Angin Kencang di Sleman Rusakkan 2 Rumah

Perbaiki Atap RumahSleman – Hujan yang disertai angin kencang pada hari Minggu (20/3) yang melanda wilayah Kecamatan Seyegan dan Sleman sekitar pukul WIB mengakibatkan pohon tumbang menimpa 2 rumah dan menumbangkan beberapa pohon. Akibatnya rumah di Seyegan dan Sleman mengalami rusak ringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM membenarkan kejadian tersebut. Dan kondisi semua sudah terkendali berkat kerjasama, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD, relawan, JKM dan masyarakat.

Menurut Julisetiono dua rumah yang rusak diantaranya satu di Beteng Margoagung Seyegan milik Tugiyo (60) dan di Dusun Keceme Caturharjo Sleman milik Muryanto (51). Sedang pohon yang tumbang di Seyegan ada 5 pohon dan di Sleman 1 pohon.

“Jumlah kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp 20 juta,” kata Julisetiono.




Puncak Perayaan Nyepi Ditandai Sima Krama

Pemotongan TumpengSleman– Puncak perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1938 Umat Hindu DIY ditandai dengan acara Sima Krama (silaturahmi) Dharma Santi, di Gedung Serbaguna Sleman, Sabtu (19/3) malam.

Acara dihadiri oleh perwakilan umat Hindu di DIY baik dari Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul sekitar 1500 umat. Hadir dalam kesempatan ini Bupati dan Wakil Bupati Sleman, Wakil Ketua DPRD, Camat Sleman serta unsur SKPD Sleman. Juga tokoh-tokoh pemuda agama Hindu se DIY serta Pemuka agama dari Bali Ida Perdanda Gede Made Gunung.

Acara cukup meriah dengan ditabuhnya kolaborasi secara bergantian kesenian gamelan Jawa dan gamelan Bali yang mengiriingi nyanyian maupun tarian.

I Wayan Ordiyasa MKom, MT, selaku Ketua Umum Panitia melaporkan berbagai kegiatan dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1938 Umat Hindu DIY berupa  Tari Pendet Massal di Candi Prambanan, Labuhan Suci Melasti di Pantai Ngobaran dan Parangkusumo, Nyepi keliling candi dan Kirab Ogoh-ogoh.

Selain itu juga dilaksanakan bakti sosial di beberapa kecamatan di DIY serta di Panti Wreda Budi Dharma Jogja, lomba membuat sesajen, “Tema tahun ini adalah toleransi dalam keberagaman menuju masyarakat yang adil dan sejahtera”.

Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyambut baik acara Sima Krama (Silaturahmi) Dharma Santi, sebagai bentuk kebersamaan dalam kebhinekaan umat beragama. Acara seperti ini juga sebagai upaya meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sri Purnomo juga mengingatkan agar umat Hindu untuk menjaga hubungan yang harmonis antar umat beragama, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam semesta.

“Di tengah keberagaman toleransi menjadi kebutuhan yang utama untuk tetap dijaga dalam menciptakan suasana yang kondusif dan dimanis dalam rangka melaksanakan kegiatan pembangunan khususnya di Kabupaten Sleman,” kata Sri Purnomo.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penyalaan 9 dupa Suci Toleransi oleh Bupati, Wakil Bupati, DPRD dan perwakilan umat beragama sebagai bentuk upaya mewujudkan toleransi antar umat beragama.

Sedang tokoh agama Hindu dari Bali, Ida Perdanda Gede Made Gunung juga memberikan Dharma Wacana kepada umat Hindu yang hadir dan mengingatkan pentingnya merenungkan siapa diriku, untuk apa aku hidup di sini, ke mana setelah hidup di sini dan apa saja yang bisa kubawa kesini sebagai sarana untuk membangkitkan kehidupan setiap hari dalam kehidupan bersama dimasyarakat.

