Kelompok Berprestasi Penerima Hibah DPM Terima Penghargaan

Serahkan PeghargaanSleman – Sebanyak 51 kelompok usaha berprestasi menerima penghargaan program pemberdayaan masyarakat tahun 2014  di Aula Lantai III Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Selasa (29/11).

Dalam acara penyerahan penghargaan kelompok berprestasi penerima hibah Dana Pemberdayaan Masyarakat (DPM) tersebut, secara simbolis dilakukan oleh Dra Suyamsih MPd, Asisten Sekda Bidang Pembangunan kepada 5 penanggung jawab kelompok, yakni Sri Wahyuni (Koperasi Simpan Pinjam Mbangun Warga), Supriyadi (Kelompok Ternak Domba Sapi Suka Makmur).

Dan, Sri Lestari (Masyarakat Peduli Sampah Mandiri), Tuwuh (Kelompok Ternak Sapi Sedya Makmur), dan Yulitawati (Kelompok Wanita Pembudidaya Ikan Mina Nila Asri). Masing-masing kelompok menerima uang pembinaan sebesar Rp1juta.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Sleman, Ir CC Ambarwati MM menyampaikan bahwa penyerahan dana pemberdayaan masyarakat dimaksudkan agar mampu melangsungkan kehidupannya dan menanggulangi segala hambatannya. Salah satu kegiatan pendukung tersebut adalah terlaksananya pemberian hibah bagi kelompok ekonomi produktif.

Adanya program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam berwirausaha, meningkatkan pendapatan masyarakat dan perluasan lapangan kerja, serta meningkatkan kuantitas, kualitas, dan kontinyuitas produksi barang dan jasa.

Menurut Ambarwati, dana pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Sleman bersumber dari APBD Pemda DIY tahun 2007-2014. Dana hibah ini diperuntukkan pengembangan kelompok usaha ekonomi produktif sebanyak kelompok usaha.

Sementara  Suyamsih menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan dalam penyaluran bantuan tersebut dipergunakan dengan baik oleh kelompok masyarakat. Suyamsih juga mengatakan bahwa setiap tahun akan dilakukan evaluasi atau verifikasi lapangan apakah kelompok tersebut tetap eksis.

Suyamsih berharap bahwa dengan adanya DPM yang telah diberikan, masyarakat dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan berkelanjutan.

Namun digarisbawahi oleh Suyamsih bahwa dengan berlakunya Permendagri No. 14 Tahun 2016 mengenai Pedoman Hibah dan Bansos dari APBD, maka kelompok masyarakat yang bisa diberikan bantuan adalah kelompok yang berbadan hukum Indonesia atau lembaga yang telah diakui oleh pemerintah.

Dapat diinformasikan pada kesempatan tersebut, diperoleh data hasil monitoring dan evaluasi dengan sampel kelompok dari kelompok tahun 2007-2014 sebagai berikut keanggotaan aktif dalam kelompok terdapat kelompok dari kelompok atau sebesar 93,27%.




Antisipasi Terjadi Perpecahan, Pemkab Gelar Silaturahmi Forkopimda

Sleman – Untuk mengantisipasi terjadi perpecahan didaerah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menggelar silahturahmi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dengan SKPD, Muspika, tokoh masyarakat, tokoh agama, ormas dan Forum-forum mitra kerja pemerintah daerah Kabupaten Sleman di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Sleman, Selasa (29/11).

Kepala Kesbang Linmas Kabupaten Sleman, Drs  Ardani menyampaikan bahwa silaturahmi Forkopimda tersebut digelar dengan tujuan untuk mempererat persatuan dan keutuhan NKRI yang dimana belakangan ini persatuan Indonesia sempat terancam oleh beberapa kejadian yang diprovokasi serta disangkut-pautkan dengan ke Bhinekaan bangsa Indonesia.

Ardani menyampaikan bahwa  Kabupaten Sleman merupakan salah satu daerah dengan tingkat keberagaman yang cukup tinggi, sehingga dikhawatirkan terjadi banyak permasalahan yang mengancam persatuan dan kesatuan NKRI.

