Pemkab Adakan Senam Massal Peringati HUT KORPRI, PGRI, dan HKN

Sleman – Lebih dari 1000 orang terdiri dari PNS, karyawan BUMD, dan siswa sekolah dilingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengikuti senam massal di Lapangan Denggung Tridadi Sleman, Jumat (18/11).

Senam massal tersebut dalam rangka memperingati HUT KORPRI, HUT PGRI serta peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN). Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes yang turut dalam senam massal tersebut menyampaikan bahwa penyelenggaraan senam massal sebagai salah satu upaya untuk menjaga kesehatan dan kebugaran pada masyarakat.

“Kegiatan senam massal ini adalah kegiatan yang sangat positif, karena banyak PNS dilingkungan Pemkab Sleman karena kesibukannya bekerja mungkin jarang sekali berolahraga, sehingga dapat berpengaruh terhadap kesehatan yang pada akhirnya juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja,” kata Sri Muslimatun.

Sri Muslimatun juga berharap dengan kegiatan senam massal tersebut dapat semakin menggugah kesadaran PNS dan masyarakat, untuk senantiasa berpola hidup sehat.

”Saya berharap agar para PNS di lingkungan Pemkab Sleman dapat meluangkan waktu untuk melakukan olah raga secara rutin, terutama pada hari Jumat, karena pada hari Jumat merupakan hari krida.  Pada hari krida PNS dihimbau untuk meluangkan waktunya selama 30 menit untuk berolahraga,” tambah Sri Muslimatun.

Dalam senam massal tersebut juga dilakukan tes kebugaran, donor darah, serta  cek kesehatan tulang. Selesainya senam massal, untuk menambah kemeriahan acara juga diadakan lomba permainan tradisional seperti bakiak, lari egrang, dan gobaksodor antar SKPD di lingkungan Pemkab Sleman.




Ngayogjazz 2016 Kembali Menyapa Penikmat Musik Jazz

jYHnQ74TSleman – Event tahunan Ngayogjazz 2016 kembali digelar menyapa penikmat musik jazz di Dusun Kwagon Desa Sidorejo Kecamatan Godean Sleman pada hari sabtu (19/11). Event jazz yang telah diselenggarakan 10 kali pada tahun ini mengusung tema “Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama” yang bisa diartikan membangun karya jazz yang indah untuk membahagiakan sesama manusia.

“Tema ini perang kami terhadap ujaran kebencian yang dewasa ini sangat marak terjadi di Indonesia. Kami ingin membawa keindahan dan membahagiakan setelah 10 tahun berkarya,” Communication Manager Ngayogjazz, Hatta Kawa di Hotel di The Alana Hotel Jl. Palagan Tentara Pelajar Sleman, Kamis (17/11).

Tema tersebut terinspirasi dari Pupuh Sinom Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV, bermula dari “Amemangun Karyenak Tyasing Sasama” yang berarti berbuat untuk menyenangkan hati sesama manusia. Tema tersebut diharapkan mampu menyebarkan virus untuk berbuat kebaikan kepada semua orang. Sesuai dengan tema tersebut acara Ngayogjazz diharapkan bisa menjadi oase kesejukan dalam kehidupan bersama.

Ngayogjazz 2016 yang diselenggarakan di padukuhan Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman akan dimulai sejak jam WIB. Sesuai lokasi digelarnya Ngayogjazz 2016 di Kwagon yang terkenal dengan sentra industri genteng dan batu bata merah, tahun ini terdapat 7 panggung yang diberi nama sesuai jenis – jenis produksi genteng.

Panggung tersebut ialah panggung genteng kodok, genteng kripik, genteng krepus, genteng wuwung, genteng garuda, dan genteng paris. Dan, nantinya panggung – panggung tersebut akan dimeriahkan dengan penampilan musisi jazz seperti Fariz RM Anthology Kuartet, Monita Tahalea, Tohpati & Friends, Shadow Puppets & Hervey Malaihollo, dan musisi jazz dari berbagai kalangan komunitas di nusantara ini.

Selain pagelaran musik jazz, kesenian tradisional akan dipersembahkan oleh warga padukuhan Kwagon seperti tarian rampak buto, kirab bregada, dan kirab ogoh – ogoh untuk memeriahkan Ngayogjazz 2016. Informasi mengenai Ngayogjazz dapat diakses melalui




Angka Pernikahan Dini di Sleman Meningkat‬

Sleman – Kejadian pernikahan di bawah umur di Kabupaten Sleman cenderung meningkat dalam kurun tiga tahun terakhir.‬ Pada tahun 2014, tercatat angka pernikahan dini sebanyak 109 pernikahan dan tahun berikutnya melonjak menjadi 132 pernikahan. Dan sepanjang tahun 2016 ini setidaknya sudah ada 79 pernikahan di bawah umur yang terdata di Pengadilan Agama (PA) Sleman.‬

‪Berdasar segi umur lebih dari 15 tahun, permohonan penetapan dispensasi hingga triwulan tiga sebanyak 3,22 persen laki-laki, dan 62,5 persen perempuan.

