Wisman Minati Museum Gunung Api Merapi‬ ‪

Sleman – Keberadaan Museum Gunung Api Merapi (MGM) di Dusun Banteng Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Sleman rupanya cukup menarik minat wisatawan mancanegara (wisman).‬

‪Dari tahun ke tahun, kunjungan wisatawan dari luar negeri cenderung mengalami peningkatan meski tidak signifikan. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) MGM, Suharno mengatakan dalam kurun lima tahun terakhir jumlah turis manca naik sekitar 200 persen.‬

‪“Pada 2010 lalu hanya ada sekitar 700 wisatawan dari luar negeri. Tapi sekarang, setiap hari setidaknya ada tiga sampai lima turis yang berkunjung,” kata Suharno.‬

‪Hingga akhir tahun ini diperkirakan wisatawan asing yang berkunjung ke MGM mencapai orang. Selama ini, kunjungan didominasi pelajar dari Singapura, Malaysia, dan Thailand.‬

‪Secara keseluruhan, pihaknya menargetkan angka kunjungan pada tahun 2016 ini sebanyak 250 ribu orang. Dia optimistis target itu dapat tercapai mengingat tahun lalu target sejumlah dapat tercapai.‬

‪“Sekarang jumlah pengunjung sudah mencapai 200 ribuan orang. Kami optimis seluruh target dapat terwujud dalam sisa waktu dua bulan ini,” kata Suharno.‬

‪Optimisme ini mengingat menjelang akhir tahun ini banyak momentum libur seperti perayaan hari raya Natal, dan Tahun Baru. Bahkan saat akhir pekan, jumlah wisatawan bisa mencapai kisaran hingga orang.‬

‪Edukator dari MGM, Dwi Handayani, mengatakan banyak fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung. Materi pengetahuan yang bisa dipelajari pun tidak hanya soal Gunung Merapi tapi juga karakter gunung api di berbagai belahan dunia lainnya.‬

‪Selain musibah gunung api, MGM juga menyediakan beragam fasilitas simulasi bencana lain seperti gempa bumi dan tsunami. Disamping itu, pengunjung dapat menambah wawasan tentang erupsi gunung api yang disajikan lewat pemutaran film.‬




Tingkatkan Perlindungan Pada Anak, Pemkab Gelar Festival Berlian

Sleman – Meningkatnya kasus kekerasan pada anak dari waktu ke waktu salah satunya timbul karena  peran aktif masyarakat dalam perlindungan anak masih kurang.

Menyadari hal tersebut Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan KBPMPP Kabupaten Sleman berdasarkan inisiasi dari Kementerian PPPA RI melaksanakan kampanye bersama di  Desa Percontohan Pengembangan PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) seluruh wilayah Indonesia termasuk salah satunya di Desa Mororejo, Tempel, Sleman yang menggelar ‘Festival Berlian(Bersama Lindungi Anak) Mororejo Colourflash 2016’, Minggu  (20/11).

Eko Yulianto selaku Ketua Pelaksana mengatakan bahwa Kampanye Berlian PATBM di Mororejo bertujuan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan perlindungan anak.

Menurutnya peran masyarakat dalam perlindungan anak dapat dilakukan diantaranya melalui sosialisasi perlindungan anak pada masyarakat, memberikan masukan pada perumusan kebijakan yang terkait perlindungan anak, menyediakan sarana prasarana dan ruang serta suasana kondusif untuk tumbuh kembang anak.

Dikatakan Eko berbagai kegiatan telah dilakukan aktivis PATBM Desa Mororejo, yaitu mengikuti pelatihan yang diselenggarakan PPPA RI, menyusun peta potensi dan masalah anak, menyusun data pilah anak, menyusun rencana kerja PATBM, dan melaksanakan sosialisasi PATBM di seluruh padukuhan, kelompok PKK, dan sekolah di Desa Mororejo.

“Tema Kampanye Berlian yang kami laksanakan adalah melalui PATBM kita wujudkan Desa Mororejo SIGRAK atau Siap Menjadi Penggerak Perlindungan Anak,” kata Eko.

