Kesbang Sleman Gelar FGD Untuk Ciptakan Kamtibmas di Sleman

Sleman – Kepala Kantor Kesatuan Bangsa (Kesbang) Sleman mengadakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) di aula kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Selasa (26/1).

Penyelenggaraan FGD ini ditujukan untuk melakukan koordinasi antara aparat, tokoh masyarakat, dan masyarakat Kabupaten Sleman dalam antisipasi teror serta menciptakan kondisi pasca evakuasi Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Dalam FGD ini, turut mengundang aparat dan instansi terkait, Kominda, mitra kerja masyarakat, Muspika dan tokoh masyarakat, di Kabupaten Sleman.

Kepala Kesbang Sleman, Drs Ardani menyampaikan terkait kasus Gafatar yang terjadi baru-baru ini disebutkan bahwa korban yang sudah dipulangkan dari Kalimantan asal DIY ada sebanyak 338 orang. Korban Gafatar ini tidak langsung dipulangkan kepada keluarga akan tetapi mendapatkan pembinaan selama 3 hari dan selanjutnya mendapatkan pembinaan kembali dari Youth Center selama 3 hari sebelum dikembalikan lagi kepada keluarga.

Dari kasus Gafatar yang terjadi di Sleman ini, Ardani berinisiatif mengadakan Forum Group Discussion dalam upaya menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat di Sleman. Acara FGD dibuka oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Jasim Sumirat SH MSi mewakili Penjabat Bupati Sleman.

Jasim Sumirat berharap agar FGD ini mampu menjadi sarana dalam mendorong dan memotivasi seluruh jajaran dalam merumuskan formulasi yang tepat dalam upaya menjaga stabilitas ketertiban dan keamanan di Kabupaten Sleman.

Jazim juga berharap agar seluruh jajaran pemerintah, aparat, swasta, dan masyarakat bisa bersinergi, meningkatkan koordinasi, memperkuat langkah dalam upaya menyusun dan menjalankan langkah-langkah strategis dalam upaya menjawab isu yang berkembang sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing.

Dalam FGD ini turut dibahas mengenai Gafatar, khususnya penanggulangan kasus Gafatar di Kabupaten Sleman yang juga terkena dampak dari Gafatar tersebut. Disampaikan juga beberapa upaya-upaya yang telah dilakukan Polres Sleman dalam antisipasi gangguan kamtibmas pasca terjadinya teror dan orang hilang yang (diakibatkan oleh Gafatar) tersebut.

Beberapa himbauan juga disampaikan khususnya kepada warga dan tokoh masyarakat Sleman agar tidak terprovokasi gerakan-gerakan radikal yang saat ini sedang berkembang di Indonesia demi keamanan dan kenyamanan di wilayah Kabupaten Sleman.




Angin Kencang di Sleman Rusakkan 25 Rumah dan 6 Kandang

Sleman – Cuaca buruk berupa hujan deras disertai  angin kencang yang terjadi di Kabupaten Sleman, Senin (25/1) siang hingga petang, mengakibatkan kerusakan di sejumlah wilayah kecamatan.‬ Selain menumbangkan pohon-pohon juga merusakkan 25 rumah dan 6 kandang. ‪Sedikitnya ada 25 unit rumah dan 6 kandang yang rusak tertimpa pohon roboh. Dari jumlah tersebut tercatat 17 rusak ringan, 6 rusak sedang dan 1 rusak berat. Sementara pohon yang roboh mencapai puluhan pohon.

‪Kejadian rumah tertimpa pohon roboh paling banyak terjadi di Kecamatan Turi, sebanyak 15 unit rumah rusak dan 5 kandang rusak. Sedang di wilayah perbukitan Prambanan sedikitnya 4 rumah rusak tertimpa pohon tumbang, Pakem 3 rumah dan 1 kandang rusak.‪Selain wilayah lereng Gunung Merapi, angin kencang juga menyapu wilayah lain seperti Tempel dilaporkan dua rumah tertimpa pohon, demikian pula dua rumah di Kecamatan Sleman.‬

Kepala ‪Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito membenarkan kejadian tersebut bahkan hingga Selasa (26/1) siang BPBD masih melakukan penanganan dampak bencana angin kencang tersebut.

Pada Senin (25/1) siang sekitar pukul WIB telah terjadi hujan disertai angin kencang hingga pukul WIB yang mengakibatkan pohon tumbang  di 21 titik dan mengakibatkan beberapa rumah rusak ringan & rusak sedang. Disamping itu juga terjadi hujan es di Tunggularum Wonokerto Turi.

Ketika ditanya jumlah kerugian, Julisetiono menyatakan kerugian masih dihitung dan didata

“Pendataan belum final mungkin masih bertambah sehingga jumlah kerugian belum tahu,” kata Julisetiono.

