‪Desa Diminta Sediakan Lahan Untuk Bermain Anak‬

IMG_7957brnasSleman – Makin berkurangnya interaksi anak dengan teman sebaya mengakibatkan perkembangan karakter yang kurang sempurna. Dan guna meningkatkan aktivitas sosial anak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah mewajibkan seluruh Pemerintah Desa (Pemdes) untuk menyediakan lahan bagi tempat bermain anak atau dolanan anak.‬

‪”Di lahan bermain anak tersebut, anak-anak bisa memainkan permainan tradisional secara bersama-sama,” kata dr Nurulhayah MKes, Kepala Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPMPP) Sleman, Kamis (20/10).

‪Menurut Nurulhayah, lahan khusus yang difungsikan sebagai ruang terbuka tersebut diharapkan dapat menjadi tempat anak-anak melakukan berbagai aktivitas bersama. Terlebih untuk tempat anak bermain dolanan anak setelah pulang sekolah, antara pukul WIB hingga pukul WIB. ‬

Sekarang ini, Pemkab Sleman tengah menggalakan kembali permainan anak tradisional bagi anak (dolanan bocah) di lingkungan masyarakat. Berdasarkan data BKBPMPP, di Sleman lebih dari 30 jenis dolanan bocah. ‬

‪Dikatakan Nurulhayah, permainan tradisional berdampak positif bagi masa tumbuh kembang anak. Seperti dapat membentuk karakter tenggang rasa, jujur, kreatif, dan tidak egois. Sebab dolanan bocah dilakukan secara bersama-sama yang mengedepankan kerjasama.  ‬

‪”Berbeda dengan permainan berbasis gadget yang membuat anak cenderung individualis. Dolanan bocah mampu membentuk anak untuk bertoleransi dan kerjasama,” katanya. ‬

Oleh karena itu keberadaan lahan dolanan anak ini juga ditujukan untuk menghilangkan dampak negatif dari kurangnya interaksi antara anak dengan orangtua. Sebab saat ini banyak orangtua yang bekerja hingga sulit bertemu anak di rumah. Sehingga pengawasan orangtua terhadap anak pun berkurang.‬

‪Jadi dengan bermain dolanan bocah, paling tidak anak-anak bisa diawasi secara bersama-sama oleh masyarakat sekitar. Namun Nurulhayah tidak menjelaskan berapa luas lahan yang diperuntukkan bagi dolanan bocah itu. ‬

‪Hal senada beberapa waktu lalu  juga disampaikan Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes tentang perlunya memberi ruang pada anak-anak di Sleman untuk bisa bermain bersama dengan permainan tradisional.

Sri Muslimatun juga  mengingatkan agar masyarakat mendekatkan anak pada permainan tradisional. Menurutnya, melalui permainan tradisional anak bisa banyak belajar mengenai gotong-royong, berkompetisi secara sehat, dan kejujuran.

‪”Berbeda dengan permainan dalam gadget,kalau kalah marah sendiri, nangis sendiri. Tanpa kita sadari itu juga jadi bentuk kekerasan pada anak,” ujar Muslimatun. ‬

‪Oleh karena itu, Muslimatun menghimbau pada orangtua agar tidak membiarkan anak mengakses gadget secara berlebihan. Sebab membiarkan anak mengakses gadget berlebihan dapat menimbulkan potensi kekerasan.




Foto Dinamika Pasar Tradisional Dipamerkan di Mall

Bupati Sleman Melihat Pameran Hasil Lomba FotoSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam hal ini Bagian Humas Sleman mengadakan kegiatan pameran foto. Sebanyak 50 foto dipamerkan di Jogja City Mall dan foto yang dipamerkan ini merupakan foto yang terpilih sebagai juara 1 sampai 5 dan masuk dalam nominasi yang terpilih.

Sebanyak 25 foto merupakan kegiatan Hari Jadi Sleman ke 100 dan 25 foto lainnya dengan materi dinamika pasar tradisional. Pameran dibuka Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Kamis (20/10) malam.

Kabag Humas Drs Sri Winarti menyampaikan lomba foto yang diselenggarakan mengambil tema kegiatan hari Jadi Sleman yang ke 100 yang sudah dilaksanakan bulan Mei lalu. Untuk materi foto dinamika  pasar tradisional. diikuti oleh 270 peserta dengan jumlah foto mencapai 713 karya.

Setelah dilakukan penilaian oleh Dewan juri memutuskan pemenang lomba foto yakni Juara 1 Kukuh Bhahari (Fasilitas Mushola), Juara 2 Adi Wijayanto (Tawar Menawar Mendong), Juara 3 Aceng Sofian (Aktifitas di Pasar Godean), Juara Harapan I, Gandhi Murakabi, (Transaksi Komoditas Pertanian), Juara Harapan II, Jaya Tri Hartono, (Pasar Pagi Pagi Sekali).