Sementara Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes yang hadir dalam kampanye tersebut menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan wilayah dengan tingkat pertumbuhan migrasi yang tinggi serta merupakan kawasan yang strategis dalam dalam sektor pendidikan dan ekonomi, sehingga dinamika dan perubahan-perubahan sosialnya menjadi sangat tinggi.

Di sisi lain kondisi tersebut menurutnya juga menimbulkan tekanan dan permasalahan baru yang lazimnya terjadi pada kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Anak berusia 0-18 tahun rentan memiliki masalah sosial dan menghadapi resiko kekerasan baik di lingkungan rumah, di lingkungan sekolah, maupun ditempat-tempat umum. Resiko-resiko yang sangat mungkin terjadi pada anak antara lain kekerasan dalam pola asuh, tontonan komersial yang kurang mendidik, kasus kekerasan fisik dan psikis pada anak secara, trafficking, eksploitasi anak, pelecehan seksual, Anak Bermasalah dengan Hukum, hingga kasus anak terjerat narkoba,” jelas Sri Muslimatun.

Sri Muslimatun berharap agar agar Desa Ramah Anak sebagai bagian dari Kabupaten Layak Anak tidak hanya sekedar menjadi label, dan jangan sampai ada kesenjangan antara kebijakan dengan realita yang ada di lapangan.

“Untuk itu saya mengharapkan kita semua baik warga masyarakat, aktivis PATBM, seluruh stakeholder dapat bersinergi secara nyata untuk mewujudkan lingkungan dimanapun anak-anak berada yang ramah bagi mereka,” tambah Sri Muslimatun.

Dalam acara yang diikuti oleh lebih dari 1000 orang yang terdiri dari anak-anak, warga masyarakat, dan stakeholder tersebut  dilakukan deklarasi akhiri kekerasan pada anak, flashmob, dan pengobatan gratis.




Bupati Prihatin dengan Perilaku Generasi Muda

Bupati Sleman Pukul BedugSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan keprihatinannya terhadap perilaku dan akhlaq generasi muda saat ini. Menurutnya kasus tindakan kriminal yang melibatkan remaja pria maupun perempuan, anarkisme, sex bebas, sampai dengan penyalahgunaan narkoba sering menjadi sorotan diberbagai media.

“Dari kejadian-kejadian tersebut, tentunya menggugah kesadaran kita untuk menekankan kembali ajaran Al Qur’an terutama di kalangan generai muda. Nilai-nilai Al Qur’an diharapkan bisa menjadi dasar pembangunan karakter generasi muda kita,” kata Sri Purnomo disela-sela lomba MTQ tingkat Kabupaten Sleman tahun 2016 yang diselenggarakan di Pendopo Kantor Kecamatan Seyegan, Sabtu (19/11).

Sri Purnomo juga berharap melalui ajang MTQ tersebut diharapkan dapat menjadi sarana internalisasi nilai-nilai luhur Al Qur’an di kalangan generasi muda. Dikatakan Sri Purnomo penyelenggaraan MTQ ini merupakan salah satu ben­tuk pembinaan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah umat Islam khususnya generasi muda, dalam membaca, memahami dan menghayati Kitab Suci Al-Qur’an.

“Saya berharap pelaksanaan MTQ tidak berhenti hanya sebatas sebagai proses seleksi qori-qoriah, namun juga dapat dijadikan ajang pengembangan kepribadian dan karakter untuk membentuk generasi Qur’ani,” tambah Sri Purnomo.

Antusiasme peserta MTQ tingkat Kabupaten Sleman tahun 2016 mengalami peningkatan. Tercatat dalam acara tahunan yang diselenggarakan oleh Bagian Kesra  Kabupaten Sleman diikuti oleh 483 kafilah dan official dari seluruh kecamatan se Kabupaten Sleman.

Kepala Bagian Kesra Setda Kabupaten Sleman, Drs Hery Sutopo MM MSc mengatakan bahwa jumlah peserta tersebut meningkat lebih dari 20% dibanding tahun sebelumnya.