Sedang untuk bantuan logistik berupa terpal dan logistik pangan sudah disiapkan. Menghadapi cuaca ekstrim saat ini Julisetiono menghimbau kepada masyarakat untuk

Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

“Perhatikan pohon-pohon  yang beresiko tumbang lebih baik segera  untuk dipangkas atau dikurangi ketinggiannya. Guna menantisipasi tumbangnya pohon,” kata Julisetiono.

Selain itu Julisetiono juga menambahkan masyarakat juga diminta membersihkan selokan dan saluran air untuk mengantisipasi banjir. Sementara Camat Prambanan, Drs Abu Bakar mengatakan ada 4 rumah rusak tertimpa pohon tumbang di Prambanan. Tidak ada korban jiwa, namun 2 orang mengalami lecet-lecet dan kerugian ditaksir sekitar Rp 25 juta.




Sleman Kembali Peroleh Penghargaan Sakip

sakip1-300x199Sleman – Kabupaten Sleman kembali meraih penghargaan Sakip dengan predikat BB dengan nilai 76,90 diantara Kabupaten/Kota se Sumatera dan DIY. Penghargaan tersebut langsung diserahkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara  Reformasi dan Birokrasi Yudi Krisnady di Gedung JEC Jogja, Senin (25/1). Demikian disampaikan Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti usai mengikuti penyerahan penghargaan tersebut, Senin (25/1).

Menurut Sri winarti, diantara Kabupaten Sleman terdapat 150-an Kabupaten /Kota yang ada di pulau Sumatera dan DIY. Sedang yang menerima penghargaan  Sakip dengan predikat BB tersebut hanya  Kota Tanjung Pinang dengan nilai 75,89, Kabupaten Bantul dengan nilai 70,26, Kota Yogyakarta dengan nilai 70,12 dan Kabupaten Karimun dengan nilai 70,06.

“Sedang diluar lima Kabupaten/Kota tersebut mendapatkan predikat CC maupun DD,” kata Sri Winarti.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Gubernur DIY Sri Sultan HB X yang mendampingi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara  Reformasi daan Birokrasi, para bupati/walikota se Sumatera dan DIY, juga para kepala Inspektorat dan lainnya.

Pada kesempatan tersebut lanjut Sri Winarti, Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi memaparkan bahwa ketentuan  pelaksaanaan akuntabilitas kinerja meliputi perencanaaan kinerja menjadi dasar dalam proses  perencanaan anggaran, pengendalian dan monitoring dilakukan secara periodik yaitu, Rakor Dalbang setiap 3 bulan sekali, Rakorpim setiap bulan dan forum akselerasi kinerja Pemerintah Daerah seminggu sekali.

Disampimg itu pemanfaatan sistem informasi terintegrasi  ( perencanaan, anggaran, pelaksanaan evaluasi kinerja ). Sementara Menpan Yudi Krisnady menyampaikan bahwa kompetisi adalah hal yang mutlak untuk mencapai kinerja yang baik. Dengan tata kelola pemerintahan yang baik akan menjadikan pemerintahan yang baik, untuk menuju pemerintahan yang good Governance.

Kedepan untuk mencapai pemerintahan yang baik diperlukan SDM yang memiliki program yang terukur, mempunyai perencanaan kerja. Yang jelas setiap instansi pemerintah  mempunyai kinerja yang terukur dan memiliki laporan kinerja. Yang juga penting menurut Yudi Krisnady bahwa penyelenggaraan kinerja bukan terukur hanya penyerapan anggaran, akan tetapi sejauh mana manfaat tersebut dapat dirasakan.

Menyangkut  BPK dalam melakukan pemeriksaan dengan predikat  yang baik, kedepan tentunya paradigma tersebut harus diubah, dalam melakukan audit BPKP hendaknya bukan pada akhir tahun akan tetapi pada pertengahan pelaksanaan kegiatan, tentu fungsi preventif dan pembinaan perlu dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan.




Sleman Optimis Potensi Unggulan Siap Hadapi MEA

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman optimis produk-produk unggulan dari Sleman mampu bersaing dan siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai berjalan.

“Kami optimis produk-produk dari Sleman mampu bersaing dan siap menghadapi MEA. Selama ini kami telah memberikan bekal kepada para pelaku usaha guna menghadapi MEA ini,” kata Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi, Minggu (24/1).

Menurut Gatot sebanyak 12,9 persen mata pencaharian Kabupaten Sleman yaitu di sektor pertanian, sedangkan sebesar 23,19 persen lainnya didukung oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran.