Perbedaan yang ada adalah anugerah, untuk itu harus dikelola perbedaan itu agar menjadi indah. Ida mencontohkan adanya gamelan Jawa dan Bali, semuanya banyak perbedaannya tetapi masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri dan mereka sadar kapan harus dimainkan sehingga menghasilkan suara yang indah dan merdu untuk didengar.

Kebersamaan dan toleransi dasarnya adalah kesadaran, untuk itu yang terpenting adalah sadarkan diri sendiri terlebih dahulu.




Pemkab Lakukan Pendataan “100-0-100″‬

Sleman – Pemerintah Indonesia melalui RPJMN 2015 – 2019 telah menetapkan “Gerakan 100 – 0 – 100”. Maksud 100 – 0 – 100 adalah masyarakat pada kawasan pemukiman sasaran harus mendapatkan akses air minum 100 persen, mengurangi kawasan kumuh hingga 0 persen, dan menyediakan akses sanitasi layak 100 persen untuk masyarakat Indonesia pada akhir 2019.

Demikian diungkapkan  Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Nurbandi, Minggu (20/3).‬

‪Menurut Nurbandi, untuk penajaman dan penyepakatan data hasil pendataan 100-0-100 dan profil kawasan permukiman di Kabupaten Sleman‬ telah dilakukan lokakarya beberapa waktu lalu.

‪”Lokakarya tersebut juga untuk membangun sinergi data 100-0-100 sebagai acuan penanganan pembangunan kawasan permukiman. Selain itu juga untuk tersusunnya “draft action plan” bersama, tujuan, strategi, langkah-langkah, target, pelaksana, penanggungjawab dan kerangka waktu yang jelas dalam merealisasikan penanganan kumuh di perkotaan,”kata Nurbandi.‬

Sementara ‪Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes mengatakan pendataan “base line 100 0 100″ ini sebagai salah satu upaya strategis dalam rangka pencapaian target 100-0-100 untuk penanganan kawasan kumuh di perkotaan pada 2015-2019.‬

‪”Melalui kegiatan tersebut para peserta lokakarya dapat memperoleh gambaran secara riil kondisi di lapangan terkait kualitas pemukiman di Kabupaten Sleman yang akhirnya melalui data yang diperoleh mampu merumuskan indikasi kegiatan guna mewujudkan target 100 – 0 – 100,” kata Sri Muslimatun.‬

‪Ia mengatakan, untuk mewujudkan gerakan 100 – 0 – 100 diperlukan upaya yang keras serta kolaborasi semua pihak baik Pemerintah Kabupaten, masyarakat, swasta dan kelompok peduli lain, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan sampai dengan implementasi dan evaluasi program.‬

‪”Berdasarkan pendataan Program Penanganan Kawasan Kumuh Perkotaan 2015, sekitar 73 persen bangunan hunian memiliki keteraturan, kepadatan rendah 19 unit per hektare,” katanya.‬

‪Selain itu, lanjut Sri Muslimatun, 96 persen bangunan hunian memiliki luas lantai 7,2 meter persegi per orang, 91 persen bangunan hunian memiliki atap, lantai, dinding sesuai dengan persyaratan teknis, 79 persen kawasan permukiman terlayani jaringan jalan lingkungan, 98 persen kawasan permukiman tidak terjadi genangan air/banjir, 68 persen kondisi jaringan drainase dilokasi permukiman memiliki minimum mamadai.‬

‪”Sementara untuk pelayanan air minum 70 persen masyarakat terlayani sarana air minum, mandi dan cuci, 98 persen masyarakat terpenuni kebutuhan air minum, mandi dan cuci minimal 60 liter per orang per bulan,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, untuk pengelolaan air limbah 96 persen masyarakat memiliki akses jamban keluarga/jamban bersama (5 KK/jamban).‬

‪”Sementara untuk pengelolaan sampah, 26 persen sampah domestik rumah tangga dikawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA dua kali seminggu, dan untuk pengamanan bahaya kebakaran empat persen kawasan permukiman memiliki prasarana/sarana proteksi kebakaran,” katanya.




