DAK Pendidikan Sleman Dianggarkan Rp 1,57 Miliar

Sleman – Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan Kabupaten Sleman tahun 2016 ini dianggarkan sebesar Rp 1,57 miliar. Sebagian anggaran itu akan digunakan untuk perbaikan infrastruktur sekolah, dan sisanya diperuntukan pengadaan alat peraga.

“Tahun ini kita masih menerima DAK dari pusat. Hanya saja juknisnya belum turun jadi belum tahu berapa pembagian alokasi untuk kegiatan fisik dan pengadaan alat peraga,” kata Kepala Bidang Sarana Prasana Pendidikan Disdikpora Sleman Adi Marsanto, Selasa (9/2).

Untuk persiapan, pihaknya telah mengundang sejumlah pimpinan SD dan SMP guna pendataan kerusakan gedung sekolah. Hasil sementara, 30-50 persen sekolah disebutkan mengalami kerusakan tingkat sedang.

Kegiatan rehabilitasi gedung nantinya tidak hanya menyasar SD dan SMP, melainkan seluruh jenjang mulai TK hingga SMA. Program ini merupakan yang terakhir untuk tingkat SMA karena mulai tahun depan kewenangannya diambil alih oleh provinsi.

Sementara Kepala Disdikpora Sleman, Arif Haryono SH menambahkan, Pemkab Sleman juga mengalokasikan anggaran untuk pembiayaan gedung sekolah, dan pengadaan sarana pendidikan.

Tahun 2016 ini dianggarkan kurang lebih Rp 12 miliar. Penggunaannya antara lain untuk rehab sekolah, pembangunan ruang kelas baru dan perpustakaan, serta pengadaan mebelair maupun alat peraga pendidikan.

“Dana itu tidak hanya untuk kegiatan rehab. Memang masih banyak sekolah yang perlu diperbaiki secara fisik, tapi kebutuhan lainnya seperti alat peraga juga penting,” tegasnya.

Berdasar data, di Sleman terdapat 503 SD, 110 SMP, 40 SMA, dan 57 SMK negeri maupun swasta. Beberapa diantaranya mengalami kerusakan gedung namun masih didata. Ditambahkan Arif, perbaikan gedung sekolah tidak dapat dilakukan serentak melainkan secara bertahap.

Mengingat keterbatasan anggaran, perbaikan menggunakan dana APBD dapat dilakukan minimal untuk kerusakan sedang atau 60 persen. Sedangkan kerusakan ringan diambilkan dari dana bantuan operasional sekolah.




‪Penjual Miras Oplosan Orang Lama

Sleman – Penjual dan peracik minuman keras (miras) oplosan maut yang mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia dan dirawat dirumah sakit baik yang di Caturtunggal Depok Sleman dan di Margoluwih Seyegan Sleman ternyata orang lama dan sudah pernah terjaring operasi tipiring yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sleman tahun lalu.

“Kami tidak merasa kecolongan dalam kasus ini sebab beberapa bulan lalu Satpol PP Sleman telah melakukan razia kepada penjual miras tersebut. Namun yang bersangkutan hanya kena denda tipiring sehingga tidak memiliki efek jera karena bisa membayar denda sesuai keputusan Pengadilan dalam sidang tipiring,” kata Kepala Seksi Penegakan Perda Bidang Penegakan Peraturan Perundangan Satpol PP Kabupaten Sleman, Rusdi Rais ketika dihubungi Bernas, Selasa (9/2).

Menurut Rusdi, Satpol PP Sleman sebenarnya sudah menggencarkan operasi miras. Namun selama ini kepada pelaku hanya didenda dan kemudian dilakukan pembinaan sehingga tidak ada efek jera karena mereka mampu membayar denda. Rusdi berharap ke depan ada aturan, penjual apa lagi yang membuat tidak hanya didenda tapi harus dipenjara biar ada efek jera.

‪”Ini bisa membuat efek jera, karena sering yang terjaring razia merupakan orang yang sama, yang pernah dijerat dengan tipiring,” katanya.‬

Rusdi lanjutnya, juga merasa prihatin dengan kejadian ini karena puluhan orang meninggal sia-sia hanya karena menenggak minuman oplosan. Untuk selanjutnya Satpol PP Sleman akan terus menggencarkan operasi miras di wilayah Sleman.