Diungkapkan pula bahwa industri-industri yang hadir di Kabupaten Sleman juga turut  menyumbangkan kemajuan ekonomi di Kabupaten Sleman.

“Karena itu, pemerintah berusaha menyokong industri-industri kecil dan menengah di Kabupaten Sleman agar siap menghadapi MEA di tahun ini,” katanya.

Sementara Ketua Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Sleman, Maryono mengatakan  potensi Kabupaten Sleman yaitu salak. Yang unik dari UKM ini adalah biji salak pondoh asli Kabupaten Sleman pun turut dimanfaatkan sebagai bahan baku kopi untuk produk kopi salak.

“Ini adalah hal pertama yang ada di Sleman. Dan yang membanggakan lagi, produk salak pondoh dari Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Sleman ini sudah di ekspor di beberapa negara. Ini membuktikan bahwa Kabupaten Sleman sudah siap dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tengah berlangsung,” kata Maryono.

Dikatakan Maryono, Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Sleman memiliki 34 kelompok. Produk salaknya ada salak gading dan madu dan ini merupakan produk asli Sleman. Asosiasi sendiri berdiri sejak tahun 2008 seiring dengan menurunnya harga salak di dalam negeri.

Kemudian pada tahun 2015 Asosiasi salak pondoh ini bisa meningkatkan harga salak pondoh. Yang semula salak pondoh hanya Rp 3 ribu per kg jika musim panen bisa mencapai harga Rp 15 ribu per kg jika musim langka.

Dari 140 petani salak ini mampu menghasilkan 4 ribu ton dengan 200 hektar lahan. Hasil produksi 90 persen masih untuk pasaran lokal. Dan ekspor sudah dilakukan ke Singapura dan Cina. Untuk tahun 2016 ini tengah membidik pasar Eropa seperti ke Jerman, Perancis.

“Untuk memenuhi permintaan ekspor ini Asosiasi sudah memiliki sertifikasi dari IMO dan Control Union. Harapan kami dengan pasaran ekspor kwalitasnya bisa ditingkatkan,” kata Maryono.

Untuk pasaran Eropa lanjutnya  yg diminta salak kering yang dioven dan Asosiasi sudah mencoba mengadakan alatnya. Harapannya ekspor meningkat 13 ton per minggu.




Sleman Mulai Distribusikan Beras Miskin Untuk 60.485 RTSPM

Sleman – Mulai bulan Januari 2016 ini, Kabupaten Sleman menyalurkan beras miskin (raskin) bagi Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) di 17 kecamatan.‬

Kabupaten Sleman sendiri menjapat jatah 10,88 ribu ton beras tiap bulannya. ‪Kepala Seksi Bantuan Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Sleman, Budi Winarno menjelaskan proses distribusi yang berlangsung di masing-masing desa, ditargetkan mulai dilaksanakan pada tanggal 25 Januari hingga 10 Februari 2016.‬

‪Setiap penerima manfaat mendapat jatah dari Bulog sebanyak 15 kilogram, dengan harga yang ditetapkan sebesar per kilogram.‬ ‪Sebelum dilakukan distribusi, pihaknya telah melakukan sosialisasi pada tanggal 21 Januari, yang melibatkan tim koordinasi raskin tingkat Kabupaten, kemudian Pemerintah Desa serta Pemerintah Kecamatan.‬

‪”Ini hanya tindak lanjut dari sosialisasi di kantor Pemda DIY sebelumnya, sehingga akan kami lakukan di lingkup kabupaten yang melibatkan pihak-pihak terkait,” Budi di Sleman, Jumat (22/1).

‪Budi menambahkan, untuk memastikan kondisi beras yang dibagikan layak konsumsi, pihaknya akan melakukan cek kualitas secara langsung di gudang Bulog.‬

‪”Kami biasanya seharian melakukan cek kondisi beras di gudang Bulog, ya dilihat aromanya, apakah ada yang patah atau tidak, hanya diambil sampel dari bawah, atas, serta di bagian samping karena tidak mungkin lihat seluruhnya,” katanya.‬

‪Selain itu penyaluran raskin tahun ini kata Budi, akan diupayakan tepat waktu sesuai jadwal, hal tersebut berdasarkan surat edaran dari Pemda DIY yang wajib ditindaklanjuti.

Sementara Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan Pemkab Sleman sepenuhnya mempercayakan kualitas beras miskin yang akan didistribusikan kepada masyarakat miskin kepada Bulog.

Namun demikian koordinasi akan terus dilakukan agar manfaat dari raskin dapat dirasakan oleh masyarakat penerima.

“Tugas Pemkab adalah mengkoordinasikan jumlah calon penerima, waktu penerimaan dan sasaran penerima. Kualitas kami percayakan pada Bulog DIY sebagai penyalur utama,” kata Gatot.