Kampung Flory Diarahkan Jadi Destinasi Wisata Edukatif

FlorySleman – Meski belum genap dua tahun berdiri, nama Kampung Flory cukup dikenal di kalangan masyarakat. Setiap bulannya, pengelola area pembudidayaan tanaman hias dan bibit buah yang berlokasi di Dusun Jugang Pangukan, Desa Tridadi, Sleman itu mampu meraup omset hampir Rp 100 juta.

Tempat ini juga rutin dikunjungi peserta magang dari berbagai daerah yang ingin belajar mengenai cara wirausaha di bidang agribisnis pertanian.

“Kami memiliki rencana menjadikan kawasan ini destinasi wisata edukatif. Berbagai sarana pendukung seperti taman edukatif tabulampot, sayur mayur, dan dan tanaman obat keluarga sudah kami siapkan,” kata pembina Kampung Flory, Sudihartono, Kamis (14/4).

Sudihartono juga menuturkan, keinginan menjadikan kawasan seluas dua hektare lebih ini sebagai agrowisata tidak lepas dari rasa keprihatinan kelompok taruna tani yang mengelola usaha ini.

Pasalnya, ketertarikan generasi muda terhadap bidang pertanian terus berkurang. Mereka lebih memilih bekerja di sektor non pertanian karena dirasa lebih menguntungkan dari segi pendapatan.

Padahal menurut Sudihartono, agribisnis bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan asalkan dikelola dengan baik. Terlebih kebutuhan tanaman hias dan landscape terus meningkat seiring maraknya pembangunan hotel, apartemen, taman kota, perumahan, wahana rekreasi, dan perkantoran.

“Selama ini, 80 persen kebutuhan taman disuplai dari luar DIY. Ini sebenarnya peluang bagi pelaku agribisnis lokal,” kata Sudihartono.

Hal ini telah dibuktikan oleh kelompoknya yang sering menerima order dari hotel dan instansi pemerintah untuk pembuatan taman kota. Bahkan tahun depan, kelompok tani Flory yang dikelola 20 anggota ini menargetkan menambah beberapa nursery (area persemaian bibit).

Sementara Sekretaris Kelompok Taruna Tani Flory, Surono mengatakan, Kampung Flory rencananya dilaunching oleh Gubernur DIY sekitar bulan Mei mendatang. Sejumlah agenda telah disusun seperti festival memedi sawah, penghijauan dan tebar bibit ikan di Sungai Bedog, serta seminar pertanian.

“Tahun ini kami akan membangun museum Omahe Pak Tani sebagai pendukung wisata edukatif yang bersinergi dengan usaha kuliner. Sekarang juga sedang disiapkan sarana outbond,” tambahnya.

Terkait persiapan SDM, dia menuturkan sejak awal kelompok ini berdiri, para anggotanya telah diikutkan kunjungan edukatif ke sejumlah sentra budidaya tanaman hias dan buah seperti Batu Malang, Sawangan Depok, dan Salam Magelang. Ilmu yang sudah diserap itu siap ditularkan kepada pengunjung sekaligus untuk saling berbagi wawasan.

Selain itu juga memperbanyak dan budidaya tanaman hias dan buah dilahan masing-masing anggota kelompok tani flory.




Hari Jadi Sleman, Rehab 100 Rumah Keluarga Miskin

Sleman – Sebanyak 100 rumah keluarga miskin yang memiliki beban lingkungan dan beban sosial masyarakat di wilayah Kabupaten Sleman bakal direhab oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman.

“Rehab rumah keluarga miskin tersebut dilakukan dalam rangka memperingati hari Jadi Sleman yang ke 100. Dan kegiatan tersebut oleh panitia dikemas dalam bakti sosial,” kata Ketua umum peringatan Hari Jadi Sleman ke 100, Sukarno SH MSi di Sleman, Kamis (14/4).

Menurut Sukarno, rehab rumah ini akan dilaksanakan di 86 desa yang ada di Sleman. Intinya satu desa satu rumah yang direhab.

“Kalau di Sleman ada 86 desa, selebihnya akan dilakukan skala prioritas dengan cara  verifikasi oleh panitia, sehingga nantinya ada satu desa mendapatkan 2 rumah yang direhab,” kata Sukarno.

Untuk pelaksanaan rehab rumah ini persyaratannya tidak perlu sertifikat, sehingga bagi warga yang ngindung milik orang lain asalkan pemiliknya boleh dibangun maka rumah tersebut akan dibangun.

Untuk melakukan bakti sosial rehab rumah keluarga miskin tersebut dari Pemkab Sleman menyediakan anggaran sebesar Rp 12 juta yang perinciannya Rp 11 juta untuk beli material, sedangkan yang Rp 1 juta untuk biaya tukangnya.

