Gurami Dikembangkan Dengan Sistem Booster

Sleman – Budidaya ikan kini tak lagi membutuhkan lahan luas apalagi jika ditopang dengan air melimpah. Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman mengembangkan budidaya gurami sistem booster. Sistem ini dikembangkan  sebagai alternatif semakin terbatasnya lahan kolam diwilayah Sleman.

Hadirnya Sistem Booster atau semacam teknologi budidaya ikan khususnya bagi ikan gurami ini dapat diaplikasikan siapa saja hanya di kolam seluas 1,5 meter persegi. Tak tanggung-tanggung, di kolam itu mampu menampung ikan gurami lebih dari 50 ekor.

“Sebagai alternatif terbatasnya lahan  kolam ikan di Sleman  Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman mengembangkan budidaya gurami dengan sistem booster,” kata Supramono, Kepala Bidang Perikanan, Senin (14/11).

Menurut Supramono, dengan sistem baru ini  tidak lagi diperlukan kolam luas, akan tetapi dengan kolam beton berukuran satu kali satu meter dan tinggi satu setengah meter dapat dimanfaatkan untuk pemeliharaan 50 ekor ikan gurami  dan setelah pemeliharaan efektif empat bulan mampu membesarkan benih gurami hingga ukuran delapan ons yang siap untuk dijual.

Karena temuan teknologi baru ini cukup effektif, dikatakan Supramono kini terus dikembangkan bagi petani ikan yang memiliki lahan sangat terbatas.

“Budidaya gurami sistem booster ini merupakan hasil percobaan yang dilakukan Bidang Perikanan DPPK Sleman. Budidaya gurami lahan sempit tersebut kini sudah banyak dilakukan para petani ikan. Seperti diwilayah Kecamatan Minggir, Seyegan, Moyudan, Kalasan serta Berbah. Selain itu juga diwilayah Ngemplak, Pakem dan Cangkringan,” kata Supramono.




‪Petani Ikan di Sleman Berinovasi Kembangkan Sektor Wisata‬

Sleman – Petani ikan di Kabupaten Sleman mulai berinovasi mengembangkan usaha dengan menjadikan kawasan budi daya perikanan sebagai objek wisata terutama wisata kuliner.‬

Wakil Ketua Desa Wisata Minapadi Murakabi Dusun Cibuk Kidul Kecamatan Seyegan Sleman, Anung mengatakan masyarakat muda di Dusun Cibuk Kidul  juga telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Murakabi untuk mengembangkan potensi wisata yang ada.‬

‪”Selain pengunjung yang ingin belajar soal minapadi, kami juga mengembangkan minapadi ini sebagai wisata untuk masyarakat umum,” kata Anung, Minggu (13/11).‬

‪Dikatakan Anung, potensi yang ditawarkan di Desa Wisata Minapadi Murakabi yang belum lama diresmikan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI ini diantaranya kuliner ikan, seni budaya, makanan khas, maupun panorama alam perdesaan.‬

‪”Pengunjung selain bisa belajar soal budi daya mina padi, juga bisa belajar seni karawitan, berkeliling desa dengan menggunakan sepeda onthel dan menikmati makanan khas yang hanya ada di dusun kami yakni jenang uli,” katanya.‬

‪Menurut Anung, untuk mendukung kunjungan wisatawan ini Pokdarwis Dusun Cibuk juga telah menyiapkan rumah warga untuk dijadikan “home stay” bagi wisatawan yang menginap.‬

‪”Saat ini sudah ada lima rumah warga yang siap untuk digunakan sebagai `home stay`, dengan daya tampung sekitar 50 wisatawan,” katanya.

‪Sementara terpisah Ketua Petani Ikan Mina Ngremboko Bokesan Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak, Saptono mengatakan saat ini para pembudidaya ikan sudah mulai bertahap melakukan pengembangan, seperti membuat suatu tempat yang menarik untuk dikunjungi wisatawan dengan mengemas berbagai potensi yang dimiliki, baik dalam teknis budi daya maupun kuliner berbahan baku ikan.

‪Menurut Saptono, dengan mempunyai keunggulan dalam segi kuliner, pengunjung bisa melihat cara budi daya maupun berburu ikan langsung ke kolam yang telah disediakan khusus untuk wisatawan.‬

‪”Pengembangan lain yang dilakukan adalah menambah kolam khusus yang tidak dalam dan diisi beberapa ikan berukuran besar yang diperuntukkan untuk anak-anak yang tertarik menangkap ikan langsung dari kolamnya. Anak-anak nantinya bisa nangkapi ikan sendiri. Dari situ bisa menarik orangtuanya untuk membeli ikan langsung,” katanya.‬

‪Saptono mengatakan, selain itu pula pengolahan ikan dalam berbagai jenis masakan juga terus dikembangkan.‬

‪”Tidak hanya untuk dikonsumsi saja, tapi sisik ikan juga bisa dijadikan souvenir,” katanya.‬




Kirab Gunungan Buku untuk Tingkatkan Minat Baca‬

20161113_092132Sleman – Gemar membaca buku, pengetahuan dan informasi akan terbuka lebar. Bermula dari ide untuk mengajak masyarakat gemar membaca, warga Padukuhan Kwadungan Widodomartani Ngemplak Sleman memiliki kreatifitas dengan menggelar kirab gunungan buku. Kirab gunungan  buku yang berlangsung, Minggu (13/11) cukup menarik perhatian masyarakat yang dilalui kirab.

