Seluruh Pejabat Sleman Akan Dilakukan Tes Urine

Sleman – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman akan melakukan tes urine bagi seluruh pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman.  Dilakukannya tes urine bagi pejabat tersebut dimaksudkan untuk meneguhkan kepeloporan aparatur sipil negara dalam pemberantasan dan penyalahgunaan narkoba.

Rencana tes urine bagi pejabat lingkungan Pemkab Sleman tersebut diungkapkan kepala BNN Kabupaten Sleman, Drs Kuntadi di Sleman, Jumat (4/11).

Terkait dengan upaya mewujudkan  kepeloporan aparatur sipil negara, terhadap pemberantasan dan penyalahgunaan narkoba maka  tes urine oleh BNN Kabupaten Sleman tersebut, akan dilakukan menyeluruh mulai pejabat eselon dua, tiga dan empat, yang pelaksanaannya dipastikan dilakukan akhir tahun 2016 ini.

Aparatur sipil negara menurut Kuntadi, harus menjadi contoh dan pelopor bebas narkoba. Apalagi dalam kiprahnya dimasyarakat mereka juga harus secara nyata memberikan pemahaman ke masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Kasus penyalahgunaan narkoba di Sleman dikatakan Kuntadi ada kecenderungan menurun tetapi kasusnya masih tinggi, yaitu mencapai sekitar 28 ribu orang dari 60 ribu penyalahguna narkoba di DIY.

Karena itu ntuk mengeliminasi kasus narkoba, Kuntadi masih memprioritaskan langkah preventif.  Sedang bagi korban atau pengguna terus dilakukan langkah rehabilitasi.




Razia Miras di Sleman akan Ditingkatkan‬

Sleman – Demi menegakkan Perda Nomor 8 tahun 2007 tentang peredaran Miras, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sleman akan meningkatkan razia miras di wilayah Kabupaten Sleman. Pasalnya target pengamanan miras ilegal di Sleman masih jauh dari target yang telah ditetapkan.‬

‪”Kami targetkan botol miras disita selama operasi tahun 2016 ini,” kata Rusdi Rais, Kepala Seksi Penegakan Perda Bidang Penegakan Perda Satpol PP Sleman, Jumat (4/11).

Namun hingga saat ini petugas baru menyita sekitar botol miras. Baik miras tipe A dengan kandungan alkohol kurang dari lima persen, B dengan alkohol lima sampai 20 persen, dan C dengan kandungan alkohol lebih dari 20 persen.‬

‪Menurut Rusdi, para penjual miras ilegal akan diseret ke pengadilan dengan kasus tipiring. Adapun tempat sasaran razia miras meliputi warung, rumah makan, dan restoran. Selain itu Satpol PP juga akan merazia rumah-rumah warga yang terbukti melakukan transaksi penjualan miras tanpa izin.‬

‪”Masih ada tiga kali operasi lagi yang akan kami lakukan sampai akhir tahun nanti,” kata Rusdi.

Di sisi lain Rusdi mengemukakan, maraknya keberadaan miras ilegal disebabkan oleh sanksi tipiring yang sangat ringan. Antara lain berupa denda dengan nilai rata-rata di bawah Rp 5 juta.




Standup Gunung Bakal Digelar di Sleman

Standup GunungSleman – Seiring berjalannya waktu, standup comedy di Indonesia semakin mendapat banyak penikmat dan menjadi salah satu alternatif hiburan di masyarakat. Hal ini terbukti dari makin banyaknya acara di tv yang menampilkan standup comedy, dan banyaknya acara yang menampilkan standup comedian sebagai pengisi acaranya. 

Bahkan hampir di setiap kota di Indonesia memiliki komunitas standup comedy sebagai tempat untuk belajar dan berkumpulnya para penikmat dan pelaku standup comedy di Indonesia.

Untuk semakin menggemakan dunia standup comedy Komunitas Standupindojogja dan Standupindo akan menyelenggarakan panggung standup comedy dengan suasana yang berbeda dengan latar belakang alam yang dikemas dengan tajuk “Standup Gunung”, Sabtu-Minggu 5-6 November 2016 di Bumi Perkemahan Wonogondang Cangkringan Sleman Yogyakarta.