“Kegiatan rehab rumah ini direncanakan akan berakhir bulan Mei,” tutur Sukarno.

Dikatakan Sukarno, bakti sosial lainnya adalah pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) gratis untuk 170 IMB bagi warga miskin yang tersebar di 17 kecamatan. IMB gratis tersebut dikeluarkan oleh BPMPPT Sleman.

“Bakti sosial Hari Jadi Sleman ke 100 ini memang cukup spektakuler, karena banyak kegiatan yang membantu masyarakat. Selain rehab rumah dan pemberian IMB gratis ada juga beberapa bakti sosial dibidang kesehatan,” kata Sukarno.

Untuk bidang kesehatan diantaranya pemasangan kontrasepsi gratis bagi 240 orang. Kemudian pap smear gratis bagi 200 orang, operasi katarak gratis untuk 100 orang.

Selain itu pemberian kacamata gratis bagi 100 anak sekolah, sunatan masal untuk 100 anak dan pemberian alat bantu dengar untuk 100 orang.




Masyarakat Diminta Partisipasinya Jaga Kelestarian Lingkungan

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bekerja sama dengan kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) mengajak semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan tidak menangkap burung yang dilindungi serta melepaskan burung ke alam liar.

Demikian antara lain disampaikan Sukarno SH MSi selaku ketua panitia Hari Jadi Sleman ke-100 terkait dilaksanakannya lomba burung berkicau yang menjadi salah satu dari rangkaian acara Hari Jadi Sleman yang baru pertama kali dilaksanakan oleh Pemkab Sleman.

“Lomba burung. Berkicau ini merupakan wadah bagi berbagai lapisan elemen masyarakat penggemar burung kicau,” kata Sukarno, kemarin.

Sukarno juga menghimbau pada penggembar burung berkicau untuk peduli terhadap lingkungan dengan menjaga ekosistem, termasuk burung di alam liar.

Lomba burung berkicau “Bupati Sleman Cup” diselenggarakan Pemkab Sleman bekerja sama dengan ‘Pendopo SF’ telah  diadakan di lapangan Pemda Sleman pada Minggu (10/4).

Menurut Mustofa selaku penanggung jawab kegiatan  bahwa acara yang diikuti kurang lebih 1000 kontestan ini terdiri dari berbagai macam burung seperti Murai Batu, Kacer, Lovebird, Kenari, Cucak Ijo, Anis Merah, Cendet, Ciblek, Pleci, dan Cucak Jenggot. Antusias peserta  tidak hanya dari Sleman saja namun banyak dari kicau mania luar daerah bahkan luar pulau yang hadir berpartisipasi dalam lomba tersebut.

“Kami membagi menjadi empat kelas yaitu Kelas Semar, Gareng , Petruk, dan Bagong. Peserta selain dari DIY dan Jateng seperti Solo, Kutoarjo, Sragen, juga dihadiri kicau mania  dari Jember, Tangerang, bahkan Lampung,” kata Mustofa.

Mustofa juga mengungkapkan bahwa dari beberapa jenis burung yang diperlombakan, kelas lovebird paling banyak diminati. Hal ini terbukti dari penjualan tiket pada kelas pertama untuk lovebird (Kelas Semar) habis terjual.

“Dari total 60 gantangan tiap sesi atau kelasnya, lovebird paling banyak diminati. Pada Kelas Semar burung Lovebird full gantangan,” tambah Mustofa.

Ditambahkan Sukarno bahwa rangkaian kegiatan Hari Jadi Sleman ke-100 nantinya akan mengakomodir semua bidang seperti olahraga, kesenian, bakti sosial, serta kerohanian.

“Akan ada banyak sekali kegiatan yang dilakukan Pemkab Sleman dalam menyambut Hari Jadi ke-100, diantaranya dalam bidang olahraga  akan diadakan lomba panahan gaya Mataram (Jemparingan), dalam bidang sosial akan diadakan operasi katarak bagi 100 orang dan pap smear bagi 200 orang  gratis, serta masih banyak lagi. Untuk mengetahui rundown acara lebih lanjut bisa diakses melalui website kabupaten-sleman, ” tutur Sukarno.




Kelompok Atras Kelola Sampah Mandiri Hasilkan Jutaan Rupiah

Sleman – Kelompok Pengelolaan Sampah Mandiri (KPSM) Atras di Dusun Temulawak Desa Triharjo, Kecamatan/Kabupaten Sleman yang berdiri sejak tahun 2008 terus berkembang.

Per minggu, kelompok tersebut mampu mengolah kurang lebih enam kuintal sampah rumah tangga. Dari pengelolaan sampah secara mandiri tersebut kelompok Atras mampu menghasilkan jutaan rupiah.