“Melalui  forum koordinasi ini diharapkan dapat meningkatkan tali persaudaraan, toleransi dan juga koordinasi bersama dalam rangka untuk mewujudkan kerukunan, keamanan dan ketertiban,” kata Ardani.

Disisi lain lanjutnya, para tokoh-tokoh masyarakat maupun ormas  dapat  memberikan masukan untuk mengantisipasi perpecahan maupun gesekan demi menjaga kelangsungan persatuan dan kesatuan NKRI, sekaligus mewujudkan Kabupaten Sleman menjadi contoh bagi daerah lain sekalipun tingkat keragaman masyarakat yang tinggi tetapi situasi dan kondisinya tetap kondusif.

Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengharapkan dengan koordinasi Forkopimda menjadi sarana mengantisipasi perpecahan dan menjaga persatuan masyarakat Sleman yang sangat dinamis. Sebagaimana permasalahan yang banyak terjadi akhir-akhir ini, sedikit banyak dipengaruhi oleh perkembangan media baik itu Konvensional maupun media modern yang terus berkembang.

Menurut Sri Purnomo, Sleman menjadi salah satu daerah yang banyak ditinggali oleh berbagai macam masyarakat dari berbagai suku dengan kultur budaya yang beraneka ragam, dimana mayoritas bertujuan untuk menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi di Sleman.

Untuk itu dibutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga dan mencegah terjadinya masalah-masalah yang mengancam keutuhan NKRI, salah satunya dengan menggelar forum koordinasi ini.

“Dengan adanya koordinasi yang baik maka beberapa masalah dapat dicegah dan dicari solusi yang terbaik untuk kita bersama,” jelas Sri Purnomo.




Bupati Sleman Raih Dua Penghargaan

Bupati Sleman Raih Dua Penghargaan

Sleman – Prestasi menggembirakan kembali diraih Kabupaten Sleman secara hampir bersamaan mendapatkan dua penghargaan sekaligus. Prestasi pertama diraih Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI dalam bulan November 2016 ini berupa penghargaan Sanitasi Award Kategori Pengelolaan Sanitasi berbasis Masyarakat di Gedung  Academic Activity Centre (AAC) Dayan Dawood Unsyiah Kuala Banda Aceh pada tanggal 24 November.

“Prestasi tersebut  diraih Kabupaten Sleman dalam pengelolaan sanitasi yang melibatkan masyarakat,” kata Dra Sri Winarti, Kabag Humas Sleman, Senin (28/11).

Selain Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul juga terpilih menjadi wakil  DIY menyisihkan 465 kabupaten di Indonesia, total ada 8 Kabupaten yang terpilih mendapatkan penghargaan tersebut. Penghargaan diberikan oleh Akkopsi ( Asosiasi Kabupaten Peduli Sanitasi) dalam rangkaa City Sanitation Summit (CSS) XVI.

Sedang Bupati Sleman  menerima penghargaan Dwija Praja Nugraha  pada Minggu (27/11) di Sentul International Convention Centre, Bogor dalam rangka Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke 71 yang dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Kabupaten Sleman, Arif Suyono SH menyampaikan bahwa penghargaan yang diraih oleh Bupati Sleman tersebut sebagai bentuk apresiasi pemerintah pusat pada pemerintah daerah yang telah berkomitmen nyata pada dunia pendidikan dan perhatiannya pada guru.

Arif menjelaskan bahwa Pengurus Besar PGRI sebelumnya telah melakukan verifikasi dokumen-dokumen dan kebijakan yang dilakukan Bupati Sleman terkait dunia pendidikan dan perhatiannya pada guru.

“Verifikasi dilakukan dari berbagai hal seperti bantuan biaya bagi siswa tidak mampu dan dana bos. Upaya Pemkab Sleman dalam memajukan dunia pendidikan juga tidak terlepas dari perhatiaanya pada GTT, PTT, dan K2 dengan memberikan insentif sebagai stimulan untuk meningkatkan semangat mengajar,” jelas Arif.