Demikian disampaikan Raja Plesetan Anang Batas dikantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Jl. KRT Pringgodiningrat Beran Tridadi Sleman, Kamis (3/11).

Komunitas Standupindojogja dan Standupindo akan menghadirkan sebuah pementasan standup comedy yang berbalut keindahan alam, dengan barisan penampil yang sudah cukup tenar di Jogja maupun nasional.

Konsep Standup Gunung kali ini terbilang unik, karena biasanya pementasan standup comedy diadakan di hall, gedung ataupun tempat tertutup, namun kali ini diadakan di lereng Gunung Merapi tepatnya di Wonogondang Cangkringan Sleman.

Standup Gunung ini juga akan menghadirkan suasana berbeda karena selain menyaksikan pementasan Standup Comedy dari sekitar 30 komika, penonton juga bisa camping bersama komika komika sambil beramah tamah bersama komika idolanya.

Komika-komina terkenal yang bersedia menyemarakkan Standup Gunung tersebut diantaranya Kemal Palevi, komika yang akhir akhir ini mencoba tampil di dunia Hip Hop, Dodit Mulyanto dan juga Abdur yang sering muncul di OK JEK, Awwe sang Presiden Standupindo, Hifdzikhoir, Adjis Doaibu, Bene Dion, Mukti Entut, WIranagara, Dicky Difie, Sadana Agung, Arie Kriting, dan komika perempuan yang baru saja menjuarai kompetisi SUCA 2, Aci Resti dan masih banyak lagi komika skala nasional yang akan meramaikan acara ini.

Acara ini diharapkan bisa menjadi ajang untuk berkumpulnya komunitas komunitas standup comedy di Indonesia untuk saling bertemu dan bertukar pikiran bersama.

Biasanya tiap tahun komunitas Standupindo menyelenggarakan gelaran Standup Fest di Jakarta, namun karena tahun ini tidak diadakan, jadi akan difokuskan ke Standup Gunung. Selain standup comedy, seluruh peserta Standup Gunung akan dihibur oleh penampilan Hasoe & Angels dan juga Orkes Pensil Alis.




Koperasi Di Sleman Didorong Gerakkan Sektor Riil

Sleman – Untuk membantu koperasi di Kabupaten Sleman bisa terus berkembang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam hal ini Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) mendorong koperasi di Sleman bergerak disektor riil.

“Usaha koperasi tidak hanya sekedar simpan pinjam tetapi bisa mengembangkan sektor riil dengan membuka usaha pertokoan, sektor jasa atau usaha lainnya,” kata Drs Pustopo, Kepala Disperindagkop Sleman, Kamis (3/11).

Selama ini dikatakan Pustopo sebagian besar koperasi memang membuka usaha simpan pinjam sehingga koperasi identik dengan simpan pinjam.

“Kita ingin menghilangkan image koperasi simpan pinjam maka koperasi di Sleman didorong untuk kembangkan sektor riil,” kata Pustopo yang didampingi Kepala Bidang Koperasi, Teguh Budiyanto.

Di Sleman sendiri saat ini jumlah koperasi yang sudah berbadan hukum ada 646 koperasi. Dari jumlah tersebut sebagian besar sektor usaha simpan pinjam. Dalam rangka memperingati Hari Koperasi Internasional yang jatuh pada tangga 24 Oktober lalu, Disperindagkop akan mengadakan pameran koperasi selama 5 hari mulai tanggal 5 hingga 11 November 2016 dihalaman Kantor Disperindagkop Sleman.

“Tujuan pameran tersebut untuk memperkenalkan koperasi kepada masyarakat dan juga memacu para pelaku usaha mikro untuk dapat bermitra dengan sesama pengusha dalam bentuk wadah koperasi sehingga menjadi kelompok usaha yang kuat dan mandiri,” kata Pustopo

Menurut Pustopo dengan tergabungnya usaha mikro dalam koperasi diharapkan mereka dapat bekerjasama untuk meningkatkan produknya, saling bertukar pengetahuan, mempunyai permodalan yang kuat dan dapat meningkatkan jalinan kerjasama dalam pemasaran. Pameran dengan tema Koperasi Sleman menuju ekonomi global akan diikuti 60 koperasi dan UKM di Sleman. Untuk menarik pengunjungn selama pameran berlangsung akan dimeriahkan hiburan musik.