Limbah yang dikelola berasal dari warga lingkungan sekitar dusun yang diambil oleh petugas kebersihan tiap satu minggu sekali.

“Keseluruhan ada sekitar KK yang sampahnya masuk kesini. Setelah limbah ditampung lalu dipilah antara yang organik dan non organik,” kata Kepala Desa Triharjo, Irawan, Rabu (13/4).

Sampah organik kemudian diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan non organik dijadikan barang kerajinan. Tiap bulan, KPSM ini bisa menghasilkan 2 kuintal kompos. Produk pupuk itu dijual ke gapoktan dan kelompok tani dengan harga Rp per wadah ukuran lima kilogram.

Jika dikalkulasi, pendapatan dari penjualan pupuk rata-rata Rp 200 ribu per bulan, sedangkan rosokan Rp .

“Pengembangan kelompok tidak hanya mengandalkan pengolahan, tapi juga dari retribusi pengambilan sampah. Masing-masing KK ditarik iuran Rp per bulan,” ungkapnya.

Dari berbagai pemasukan itu, BUMDes ini mampu meraup laba bersih bulanan berkisar Rp 7 juta. Sebagian dari keuntungan digunakan untuk membantu pendidikan anak usia dini di Desa Triharjo.

“Usaha pengelolaan sampah ini bukan semata untuk kepentingan bisnis tapi juga menyokong pendidikan,” kata Irawan.

Tahun ini, pemerintah desa akan kembali membuka unit pengolahan sampah. Lokasi yang dipilih adalah Dusun Sucen. Anggaran sebesar Rp 675 juta bantuan dari pemerintah Provinsi dan ADD telah disiapkan untuk membangun fasilitas tersebut. Jika terealisasi nantinya bisa digunakan untuk menampung sampah dari luar wilayah Triharjo.

Manajer BUMDes Unit Atras, Sigit Purwanto mengungkapkan, ide pembentukan KPSM ini berawal dari swadaya masyarakat yang merasa keberatan lantaran tarif pungutan sampah dari Pemkab terus mengalami kenaikan. Mereka kemudian berinisiatif mengelola sampah sendiri.

Mulanya, kelompok ini dirintis oleh 10 orang. Namun kini hanya tersisa enam anggota terdiri dari tiga petugas pemilah sampah, satu operator mesin, dan dua orang di bagian manajemen.

Sigit menuturkan, usaha pembuatan kompos sebenarnya cukup prospektif hanya saja belakangan mengalami kendala bahan baku yang terus menyusut.

Saat ini, limbah organik yang dihasilkan masyarakat hanya sekitar 15 persen, dan 40 persen berupa barang rosokan sedangkan sisanya residu yang akhirnya dibuang ke TPU Piyungan Bantul.




Bupati dan Muspida Jalani Tes Urine

Bupati Sleman Jalani Tes UrineSleman – Tes urine jajaran Muspida Kabupaten Sleman dan personil Polres Sleman  dilakukaan di Mapolres Sleman,  Rabu (13/4). 

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI dan  semua Muspida yaitu Kapolres Sleman AKBP Yulianto, Ketua DPRD Sleman Drs Haris Sugiarto, Kejari Sleman Diah Retnowati Astuti SH MH,  Dandim 0732 Sleman  Letkol  Joko Sujarwo, Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes, Ketua Pengadilan Negeri Sleman, Kepala BNNK Sleman Drs Kuntadi menjalani tes urine.

Dari  pejabat yang telah melakukan tes urine tersebut sumuanya negatif dari narkoba, sedangkan personil kepolisian Polres Sleman semua diwajibkan mengikuti tes urine. Untuk hasil tes urine personil Polres Sleman belum diketahui. Apakah semuanya negatif atau ada yang positif narkoba, hal ini karena jumlah personil yang lakukan tes urine cukup banyak.

Sri Purnomo usai menjalani tes urine mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mendukung langkah yang dilakukan oleh Polres Sleman, termasuk bagi semua aparat.

“Kalau ada aparat yang terbukti, ada yang mengkomsumsi maka ada sangsinya yang cukup berat. Termasuk tes urine secara berkala Pemkab Sleman sangat mendukung,” kata Sri Purnomo.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa tes urine secara berkala baik kepada pejabat maupun staf sangat positif kalau hal tersebut bisa dilakukan akan sangat baik.

Terlebih saat ini menurut Sri Purnomo peredaran narkoba sudah merambah ke semua lapisan, bukan hanya kalangan menengah saja namun sudah merambah ke semua lapisan, maka  untuk mencegahnya perlu peran semua pihak.