Percepat Penanganan, BPBD Kukuhkan Penanggulangan Bencana Tingkat Kecamatan

Sleman – Dalam rangka meningkatkan penanganan terhadap bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten  Sleman telah membentuk kelompok masyarakat penanggulangan bencana. Pembentukan kelompok tersebut untuk mengoptimalkan koordinasi dalam penanganan bencana.‬ ‪Demikian antara lain disampaikan Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM, Minggu (20/3). 

Julisetiono mengatakan kelompok yang dibentuk berupa unit operasional di tingkat desa dan pelaksana penanggulangan bencana di tingkat , BPBD Sleman mengukuhkan unit operasional dan pelaksana penanggulangan bencana Kecamatan Berbah.

“Kami terus membentuk kelompok penanggulangan bencana berbasis masyarakat dan lintas sektoral untuk menguatkan mitigasi bencana. Ditargetkan semua wilayah desa dan kecamatan di Sleman terbentuk kelompok ini,” kata Julisetiono.

Menurut Julisetiono dalam upaya penanggulangan bencana, relawan bersama masyarakat harus tetap siaga meski tidak sedang terjadi bencana. Pasalnya kesiapsiagaan tersebut diperlukan untuk menekan jatuhnya korban dalam bencana.

“Dengan adanya kelompok penanggulangan bencana ini, jika sewaktu waktu terjadi bencana masyarakat dan relawan jangan menunggu BPBD, mereka harus selalu tanggap dan tangkas dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi,” kata Julisetiono.




Pemkab Adakan Pembinaan Rohani Hari Paskah

Sleman – Ratusan umat Kristiani Kabupaten Sleman yang terdiri PNS, TNI, POLRI, GTT, GTY, PTY, PTT dan karyawan BUMD/BUMN baik yang beragama Katholik maupun Kristen mengikuti pembinaan rohani dalam rangka peringatan Paskah 2016 yang diselenggarakan Pemkab Sleman di Gereja Kerasulan Baru Kayen Wedomartani Ngemplak, Jumat (18/3).

HY Aji Wulantoro SH MHum selaku ketua panitia menyampaikan bahwa tujuan  pembinaan bagi umat Kristiani tersebut  untuk meneladani Kasih Tuhan dalam bentuk pengorbanan bagi sesama. Lebih lanjut disampaikan bahwa pembinaan tersebut dilakukan dalam rangka Hari Paskah, disamping pembinaan bagi umat Kristiani.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan berupa uang untuk rehap rumah  kepada 3 orang, yaitu Ny Sumodiharjo, Ny Kismo Wiharjo dan Ny Siti Rahayu. Penyerahan bantuan dilakukan oleh ketua panitia peringatan Hari Paskah.

Sedangkan Pendeta Fendy Susanto SSi dalam kotbahnya menyampikan bahwa ibadah ritual akan alebih baik bila diikuti dengan ibadah sosial, misalnya memberi bantuan bagi mereka yang kurang mampu. Sedang tema Garam dan Terang mengandung maksud agar umat Nasrani mampu memberi pada sesama dan memberi terang pada khidupan manusia disekitarnya tanpa memandang golongan.

Disampaikan pula bahwa sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dengan berbuat kebaikan pada sesama dalam kehidupan nyata bermasyarakat.

Yang jelas menurut pendeta Fendy Susanto bahwa keberadaan kaum Nasrani kalau belum bisa dimanfaatkan/bermanfaat bagi masyarakaat maka sebagai garam dan terang belum ada, untuk itu diharapkan umat nasrani mampu memberikan manfaat bagi orang lain dengan aksi nyata berbuat yang terbaik bagi masyarakat.

Diungkapkan pula bila umat nasrani masih mabuk duniawi dan kurang peduli dengan sesama terutama mereka yang kurang mampu, maka mereka belum bisa dikatakan sebagai garam dan terang karena belum bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Pada akhirnya pendeta Fendy Susanto mengajak umat nasrani untuk mewarnai dunia dengan kehidupan surga, artinya kehidupaan yang damai dan bermanfaat bagi orang lain.