Pemkab Kembali Serahkan Bantuan untuk Sertifikat HKI

Sleman – Kabupaten Sleman tahun 2016 ini kembali memberi bantuan penerbitan sertifikasi HKI (Hak Kekayaan Intelektual) kepada pelaku usaha/UMKM di Kabupaten Sleman. Total yang mendapat bantuan berupa pendampingan dan biaya penerbitan sertifikasi tersebut sebanyak 36 pelaku usaha/penerbitan merek.

Ke 36 tersebut berupa 25 penerbitan Merek, 9 Hak Cipta, 1 Hak Paten. Kepala Bagian Perekonomian, Ir CC  Ambarwati MM mengatakan hal tersebut usai – memberikan pengarahan pada pelaku usaha yang mendapat bantuan penerbitan Sertifikasi di ruang rapat Sekda B, Selasa (25/10).

Menurut Ambarwati bantuan berupa pendampingan dan biaya tersebut dimaksudkan agar produk yang dihasilkan tersebut mempunyai kekuatan dan kepastian hukum sebagai perlindungan terhadap Merek. Bantuan untuk penerbitan Merek masing-masing sebesar Rp 1 juta untuk 25 Merek, sedang bantuan untuk sertifikasi Hak Cipta  antara Rp ,- sampai Rp ,- kepada 9 hasil karya berupa karya tulis/buku maupun hasil Tari.

Sementara untuk  bantuan Hak Paten kepada  SMK Diponegoro Sambego Maguwoharjo Depok berupa  Motor Anti Begal  mendapat bantuan biaya Rp 6,3 juta dan bantuan untuk sertifikasi Hak Paten Sederhana kepada Suryadi berupa Mediokres mendapat bantuan sebesar Rp 4,6 juta.




Produksi Daging Sapi Di Sleman Mengalami Surplus

IMG_9924Sleman – Perkembangan peternakan sapi potong di Kabupaten Sleman sudah semakin menggembirakan.

“Saat ini hasil produksi daging sapi dari peternak di Sleman sudah surplus atau melebihi kebutuhan konsumsi daging sapi Sleman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan daging sapi Sleman hanya mencapai 302 ton,” kata Wakil Bupati Sleman, Drs H Sri Muslimatun MKes ketika menghadiri Tasyakuran Panen Pedet dan Sarasehan Ternak Sapi Potong, Kelompok Ternak Sapi ‘Mergo Andhini Makmur’ di Dusun Bolu, Margokaton Kecamatan Seyegan, Selasa (25/10).

Menurut Sri Muslimatun saat ini terdapat 521 kelompok ternak sapi potong di Kabupaten Sleman, dengan jumlah peternak lebih dari orang. Sedangkan jumlah sapi potong yang diternakkan di Kabupaten Sleman lebih dari ekor.

“Peternakan sapi potong di Sleman pada tahun 2015 berhasil memproduksi daging sapi lebih dari ton. Sementara  pada tahun 2016 sampai bulan September  produksi daging sapi Sleman sudah mencapai lebih dari ton sehingga saya yakin produksi tahun 2016 akan meningkat dibandingkan dengan tahun 2015,” kata Sri Muslimatun.

Sri Muslimatun berharap kondisi suplus daging sapi tersebut dapat terus ditingkatkan sehingga Sleman dapat menjadi lumbung daging sapi bagi daerah lain. Banyak program-program pemerintah yang dilaksanakan untuk mendukung peternakan sapi potong di Sleman.

Program-program itu diantaranya melalui kegiatan pengembangan budidaya sapi potong, penguatan pakan induk sapi potong, penguatan pakan sapi penggemukan, inseminasi buatan, penguatan betina produktif dan lain-lain.

“Saya berharap program dan kegiatan pemerintah untuk mendukung peternakan sapi potong benar-benar bermanfaat dan  dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peternak,” tutur Sri Muslimatun.

Pada acara panen pedet tersebut kelompok ternak Mergo Andhini Makmur juga mengalami peningkatan produksi ternak. Paniman Siswosudarsono, selaku ketua kelompok menyampaikan bahwa saat ini kelompoknya memiliki 59 ekor sapi terdiri dari 40 ekor induk, 11 pedet jantan dan 8 ekor pedet betina ditambah 13 pedet yang lahir di 2016. Jumlah produksi ternak tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 9 ekor pedet.

