‪Sistem Perpipaan Air Bersih Prambanan Belum Optimal‬

Sleman – Sistem perpipaan untuk memasok air bersih di kawasan rawan kekeringan perbukitan Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman hingga saat ini masih belum seratus persen berfungsi sehingga masyarakat dihimbau untuk menghemat air.‬

‪”Guna mengantisipasi bencana kekeringan pada kemarau nanti, diharapkan warga pandai-pandai menggunakan air sebelum musim hujan ini selesai,” kata Ketua Organisasi Pemakai Air (OPA) Kecamatan Prambanan Mujimin, Jumat (6/5).‬

‪Menurut Mujimin, saat ini untuk jaringan pipa air bersih di perbukitan Prambanan banyak yang masih dalam tahap perbaikan.‬

‪”Banyak yang pipanya rusak, saat ini masih dalam perbaikan terutama di daerah Dusun Grogol, Sumberharjo,” kata Mujimin.‬

‪Secara keseluruhan lanjut Mujimin, perpipaan air bersih di wilayah setempat baru berfungsi baik sekitar 80 persen.‬

‪”Sisanya kemungkinan belum akan selesai perbaikannya pada 2016. Saat ini hanya 80 persen yang berfungsi baik,” katanya.‬

‪Mujimin mengatakan, untuk itu masyarakat diminta untuk pintar-pintar memanfaatkan cadangan air yang didapat dari penampugan air hujan (PAH).‬

‪”Cadangan air harus benar-benar dihemat, saat ini juga masih ada beberapa sumur warga yang masih ada airnya, namun nanti pada musim kemarau sumur-sumur tersebut dipastikan akan mengering,” tambah Mujimin.‬

‪Sementara Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Prambanan, Prawata mengatakan antisipasi kekeringan mengandalkan sistem jaringan perpipaan menurutnya masih belum bisa optimal.‬

‪”Jaringan pipa air peralon selama ini mudah sekali rusak, sehingga selalu ada perbaikan,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, untuk antisipasi bencana kekeringan jangka pendeknya dengan membuat bak-bak penampung air hujan.‬

‪”Kemudian jangka panjangnya dengan melakukan penanaman pohon. Agar bisa menyimpan air saat musim hujan,” katanya.




Sleman Sosialisasi Pelaporan Kekerasan Anak dan Perempuan‬

Sleman – Unit Pelaksana Teknis Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Sleman terus melakukan sosialisasi sistem pencatatan pelaporan data kekerasan terhadap perempuan dan anak.‬

‪”Pelaporan kekerasan anak ini sangat bermanfaat dalam proses penyusunan kebijakan, program dan kegiatan dalam bidang pembangunan perlindungan perempuan dan anak,” kata Kepala Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Perlindungan Perempuan (KB PMPP) Kabupaten Sleman, dr Nurul Hayah MKes, Jumat (6/5).‬

‪Menurut Nurul Hayah, atas pentingnya data laporan tersebut maka pihaknya terus melakukan sosialisasi baik bagi anggota Forum Penanganan Korban Kekerasan terhadap perempuan dan anak tingkat kecamatan, tingkat desa.‬

‪”Sosialisasi juga kami berikan kepada para psikolog di 25 Puskesmas di Kabupaten Sleman maupun masyarakat umum,” katanya.‬

‪Nurul mengharapkan dengan adanya sosialisasi, maka sistem pencatatan pelaporan data semakin cepat, akurat dan periodik dari semua anggota forum baik tingkat Kabupaten maupun Kecamatan.‬

‪”Dengan pelaporan yang cepat dan akurat ini maka akan dapat dimanfaatkan dalam proses penyusunan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan perlindungan perempuan dan anak,” tutur Nurul.‬

‪Nurul menambahkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan tindakan yang melanggar, menghambat, meniadakan dan mengabaikan hak asasi perempuan dan anak.‬

‪”Tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat terjadi di ranah publik maupun di dalam rumah tangga, serta dapat terjadi kapan saja, dalam situasi damai atau konflik,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, dalam sosialisasi yang dilakukan pihaknya menggandeng sejumlah instansi terkait sebagai nara sumber seperti kepolisian, Lembaga Studi Pemerhati Perempuan dan Anak DIY serta Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sleman.‬

‪”Sedangkan materi yang disampaikan meliputi UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Alur pencatatan dan pelaporan data kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tuturnya.