“Pernikahan usia dini rentan terhadap berbagai masalah. Diantaranya kekerasan dalam rumah tangga, dan rawan menimbulkan penyakit reproduksi khususnya bagi perempuan,” kata Ahmad Mujahidin, Ketua Pengadilan Agama (PA) Sleman, Kamis (17/11).‬

‪Menurut Ahmad, pernikahan dibawah umur seharusnya dicegah. Untuk melangsungkan pernikahan, perlu pematangan calon mempelai secara jasmani maupun rohani. Hal itu diharapkan agar mereka dapat memenuhi tujuan luhur dari pernikahan, serta memperoleh keturunan yang baik dan sehat.‬

‪Mengacu UU Nomor 1 Tahun 1974, pernikahan hanya diizinkan jika pihak pria telah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita berusia 16 tahun. Bagi calon mempelai yang belum mencapai persyaratan usia tersebut, pihak orangtua diharuskan mengajukan permohonan dispensasi kawin kepada Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar’iyah.‬

Anak perempuan yang menikah pada usia muda beresiko memiliki kesehatan yang buruk sebagai dampak dari melahirkan dini. Selain itu juga ada peningkatan resiko KDRT, gizi buruk, serta gangguan kesehatan seksual dan reproduksi.




Disbudpar Evaluasi Desa Wisata, 8 Desa Wisata Mati Suri

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman melakukan evaluasi keberadaan desa wisata. Evaluasi berlangsung bulan Agustus hingga September 2016 lalu.

“Dari hasil evaluasi desa wisata di Sleman pada tahun 2016 ini tercatat ada 39 desa wisata . Namun 8 desa wisata diantaranya dinyatakan belum layak dilakukan penilaian karena 8 desa wisata tersebut yang dulunya aktif dan banyak kegiatan sekarang ini kegiatan menurun atau mati suri,” kata Dra Endah Sri Widiastuti MPA, Sekretaris Disbudpar Sleman, Kamis (17/11).

Menurut Endah, 8 desa wisata yang mati suri itu antara lain desa wisata Rejosari, Pajangan, Trumpon, Agrowisata salak pondoh, Kembangarum, Kaliurang Timur, Mangunan dan Sendari.

“Desa wisata tersebut mati suri karena membubarkan diri, pengurus atau pengelola tidak aktif dan tidak ada aktifitas,” tutur Endah.

Ditambahkan Endah, dari desa wisata yang dievaluasi itu akan diklasifikasikan untuk desa wisata tumbuh, berkembang dan mandiri. Dan dari 31 desa wisata tersebut tercatat 14 desa wisata tumbuh, 8 desa wisata berkembang dan 9 desa wisata mandiri.

“Diklasifikasinya desa wisata ini dimaksudkan untuk memudahkan kegiatan memotifasi desa wisata. Pada tahun 2015 Bappeda sudah melakukan rencana aksi pengembangan desa wisata untuk dipilih desa wisata unggulan yang sukses dan berhasil,” tutur Endah.

Keberadaan desa wisata dinamikanya dipengaruhi pengelola desa wisata. Ada 8 indikator desa wisata unggulan diantaranya potensi atraksi, kapasitas manajerial, peran serta masyarakat, tersedia sarana dan prasarana, aspek promosi, aksebilitas jalan, kunjungan wisatawan, dan kepemilikan asset.




Warga Wonorejo Diminta Manfaatkan Pekarangan Dengan Tanam Bibit Jambu

Sleman – Lahan pekarangan yang sempit bukan menjadi halangan untuk menanam tanaman penghijauan disekitar rumah. Untuk mendorong warganya menanam pohon penghijauan tersebut, Dusun Wonorejo Desa Sariharjo Ngaglik membagi-bagikan tanaman jambu madu kepada warganya.

“Ada 163 bibit jambu giok madu yang dibagikan pada warga Wonorejo bersama media tanamnya,” kata Agung Suharto, Kepala Dusun Wonorejo Sariharjo Ngaglik Sleman ketika menerima kunjungan prestour Humas Sleman dan wartawan, Rabu (16/11).

Dikatakan Agung, dibagikannya bibit tanaman buah jambu giok madu ini dimaksudkan agar meningkatkan nilai ekonomi warga, menambah gizi keluarga, dan  menyuburkan lahan pekarangan. Dipilihnya tanaman buah karena perawatannya lebih mudah dan gampang hidupnya.

“Untuk pengadaan bibit tanaman dan media tanam ini digunakan anggaran dana desa yang besarnya sekitar Rp 15 juta. Harapan kedepan lingkungan Dusun Wonorejo menjadi terjaga dan perekonomian warga meningkat karena pohon jambu madu bila sudah berbuah hasilnya bisa dijual secara kelompok,” tambah Agung.

Selain membagikan bibit jambu pada warga, ditambahkan Agung sebagai pilot projek juga diberikan 17 bibit jambu. Salah seorang warga Wonorejo, Yoyok menyambut baik program Kadusnya dengan membagi-bagikan bibit jambu secara gratis.

“Saya kemarin sudah beli buah jambu madu, rasanya manis dan harganya Rp 20 ribu per kilogramnya, jadi pembagian bibit jambu madu ini nantinya diharapkan bisa meningkatkan nilai ekonomi warga,” katanya.