“Tasyukuran ini sebagai wujud rasa syukur warga atas peningkatan hasil ternak. Saat ini masih ada 10 ekor sapi induk yang sedang bunting, saya berharap kedepan produksi ternak kami akan terus meningkat,” ungkap Paniman.***




Masyarakat Dekat Aliran Sungai Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Sleman – Masyarakat di dekat aliran sungai yang berhulu dari Gunung Merapi diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi. Begitu juga masyarakat di kawasan perbukitan yang rawan longsor. Saat hujan turun harus lebih waspada.‬

“Kewaspadaan ini perlu ditingkatkan juga terkait penetapan Bupati Sleman,  jika selama 40 hari kedepan sejak 21 Oktober 2016 Sleman siaga darurat banjir dan longsor‬,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Selasa(25/10).

Dikatakan Makwan melalui  Keputusan Bupati Sleman Nomor 64/ tentang Status Siaga Darurat Banjir dan Tanah Longsor Bupati tersebut masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan ancaman bencana banjir maupun tanah longsor.‬

Keputusan Bupati Sleman tersebut juga untuk menyikapi datangnya musim hujan dan sebagai antisipasi cuaca ekstrem sehingga dipandang perlu menaikkan status kewaspadaan wilayah setempat ke status siaga darurat banjir dan tanah longsor.‬

‪Selain itu Makwan juga mengingatkan  para penambang pasir liar di sungai berhulu Gunung Merapi juga  meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman bencana banjir di hulu sungai Merapi dan tanah longsor.‬ Dalam SK tersebut juga disebutkan wilayah Sleman yang rawan banjir dan longsor adalah Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan dan Prambanan

‪”Masih banyak penambangan yang ada di sekitar aliran sungai di lereng Merapi, kami imbau untuk berhati-hati,” kata Makwan.‬

Makwan mengatakan, penambangan pasir tersebut tersebar di beberapa aliran sungai, seperti Sungai Kuning, Gendol, dan Opak.‬

‪”Bahayanya ketika curah hujan tinggi, menyebabkan banjir. “Kemudian, air hujan membebani tanah di tebing sungai yang labil. Bisa berakibat terjadinya longsor. Karena beban air berat menyebabkan longsor di tebing-tebing sungai,” katanya.‬

‪Warga Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Badi mengatakan penambangan di lereng Merapi tidak hanya memakai manual saja. Namun, alat berat pun sekarang sudah mulai muncul kembali.‬

“Kami hanya ingin agar ada penataaan. Supaya tidak terjadi dampak berkepanjangan. Pemulihannya akibat penambangan ini juga nanti bagaimana,” katanya.




Pemkab Sleman Tetapkan Siaga Darurat Banjir dan Tanah Longsor

Bupati Sleman Tinjau Kesiapan PeralatanSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menetapkan Kabupaten Sleman dalam status siaga darurat banjir dan longsor. Penetapan siaga darufat banjir dan longsor tersebut dituangkan dan Keputusan Bupati Sleman Nomor 64/ tentang Status Siaga Darurat Banjir dan Tanah Longsor. Selama 40 hari, mulai 21 Oktober hingga 30 November 2016 dan penetapan dilakukan tanggal 21 Oktober 2016.

Menindaklanjuti keputusan Bupati tersebut telah dilakukan Apel siaga di lapangan Denggung Tridadi Sleman, Minggu (23/10) dengan  inspekur upacara Bupati Sleman.

“Wilayah Kabupaten Sleman mempunyai nilai indeks tertinggi dalam resiko bencana dibanding dengan daerah lain di DIY dengan skor 97, hal ini mengingat ada 7 ancaman bencana yakni errupsi Gunung Merapi, banjir lahar dingin, gempa bumi, tanah longsor, angin kencang/puting beliung, kekeringan dan kebakaran. Untuk mengurangi resiku bencana itu,” Kata Drs Kunto Riyadi MPPM, Plt Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs. Kunto Riyadi, MPPM disela-sela apel siaga penanggulangan bencana sekaligus peringatan bulan pengurangan resiko bencana 2016.

Apel siaga diikuti sekitar 1200  peserta dari KODIM, Polres, Basarnas, PolPP, Dishubkominfo, Dinas Kesehatan, Disnakersos, 8 Komunitas relawan, 5 SSB (Sekola Siaga Bencana), dan 4 desa tangguh bencana.

