menurut Iswanti, kemungkinan data tersebut akan berbeda dengan pendataan yang dilakukan Disperindagkop. Sebab kriteria yang digunakan tidak sama.