Satpol PP Gencarkan Razia Pembuang Sampah Sembarangan‬

Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman terus menggencarkan razia terhadap para pelaku buang sampah sembarangan atau di luar tempat yang sudah ditentukan.‬

‪”Kami terus menggencarkan operasi bagi para pembuang sampah sembarangan, sampai saat ini sedikitnya sudah 20 orang yang tertangkap dan diajukan dalam sidang tindak pidana ringan (Tipiring) di Pengadilan Negeri Sleman,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman, Drs Joko Supriyanto, Minggu (13/3).‬

‪Menurut Joko, pihaknya serius dalam upaya penegakan hukum terkait Perturan Daerah (Perda) Kabupaten Sleman No 5 Tahun 2015 tentang pengolahan sampah rumah tangga dan sampah sejenis.‬

‪”Dalam penegakan aturan ini kami bertindak tegas, setiap orang yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan atau tidak pada tempatkan akan kami ajukan ke persidangan,” kata Joko.‬

Joko menambahkan, dari patroli ketertiban yang dilakukan petugas pengawas Satpol PP Sleman, sudah ada 10 orang yang disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman.‬

‪”Ke 10 orang tersebut ditangkap pada tanggal 4 hingga 11 Maret, sekarang kami ajukan lagi enam orang yang kemarin tertangkap tangan membuang sampah sembarangan,” katanya.‬

‪Joko mengatakan, ancaman hukuman dalam Perda No 5 Tahun 2015 tentang pengolahan sampah rumah tangga dan sampah sejenis yakni denda maksimal Rp atau hukuman kurungan maksimal selama tiga bulan.‬

‪”Namun besaran denda yang dijatuhkan kepada pelanggar tergantung dari keputusan pengadilan, kemarin rata-rata mereka dikenai denda Rp ,” katanya.‬

‪Menurut Joko  apa yang dilakukanya ini adalah untuk menjaga Kabupaten Sleman tetap menjadi bersih dan nyaman. Pihaknya bersama Pemkab Sleman juga telah beberapa kali melakukan sosialisasi ke masyarakat.‬

‪”Kami bersama-sama menjaga Sleman bersih, kami imbau agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan karena sudah ada sosialisasi,” katanya.




Bank Sampah Dikembangkan di Pasar Tradisional

Sleman – Dinas Pasar Sleman mulai mengembangkan bank sampah. Sejak dirintis pada 2015, program itu baru ada di Pasar Cebongan dan Sleman. Rencana tahun ini akan dikembangkan di Pasar Gamping dan Condongcatur. Dipilihnya lokasi pasar itu karena para pedagangnya dinilai telah siap, dan didasarkan penilaian Adipura.

“Kami targetkan setiap tahun ada dua pasar yang diberi fasilitas bank sampah. Disini para pedagang sendiri yang menjadi pengurus dibantu petugas kebersihan kami,” kata Kepala Dinas Pasar Sleman, Dra Tri Endah Yitnani MSi, Minggu  (13/3).

Dari data di dinas, saat ini ada 41 pasar tradisional. Total produksi sampah di semua pasar mencapai 20 ton per hari. Melihat tingginya volume limbah tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menilai perlu pengelolaan secara mandiri.

Melalui bank sampah ini, limbah yang ada di pasar tradisional dipilah tiap satu minggu sekali. Barang yang sekiranya masih dapat dimanfaatkan kemudian dijual ke pemulung, dan uangnya dikembalikan ke pedagang. Sementara limbah organik diolah menjadi kompos yang digunakan untuk memupuk tanaman di lingkungan sekitar dinas dan pasar. Namun sejauh ini mesin pencacah sampah baru tersedia di Pasar Cebongan.

“Alatnya memang masih terbatas, namun sebenarnya bermanfaat karena bisa mengurangi sampah hingga 30 persen,” ujarnya.

Dalam kurun satu tahun terakhir, para pedagang yang mengelola sampah di Pasar Cebongan sudah beberapa kali memproduksi pupuk. Per bulan, produksinya rata-rata berkisar 7-8 kilogram.

Menurut Endah, syarat pengadaan bank sampah cukup mudah. Persiapannya hanya lokasi untuk tempat pemilahan sampah, dan wadah untuk menempatkan residu. Pihaknya berharap bank sampah bisa mendapat antusiasme di kalangan pedagang sehingga bisa semakin berkembang.




