Pemkab Terus Tingkatkan Pelayanan PAUD

Penilaian PAUDSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan non formal yang berkualitas. 

“Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat dilakukan dengan penyediaan sarana prasarana pendidikan, pengembangan kompetensi tenaga kependidikan, dan pengembangan sistem pendidikan,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di TK Pertiwi Caturharjo Sleman, Selasa ( 10/5)

Menurut Sri Purnomo, dalam meningkatkan pelayanan pendidikan bagi anak usia dini, diupayakan dengan pemenuhan sarana dan prasarana, peningkatan kelembagaan dan tenaga pengelola pendidikan anak usia dini.

Sri Purnomo juga menyampaikan bahwa sesuai  Undang-Undang Nomor 23 Tahun 22 tentang perlindungan anak menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berprestasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Guna mengimplementasikan undang-undang tersebut, konsep pengembangan SDM yang mencakup gizi, kesehatan dan pendidikan, harus dilakukan secara intensif sejak anak lahir, bahkan sejak dalam kandungan.

Lebih lanjut disampaikan bahwa sejalan dengan misi Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan menjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa pada tahun 2015, pemenuhan sarana prasarana dilakukan melalui penambahan ruang belajar TK, pengadaan Alat Peraga Edukatif di 34 desa unggulan PKK, 34 lembaga PAUD, pengadaan mebeler di 8 TK, 4 lembaga PAUD, dan rehabilitasi 17 ruang belajar TK.

Untuk meningkatkan kelembagaan dan tenaga pengelola pendidikan anak usia dini, dilakukan pelatihan pengelolaan lembaga PAUD, pelatihan kompetensi bagi 258 orang pendidik PAUD, kelompok bermain dan Tempat Penitipan Anak, penguatan 34 lembaga PAUD desa binaan PKK, lomba lembaga PAUD inovatif, dan pemilihan pamong PAUD berprestasi.

Diinformasikan pula bahwa pada tahun 2015 lembaga PAUD di Kabupaten Sleman tercatat sebanyak lembaga, terdiri dari 557 lembaga PAUD Formal dan 620 lembaga PAUD Non Formal.

Dengan lembaga PAUD baik formal maupun non formal tersebut, jumlah anak yang terlayani untuk mengenyam pendidikan usia dini di Kabupaten Sleman pada tahun 2015 sebesar 78,17% atau sebesar anak dari total keseluruhan anak usia 0-6 tahun yakni anak.

Sehingga diperoleh Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD Non Formal sebesar 31,82% dan APK PAUD 46,35%, atau sebesar 78,17% untuk APK PAUD Formal dan Non Formal.

Selain memberi penilaian di TK Pertiwi Caturharjo Sleman, tim penilai juga melakukan penilaian KB Sakinah Ceria di Medari Cilik Caturharjo Sleman, dan  di SPS Ceria di Sidomulyo Trimulyo Sleman.




PAUD Tak Berkualitas Hambat Perkembangan Anak

Sleman – Perkembangan pendidikan anak usia dini (PAUD) menghadapi tantangan baru dengan maraknya kehadiran lembaga formal maupun non formal. Kondisi ini selayaknya mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Sebab jika tidak sejalan dengan perkembangan anak justru akan berdampak buruk.

“Hasil studi tahun 2002 mencatat bahwa PAUD yang tidak berkualitas akan menghambat tumbuh kembang anak. Hal ini berbahaya karena metode pendidikan yang salah akan terbawa sampai dewasa,” kata Pembina PKK Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Ari Haryati Marwan Jafar disela-sela pelatihan peningkatan kapasitas pengelola/guru PAUD di Balai Latihan Transmigrasi DIY, Senin (9/5).

Diakui Ari Haryati upaya peningkatan kualitas PAUD bukan hal mudah. Banyak aspek yang perlu diperhatikan antara lain kompetensi guru, kurikulum, dan buku. Melalui pelatihan ini diharapkan kapasitas pengelola dan pendidik PAUD dapat ditingkatkan.

Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan selama lima hari mulai Senin (9/5) hingga Jumat (13/5). Penyelenggaraan acara ini merupakan hasil kerjasama Kemendesa PDTT dengan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK) yang beranggotakan istri-istri menteri kabinet kerja. Peserta berjumlah 120 orang terdiri dari guru dan pengelola PAUD dan RA dari wilayah Temanggung, Madura, dan DIY.

Ari Haryati menilai guru PAUD memiliki peran penting karena banyak anak yang sudah disekolahkan sejak usia dini. Di lain sisi, hal ini dapat memberikan nilai positif bagi perkembangan anak jika mereka ditempatkan di sekolah yang berkualitas.

“Yang penting diingat jangan mengajarkan anak dengan cara kekerasan. Usia dini adalah masa emas untuk pembentukan mental, karakter, dan kecerdasan individu sehingga apa yang diterima anak akan terbawa hingga dewasa,” kata  Ari Haryati.

Mengingat pentingnya keberadaan PAUD yang berkualitas, dia meminta agar penggunaan dana desa diprioritaskan untuk pembangunan fasilitas pendidikan, dan peningkatan kompetensi guru. Terlebih saat ini, 52,9 persen dari 255 juta jiwa penduduk Indonesia merupakan usia produktif, dan separo diantaranya berada di desa sehingga penting untuk menyiapkan generasi muda sejak dini.

Ketua Bidang Pendidikan OASE-KK, Ratna Megawangi Sofyan Djalil mengatakan, saat ini banyak tumbuh PAUD namun belum seluruhnya berkualitas khususnya berkait cara pengajaran. Dicontohkan, masih banyak PAUD yang mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dengan metode kognitif. Padahal seharusnya calistung diajarkan dengan metode bermain agar anak tidak stres.

“Jumlah PAUD di negara kita sudah cukup memadai hanya saja secara kualitas masih belum optimal. Kita ambil contoh di luar negeri pemilihan guru PAUD dilakukan dengan hati-hati karena siswanya adalah usia rentan,” kata Ratna.

Agar pembelajaran bisa berhasil, guru PAUD diminta untuk menciptakan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan, dan selalu mencermati tahapan perkembangan yang boleh dan tidak boleh diterapkan kepada siswa.

Sementara untuk memberikan dukungan pada pelatihan guru PAUD tersebut Ibu Negara Ny Hj Iriana Joko Widodo bersama Ny Hj Mufidah Jusuf Kalla selaku Pembina OASE-KK meninjau, berdialog dan memotivasi para guru TK/PAUD peserta pelatihan.

Pada kesempatan tersebut Ny Iriana dan Ny Mufidah melihat pameran UPT Kementrian desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dan melakukan penanaman pohon sawo kecik dan jambu Dersono serta melakukan panen sayuran organik.




Ribuan Orang Ikut Senam Lansia

Sleman – Sekitar 5000 orang sebagian besar lansia memadati lapangan Denggung, Minggu (8/5) untuk mengikuti gelar lansia dalam rangka Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2016 Tingkat Provinsi DIY. Senam Masal

enam lansia dimulai tepat pukul WIB dihadiri oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Direktur Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kementrian Sosial RI, Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi MM, Bupati Sleman, Ketua Tim Penggerak PKK, Sekda Serta jajaran Pejabat Sleman lainnya.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyambut gembira karena pelaksanaan Hari Lansia 2016 dipusatkan di Sleman, karena dapat dimanfaatkan pula dalam memeriahkan peringatan 1 abad Kabupaten Sleman.

Bupati menyampaikan pula angka harapan hidup masyarakat Sleman mencapai 76,13 tahun. Angka ini memiliki konsekuensi makin banyaknya lansia di Kabupaten Sleman, sehingga kondisi ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam mendorong lansia untuk dapat hidup sehat, berkualitas serta dapat menikmati masa tua, namun masih tetap produktif sesuai kemampuan mereka.