”Dengan peningkatan peserta ini diharapkan dapat memberikan motivasi pada calon qori dan qori’ah dalam rangka meningkatkan kualitas membaca dan menghafal Al Quran  serta menggali potensi qori dan qori’ah Kabupaten Sleman untuk mengikuti MTQ ditingkat yang lebih tinggi,” kata Hery.

Dalam ajang MTQ Kabupaten Sleman 2016  tersebut Kecamatan Tempel keluar sebagai juara umum. Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes yang hadir dalam penutupan acara berpesan pada para juara agar jangan sampai terlena dengan kerberhasilan yang telah diraih.

”Saya berharap agar para peserta terus berlatih dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk ajang MTQ tingkat DIY Tahun 2017 yang rencananya akan dilaksanakan di Kulonprogo,” pesan Sri  Muslimatun.***




Bank Sleman Adakan Khitanan Massal Untuk Warga Kurang Mampu

Kunjungi Kegiatan KhitanSleman – Sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat kurang mampu, Bank Sleman dalam rangkaian kegiatan HUT ke-35 tahun 2016, melaksanakan kegiatan Bank Sleman Peduli dalam bentuk Khitanan massal. Hal tersebut disampaikan Dirut Bank Sleman, Muh Sigit SE MSi disela-sela Khitanan massal yang dilaksanakan di halaman Bank Sleman, Sabtu (19/11).

Menurut Sigit  kegiatan khitanan massal dilaksanakan setiap tahun dan animo masyarakat dari tahun ke tahun semakin meningkat, sehingga bagi masyarakat yang akan mengkhitankan putranya bisa mendaftar lebih awal ke Bank Sleman untuk mengikuti kegiatan tahun depan. Untuk tahun 2016 ini peserta yang  dikhitan mencapai 91 anak dari keluarga kurang mampu di wilayah Kabupaten Sleman.

Kegiatan lain yang telah dilaksanakan dalam rangkaian HUT Bank Sleman yang ke-35 pada 28 November mendatang yakni pembagian sembako, bedah rumah, pembagian sarana prasarana di sekolah untuk mendukung kegiatan sekolah ramah anak dan kepada desa untuk mendukung kegiatan Sleman layak anak, serta pemberian bantuan bagi usaha mikro.

Kegiata khitanan massal diawali dengan pemberian motivasi kepada  anak-anak peserta khitan yang didampingi orangtua masing-masing oleh dr Dirwan Suryo MSC SP. F, perwakilan dari RS Queen Latifa selaku pelaksana kegiatan khitanan massal. dr Dirwan memberikan motivasi agar anak tidak takut dikhitan dan menyampaikan pentingnya khitanan bagi kesehatan anak.

Untuk melaksanakan khitanan massal ini didukung oleh 14 tenaga medis dengan menggunakan peralatan laser sehingga anak tidak merasakan sakit, dua hari anak sudah bisa pulih kembali dan Senin (21/11) bisa masuk sekolah seperti biasa. Pelaksanaan khitan dilakukan di 6 bad dan pelaksanaannya dilakukan selama kurang lebih 10 menit.

Ternyata tidak mudah dalam pelaksanaannya karena tidak sedikit setelah memasuki ruang khitan anak-anak ada yang takut sehingga perlu upaya untuk membujuk agar anak tidak takut dan mau dikhitan.

Namun berkat ketelitian dan kepandaian dari tim medis dibantu dengan segenap karyawan Bank Sleman anak-anak kesemuanya dapat dikhitan. Ada 3 anak yang tidak jadi dikhitan karena adanya kelainan pada alat kelamin anak.

Menurut dr Saifudin yang memimpin jalannya Khitan dari RS Queen Latifa 3 anak tersebut mengalami Hipospadia yakni kelainan bawaan pada alat kelamin anak yakni posisi saluran kencing tidak pada tempatnya sehingga diperlukan tindakan operasi di RS.

Kelainan ini tidak disadari oleh anak dan tidak diberitahukan pula kepada orangtua sehingga keadaan seperti ini memerlukan perhatian dari orangtua untuk mengetahui kelainan pada anak sejak dini sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI serta Badan Pengawas Bank Sleman ,Dra Suyamsih berkenan mengunjungi kegiatan khitan memberikan motivasi kepada anak-anak yang dikhitan.