Sri Purnomo menyampaikan bulan Oktober ini merupakan bulan Pengurangan Resiko Bencana, yang jatuh pada tanggal 13 Oktober yang lalu. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya mengurangi resiko bencana mengingat wilayah Sleman termasuk daerah rawan bencana.
Budaya pengurangan resiko bencana bisa dilakukan masyarakat Sleman.

Kuncinya adalah kerjasama semua pihak. Mulai dari pemerintah, komunitas, LSM dan masyarakat itu sendiri.

“Yang terpenting adalah kepedulian terhadap pengurangan resiko bencana. Peduli dan segera bertindak apabila menemui korban atau dampak kebencanaan yang lain,” kata Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo bencana, apapun itu bentuknya harus diwas­padai sedini mungkin. Oleh karenanya semua pihak harus memper­siapkan diri  dengan bekal pengetahuan dan keterampilan untuk bertindak cepat dan tepat apabila terjadi bencana.

Dengan dimilikinya pengetahuan dan juga keterampilan dalam menghadapi situasi darurat, diharapkan seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi suatu bencana.

Apel siaga diakhiri dengan penyerahan hadiah lomba desa tangguh bencana juara I Desa Pandowoharjo, II Desa Trimulyo, III Desa Donokerto, IV desa Lumbungrejo sementara untuk Lomba Skeolah siaga bencana Juara I SMP N 2 Berbah, II SMPN 2 Ngaglik, III SMP N I Kalasan dan IV SM Muh Ngemplak.

Juga diserahkan hadiah lomba berupa tenda kepada pemenang lomba pendirian tenda antar komunitas relawan sebagai juara I Relawan Jalin Komunikasi Mandiri, II SAR Linmas Korwil VII dan 3 Relawan Parel GO.

Selanjutnya Sri Purnomo juga melakukan inspeksi terhadap peralatan penanggulangan bencana diantaranya perlengkapan reaksi cepat penanganan pohon tumbang, peralatan, pemadam kebakaran, bolduser, perahu karet kendaraan pendukung truk, armada ambulans dan lainnya.




Santri Diminta Perkuat Jiwa Relejius dan Nasionalisme

hari-santriSleman – Hari Santri Nasional di Kabupaten Sleman diperingati dengan upacara Bendera di Lapangan Denggung yang diikuti oleh sekitar 3000 santri, dari pesantren, anak-anak sekolah MI, MTS, MA, Sabtu (22/10). Bertindak selaku inspektur upacara Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI.

Menurut Ihsan Rofiki selaku Ketua Panitia kegiatan peringatan hari Santri Nasional di Kabupaten Sleman juga dimeriahkan dengan berbagai lomba yakni PBB, photografi santri, mewarnai bagi anak RA/TK, lomba ruus tahlil, dan lomba adzan.

Sri Purnomo menyampaikan  peran santri pada jaman dahulu tidak lepas dari perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan  dan dalam mengusir penjajah, sehingga para santri secara historis telah dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa.

Momen ini dapat digunakan untuk  mengenang jasa ulama dan kyai dalam sehingga dapat memotivasi para santri di masa kini untuk dapat meneladani dan melanjutkan perjuangannya.

Peringatan ini juga dapat diambil manfaat untuk menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, sebagai pemersatu langkah bagi seluruh santri mengingat tantangan kedepan semakin berat.

“Para santri diharapkan dapat selalu memperkuat jiwa religius ke Islaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan,” kata Sri Purnomo.

Pondok Pesantren sebagai lembaga dahwah dan pendidikan juga diharapkan dapat mencetak ulama yang dapat mengedepankan nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat dan dapat menjadi garda terdepan dalam perjuangan melawan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Menghadapi tantangan global, para santri dapat menjadi pelopor dalam gerakan anti narkoba, anti kekerasan dan anti radikalisme yang marak dewasa ini,” tutur Sri Purnomo.

Pada akhir acara dilaksanakan karnaval santri, yang dilakukan peserta upacara melewati depan panggung kehormatan kemudian keluar lewat Jl KRT Pringgodiiningrat dan finish di Masjid Agung Sleman DR. Wahidin Sudiro Husodo.