Sementara Sultan berharap kepada para lansia untuk menjaga kesehatannya, mengatur pola makan serta mengatur waktu istirahatnya, sehingga dapat berumur panjang. Tetapi dilain pihak para lansia tetap harus bisa produktif walaupun sudah lansia, harus tetap semangat dalam berkarya.

Sultan  juga berharap kepada Pemerintah Daerah agar dapat memberikan akses kemudahan dalam memeriksakan kesehatan kepada para lansia, dengan begitu para lansia tetap terjaga kesehatannya dan dapat beraktiavitas bagi peningkatan kesejahteraan mereka.

Sultan juga memberikan  bantuan kursi roda serta 1000 bibit pohon  serta bantuan program asistensi sosial lanjut usia terlantar Home Car dan Day Car sebesar Rp 5,2 miliar dari Kementrian Sosial kepada Gubernur DIY selanjutnya diserahkan kepada Kepala Dinas Sosial DIY.

Selanjutnya acara diisi dengan tari Dayaan yang dikreasi dalam sebuah tarian senam serta pembagian dooprice peralatan rumah tangga, elekronik, HP dan lainnya serta 2 buah sepeda motor.




Program Kali Bersih Warga Sendangadi Gelar Merti Kali Winongo

Mengarak Gunungan UliSleman – Nilai-nilai budaya dapat diterapkan dalam menjaga kelestarian lingkungan, seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman bersama Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Forum Kali Winongo Asri dengan menggelar Merti Kali Winongo di Jembatan Mraen, Tegal Mraen, Sendangadi, Mlati, Sleman,  Minggu (8/5)

Merti Kali yang diawali dengan pengambilan air dari mata air Sendang Jongke yang kemudian dikirab dari Makam Dr Wahidin Soediro Hoesodo Mlati menuju kearah barat dan berakhir di Jembatan Mraen.

Kepala BLH Drs Purwanta MSi mengatakan gelar Merti Kali Winongo merupakan rangkaian program kali bersih untuk menjaga kebersihan sungai sebagai sumber kehidupan dengan mempertahankan mata air agar secara kuantitas air tidak kering dimusim kemarau serta secara kualitas air tetap terjaga kebersihannya.

“Dalam Merti Kali ini kami mengangkat tema mengedepankan nilai-nilai budaya dalam mewujudkan peradaban masyarakat bantaran Winongo untuk mewujudkan Sleman yang sehat lahir batin”, kata Purwanta, Senin (9/5).

Purwanta juga mengatakan bahwa Sleman merupakan daerah resapan air yang mensuplai air ke Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.  Menurutnya ada tiga permasalahan lingkungan yang harus diperhatikan secara serius yaitu alih fungsi  lahan, eksploitasi sumber mata air secara besar-besaran, sampah dan limbah.

Karena itu Purwanta mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan diwilayah Sleman dan mengembalikan sungai sesuai fungsinya sebagai pengalir air dan irigasi.

“Untuk konservasi air kami membuat wana desa serta melakukan penanaman pohon di area hulu daerah aliran sungai,” tambah Purwanta.

 Senada dengan Purwanta, Wakli Bupati Sleman, Dra  Hj Sri Muslimatun MKes mengungkapkan bahwa Sleman merupakan pusat resapan air yang menjadi penyangga pangan di DIY. Menurutnya Merti Kali harus dilestarikan karena acara tersebut merupakan kegiatan konservasi lingkungan yang dibalut dengan budaya.

“Merti Kali ini harus dilestarikan karena sebagai wujud nyata pelestarian lingkungan sekaligus mengajak generasi muda kita untuk nguri-uri budaya masyarakat Sleman,” kata Sri Muslimatun.