Bupati Ikut Gerakan Jumat Bersih di Kalasan

Bupati Sleman Pantau JentikSleman – Gerakan Jumat bersih bersama Tim Pokjanal DBD mengadakan monitoring dan pemberantasan sarang Nyamuk ( PSN ) bersama  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI pada kegiatan Pos Yandu  di Sitisendari, Dusun Sambisari, Purwomartani, Kecamatan Kalasan Sleman, Jumat (11/3). 

Kegiatan ini disambut dan dibantu warga masyarakat serta Kader PSN Padukuhan Sambisari. Sri Purnomo memimpin langsung melihat  jamban/kamar mandi serta lingkungan rumah didampingi Kepala Dinas Kesehatan dr Mafilindati Nuraini MKes, Camat dan kader yang dibagi menjadi 8 Regu meliputi 4 RT. Dari hasil evaluasi pelaksanaan  kegiatan di Padukuhan Sambisari dari 151 rumah/titik,   terdapat 51 rumah / lingkungan  positif menjadi tempat berkembang biak jentik nyamuk.

Hal ini yang menjadi keprihatinan tersendiri bagi Kepala Dinas Kesehatan dr Mafilindati Nuraini. Dalam kesempatan tersebut Linda juga mengungkapkan bahwa angka bebas Jentik Baru mencapai 52% dibawah stadar AJB yang seharusnya 95 %. Kasus DBD di Kecamatan. Kalasan dalam dua bulan terakhir ditahun 2016 sudah mencapai 91 Kasus dengan 3 orang meninggal.

Linda berpesan bahwa perkembangan nyamuk aides agepty bertelur mencapai 100-300 relur dan menjadi nyamuk hanya dalam waktu 5-7 hari. Untuk fogging atau pengasapan tidak akan efektif  karena yang terkena hanya nyamuknya, namun jentik dan telur tidak akan mati bahkan tidak semua nyamuk mati akan tetapi membuat nyamuk  kebal terhadap pestisida. Linda  juga menambahkan bahwa yang menggingit dan menyebabkan terkena DBD adalah nyamuk betina jenis aides agepty.

Sementara Sri Purnomo pada evaluasi Pemberantasan sarang nyamuk menyampaikan sampai dengan awal bulan Maret tahun 2016 kasus di Kabupaten Sleman mencapai 173 kasus DBD. Dan pada tahun 2015 terdapat 520 kasus dan 9 orang meninggal.

Sri Purnomo berpesan kepada masyarakat agar dapat menjaga kebersihan jamban/kamar mandi dilakukan  2 kali dalam seminggu dengan menyikat, serta menjaga kebersihan lingkungan rumah masing-masing dari genangan air baik dari barang-barang bekas, sampah ataupun tempat yang dapat menampung air untuk tumbuh kembang jentik/nyamuk.

Sri Purnomo juga menghimbau agar Camat dan Kepala Desa di wilayah Kecamatan Kalasan untuk menggiatkan kembali gotong royong secara rutin. Karena kerja bakti atau gotong royong langkah prefentif dan lebih murah.

Sri Purnomo berharap kegiatan ini selanjutnya dilakukan secara berkesinambungan dan membentuk petugas di tingkat padukuhan atau tim kecil gerakan pemberantasan sarang nyamuk.




PNS di Sleman Terus Menyusut

Sleman – Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus menyusut seiring moratorium penerimaan PNS. Dalam lima tahun terakhir, jumlah PNS terus menyusut hingga seribu orang. 

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno mengatakan, hingga kini jumlah PNS di Sleman sebanyak orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 506 orang tahun ini akan menjalani masa pensiun. Sementara, pada 2015 jumlah PNS yang pensiun mencapai 129 orang.

“Sedang pada tahun 2017 mendatang, PNS Sleman yang akan pensiun berjumlah 574 orang,” kata Iswoyo di kantornya, Jumat (11/3).

Iswoyo menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan pegawai pihaknya setiap tahun tetap mengajukan penerimaan calon PNS (CPNS) ke Pemerintah Pusat. Hal itu dilakukan meskipun pemerintah menerapkan moratorium penerimaan CPNS sejak 2011 lalu. Pengajuan tersebut dilakukan agar pemerintah pusat mengetahui kebutuhan PNS di Sleman. Apalagi setiap tahun ratusan PNS menjalani masa pensiun.

“Setiap tahun kami anggarkan penerimaan CPNS. Ada tidak ada (penerimaan CPNS) tetap dianggarkan. Itu antisipasi jika pusat menerima usulan kami,” kata Iswoyo.

