Disbudpar Sleman Berdayakan Desa Wisata‬ Untuk Naikkan PAD

Sleman – Untuk menggenjot pendapatan daerah di sektor pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman berencana akan meningkatkan peranan desa wisata di Kabupaten Sleman.‬ ‪Pasalnya, desa wisata memiliki potensi yang tidak kalah menariknya dengan destinasi wisata lainnya.‬

‪Sekretaris Disbudpar Sleman, Endah Sri Widiastuti mengatakan saat ini setidaknya terdapat 30 desa wisata yang tersebar di Kabupaten Sleman.‬ ‪Dari jumlah tersebut, terdapat tujuh desa wisata mandiri, yaitu Pulesari, Pentingsari, Grogol, Gamplong, Tanjung, Brayut, dan Rumah Domes.‬

Menurut Endah, desa wisata juga memiliki potensi yang menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. ‪Selain itu, guna memaksimalkan keberadaannya, tahun 2016 ini Disbudpar Sleman akan merancang Peraturan Bupati (Perbup) mengenai pembinaan desa wisata.‬

Muatan Perbup tersebut tidak bersifat instruksi atas ke bawah dari Pemkab Sleman ke masyarakat, melainkan mengenai aspek dasar pembinaan dan komunikasi bagi desa wisata‬.

‪”Harapannya Perbup ini mampu mempertahankan dan meningkatkan eksistensi desa wisata di tengah-tengah destinasi wisata lainnya,” kata Endah.




Badan Amil Zakat Sleman Memprogramkan Bedah 100 Rumah di 2016‬

Sleman – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman di tahun 2016 ini akan melakukan program bedah 100 rumah, dalam rangka membantu keluarga miskin.‬ ‪Sekretaris Baznas Sleman, Drs Heri Sutopo mengatakan,  program bedah rumah bagi kelurga miskin tersebut, menurut rencana dilaksanakan bersamaan menyambut peringatan Hari Jadi 100 tahun Kabupaten Sleman bulan Mei mendatang‬.

‪”Dari kegiatan Baznas tahun 2015, berjalan relatif baik dan lancar. Jumlah pengumpulan zakat terutama panutan meningkat dari Rp 120 juta menjadi Rp 230 juta, sedangkan sisa dana Baznas hingga kwartal ketiga tahun ini, masih mencapai Rp 1 miliar, dan untuk dana yang disalurkan secara total mencapai Rp 1,9 miliar,” kata Heri, kemarin.

‪Selain itu, terkait dengan evaluasi Baznas, penjabat Sekda Sleman Iswoyo Hadiwarno menjelaskan, bahwa Baznas kedepan harus mampu menyesuaikan dengan dinamika masyarakat, termasuk dalam hal meningkatkan kesadaran membayar zakat di Sleman yang potensinya sangat besar, khusus kabupaten Sleman yang saat ini masih memiliki hampir 12 % penduduk miskin.‬

‪Menurutnya, penyaluran dana Baznas harus benar-benar tepat sasaran, sehingga dapat membantu warga kurang mampu untuk membangun kehidupan yang lebih baik.




2017, Ada 10 Isu Strategis Ranwal RKPD Sleman

Sleman – Kepala Bappeda Sleman, drg Intriati Yudatiningsih MKes mengatakan dalam Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) Kabupaten Sleman 2017 beberapa waktu lalu muncul isu strategis draft perencanaan awal (ranwal) RKPD (Rencana Kerja Pembangunan Daerah) 2017 di Kabupaten Sleman ada 10.

Kesepuluh isu tersebut yakni persentasi penduduk miskin masih tinggi, kontribusi sektor ekonomi lokal masih rendah, indeks kepuasan mayarakat dan indeks reformasi birokrasi masih perlu ditingkatkan, ketentraman, ketertiban dan perlindungan masyarakat yang masih perlu ditingkatkan.

Dan, masih adanya kematian bayi dan ibu melahirkan, kwalitas pendidikan yang masih perlu ditingkatkan, penurunan kualitas lingkungan hidup, kualitas sarana dan prasarana publik masih perlu ditingkatkan, masih adanya konflik dan permasalahan sosial dan apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal belum optimal.