“Pada pembukaan pameran akan dibagikan gratis susu bagi pengunjung produk UKM Kaliurang dan juga dorprize,” tutur Pustopo.

Produk-produk UKM yang dipamerkan antara lain makanan dan minuman,  fashion, assesoris serta kerajinan. Selain itu juga ada stan kuliner yang bisa langsung dinikmati pengunjung.




Hadapi MEA Perlu Diimbangi Kemampuan Tertentu

Sleman – Di akhir tahun 2015 lalu  memasuki era perdagangan bebas yang populer disebut  MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Pertarungan interaksi antar pelaku ekonomi dunia kerja di negara-negara ASEAN menjadi semakin memiliki peluang dan tantangan yang lebih besar. Indonesia menjadi tujuan pasar terbesar sebagai pusat perputaran ekonomi.

“Menghadapi MEA, memiliki pengetahuan dan keahlian saja tidaklah cukup, apabila tanpa diimbangi dengan kemampuan-kemampuan tertentu. Selain kemampuan teknis dan keahlian, kemampuan mendasar yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis dan tenaga kerja adalah berbahasa Inggris, karena bahasa Inggrislah yang digunakan dalam dunia transaksional antar perdagangan global,” Dra Hj Sri Muslimatun MKes,  Wakil Bupati Sleman disela-sela  penutupan Kegiatan penguatan Bahasa Inggris Gelombang I kerjasama MAN Jogja III-FEE Center di Desa Wisata Pulesari Turi, Kamis (3/11).

Disampaikan Sri Muslimatun bahwa  jangan menjadi penonton dalam kancah MEA. Jika sudah mampu berbahasa Inggris dalam menghadapi MEA, maka  akan mampu, tak hanya sebagai tenaga kerja yang berdaya saing, tapi juga menjual produk lokal, mengingat produk UMKM di Sleman juga sangat bagus dan beragam. Istilah-istilah yang digunakan dalam teknologi informasi juga hampir semua berbahasa Inggris.

Terkait dengan itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memiliki visi menjadikan Sleman sebagai Smart Regency di tahun 2021 yang perintisannya dimulai dari sekarang.

Penerapan konsep smart regency harus dimulai dengan membangun kualitas manusia, terutama melalui aspek pendidikan. Jika masyarakat sudah melek teknologi, yang didukung kemampuan berbahasa Inggris, lalu didukung dengan pengembangan program yang lebih komprehensif mulai dari bidang infrastruktur, pelayanan, hingga lingkungan, maka hal tersebut akan membawa Sleman menjadi sebuah “kabupaten cerdas” atau smart regency.

Sedangkan Kepala MAN Jogja III Nurwahyudi Al-Azis menyampaikan bahwa kegiatan kegiataan pelatihan tersebut sudah berlangsung yang keenam kalinya dan bekerjasamaa dengan FEE Center Pare Kediri Jawa Timur.

Pelaksanaan pelatihan gelombang I berlangsung tanggal 28 Okotober – 3 November 2016 dan gelombang II akan berlangsung tanggal 4-10 November 2016 di Desa Wisata Pulesari Turi.

Sementara Direktur Fee Center Pare Kediri, Abdul Malik menyampaikan bahwa di Pare Kediri memang ada Kampung Inggris dengan kegiatan melakukan pelatihan dan pembinaan Bahasa Inggris bukan saja dari Indonesia saja tetapi juga dari Luar Negeri seperti Bruney Darussalam.

Ditambahkan pula di Kampung Inggris Pare tersebut yang dilakukan bukan hanya bahasa Inggris saja tetapi juga pembinaan Agama, dan di Kampung Inggris Pare tersebut sudah menjadi layaknya Kampung Religi, dimana nuansa keagamaannya sangat kuat, hal tersebut agar peserta pelatihan tidak hanya bisa berbahasa Inggris tetapi juga mempunyai aklak yang mulia.