Forum Disabilitas Terus Desak Raperda Disabilitas Segera Disahkan‬

Sleman – Forum Penguatan Hak-hak Penyandang Disabilitas Kabupaten Sleman terus mendesak segera disahkan rancangan peraturan daerah tentang perlindungan penyandang disabilitas. Bahkan desakan itu telah disampaikan dengan mendatangi kantor DPRD Sleman, Jumat (18/11).

‪Koordinator Forum Penguatan Hak-hak Penyandang Disabilitas Sleman, Suryatiningsih mengatakan selain menanyakan proses pembahasan, forum penyandang disabilitas ingin mempertahankan satu pasal usulan dalam Raperda yang menyangkut perlindungan terhadap perempuan penyandang disabilitas.‬

‪”Dalam perkembangan pembahasan, pasal tersebut dihapus dari draft Raperda oleh legislatif dengan alasan bahwa perempuan maupun laki-laki penyandang disabilitas sama-sama rentan terhadap kekerasan sehingga tidak diperlukan pasal khusus untuk perempuan,” kata Nuning panggilan Suryatiningsih, kemarin.‬

‪Menurut Nuning, posisi perempuan dengan disabilitas dalam hal ini lebih rentan dibanding lelaki. Tidak hanya kekerasan tapi juga bentuk diskriminasi lain.‬

‪”Catatan kami, tahun ini sudah ada seratusan kasus yang menimpa perempuan penyandang disabilitas,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, pihaknya merujuk UU 8/2016 tentang penyandang disabilitas, sehingga Raperda yang tengah dibahas ini juga mereferensi undang-undang tersebut.‬

‪”Dengan demikian hak penyandang disabilitas lebih diprioritaskan sesuai ragam kebutuhan,” katanya.‬

Nuning menambahkan, desakan untuk segera disahkannya Raperda juga menyangkut pemenuhan hak aksesibilitas bagi penyandang disabilitas baik secara fisik maupun non fisik.‬ Tidak hanya untuk fasilitas umum melainkan juga hak-hak penyandang disabilitas terkait akses pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan lainnya.‬

‪”Meskipun Sleman telah memiliki Perda fasilitas umum yang juga menyangkut fasilitas bagi penyandang disabilitas, Perda baru nanti akan lebih mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas secara lebih menyeluruh,” tutur Nuning.‬

‪Nuning mengatakan, forum menginginkan Sleman ramah disabilitas dalam segala sektor.‬

“Saat ini belum semua fasilitas ramah disabilitas. Gedung pertemuan di Pemkab Sleman misalnya, ada di lantai dua namun tidak dilengkapi lift meski ada `ramp` (jalur khusus disabilitas). Juga, belum ada interpreter (penerjemah) untuk tuna rungu,” tambah Nuning.‬

‪Anggota Panitia Khusus (Pansus) Raperda Penyelenggaraan, Perlindungan, dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas DPRD Kabupaten Sleman, Gustan Ganda mengatakan, pihaknya tidak menghapus pasal tentang perempuan dengan disabilitas dalam Raperda ini.‬

‪”Tidak dihapus, melainkan hal itu diakomodasi ke dalam Raperda Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang juga tengah dibahas legislatif. Dengan menjadi Perda tersendiri, diharapkan upaya perlindungan dan pemberdayaan bisa lebih lengkap dibandingkan jika hanya difasilitasi dalam satu pasal saja,” katanya.‬

‪Ketua DPRD Sleman, Haris Sugiharta mengatakan, jika tidak ada aral lintangan, Raperda tentang disabilitas itu bisa diketok pada Desember.‬

“Saat ini, sudah dijadwalkan agenda nota penjelasan Bupati pada 28 November. Mudah-mudahan Desember bisa kami tetapkan. Secara prinsip, karena ini raperda inisiatif Dewan, DPRD serius membahasnya dan berharap ditetapkan pada Desember,” katanya.‬