‪Dua gunungan yang disusun dari beragam buku diarak di sepanjang jalan desa menempuh jarak sekitar 3 kilometer yang dimulai dari halaman kantor lama Kecamatan Ngemplak menuju Taman Baca Masyarakat (TBM) Kerai di Kwadungan.‬ ‪Ada sekitar 300 buku yang disusun menjadi bentuk gunungan yang kebanyakan merupakan buku cerita dan ilmu pengetahuan umum.‬

‪Tampak pula sebuah replika buku berukuran besar dan gunungan hasil bumi turut diarak bersama bergada prajurit . Gunungan buku dan hasil bumi itu lalu jadi bahan rebutan oleh masyarakat, terutama anak-anak.‬

‪Menurut Dukuh Kwadungan, Nanang Sujatmiko, kirab ini digelar untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat. Apalagi saat ini minat baca masyarakat setempat masih rendah. Orangtua kurang aktif dalam menumbuhkan minat baca pada anak-anaknya.‬

‪Karena itu dikatakan Nanang perlu adanya rangsangan tertentu untuk membuat masyarakat khususnya kaum muda merasa haus pengetahuan dan membaca buku.‬ Di antaranya dengan mengaktifkan perpustakaan desa dan TBM. Saat ini, ada sekitar 2500 buah koleksi buku yang dimiliki.‬

‪Fungsi buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan disebutnya tak bisa tergantikan meski kini anak-anak juga akrab dengan perangkat modern untuk akses informasi. Namun, ada fungsi sosial yang terkandung dalam kegiatan membaca buku dan tak bisa didapat dari gadget.‬

‪”Dengan membaca buku di TBM atau perpustakaan desa, kita juga turut bersosialisasi dengan masyarakat lain. Ini tentu tidak akan didapatkan dari gadget. Melalui kegiatan kirab buku ini, kami ingin  pola pikir masyarakat terhadap buku itu berubah. Karenaa membaca buku itu perlu,” tutur Nanang.‬




Seluruh Puskesmas Sleman Terakreditasi

Sleman – Sebanyak 25 Puskesmas di Kabupaten Sleman telah tersertifikasi akreditasi. Hal ini merupakan wujud komitmen pemerintah daerah setempat dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.‬

“Dari 25 Puskesmas tersebut 2 Puskesmas terakreditasi utama, 8 Puskesmas terakreditasi madya, dan 15 Puskesmas terakreditasi dasar,” kata dr Mafilindati Nuraini MKes pada resepsi Hari Kesehatan Nasional ke 52 Kabupaten Sleman di aula Monumen Jogja Kembali, Sabtu (12/11).

Menurut Linda berdasarkan laporan dari Subdit Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Sleman menjadi satu-satunya Kabupaten yang seluruh Puskesmasnya terakreditasi.

“Akhir tahun 2015 hingga awal tahun 2016 kami mengusulkan sertifikasi akreditasi secara serentak 25 Puskesmas di Sleman. Alhamdulillah semuanya terakreditasi dan ini sebagai wujud komitmen Kabupaten Sleman untuk meningkatkan pelayanan dan mutu dibidang kesehatan,” kata Linda.

Sementara Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), drg Tini Suyanti Sugandi MKes menyampaikan bahwa pelaksanaan program Akreditasi FKTP saat ini telah memasuki tahun kedua setelah ditetapkannya Peraturan Menteri Kesehatan no 46 tahun 2015 yang menjadi dasar hukum pelaksanaannya.

Dalam kurun waktu bulan Januari sampai dengan November 2016 telah ada sebanyak 697 Puskesmas di 24 Provinsi yang telah disurvei dan sebagian telah ditetapkan kelulusannya.

Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes  mengapresiasi atas pencapaian akreditasi seluruh Puskesmas di Sleman. Sri Muslimatun menghimbau agar pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman terus ditingkatkan baik mutu maupun pelayanan, sehingga tiga tahun kedepan akreditasi dapat ditingkatkan.

”Dengan momen peringatan HKN tahun 2016 yang bertemakan Indonesia Cinta Sehat, saya  mengajak seluruh jajaran Pemkab Sleman, khususnya aparat di bidang pelayanan kesehatan untuk terus meningkatkan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam pembangunan bidang kesehatan. Mari kita terus menggali inovasi baru yang lebih beragam untuk mendorong prakarsa dan peran masyarakat dalam upaya membangun Sleman,” kata Sri Muslimatun.