Arif menambahkan bahwa penghargaan Dwija Praja Nugraha tersebut diberikan pada 4 Gubernur dan 13 Bupati dari seluruh wilayah Indonesia.




Kemitraan Pengusaha Besar dan UKM Terus Dikembangkan

Sleman – Kemitraan antara pengusaha besar dan UKM di Sleman terus dikembangkan dengan tujuan untuk menjalin kerjasama yang menguntungkan. Kemitraan ini dituangkan dalam bentuk perjanjian kesepakatan/MOU.

Untuk merealisasikan kemitraan ini Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sleman memfasilitasinya dalam bentuk penandatanganan perjanjian kerjasama antara pengusaha besar dengan UKM Kabupaten Sleman.

Hal itu disampaikan  Kepala BPMPPT Sleman, Drs Purwatno Widodo  disela-sela  penandatanganan perjanjian kerjasama antara pengusaha besar dengan UKM Kabupaten Sleman yang dilaksanakan di Rich Hotel disaksikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Senin (28/11).

Purwatno Widodo menyampaikan ada 4 PMDN yang bermitra dengan 15 UKM dan 2 PMA sebagai tamu peninjau. Yakni Gendhis Natural Bags bermitra dengan pengrajin tas dan pendukungnya sebanyak 8 UKM seperti jasa tenun, rajut, sablón sum dan jahit finisihng.

PT YOGYA Presisi Teknikatama Industri (YPTI) komponen logam dan injection plastik industria sparepart bermitra dengan pengrajin alat tepat guna 3 UKM yakni berupa casting, tungsten/pengelasan listrik, analog dengan komputer, pembuatan profil, radius, silindris, mur, baut, bubut las dan lainnya. PT Garuda Mitra Sejati/JCM bermitra dengan 3 UKM dengan memberikan space pada room pasar Jogja yakni batik Allusan, Jasa Dekor dan Kuliner.

PT PC GKBI Medari bermitra dengan UKM pengrajin mukeno dengan fasilitasi pengadaan bahan baku, bimbingan motivasi dan manajemen. Serta 2 PMA yakni PT Lesax Nesia Jaya Ind. Sarung tangan golf memiliki embrio mitra dengan pengrajin asesoris dan Hotel Easpacrk memiliki embrio bermitra dengan 2 tenan yakni gudeg Yu Jum dan Ayam Goreng Mbok Berek.

Sementara  Sri Purnomo mengatakan Sleman merupakan kawasan yang strategis sehingga  berpeluang bagi pengembangan investasi. Sleman juga memiliki prospek secara ekonomi, merupakan  pilihan tepat bagi tujuan pendidikan serta memiliki beragam obyek wisata. Sleman juga menyimpan beragam potensi yang siap untuk digali dan dikembangkan. Oleh karena itu, Sleman sangat terbuka dan berpotensi bagi pengembangan usaha-usaha kreatif.

Berbagai program kebijakan yang telah dikembangan adalah untuk menciptakan iklim usaha yang terbuka, kondusif dan aman. Berbagai regulasi telah disiapkan untuk mendukung upaya ini seperti pola pengaturan pajak dan restribusi yang berimbang, yang tentunya sangat mendukung dunia usaha. Keunggulan lain adalah karena Sleman juga merupakan tujuan pendidikan maka ketersediaan tenaga kerja dengan skill yang mendukung usaha selalu melebihi daerah lain.

Selain itu, infrastruktur pendukung usaha seperti sarana dan prasarana transportasi menjadikan Sleman mudah diakses. Sri Purnomo juga menyampaikan bahwa kegiatan perekonomian masyarakat dari tahun 2015 tumbuh cukup baik. Pada tahun 2015 perekonomian daerah tumbuh 5,28%.

