Asosiasi Petani Salak Perluas Pasar Ekspor
Sleman – Petani salak di Kabupaten Sleman terus berupaya memperluas pasar. Para petani tidak hanya membidik pasar lokal tapi juga pangsa luar negeri. Pengiriman produk untuk ekspor sudah berlangsung sejak tahun 2008 dengan target pertama kali ke China. Pengiriman ke negeri China itu bahkan sudah rutin dilakukan dua kali dalam seminggu.
Ketua Asosiasi Petani Salak Sleman ‘Prima Sembada’, Maryono mengatakan tujuan ekspor saat ini sudah merambah ke berbagai negara antara lain Singapura, Kamboja, Australia, dan Eropa.
“Otoritas di New Zealand juga sudah membuka pintu, tapi kami belum mendapatkan eksportir,” kata Maryono, Rabu (28/12).
Sementara untuk ekspor ke Eropa, sejauh ini masih dalam tahap MoU dengan jumlah permintaan buah salak sebanyak 360 ton per tahun. Guna memenuhi persyaratan pasar di benua itu, asosiasi telah mengantongi sertifikat dari lembaga sertifikasi organik internasional, IMO Swiss. Adanya sertifikat dari IMO juga memungkinkan peluang ekspor ke Amerika karena dokumen itu berlaku untuk Eropa dan Amerika.
Kami harap pengiriman ke Eropa bisa segera terealisasi. Tidak semua diekspor dalam bentuk buah segar tapi juga produk olahan kering yang sudah dioven,” terang Maryono.
Di samping itu asosiasi juga sudah menyiapkan sekitar 40 hektare lahan untuk budidaya salak ekspor tersebar di wilayah Pakem, Turi, dan Tempel. Dengan penyiapan lahan itu diharapkan target pengiriman ke luar negeri sebanyak 200 ton bisa tercapai.
Saat ini ekspor masih sebatas 70 ton per tahun. Salak yang diekspor merupakan jenis pondoh grade B dengan kondisi kematangan 60-70 persen saat dipetik.
“Soal pemenuhan stok, tidak ada kendala. Total produksi salak bisa mencapai ton per tahun,” ujarnya.
Eskpor salak ini lebih memberikan keuntungan petani, karena harganya bisa mencapai kisaran Rp 10 ribu per kg. Sementara jika hanya untuk memenuhi pasaran lokal harganya dari petani hanya berkisar Rp 3000 per kg.