Pada kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga menyerahkan langsung trophy berbagai lomba bidang kesehatan diantaranya Lomba Desa Siaga, Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Lomba Komunitas Jumantik, dan Lomba Sekolah Sehat.

Sri Muslimatun berharap dengan prestasi maupun penghargaan yang telah diberbagai kesehatan tersebut dapat menjadi pemicu bagi semua untuk lebih mening­katkan pemba­ngunan di sektor-sektor lainnya serta mampu memotivasi untuk me­ningkat­kan kesa­daran seluruh warga Sleman untuk membudayakan pola hidup bersih dan sehat.




Desa Tridadi Deklarasikan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Sleman – Desa Tridadi Kecamatan Sleman mendeklarasikan sebagai desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). 

Desa STBM merupakan desa yang masyarakatnya sudah menerapkan 5 pilar STBM di antaranya stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun, pengolahan air minum dan makanan dengan aman, pengolahan sampah rumah tangga, serta pengolahan limbah cair rumah tangga dengan aman.

Selain masyarakat sudah menerapkan 5 Pilar STBM, masyarakat juga bersedia menjadi Natural Leader, dimana Natural Leader adalah seseorang yang bersedia dengan suka rela menjadi pendamping, pembina dan melakukan monitoring kepada masyarakat dalam kegiatan penerapan STBM 5 Pilar di dusun yang ada di Desa Tridadi Sleman.

Natural Leader yang berasal dari tokoh masyarakat, kader kesehatan, PKK, karang taruna dan tokoh agama. Deklarasi Desa Tridadi Desa STBM ini dikuatkan oleh SK Camat Sleman Nomor : 80/Kep Camat/2016.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang menghadiri deklarasi tersebut menyampaikan sangat mendukung dan menyambut baik dalam pelaksanaan “Deklarasi Masyarakat Desa Tridadi sebagai Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Desa STBM)” oleh masyarakat Desa Tridadi.

Sri Purnomo bangga terhadap masyarakat Desa Tridadi karena merupakan satu-satunya desa di Provinsi DIY yang mendeklarasikan sebagai Desa STBM.

Karena itu Sri Purnomo berharap adanya deklarasi ini dapat menginspirasi desa yang lain sehingga mereka juga terdorong untuk segera mewujudkan Desa STBM. Pemerintah telah melakukan pemicuan STBM kepada 86 Desa di Kabupaten Sleman.

Namun, sampai saat ini baru ada 67 desa yang sudah mendeklarasikan pilar 1 sebagai Desa Stop BABS sehingga masih ada 19 Desa yang belum. Bagi Desa stop BABS, Sri Purnomo berharap agar masyarakatnya untuk segera melaksanakan 4 pilar yang lain agar dapat menjadi Desa STBM.

Sementara itu bagi 19 desa yang belum, agar jajaran pemerintah desa memberikan perhatian yang lebih agar tidak tertinggal dengan desa yang lain.

Selain itu  ditambahkan Sri Purnomo bahwa untuk pemenuhan sanitasi dasar yang layak sampai ke pelosok desa serta untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, memerlukan upaya yang komprehensif, terintegrasi dan dukungan kerjasama lintas sektor, baik pemerintah maupun segala lapisan masyarakat dalam kesuksesan pelaksanaan kegiatan STBM dengan 5 pilarnya.

Melalui dana desa diharapkan dapat mengalokasikan kegiatan untuk sanitasi lingkungan dan pemeliharaan sanitasi lingkungan, pembangunan air bersih di skala desa, pengelolaan sampah, pembentukan dan peningkatan kapasitas kader di tingkat desa, serta kegiatan promosi kesehatan dan gerakan hidup bersih dan sehat yang dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat.

Kepala Desa Tridadi, Kabul Muji Basuki menjelaskan bahwa untuk mengelola sampah rumah tangga dilakukan pemilahan di sejumlah 17 lokasi sesuai jumlah dusun yang ada di Desa Tridadi, saluran pembuangan air limbah 3548.

Kabul mengatakan keberhasilan Desa Tridadi dalam penerapan STBM 5 pilar terbukti berdampak pada menurunnya kasus penyakit berbasis lingkungan seperti DBD pada tahun 2014 sejumlah 14 kasus, tahun 2015 sejumlah 10 kasus dan tahun 2016 sampai dengan bulan November 2016 sejumlah 9 kasus.

Sedangkan penyakit diare pada tahun 2014 sejumlah 79 kasus, tahun 2015 sejumlah 56 kasus, tahun 2016 sampai dengan bulan November sejumlah 32 kasus.

Pada kesempatan acara Deklarasi, salah satu warga DesaTridadi, Ny Nunik mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-harinya telah menerapkan STBM, walaupun secara ekonomi merupakan golongan menengah ke bawah. Ny Nunik melakukan STBM untuk lebih menjaga kesehatan keluarganya dengan pola hidup sehat dan bersih.