“Dalam Musrenbang 2017 juga disampaikan kepada Kepala SKPD serta Camat yaitu agenda kerja penyusunan RKPD, renja, KUA (Kebijakan Umum Anggaran) dan PPAS (Plafon Prioritas Anggaran Sementara) tahun 2017 yang  dimulai 25 Januari hingga 3 Juni 2016,” kata Intriati, Senin (1/2).

Sementara untuk penetapan renja oleh SKPD tanggal 14 Juni 2015 selanjutnya diserahkan ke Bappeda Sleman, untuk dilakukan pembahan dan pencermatan. Sementara proyeksi tahun 2017 untuk pendapatan mencapai Rp 2,3 trilyun dengan perincian PAD Rp 653,37 miliar, dana perimbangan Rp 1,24 trilyun dan lain-lain pendapatan yang sah Rp 483,33 miliar.

Sedangkan belanja mencapai Rp 2,6 trilyun terdiri dari belanja langsung Rp 1,05 trilyun, belanja tidak langsung Rp 1,57 trilyun  dan untuk pembiayaan terdiri dari penerimaan pembiayaan Rp 251,57 miliar dan pengeluaran pembiayaan Rp 13 miliar.

Sementara Pj Sekda Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno menyampaikan untuk lebih memfokuskan perencanaan pembangunan tahun 2017, Pemkab Sleman memiliki tema “Memberdayakan potensi ekonomi lokal menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Sleman yang berbudaya”.

Pemkab Sleman menetapkan tema pembangunan tersebut untuk mendukung tema nasional dan indikasi tema Daerah Istimewa Yogyakarta yakni “Mendayagunakan dan mengoptimalkan (SDM unggul, kesehatan terjamin, pengangguran turun, investasi tumbuh, ekonomi tumbuh dan merata, infrastruktur mantap, masyarakat lebih berbudaya dan DIY lebih berkarakter)”.

Pemkab Sleman telah menentukan sembilan prioritas pembangunan yakni: meningkatkan ketentraman dan ketertiban, meningkatkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif serta kualitas pelayanan publik, pemerataan pembangunan sampai ke tingkat desa, memperkuat penegakan hukum, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan produk dan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

Serta, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi lokal, meningkatkan kualitas pendidikan karakter serta meningkatkan kerukunan masyarakat dengan mengangkat kebudayaan lokal dan kesetaraan gender.

“Dengan berpedoman pada proritas pembangunan tersebut, diharapkan seluruh program kerja dari setiap instansi dilingkungan Pemkab Sleman senantiasa berorientasi pada  peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Iswoyo.




20 Orang Relawan Tagana Siapkan Dapur Umum di Youth Center

Tagana DIYPersiapkan MakanSleman – Sebanyak 20 orang relawan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) DIY sejak kedatangan eks anggota Gafatar di Youth Center Sleman telah siap di dapur umum guna menyediakan menu makanan untuk para pengungsi di Youth Center tersebut.

“Sudah beberapa hari kita siap di sini (Youth Center-red) untuk menyiapkan menu makanan bagi para pengungsi,” kata Apriatun, salah seorang anggota Tagana DIY yang ikut terlibat kerja di dapur umum.

Menurut Apriatun, dalam sehari anggota Tagana ini menyiapan menu makanan lebih dari 400 porsi.

“Setiap hari kita masak tiga macam menu termasuk sayuran dan lauknya untuk makan tiga kali pagi, siang dan sore,” kata Apriatun, Jumat (29/1).

Menu masakan selain berganti-ganti juga menyediakan masakan untuk anak-anak yang tidak makan pedas. Dalam memasak ditambahkan Apriatun, nilai gizi untuk pengungsi juga diperhatikan. Salah satunya selalu menjaga kesegaran sayuran.

“Setiap hari kita juga belanja sehingga bahan masakan selalu baru dan fres,” tutur Apriatun.

Ketika ditanya besaran anggaran belanja Apriatun mengatakan tidak tahu sebab anggaran untuk belanja dari Dinas Sosial DIY, sedang dari Tagana hanya menyediakan tenaganya. Tagana sendiri akan siap di dapur umum Youth Center sampai pengungsi dipulangkan ke daerahnya masing-masing.