Penilaian foto pemenang ditekankan pada teknis fotografi, isi/caption story, dan penilaian lebih pada daya tarik obyek foto obyek dan aktivitas pasar tradidional Kabupaten Sleman.

Sri Purnomo disela-sela pembukaan pameran mengapresiasi positif  lomba foto yang dilaksanakan tema pasar tradisional yang diangkat. Tentu menjadi moment straregis untuk mengekspose kondisi pasar tradisional di Kabupaten Sleman saat ini.

Dengan penataan yang lebih baik namun tetap dengan memperlihatkan kekhasan pasar tradisional, sekaligus menjadi media publikasi bagi berbagai potensi di Kabupaten Sleman.

“Diharapkan melalui kegiatan ini potensi-potensi yang ada di Sleman dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat. Selain itu, kegiatan pameran foto ini juga menjadi media eksistensi dari fotografer baik profesional maupun amatir untuk memperkenalkan karya-karyanya pada masyarakat luas,” kata Sri Purnomo.

Dalam kegiatan pameran  yang dilakanakan selama 4 hari mulai 20 hingga 24 Oktober 2016, juga diadakan pentas kesenian tradisional serta bazar pedagang pasar tradisional yang menampilkan kripik belut dari Pasar Godean, Bacem Bebek dari Pasar Ngino, serta aneka jajanan pasar serta produk lainnya dari Pasar Prambanan dan Pasar Sleman.

Pembukaan pameran ditandai dengan pembukaan selubung pada foto yang keluar sebagai juara I dan II.




Operasi TMMD di Wukirharjo Selesai

IMG_9769Sleman – Operasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung tahap II tahun 2016 oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 0732/Sleman di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman selesai dilaksanakan. 

Program TMMD yang berlangsung mulai 20 September 2016 lalu ditutup dengan upacara di halaman Balai Desa Wukirharjo Rabu (19/10) yang dihadiri unsur TNI Polri dan jajaran Forkompimda Kabupaten Sleman. Perwira Sie Teritorial Kodim 0732/Sleman Kapten Inf Arly Iskandar  menyampaikan bahwa sasaran pembangunan baik fisik maupun non fisik dalam program TMMD sudah selesai 100%.

Menurutnya ada enam kegiatan pembangunan fisik dalam TMMD tersebut seperti cor blok dengan panjang 600 meter dan lebar 3 meter, pembangunan talud jalan sepanjang 200 meter, rehab 1 unit masjid, pembangunan 1 unit poskamling, serta lantainisasi 2 rumah.

Sedangkan sasaran nonfisik diadakan berbagai kegiatan penyuluhan seperti penyuluhan wawasan kebangsaan, kamtibmas dan napza, kesehatan, KB, pertanian, lingkungan hidup, serta bencana alam. Arly juga menjelaskan bahwa dengan adanya program TMMD telah menghemat biaya pembangunan sebesar Rp 62,50 juta.

“Jika diborongkan pembangunan yang direncanakan menghabiskan dana Rp 287,50 juta. Namun dengan program TMMD ini total dana pembangunan sebesar Rp 225 juta dari APBD Provinsi DIY dan Kabupaten Sleman tenaga 50 orang dari swadaya masyarakat,” jelas Arly.

Sementara itu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dandim 0732/ Sleman Letkol Arm Djoko Sudjarwo menyampaikan bahwa TMMD sengkuyung ini dilaksanakan dengan memadukan program kerja TNI dan rencana pembangunan pemerintah Daerah.

Menurutnya TMMD sudah berlangsung sejak tahun 1980-an. Diawali dengan kegiatan bernama Abri Masuk Desa (AMD) kemudian diubah menjadi TMMD di sesuaikan dengan kebutuhan.

“Selama 35 tahun TMMD berlangsung, kegiatan ini semakin dirasakan langsung oleh masyarakat. TMMD terbukti memberi kontribusi positif dan membantu pemerintah daerah dalam berakselerasi mempercepat pembangunan. Terlebih sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah pedesaan sehingga keterlibatan TNI dalam membangun sarana prasarana dan infrastruktur wilayah masih sangat relevan dan sesuai koridor undang-undang,” kata Mulyono dalam sambutannya.




Bank Sleman Bagi Sembako Bagi Masyarakat Kurang Mampu di Kalasan

DSC_0006brSleman – Sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat kurang mampu, Bank Sleman dalam rangkaian kegiatan HUT ke-35 tahun 2016, melaksanakan kegiatan pembagian sembako kepada masyarakat kurang beruntung. Hal itu disampaikan Dirut Bank Sleman, Muh Sigit SE MSi disela-sela  pembagian sembako yang diadakan di Balai desa Tamanmartani Kalasan, Rabu (19/10) dalam bentuk kegiatan Bank Sleman Peduli.