“Merapi Marathon 100k” Dibanjiri Pelari Luar Negeri‬

IMG_0720Sleman – Event “Merapi Marathon 100K” yang digelar KONI Kabupaten Sleman pada 7 dan 8 Mei 2016 dalam rangka satu abad Kabupaten Sleman dibanjiri peserta asal luar negeri.‬

‪”Sampai saat ini tercatat ada pelari dari 14 negara yang telah menyatakan ikut dalam `Merapi Marathon`, baik yang ikut dalam kategori 100 kilometer maupun 50 kilometer,” kata Event Manager “Merapi Marathon 10K” Taufiq Ridwan, Jumat (6/5).‬

‪Menurut Taufiq, target total untuk peserta sebelumnya hanya peserta termasuk kategori 13 hingga 50 kilometer dan 100 kilometer.‬

‪”Namun animo peserta cukup tinggi, sampai saat ini pendaftar sudah mencapai lebih sehingga kami menutup pendaftaran. Pendaftaran masih dibuka hanya untuk kategori 50 km dan 100 km,” katanya.‬

‪Taufiq mengatakan, jumlah peserta tersebut masih akan ditambah peserta dari kelompok pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Sleman sebanyak 332 peserta.‬

‪”Mereka ini sengaja kami undang untuk memeriahkan event ini. Meraka tidak dipungut biaya atau gratis,” katanya.‬

‪Lomba lari yang akan melewati track ekstrem di lereng Gunung Merapi ini juga dibuka kelas marathon 50 km, 20 km, 13km, dan 5 km.‬

‪”Kategori lomba tidak hanya lari 100 kilometer tetapi ada beberapa kategori lainnya diantaranya kategori lomba lari marathon nasional Putra/Putri, lokal DIY, Sleman Putra/Putri. Kemudian juga marathon international Men/Women 100K, 50K, 25K, dan 13K,” katanya.‬

‪Taufiq mengatakan, total hadiah yang dapat diperebutkan dalam perlombaan ini adalah Rp104 juta.‬ ‪Ia mengatakan, lomba lari ini bersifat “sport tourism” yang harapannya mampu menyedot animo wisatawan untuk hadir langsung menyaksikan event ini.‬

‪”Tidak main-main, beberapa peserta yang berpartisipasi dalam event ini juga merupakan para juara gelaran lomba lari marathon yang diadakan beberapa daerah di Indonesia. Ada beberapa kampiun yang akan ikut di lomba lari Ultra Marathon ini, seperti juara trans Sumbawa sudah melakukan konfirmasi akan turut berpartisipasi,” katanya.‬

‪Disisi lain Taufiq juga menjelaskan  peserta lomba lari “Merapi Marathon 100K” akan dilengkapi dengan “chip” pada nomor start untuk menjamin keamanan dan memantau kejujuran masing-masing peserta khususnya kategori marathon dengan jarak 50 kilometer dan 100 kilometer.‬

‪”Jadi pada masing-masing nomor start peserta akan dipasang `chip`, ini untuk menjamin keamanan peserta terutama pelari luar negeri dan juga memonitor kejujuran peserta,” katanya.