Hasil upaya menjaga keberlanjutan kegiatan perekonomian masyarakat, dilihat dari PDRB Kabupaten Sleman atas dasar harga berlaku selama 5 tahun terakhir setiap tahun mengalami peningkatan cukup stabil.

Pada tahun 2015  sebesar Rp 21,417 trilyun. Demikian pula PDRB atas harga konstan rata-rata meningkat Rp trilyun  pada tahun 2015. Peningkatan tersebut secara langsung meningkatkan  pendapatan perkapita atas dasar harga berlaku sebesar Rp juta pada tahun 2015. Sedangkan PDRB perkapita harga konstan pada tahun 2015 sebesar Rp 6,79 juta.

Dikatakan Sri Purnomo, perkembangan penanaman modal di Kabupaten Sleman selama 5 tahun terakhir, baik investasi PMA, PMDN maupun Non PMA/PMDN mengalami peningkatan baik jumlah unit usaha maupun nilai investasi. Jumlah unit usaha PMDN pada tahun 2015 adalah 57 unit.

Sedangkan nilai investasi pada tahun 2015 menjadi US$ 233 juta mengalami kenaikan sebesar 0,68% dibanding tahun 2014. Demikian juga penyerapan tenaga kerja PMDN, pada tahun 2015 adalah orang.




Dinkes Siapkan Pelayanan Sleman Emergency Service

Sleman – Pelayanan kesehatan terutama di Puskesmas di Kabupaten Sleman sudah cukup baik, namun perlu ditingkatkan lagi  secara terintegrasi. Selanjutnya dalam pelayanan kesehatan diharapkan membuat inovasi baru yang mudah dan cepat dan akurat dengan sentuhan Teknologi Informasi yang mudah diaksep oleh masyarakat. Dan yang jelas bisa membangun pelayanan publik yang lebih baik.

“Untuk maksud tersebut Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman akan membentuk SES ( Sleman Emergency Service) agar sistem informasi pelayanan kesehatan terintegrasi yang bisa diakses masyarakat,” kata dr Mafilindati Nuraini MKes, Kepala Dinkes Sleman disela-sela Worshop Sistem Penanggulangan Gawat Darurat (SPGDT) di Hotel Prima SR Sleman, Senin (28/11). Workshop berlangsung selama dua hari (28-29 November 2016).

Worshop diikuti oleh 52 peserta dari Rumah Sakit. Puskesmas Rawat Inap /Puskesmas Pra rawat Inap dan instansi terkait. Dijelaskan Linda panggilan Mafilindati SES akan dioptimalkan pada tahun 2021, dan mulai sekarang harus dipersiapkan.

Sedangkan alur pelayanan SES nantinya dibentuk Call Center yang ada di Dinas kesehatan Kabupaten Sleman, masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan langsung menghubungi call center, di call center tersebut petugas jaga dan kesehatan stanbay 24 jam, apabila ada panggilan petugas jaga akan menghubungi ambulan terdekat yang ada di Puskesmas dan sampai lokasi panggilan/kejadian maksimal 30 menit.

Menurut Linda, untuk tahap awal Dinkes Sleman bekerjasama dengan 4 rumah sakit (RSUD Sleman, RSUD Prambanan, RS PDHI dan RS PKU Gamping dan 6 Puskesmas rawat inap.

Bertindak sebagai nara sumber pada workshop tersebut  dr Mafilindati Nunaini Kepala Dinkes Sleman,  Kudiyana SKM MSc dari Dinkes DIY dengan materi  kebijakan dalam Implementasi SPGDT di DIY, dr Supriyantoro dengan materi Tahapan strategis  penerapan SPGDT di Kabupaten sleman.

Sedang pada hari kedua Selasa (29/11) dengan materi Praktek Manajemen Emergensi di Jofja, dr Bobi Prabowo   dengan materi  Penerapan SPGDT di Kabupaten Tulungagung dan dr Handoyo Pramusinto Sp.B dengan materi membangun SPGDT antar RS-Implementasi, kendala dan tantangannya.