Menurut Sigit untuk tahun ini pembagian sembako dilaksanakan langsung ke desa, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dilaksanakan di Kantor Bank Sleman. Hal itu dimaksudkan untuk dapat langsung ke sasaran dan dapat menjangkau  ke lingkungan yang jauh dari Kantor Bank Sleman.

Menurut Sigit, tahun mendatang kegiatan yang sama akan digilir ke desa yang lain. Sembako yang dibagikan mencapai 100 paket dan diterima langsung masyarakat disaksikan Camat Kalasan dan Kades Tamanmartani serta Direktur Bank Sleman Ir Yustinus Mahatma.

Untuk bulan depan Bank Sleman juga akan melakukan kegiatan sunatan massal namun saat ini sudah terpenuhi sejumlah 100 anak dan bagi masyarakat bisa mendaftarkan putranya untuk mengikuti kegiatan sunatan massal pada tahun berikutnya karena kegiatan secara rutin dilaksanakan setiap tahun.

Sementara  Kades Tamanmartani Gandang Harjanata menyampaikan terima kasihnya kepada Bank Sleman yang telah peduli kepada masyarakat di Tamanmaartani. Kegiatan ini akan sangat membantu pemerintah desa yang juga telah melaksanakan kegiatan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu.

Disampaikan saat ini sekitar 16 ribu penduduknya masih ada sekitar 2000  warga miskin dan dari jumlah itu 917 orang benar-benar membutuhkan bantuan semua pihak.

Pemeritnah telah berupaya melalui program one hundred one day dengan target Rp 400 ribu perhari bagi warga yang benar-benar tidak bisa makan sehari-harinya. Kegiatan ini dilaksanakan secara gotong royong warga, baik karang taruna, kumpulan pengajian ibu-ibu, paroki maupun gereja. Hal ini juga dimaksudkan untuk menjalin kerukunan antar umat beragama di wilayah Tamanmartani.

Kegitan lainnya dengan pembinaan serta bantuan peralatan dan modal kepada bakul sayur, bakul nasi kucingan, tukang sol sepatu dan saat ini membina untuk usaha cuci sepatu.




Kepatuhan Pembayaran PBB Sleman 2016 Capai 80 Persen

Sleman – Kepatuhan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 2016 di Kabupaten Sleman hingga jatuh tempo 29 September 2016 mencapai 80 persen.

“Jumlah Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) di Kabupaten Sleman tahun 2016 yang sudah disampaikan pada Wajib Pajak ada 608 ribu SPPT. Dan dari jumlah SPPT tersebut kepatuhan wajib pajak membayar PBB ada 80 persen, dan realisasi uang yang masuk baru 75 persen dengan nilai uang Rp 56,3 miliar dari ketetapan PBB Sleman 2016 sebesar Rp 74 miliar,” kata Drs Hardo Kiswoyo, Kepala Dipenda Sleman terkait realisasi PBB di Sleman 2016, Rabu (19/10).

“Untuk merealisasikan kekurangan kepatuhan membayar PBB 20 persen tersebut petugas dari Dipenda sampai Desember 2016 melakukan kunjungan langsung ke desa-desa dengan mengumpulkan para Dukuh agar mengingatkan kembali pada warganya membayar PBB. Istilahnya kami melakukan penagihan dor to dor atau jemput bola,” kata Hardo didampingi Kepala Bidang Penagihan Dipenda, Drs Wahyu Wibowo.

Hanya saja menurut Hardo, dengan mendatangi wajib pajak banyak permasalahan yang ditemui diantaranya wajib pajak tinggal diluar kota dan hanya tanah kosong yang ditemui sehingga sulit melakukan penagihan. Dukuhnya juga ada yang belum memahami secara pasti pemilik tanah kosong dan lainnya.

Dikatakan Hardo, dari 86 desa di Sleman memang ada desa-desa yang sudah lunas PBB nya. Sedang untuk 17 Kecamatan di Sleman sampai saat ini belum ada yang lunas PBB nya.

“Di Prambanan sudah ada dua desa lunas PBB, kemudian disusul dua desa di Kecamatan Cangkringan dan Seyegan yang lunas PBB 2016,” tutur Hardo.

Hardo juga menyampaikan kepada masyarakat Sleman yang sudah patuh dan memenuhi kewajibannya membayar PBB, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyampaikan ucapan terima kasih. Dan yang belum membayar diharapkan segera membayar dalam sisa waktu dua bulan ini.