‪Pemkab Sleman Dorong Tertib Administrasi Dari Desa‬

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mendorong dan terus mewujudkan tertib administrasi dan tertib pengelolaan keuangan sejak dari tingkat desa.‬

“Tertib administrasi dan tertib pengelolaan keuangan desa sangat diperlukan pada saat ini dikarenakan Pemkab Sleman harus terus mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) laporan hasil pemeriksaan oleh BPK,” kata pelaksana tugas Asisten Sekda Kabupaten Sleman Bidang Pemerintahan, Jazim Sumirat SH, Rabu (30/3).

‪Menurut Jazim, untuk meraih hasil pemeriksaan dengan opini WTP tersebut maka seluruh instansi dilingkungan Pemkab Sleman, termasuk pemerintah desa harus tertib administrasi dan tertib pengelolaan keuangan.‬

‪”Pengelolaan keuangan desa yang senantiasa berorientasi pada pemerataan pembangunan dalam memenuhi prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan akuntabilitas tidaklah mudah. Keuangan desa harus dikelola secara tertib, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat bagi masyarakat,” kata Jazim.‬‪

Dijelaskan Jazim bahwa untuk mewujudkan transparansi desa, Pemkab Sleman telah menetapkan Perbup No 9 Tahun 2015 tentang APBDes yang mana salah satu poinnya mengatur tentang laporan realisasi pelaksanaan APBDes‬.

‪”Selain itu, dalam upaya meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan desa, Pemkab Sleman juga menetapkan Perbup No 6 Tahun 2015 tentang Alokasi Dana Desa yang kemudian diubah menjadi Perbup 33 Tahun 2015,” katanya.‬

‪Jazim mengatakan, alokasi dana desa (ADD) pada 2016 dianggarkan sebesar Rp74,8 miliar, yang mana penyalurannya sesuai dengan Perbup 33 tahun 2015 dilakukan dalam empat triwulan.‬

‪”Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan keuangan pemerintah desa adalah penerapan peraturan yang berlaku secara tertib dan konsekuen,” tutur Jazim.‬

‪Jazim juga menambahkan, tanpa dilaksanakan secara tertib dan konsekuen maka adanya aturan pengelolaan keuangan desa akan sia-sia dan tidak memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.‬

‪”Guna membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan pada 2016, APBD Kabupaten Sleman untuk belanja sebesar Rp 2,498 triliun, dengan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 616 miliar,” kata Jazim.‬




Sleman Tambah 5 Sekolah Siaga Bencana

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Memukul GongSleman – Raungan sirine tanda bahaya Merapi membuyarkan konsenterasi kegiatan belajar mengajar SD Glagaharjo, Selasa (29/3) siang. Poniyam sang Kepala Sekolah langsung mengumpulkan para guru wali kelas untuk berkoordinasi, tak lama para siswa digiring menuju halaman sekolah dengan posisi tas menutupi kepala.

Ketegangan semakin menjadi, raut wajah takut dan kebingungan tidak dapat disembunyikan dari balik masker yang menutupi wajah mereka. Empat truk evakuasi dari BNPB dan dua mobil ambulan pun datang, para guru dan tim evakuasi bergegas menaikkan siswa untuk dievakuasi ketempat yang lebih aman.

Kurang lebih demikian situasi yang tergambar dalam simulasi bencana yang menjadi  rangkaian acara dalam peresmian Sekolah Siaga Bencana (SSB) yang diadakan oleh BPBD DIY dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Sleman di SD Glagaharjo, Cangkringan Sleman, Selasa (29/3).

Sekretaris BPBD DIY Heru Suroso yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa ada lima sekolah di Cangkringan yang dikembangkan sebagai SSB  yaitu SD Negeri Srunen, SD Negeri Glagaharjo, SD Negeri Bronggang, SD Negeri Banaran, dan SD Muhammadiyah Cepitsari.

Menurutnya, dengan lahirnya SSB ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang mandiri dan tangguh dalam menghadapi bencana.

“Kapasitas dan eksistensi simulasi harus kita jaga supaya tercipta masyarakat tangguh bencana,” ungkap Heru.

Kepala Disdikpora Kabupaten Sleman, Arif Haryono SH mengungkapkan bahwa dengan diresmikannya lima SD di Kecamatan Cangkringan sebagai sekolah siaga bencana, maka Kabupaten Sleman sampai saat ini telah memiliki  13 sekolah yang berpredikat sebagai Sekolah Siaga Bencana.

Karema itu dihimbau agar mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan local wisdom masyarkat Sleman. Oleh karena itu pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harus dimulai sejak dini.

Diperlukan kesiapsiagaan semua pihak menghadapi bencana sebagai langkah strategis dalam pengurangan resiko bencana, tidak terkecuali di lingkungan sekolah. Mitigasi bencana harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.

