SMAN 2 Ngaglik Dikukuhkan Sebagai Sekolah Siaga Bencana
Sleman – Untuk yang keempat tahun 2016 ini SMAN 2 Ngaglik dikukuhkan sebagai Sekolah Siaga Bencana, Jumat (13/5).
Sebelumnya sekolah yang telah dikukuhkan adalah SMPN Berbah, SMPN 1 Kalasan, dan SMP Muhammdiyah Ngemplak. Pengukuhan SMAN 2 Ngaglik dilakukan oleh Asekda Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih MPd.
Disamping pengukuhan juga dilakukan dokumen antara SMAN 2 Ngaglik dan SMKN 1 Depok sebagai sekolah penyanggga untuk SMAN 2 Ngaglik bila terjadi bencana.
Dalam gladi lapang digambarkan ramai dan gaduhnya suasana akibat erupsi Merapi dan sempat menimbulkan kepanikan bagi siswa, namun berkat kesigapan semua korban dapat diminimalisir, karena hanya terdapat beberapa siswa yang terluka, yaitu empat siswa mengalmi luka patah tulang dan beberapaa siswa mengalami luka ringan, hanya lecet-lecet.
Gladi dihadiri Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasita SH MM, Camat Ngaglik Anggoro Aji SH, Kepala Sekolah SMAN 2 Ngaglik.
Suyamsih menyampaikan bahwa SMAN 2 Ngaglik Sleman yang telah memiliki tim siaga bencana sekolah, diharapkan dapat terus meningkatkan wawasan kebencanaan dan menjadi agen penanggulangan kebencanaan tidak hanya di lingkungan sekolah namun juga mampu menggerakkan masyarakat di lingkungannya.
Menurut Suyamsih, Kabupaten Sleman menyimpan potensi bencana yang diakibatkan faktor alam maupun non alam.
“Pada tahun 2010 yang lalu, kita semua merasakan bagaimana dasyatnya erupsi Gunung Merapi, tidak sedikit dampak yang dirasakan akibat erupsi tersebut. Mengingat kemungkinan bencana bisa terjadi kapan saja, untuk itu diperlukan upaya dan langkah strategis dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan. Oleh karenanya mitigasi bencana harus menjadi local wisdom bagi masyarakat,” kata Suyamsih.
Dalam upaya mitigasi bencana lanjutnya, peran masyarakat sangat dibutuhkan, karena masyarakat merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurangan resiko bencana itu sendiri. Kesiapsiagaan semua pihak menghadapi bencana menjadi langkah strategis dalam pengurangan resiko bencana, tidak terkecuali di lingkungan sekolah.
Mitigasi bencana harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.
Kegiatan gladi lapang menjadi momen yang sangat strategis bagi para siswa khususnya yang berada di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.
“Untuk itu, saya berharap melalui kegiatan ini para siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, sehingga ketika dihadapkan pada kondisi bencana para siswa telah mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat, sehingga jatuhnya korban jiwa akibat bencana dapat diantisipasi,” katanya.
Mengingat pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, Suyamsih menghimbau kepada seluruh peserta gladi lapang untuk dapat mengikuti kegiatan ini dengan bersungguh-sungguh, sehingga sekembalinya dari kegiatan ini, pemahaman, pengetahuan dan keterampilan para siswa akan mitigasi bencana semakin meningkat.