‪Seperti diberitakan Satreskrim Polres Sleman telah menangkap Sasongko (45) warga Dusun Ambrukmo, Caturtunggal, Depok, Sleman dan istrinya Sori Badriyah (42) yang merupakan peracik atau peramu minuman keras oplosan, Jumat (5/2).‬

‪Selain itu Polsek Seyegan Sleman juga mengamankan pasangan suami istri Murtini (35) dan Priyanto (35) warga Margoluwih, Seyegan karena minuman keras yang dijual menewaskan Sarimin (35) dan Anang, (35). Selain menahan Sasongko, Polres Sleman juga menetapkan istrinya, Sori Badriyah sebagai tersangka yang kini ditahan di ruang tahanan wanita Polsek Sleman.‬

‪Badriyah berperan ikut meracik miras dan menjual minuman keras seperti Sasongko. Secara umum, kedua tersangka meracik minuman keras dengan bahan etanol, air mineral, sari gula dan perasa buah.




Dua Hari Longsor di Prambanan Mengancam 2 Rumah Warga

Petugas Tinjau Tanah LongsorSleman – Selama dua hari yaitu hari Jumat dan Sabtu (5-6/2) di Dusun Jali Desa Gayamharjo Kecamatan Prambanan Sleman telah terjadi longsor. Longsor hari Jumat (5/2) terjadi pukul WIB menimpa rumah warga Salimin yang terdiri dari 2 KK dengan 8 jiwa. Akibat longsor tersebut keluarga Salimin sempat diungsikan ke keluarganya.

Sedang longsong hari Sabtu (6/2) terjadi pukul WIB juga di Dusun Jali Gayamharjo Prambanan mengancam rumah Purwono dengan jumlah 1 KK terdiri dari 4 jiwa.
Camat Prambanan, Drs Abu Bakar ketika dikonfirmasi, Senin (8/9) membenarkan kejadian tersebut.

“Atas kejadian ini semuanya sudah dikondisikan bersama oleh aparat kecamatan, Tim SAR dan masyarakat setempat dengan melakukan gotong royong,” kata Abu Bakar.

Dikatakan Abu Bakar dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa. Selanjutnya masyarakat diminta waspada bila terjadi hujan deras terus menerus. Menurut Abu Bakar, di wilayah Kecamatan Prambanan khususnya bagian atas memang ada beberapa desa yang tercatat cukup rawan terhadap tanah longsor.

“Ada 6 desa di Prambanan yang masuk rawan longsor,” tutur Abu Bakar.

Keenam desa rawan longsor tersebut tersebar di Desa Gayamharjo, Wukirharjo, Madurejo, Sambirejo, Bokoharjo, dan Sumberharjo. Untuk mengantisipasinya, dari Pemerintah Kecamatan sudah melakukan kegiatan sosialisasi, himbauan cegah deteksi dini, persiapan kantong plastik, senso, juga menyiapkan desa tanggap bencana dan lainnya.




Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan Tampilkan Potensi UMKM

Pj Bupati Tinjau Potensi UKM SlemanSleman – Sunday Morning Minggu Pahingan yang diselenggaraakan Pemerintah Kecamatan Sleman dan KIM Sleman untuk yang pertama kalinya secara resmi telah dibuka  Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi, Minggu (7 /2) ditandai dengan pelepasan balon. Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan  digelar di Parkir utara Lapangan Denggung Sleman.

Gatot menyampaikan bahwa kegiatan Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan yang di motori oleh Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kecamatan Sleman, serta jajaran Kecamatan Sleman ini, dapat menjadi sarana ekspose potensi baik berupa produk UMKM serta potensi budaya yang ada di Kecamatan Sleman.

Untuk itu Gatot berharap terselenggaranya kegiatan ini dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi para pelaku usaha dan UMKM untuk dapat mengembangkan usaha, menjadi media untuk mendekatkan produsen dan konsumen, sehingga kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana publikasi tapi juga menjadi media selling bagi para pelaku usaha dan UMKM.

Disampaikan bahwa Kabupaten Sleman memiliki keberagaman potensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata, baik dari potensi pariwisata, potensi budaya, potensi produk-produk UKM, pertanian dan masih banyak lagi. Untuk itu Gatot juga berharap agar  memberdayakan segala potensi yang ada di Kabupaten Sleman untuk dapat menjadi modal dalam peningkatan kesejahteraan di Kabupaten Sleman.

Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan menjadi salah satu upaya dalam mensupport potensi yang ada di Kabu­paten Sleman khususnya di Kecamatan Sleman, untuk dapat lebih berkembang khususnya dalam bidang UMKM sekaligus menjadi sarana publikasi dan informasi atas kekayaan budaya yang ada di Kecamatan Sleman bahkan di Kabu­paten Sleman.

“Kepada para pelaku UKM yang ikut memeriahkan kegiatan ini diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin,” kata Gatot.

Melalui kegiatan ini, para pelaku UKM dapat saling bertukar informasi, dapat belajar, dan yang lebih penting, dapat mengembangkan jejaring usaha. Hal ini, sangat dibutuhkan oleh para pelaku usaha, jika ingin terus eksis dalam kancah Masyarakar Ekonomi ASEAN. Sedangkan Camat Sleman Drs Iriansyah menyampaikan bahwa potensi Kecamatan Sleman yang cukup banyak yaitu terdapat 700 indsutri kecil dan 81 kelompok kesenian.

Lebih lanjut disampaikan bahwa  Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan tersebut akan berlangsung selama 8 kali pada tahun 2016 tersebut. Diharapkan  dengan Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan tersebut  bisa memperkenalkan produk usaha kecil dan kesenian yang berada di Kecamatan Sleman, juga menyiapkan UMKM/industri kecil untuk ikut dalam persaingan pasar bebas MEA.

Sementara itu Ketua panitia Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan, Agus Nur Widaydi melaporkan bahwa tujuan kegiatan tersebut  untuk mempromosikan baik hasil produk dari pengusaha kecil (UMKM) maupun kelompok seni yang ada di Kecamatan Sleman. Sedang peserta Sunday Morning Sembada Minggu Pahingan tersebut  para usaha mikro kecil menengah yang berada di wilayah kecamatan Sleman dan kelompok kesenian yang berada di wilayah Kecamatan Sleman.

Lebih lanjut dilaporkan bahwa dalam kegiatan tersebut juga diadakan lomba mewarnai dan lomba lukis tingkat TK dan SD. Dalam lomba lukis klas I-3 dengan tema Indahnya Sleman, dan untuk klas IV-VI dengan tema Pasar Tradisional. Para juara akan mendapatkan Piala dan uang pembinaan.




Sleman Kaji Ulang Bantuan Bencana‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman berencana mengkaji ulang besaran bantuan sosial bagi korban bencana karena dinilai sudah tidak sesuai dengan kondisi keekonomian saat ini. 

Gagasan untuk mengkaji ulang besaran dana bantuan sosial korban bencana alam di Sleman tersebut diungkapkan kepala BPBD Kabupaten Sleman, Julisetiono Dwi Wasito SmHk MM, Kamis (4/2).‬

‪Menurut Julisetiono, besaran bantuan sosial bencana yang saat ini berjumlah Rp 2 juta untuk kategori rumah rusak berat dan Rp 1  juta untuk kerusakan sedang serta Rp 500 ribu untuk rusak ringan.

“Bantuan sosial tersebut besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi keekonomian sekarang, sehingga perlu dikaji ulang untuk dilakukan penambahan,” kata Julisetiono.‬

‪Saat ini menurut Julisetiono, akan lakukan kajian dari bantuan dana tersebut karena ini sudah cukup lama, apakah masih visible atau tidak. Sedangkan untuk kajiannya dilakukan segera bersama tim teknis dan jika sudah selesai nanti segera diajukan ke Bupati Sleman untuk dituangkan dalam Peraturan Bupati.‬

‪Penambahan besaran bantuan sosial bencana tersebut, dimaksudkan agar dapat dimanfaatkan lebih maksimal oleh masyarakat yang tertimpa bencana sperti angin kencang, banjir air permukaan serta korban tanah longsor.‬

‪Dana bantuan sosial tidak direncanakan bagi korban bencana alam yang dianggarkan dari APBD Sleman baru sekitar Rp 1 miliar, sehingga perlu ditambah, terlebih kejadian bencana angin kencang selama dua tahun terakhir juga cenderung meningkat.