Dalam “chip” tersebut akan termuat data peserta secara elektronik, mulai dari nama, asal negara dan alamat lengkap serta nomor telepon yang dapat dihubungi bila terjadi sesuatu hal.‬

‪”Selain itu juga tercantum golongan darah dari masing-masing perserta dan informasi maupun data diri lain dari peserta,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, kartu “chip” tersebut juga berfungsi untuk memantau pergerakan peserta sejak start hingga finish.‬

‪”Nantinya setiap melewati pos yang ada kartu `chip` tersebut akan secara otomatis merekam data peserta mulai dari waktu tempuh dari pos ke pos,” katanya.‬

‪Taufiq mengatakan, dengan sistem tersebut maka peserta tidak akan bisa melakukan kecurangan saat mengikuti lomba.‬

‪”Misalnya peserta dengan curang membonceng sepeda motor, maka akan nampak terlihat dari waktu tempuhnya antar pos,” katanya.‬

‪Untuk mengantisipasi adanya peserta yang tersesat, pihak panitia juga menerjunkan sebanyak 150 pemandu atau “marshal” yang akan mengawal para peserta dengan menggunakan sepeda.‬

‪”Pemandu ini akan mendampingi para peserta sejak dari start, mereka bisa bergerak mendampingi untuk memastikan peserta tidak salah rute,” katanya.‬




Kegiatan TMMD Akan Melakukan Pengaspalan Jalan 630 Meter

Pejabat Sekda Serahkan Alat KerjaSleman – TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)  Sengkuyung ke 96 Tahap I tahun anggaran 2016 di wilayah Kodim 0732 Sleman dibuka Penjabat Sekda Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno, Selasa (3/5) mewakili Panglima Kodam IV Diponegoro.

Dandim Sleman, Letkol Arm Djoko Sujarwo mengatakan  dana yang dipergunakan untuk TMMD Sleman  berasal dari APBD DIY sebesar Rp 75 juta, APBD Kabupaten Sleman sebesar Rp 150 juta, hingga totalnya Rp 225 juta .

“Di samping dari APBD juga swadaya masyarakat berupa tenaga perhari sekitar 50 orang senilai sekitar Rp 50 juta,” kata Djoko disela-sela pembukaan TMMD Sengkuyung Sleman di lapangan Seyegan, Selasa (3/5).

Menurut Djoko, sasaran fisik TMMD Sengkuyung ke 96  berupa pengaspalan jalan sepanjang 630 meter dan lebar 3 meter, corblok jalan sepanjang 300 m lebar 3 meter dan bedah rumah 3 unit.

Sedang sasaran non fisik berupa penyuluhan wawasan kebangsaan, penyuluhan Kesehatan dan KB, penyuluhan pertanian,  penyuluhan Kamtibmas dan napsapenyuluhan lingkungan hidup. Personil yang dikerahkan 1 SST dibantu dengan masyarakat.




Gubernur Canangkan BBGRM DIY di Kalasan

Gubernur DIY Pukul GongSleman – Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke 13 dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 44 tingkat DIY  dicanangkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Balai Desa Tamanmartani Kalasan, Selasa (3/5).

Hadir padaa kesempatan tersebut antara lain  GKR Hemas, Bupati Sleman Sri Purnomo, Wakajati Danlanal, Wakil ketua DPRD Sleman, Ketua TP PKK Kabupaten Sleman Hj Kustini Sri Purnomo.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis untuk kegiatan TMMD Sengkuyung senilai Rp 75 juta  untuk Desa Margoagung Seyegan.

Bantuan kegiatan sertifikat wakaf untuk lembaga kesejahteraan sosial penyantun Yatim Piatu Mitra Amanah untuk Desa Girimulyo Panggang Gunung Kidul, dan pemberian Beasiswa Kartu Cerdas untuk siswa SMA se DIY senilai Rp 21,093 miliar untuk siswa masing-masing Rp 1,5 juta.

Disamping itu juga  penyerahan tropy lomba tim penggerak PKK DIY  dengan kategori lomba tertib aadministrasi PKK dengan juara Kelurahan Wirogunan, Mergangsang Jogja.