Namun kalau kemudian setelah dipulangkan ada yang datang lagi, Tagana siap melanjutkan tugasnya di dapur umum.




236 Eks Anggota Gafatar DIY Mulai Ditampung di Youth Center Sleman

Sleman – Sebanyak 236 eks anggota Gafatar dari DIY tiba di Youth Center Sleman, Jumat (29/1) sore sekitar pukul WIB dengan pengawalan ketat petugas setelah dijemput di tempat penampungan Donohudan Boyolali. Rombongan eks Gafatar yang berasal dari 5 Kabupaten Kota dijemput dengan  menggunakan 5 bus. Sesampainya di Youth Center langsung menempati barak penampungan yang sudah dibagi masing-masing Kabupaten/Kota.

Dari pantauan Bernas, setelah turun bus masing-masing dikawal ketat petugas dan langsung masuk barak. Didalam barak para pengungsi eks Gafatar dipersilahkan istirahat setelah menata barang-barang bawaannya.

Kepala Dinas Sosial DIY, Drs Untung Sukaryadi MM menyampaikan, sebelum diantar ke Youth Center DIY mereka dikumpulkan terlebih dulu di Asrama Haji Donohudan, Surakarta. Di asrama haji mereka didata untuk menyingkronisasikan tempat kepulangan mereka. Untung juga menyampaikan, awalnya jumlah eks Gafatar yang diketahui warga DIY berjumlah 338 orang.

“Lalu, setelah validasi tadi pagi jumlahnya menjadi 257 orang. Namun setelah diidentifikasi lebih lanjut jumlahnya jadi semakin berkurang, yakni hanya 236 orang. Ya kan memang datanya berubah-ubah. Setelah kita identifikasi lagi ternyata ada yang asalnya dari Palembang, Semarang. Masa orang bukan dari Jogja mau kita bawa pulang ke Jogja,” kata Untung saat ditemui di komplek wisma Youth Center Sleman.

Adapun para eks Gafatar yang dipulangkan ke DIY terdiri dari orang dewasa, anak-anak usia sekolah, hingga balita. Sejauh ini mereka masih dalam kondisi sehat. Untung menjelaskan, setelah ditampung di Youth Centre mereka akan didata kembali dan diberi pembinaan deradikalisasi selama tiga hari. Bagi anak-anak akan digunakan pendekatan psikologis trauma healing.

Sementara orang dewasa akan diberi pembinaan sosial. Pembinaan sosial sendiri akan dilakukan dengan melibatkan berbagai lini. Termasuk Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan perguruan tinggi untuk tenaga psikolog.

“Kami libatkan berbagai pihak, karena ini merupakan bencana sosial,” ujar Untung.

Rencananya pada Selasa (2/2) eks Gafatar akan dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Hal ini dilakukan untuk mewaspadai kedatangan eks Gafatar gelombang dua pada Selasa siang. Terkait dana pembinaan sendiri, Untung mengemukakan anggarannya berasal dari APBN dan APBD. Anggaran yang digunakan merupakan dana bencana tidak terduga. Adapun jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Sebab menurut Untung, besaran dana menangani bencana sosial ini tidak dapat diprediksi.

“Kita tidak bisa memprediksi. Kan sudah dengar ya ada eks Gafatar baru yang sampai di Tanjung Emas. Siapa tahu ada warga DIY juga di sana,” katanya.

Selain itu, Untung mengemukakan, Pemprov DIY siap untuk menampung seluruh eks Gafatar. Termasuk jika ada penambahan jumlah eks Gafatar gelombang kedua. Namun penanganan para eks Gafatar ini akan dilakukan secara lintas sektor. Bukan hanya tanggungjawab Dinas Sosial saja.

Ditambahkan Untung, selama tinggal di Youth Center eks Gafatar dilakukan pengelompokan. Dan pengelompokan tersebut untuk mempermudah penanganan selama di penampungan sementara.‬

‪”Datang langsung di-reidentifikasi dan dikelompokan sesuai Kabupaten/Kota masing-masing. Barak yang digunakan juga dibedakan,” kata Untung.
Salah seorang eks Gafatar asal Turi Sleman, Misran (52) mengaku bingung pulang lagi ke Sleman karena rumahnya di Turi sudah dijual.***