Ditemui diakhir acara peresmian, Poniyam selaku Kepala SD Glagaharjo mengungkapkan bahwa sekolah yang dipimpinnya rutin menggelar acara simulasi dua kali sebulan dengan BPBD.

Hal tersebut dilakukannya bersama jajaran guru dan para siswa karena sadar lokasi SD Glagaharjo termasuk dalam kategori daerah rawan bencana. Menurutnya pada November 2010 SD Glagaharjo terkubur material akibat erupsi Merapi dan baru direlokasi pada Januari 2012.

Tidak hanya dari simulasi saja namun Poniyam juga bekerjasama dengan wali murid dalam mendukung sarana dan prasarana terutama dalam hal transportasi untuk evakuasi.

”Kami bekerjasama dengan para wali murid untuk armada pengangkut ketika terjadi bencana, karena kami harus sigap tidak mungkin terlalu lama menunggu bantuan armada dari instansi terkait saat bencana terjadi,” ungkap Poniyam.***




Industri Di Sleman Diminta Manfaatkan Air Secara Bijak

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan sarasehan peringatan Hari Air Sedunia tahun 2016 yang mengangkat tema “Water and Jobs” atau “Air dan Pekerjaan” karena air memiliki peran penting dalam pekerjaan. Data juga menunjukkan bahwa setengah dari jumlah kaum pekerja di dunia bekerja di bidang yang berhubungan dengan air dan hampir seluruh pekerjaan bergantung pada air.

“Fakta tersebut memperlihatkan bahwa air dapat mengubah kondisi ekonomi serta keadaan suatu masyarakat. Kondisi air, baik kualitas maupun kuantitas dapat mempengaruhi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat,” kata Sri Purnomo  saat membuka sarasehan Hari Air di pendopo Rumah Dinas, Selasa (29/3)

Menurut Sri Purnomo  bahwa berbagai peraturan berkaitan dengan air sudah dibuat. Diharaapkan peraturan tersebut dapat ditegakkan dan menjadi acuan pengelolaan air di Sleman.

“Karena itu saya  menghimbau agar segala bentuk pekerjaan dan industri di Kabupaten Sleman yang berhubungan dengan air dapat memanfaatkan air secara bijak dan sesuai dengan peraturan yang ada,” kata Sri Purnomo.

Penggunaan air bersih lanjut Sri Purnomo, harus dikelola dengan baik dan melakukan upaya untuk meminimalisir pencemaran air oleh limbah industri atau limbah dari aktivitas pekerjaan.

Yang jelas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman juga senantiasa mengupayakan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan tiga pilar utama yang diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yaitu yang pertama adalah konservasi sumber daya air, yang kedua adalah pendayagunaan sumber daya air dan ketiga yaitu pengendalian daya rusak air.

Konservasi sumber daya air di Sleman telah dan terus dilakukan diantaranya dengan pembangunan embung sebagai tangkapan air, penanaman pohon pada lahan kritis dan pada bantaran sungai.

Sedang pendayagunaan sumber daya air dilakukan dengan memanfaatkan embung untuk pertanian, perikanan dan pariwisata serta pengembangan air minum pedesaan. Sedangkan untuk pengendalian daya rusak air dilakukan dengan perbaikan tanggul-tanggul sungai yang sempat mengalami kerusakan saat terjadi erupsi dan banjir.

Sementara  Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM), Ir Sapto Winarno MT mengatakan  bahwa  peserta dalam sarasehan tersebut adalah para pengampu, pengelola, ataupun juru kunci mata air se Kabupaten Sleman.

Disampaikan Sapto bahwa   tema sarasehan tingkat Kabupaten Sleman adalah  “ Banyu Kanggo Kautaman lan Karaharjan” Sedangkan sampai tahun 2016 keberadaan mata air yang sudah teridentifikasi oleh Dinaas SDAEM Kabupaten Sleman sebanyak 218 mata air yang tersebar di 17 Kecamatan.

Dari sekian banyak mata air  yang ada sudah 32 mata air yang ditangani/diturap oleh dinas SDAEM Sleman. Selain penurapan juga telah dilakukan pembinaan terhadap pengelola mata air yang sampai dengan tahun 2016 sudah dibentuk 10 OPPMA (Organisasi Petani Pengelola Mata Air).

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan sertifikat/piagam penghargaan secara simbolis kepada juru kunci mata air Umbul Wadon yaitu Pujo, juru kunci mata air Sibedug, Jumari dan juru kunci mata air Jongke Lor,  Soediharjo oleh Bupati Sleman.




26 Daerah Irigasi Terganggu Akibat Banjir

Sleman – Banjir yang terjadi dibeberapa titik diwilayah Sleman pada hari Sabtu (12/3) lalu  diakibatkan karena tingginya curah hujan yang terjadi. Kejadian banjir tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur irigasi sehingga berdampak pada 26 daerah irigasi dan menyebabkan terganggunya pasokan irigasi lahan pertanian seluas 1064,8 hektar.