Lomba PKDRT dengan juara Desa Caturtunggal Depok Sleman, usaha peningkatan pendapatan keluarga PKK dengan juara Desa Jatimulyo Dlingo Bantul, hatinya PKK dengan juara Desa Hargobinangun Pakem Sleman dan pemanfaatan hasil Toga dengan juara Desa Wukirharjo Prambanan Sleman.

Selain itu juga diserahkan bantuan  biaya pendidikan mahasiswa (beasiswa reguler) senilai Rp 1,2 miliar, pemberian bantuan biaya pendidikan mahasiswa (beasiswa mahasiswa baru) senilai Rp 150 juta, bantuan untuk rintisan PKBM unggulan tahun 2016 senilai Rp 78 juta.

Serta bantuan fasilitasi pembentukan model pemberdayaan Gizi, pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular untuk kelompok  masyarakat dan bantuan pencegahan daan pengendalian penyakit tidak menular untuk kelompok bimbingaan Haji.

Sultan menyampaikan bahwa Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong selama satu bulan penuh pada Bulan Mei ini, diharapkan menjadi titik ungkit bagi seluruh desa maupun kelurahan seluruh wilayah DIY, untuk menemukan kembali semangat gotong royong sebagai aktifitas yang nyata sekaligus menyatu.

Dengan dukungan semua elemen masyarakat desa, termasuk lembaga kemasyarakatan desa dalam “hanyengkuyung luhuring tatacara-pranatan” kehidupan yang selaras dengan alam semesta dan keharmonisan sesama manusia.

Saat ini, pemerintah sedang mencari identitas baru atas pilihan pembangunan ekonomi, yang diinspirasi dari tiga poin penting nawacita, yakni membangun dari pinggiran, peningkatan produktifitas rakyat, dan kemandirian ekonomi.

Istilah “pinggiran” merupakan frasa populer untuk membenturkan dengan wilayah pusat dengan wilayah perdesaan. Desa diposisikan sebagai pusat arena pembangunan, bukan lagi semata lokus keberadaan sumberdaya yang dengan mudah dieksplotasi oleh wilayah lain, seperti kota untuk beragam kepentingan.

Perhatian ke wilayah desa menjadi semakin luar biasa, begitu terbitnya Undang-undang nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. “Desa digelontor dana desa, untuk digunakan membangun wilayahnya secara berkelanjutan, diatas tiga pilar,” kata Sultan.

Ketiga pilar itu antara lain pertama, mengarusutamakan penguatan kapabilitas manusia sebagai inti pembangunan sehingga mereka menjadi subyek-berdaulat atas pilihan-pilihan yang diambil. Kedua, mendorong geliat ekonomi yang menempatkan rakyat sebagai pemilik dan partisipan gerakan.

Ketiga, mempromosikan pembangunan yang meletakkan partisipasi warga dan komunitas sebagai akar gerakan sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

Sementara Sri Purnomo menyampaikan bahwa pemanfaatan dana desa tentu saja akan menjadi lebih optimal bila melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Untuk itu Sri Purnomo mengajak masyarakat, lembaga kemasyarakatan serta seluruh elemen masyarakat untuk dapat menjadi mitra pemerintah desa dalam melaksanakan pembangunan didesa. Lebih lanjut disampaikan bahwa gotong royong merupakan salah satu jati diri dan merupakan kearifan lokal masyarakat kita.

Gotong royong menjadi modal sosial yang sudah sejak dahulu memberikan kontribusi dalam kehidupan masyarakat. “Masyarakat secara bahu-membahu menyelesaikan berbagai hal dengan bergotong royong sehingga gotong royong menjadi kekuatan pembangunan,” kata Sri Purnomo.

Gotong royong tidak hanya sebatas sebagai slogan namun harus kita wujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk mempertahankan semangat gotong royong memang tidak mudah ditengah kehidupan masyarakat yang semakin kompetitif dan cenderung semakin individualistis.