Tahun 2016  ini misalnya, BKD mengajukan orang CPNS ke pusat dari orang yang dibutuhkan. Pengajuan tersebut untuk mengisi 450 orang tenaga pendidik, 332 orang tenaga medis, dan 563 tenaga teknis yang kosong. Kekosongan tenaga tersebut sebagian besar akibat ditinggal pensiun. Meski telah diajukan, hingga kini belum ada keputusan resmi dari pusat.

“Apakah disetujui atau tidak, belum ada keputusan. Yang terpenting, kami sudah ajukan sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Iswoyo.

Diakui Iswoyo, kekurangan pegawai akibat pensiun tersebut sedikit banyak mengganggu proses pelayanan kepada masyarakat. Pasalnya, beban kerja yang seharusnya dikerjakan oleh tiga orang, di lapangan hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Hal itu berdampak pada lamanya proses pelayanan yang dilakukan.

Di kecamatan sendiri, pegawai sering pulang melebihi jam kerja karena mereka harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Secara persyaratan, Sleman memenuhi syarat untuk mengajukan CPNS lantaran Belanja Pegadai dalam APBD hanya 45,12 persen atau dibawah ketentuan pusat, 50 persen.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Sleman, Arif Haryono SH mengatakan saat ini ada sejumlah kepala sekolah yang merangkap jabatan lantaran kurangnya tenaga pendidik di Sleman. Dia menyontohkan, di SD, terdapat 16 sekolah yang tidak memiliki Kepala Sekolah (Kapsek) sendiri. SMP 7 sekolah dan SMA satu sekolah.

“Itu di SMA Prambanan, sudah 10 bulan tidak memiliki Kapsek sendiri,” kata Arif.

Untuk mengatasi kekosongan itu, Disdikpora Sleman telah menunjuk Kapsek terdekat dengan sekolah tersebut untuk merangkap menjadi Kapsek. Penunjukan tersebut melewati proses, tidak asal tunjuk.

“Kami melihat dari sisi kedekatan sekolah dan juga kemampuan Kepala sekolah tersebut untuk double tugas. Pengaruhnya ada, sang Kepala sekolah tidak bisa maksimal mengawasi satu sekolah karena harus bagi-bagi waktu. Ini jelas tidak optimal,” kata Arif.




Masyarakat Desa Wisata Harus Kreatif‬

Sleman – Dalam upaya mengembangkan desa wisata di Kabupaten Sleman,  masyarakat dituntut  harus memiliki kreativitas dan bisa menciptakan suasana nyaman bagi wisatawan.‬

‪”Memiliki kreativitas dan bisa menciptakan suasana nyaman bagi wisatawan merupakan dua hal ini sangat penting agar pengembangan desa wisata dapat berhasil dan berkelanjutan,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Sleman, Kamis (10/3).

Menurut Sri Purnomo, kreativitas masyarakat tersebut sangat diperlukan sebagai  upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sleman.‬ Apalagi saat ini di wilayah Sleman banyak dikembangkan wisata minat khusus berupa desa wisata dan arena “outbound” yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan baik dari lokal maupun luar daerah.‬

‪”Masyarakat harus dapat mengembangkan ide-ide kreatif. Ide-ide kreatif di bidang pariwisata harus terus digali dan diciptakan oleh masyarakat agar wisatawan tidak jenuh,” kata Sri Purnomo.‬

‪Sri Purnomo menambahkan pengembangan ide kreatif ini juga diperlukan untuk menarik wisatawan yang lebih banyak lagi.‬

‪”Selain itu masyarakat agar dapat menciptakan kesan yang bagus kepada wisatawan. Salah satu yang perlu mendapatkan perhatian adalah menata dan menjaga kebersihan lingkungannya. Lingkungan yang tertata, bersih atau tidak ada sampah yang dibuang sembarangan akan menciptakan kenyamanan wisatawan,” katanya.‬

‪Sri Purnomo menambahkan bila wisatawan nyaman maka mereka akan tertarik untuk berkunjung kembali dan mengajak wisatawan yang lain.‬

‪”Dengan demikian desa wisata yang dikembangkan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.‬

‪Sri Purnomo juga mengingatkan para investor yang ikut mengembangkan kegiatan pariwisata di Sleman agar melibatkan masyarakat setempat.‬

‪”Masyarakat setempat harus diberdayakan dengan adanya kegiatan pariwisata sehingga tidak hanya menjadi penonton saja. Pelibatan dalam kegiatan pengembangan pariwisata ini diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dan pembangunan di wilayah tersebut,” tuturnya.‬