Dimas Bayu dan Diajeng Vivin sebagai Dimas Diajeng Sleman 2016

DimjengSleman – Dimas Bayu (Bayu Hariesta Abdurrahman Jambak) dan dan Diajeng Vivin (Adultvine Prita Wijayanti) akhirnya terpilih sebagai pasangan Dimas Diajeng Sleman 2016. Terpilihnya keduanya menggantikan Fajar Wijanarko dan Nonica Tiara Cintya sebagai Dimas Diajeng Sleman 2014.

Penobatan Dimas Diajeng Sleman 2016 dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman Dra  Sri Muslimatun MKes  di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Jumat (6/5) malam.

Sementara itu, Wakil 1 Dimas Diajeng Sleman 2016 terpilih adalah Fariz Bimananta Saputra dan Lilis Arilia, Wakil 2 I Gusti Ngurah Paulus Widya Eka S dan Caecilia Westi Sekar Wangi. Sedangkan untuk Harapan 1 adalah Dito Irfantomo Brillian dan Sinta Puspita Sari, Harapan 2 Riyadi Dwi Prasetya / Anindwitya Rizqi Monica

Sebagai Dimas Diajeng Berbakat Julian Hadi Prasetya dan Apriliana Puspa Dewi, Dimas Diajeng Persahabatan adalah Doni Irawan dan Caecilia Westi Sekar Wangi, serta Dimas Fiajeng Favorit adalah Bagus Prihandoyo dan Anindwitya Rizqi Monica.

Sementara Wakil Bupati  Sri Muslimatun mengatakan Dimas Diajeng Sleman diharapkan menjadi salah satu agen promosi atau “agent of promotion” terhadap potensi daerah yang dimiliki Kabupaten Sleman, khususnya potensi di sektor pariwisata.

Peran tersebut sekaligus untuk mengangkat citra Kabupaten Sleman di level regional, nasional maupun internasional. Di samping memiliki peran sebagai agen promosi, Dimas Diajeng Sleman juga diharapkan mampu menjadi “role model” bagi generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan daerah beserta kompleksitasnya khususnya aspek sosial budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan bahwa tujuan diselengarakannya pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016 adalah untuk memilih putra dan putri terbaik yang berbudaya, berkarakter, cerdas, kreatif, berwawasan luas.

Dan mampu bertugas sebagai agen informasi, promosi kepariwisataan secara khusus, dan potensi Kabupaten Sleman secara umum, serta sebagai “role model” bagi generasi muda Kabupaten Sleman.

Memberikan ruang bagi generasi muda usia 18 sampai dengan 24 tahun untuk berprestasi dan mengaktualisasikan diri berkontribusi memajukan kepariwisataan Kabupaten Sleman secara khusus dan pembangunan Kabupaten Sleman secara umum. Selain itu juga untuk membangun rasa cinta dan bangga di kalangan generasi muda untuk menerapkan nilai-nilai budaya Jogja.

Ayu menambahkan bahwa pelaksanaan pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016 diikuti oleh 120 peserta, yang kemudian dilakukan seleksi administrasi, wawancara dan ujian tertulis menjadi 60 orang semifinalis, dilanjutkan proses seleksi secara ketat hingga menjadi 30 orang finalis.

Selama proses seleksi tahap 1 hingga masa karantina materi yang diberikan mencakup Kebudayaan Jawa, khususnya budaya Jogja, wawasan budaya lokal (keslemanan), Kepariwisataan dan kebijakan serta potensi Kabupaten Sleman.

Dan, Penyalahgunaan NAPZA, Kepemudaan dan kepemimpinan, penguatan Nasionalisme, Reformasi Birokrasi dalam Pemerintahan Daerah, Keprotokolan Pemerintah, Personal Branding, English For Tourism, Kewirausahaan/ event organizer, Keorganisasian, Public Speaking, Jurnalistik Pariwisata dan Media Relation, Ngadi Salira Ngadi Busana dan Beauty Class.