“Hal ini menjadi pelajaran kita bersama untuk dapat meningkatkan pengelolaan air agar lebih baik lagi. Saya mengajak semua pihak untuk meningkatkan tangkapan air hujan agar tidak langsung melimpah ke sungai dan menyebabkan banjir,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di  Sleman, Selasa (29/3).

Dikatakan Sri Purnomo, berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk memasukkan air ke tanah diantaranya dengan memperbanyak penanaman pohon, membangun peresapan dan membuat biopori.

“Tak kalah pentingnya saya juga mengajak semua pihak untuk menjaga kebersihan sungai dari sampah untuk mencegah terjadinya banjir yang disebabkan tersumbatnya sungai,” kata Sri Purnomo.

Sementara hujan deras yang terjadi hari Minggu (27/3) sore mengakibatkan sejumlah sungai diwilayah Sleman meluap. Bahkan ada yang mengakibatkan tanggul jebol dan pohon bambu roboh akibatnya air sungai menggerus pekarangan. Akibat banjir tersebut sedikitnya 14 rumah terdampak luapan air sungai.

Kepala Bandan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasita SH MM mengatakan kejadian banjir hari Minggu (27/3) mengakibatkan Dusun Jongkang RT 2/ RW 33 Sariharjo Ngaglik Sleman sebanyak 5 rumah dengan 7 KK sebanyak 24 jiwa terdampak luapan air kali Buntung yang disebabkan tanggul jebol 12 meter.

Selain itu Dusun Gemawang RT 1/ RW 34 Sinduadi Mlati Sleman sebanyak 8 rumah terdampak luapan air kali Bedog dengan 8 KK terdiri dari 32 jiwa. Dusun Mranggen RT 6 / RW 27 Sinduadi Mlati Sleman 1 rumah terdampak luapan kali Buntung 1 KK dengan 4 jiwa.

Sementara banjir/ luapan air sungai Sengkan (hilir sungai Gajah Wong) mengakibatkan Dusun Sengkan RT 06/Rw 59, Joho, Condongcatur Depok Sleman terdampak akibat debit air sungai terlalu deras, dan rumpun bambu roboh membuat aliran sungai menggerus pekarangan rumah (pondasi dapur) milik Awig. Kerugian material, talut ambrol & pondasi dapur gantung, dan beresiko roboh.

“Tindakan yang dibutuhkan adalah pembersihan rumpun bambu yang melintang di sungai,” kata Julisetiono.




Selama Libur Paskah, Sleman Dikunjungi 74.199 Wisatawan

Sleman – Selama liburan panjang akhir pekan dalam rangka perayaan Paskah tahun 2016, destinasi wisata Kabupaten Sleman dikunjungi setidaknya wisatawan yang terdiri atas wisatawan nusantara (wisnus) dan  wisatawan mancanegara (wisman). 

Angka tersebut tersebar dibeberapa destinasi, yaitu Kaliurang, museum, candi dan desa wisata. Demikian disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Senin (28/3).

Secara rinci lanjut Endah distribusi wisatawan ke berbagai destinasi tersebut adalah Kaliurang yang dikunjungi oleh wisatawan (diantaranya Museum Ullen Sentalu yang terdiri atas wisnus dan 53 wisman), Museum Gunungapi Merapi , Monjali , Candi Prambanan ( wisnus, wisman), Candi Ratu Boko ( wisnus, 129 wisman).

Dan, Desa Wisata Pulesari , Desa Wisata Rumah Domes 715 (710 wisnus dan 5 wisman), Desa Wisata Tunggularum 250, Desa Wisata Pentingsati 184, Desa Wisata Grogol 150, Desa Wisata Sidoakur 120, Desa Wisata Brayut 37 (27 wisnud dan 10 wisman) dan Sindu Kusuma Edupark dan Jogja Bay Water Park wisatawan.

Endah menambahkan bahwa angka kunjungan wisatawan selama libur panjang Paskah 2016 dihitung mulai satu hari menjelang dan 3 hari liburan paskah. Hal tersebut dikarenakan sehari menjelang liburan, sudah banyak wisatawan dari luar daerah yang mulai memadati Jogja.

“Inilah alasan untuk menghitung satu hari menjelang liburan Paskah,” kata Endah.

Sehubungan dengan angka kunjungan wisatawan tersebut, Endah merasa bersyukur. Harapannya para pengelola destinasi wisata agar lebih baik dalam mempersiapkan diri untuk memberikan pelayanan terbaiknya pada wisatawan. Khususnya saat-saat libur nasional yang bersambungan dengan libur akhir pekan, sehingga menjadi momen yang efektif untuk berwisata.