‪Satpol PP Sleman Tutup Tujuh Toko Modern Berjejaring‬

IMG-20161019-WA0003Sleman – Terbukti menyalahi aturan  tujuh toko modern berjejaring , Rabu (19/10) ditutup paksa Satpol PP Kabupaten Sleman. Ketujuh toko modern berjejaring yang ditutup itu tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman.

Sekitar pukul WIB sejumlah anggota Satpol PP Sleman didampingi petugas dari Polres Sleman mendatangi toko modern di sebelah barat pasar Condongcatur Depok Sleman. Dilokasi tersebut petugas langsung meminta karyawan toko untuk menutup pintu toko dan kemudian memasang segel yang menyatakan toko ditutup.

Kepala Bagian Operasi Satpol PP Kabupaten Sleman, Rusdi Rais mengemukakan, ketujuh toko modern berjejaring itu tiga dari jaringan Alfamart dan empat lainnya dari jaringan Indomart.

“Keseluruhannya berada di Kecamatan Depok,” kata Rusdi disela-sela penutupan toko modern.

Rusdi  menambahkan dalam waktu dekat akan dilakukan penutupan toko modern berjejaring yang lainnya yang juga melakukan pelanggaran.

Lebih lanjut Rusdi mengungkapkan, sebelum dilakukan penutupan, Satpol PP Kabupaten Sleman bersama instansi terkait lainnya sudah memberikan peringatan dan pembinaan bahkan ada yang sudah sampai proses pengadilan. Namun, kata Rusdi,  pengelola toko-toko modern berjejaring tetap membandel.

“Karena tidak mengindahkan aturan dan bahkan membandel maka kami lakukan penutupan paksa,” tegasnya.

Toko-toko yang ditutup tersebut, imbuhnya kemudian dipasang segel penutupan. “Saya peringatkan, jangan membuka segel tanpa hak. Membuka segel bisa dipidanakan dan ini bukan delik aduan jadi polisi dapat langsung bertindak jika ada yang membuka segel tanpa hak,” tegasnya

Menurut Rusdi, pihaknya melakukan penutupan toko modern tersebut setelah mendapatkan SK Penutupan toko modern dari Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi. Selain itu penutupan dilakukan lantaran batas toleransi yang diberikan sekitar 30 hari tidak diindahkan pengelola.‬

‪“Sudah sebulan kami beri toleransi untuk menutup sendiri usahanya, tapi tidak dilaksanakan,” kata Rusdi.

‪Dia menjelaskan, ketujuh toko modern yang  ditutup merupakan kelanjutan dari penertiban 86 toko modern yang dinilai melanggar Perda No. 18/2012 tentang pendirian toko modern. Menurut Rusdi, penutupan ketujuh toko modern tersebut dilakukan sudah sesuai prosedur.‬

‪“Selain diberi surat peringatan 1, 2, dan 3, ada beberapa toko modern itu yang sudah disidang di pengadilan,” jelasnya.‬




Pemkab Gelar Lomba dan Pameran Foto Pasar Tradisional

Sleman – Perkembangan jaman telah merubah banyak karakter masyarakat, termasuk dalam hal berbelanja. Sebagian besar sekarang mulai beralih ke pusat-pusat perbelanjaan modern, supermarket, mini market dan belanja online. Meskipun demikian, ternyata pasar-pasar di Sleman masih disukai dan masih cukup banyak warga Sleman yang lebih suka melakukan sistem jual beli dengan cara tradisional.

Hal ini dikarenakan pasar tradisional masih menawarkan banyak hal, seperti harga yang lebih murah, interaksi antar manusia yang lebih intens, sistem tawar menawar yang memang memberikan keasyikan tersendiri bagi yang menyukainya, serta karena memang banyak jenis barang yang cuma bisa didapat di pasar tradisional. Hal-hal seperti ini tidak bisa didapat di pasar swalayan atau pusat perbelanjaan modern lainnya.

Denyut kehidupan pasar tradisional di Sleman inilah yang coba ditangkap oleh ratusan fotografer dalam mengikuti lomba foto Pasar Tradisional. Lomba foto yang diselenggarakan Bagian Humas Pemkab Sleman ini telah berlangsung 19 September hingga 15 Oktober 2016 lalu, diikuti ratusan peserta yang selain fotografer dari DIY juga ada beberapa di antaranya dari Jabar dan Jateng.

Saat ini dewan juri lomba ini telah memutuskan lima nominator juara: Aceng Sofian (Aktifitas di Pasar Godean), Kukuh Bhahari (Fasilitas Musholla), Jaya Tri Hartono (Pasar Pagi Pagi Sekali), Andi Wijayanto (Tawar Menawar Mendong), dan Gandhi Murakabi (Transaksi Komoditas Pertanian).

“Dari lima orang nominator juara ini akan diumumkan juaranya saat pembukaan pameran foto tanggal 20 Oktober di Jogja City Mall, untuk memperebutkan hadiah 5 juta bagi juara I, 4 juta bagi juara II, 3 juta bagi juara III, dan juga hadiah bagi juara Harapan I dan II masing-masing sebesar 2 juta dan 1 juta,” terang Kabag Humas Pemkab Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Selasa (18/10).

Menurut Sri Winarti, setelah lomba foto ini, Pemkab Sleman juga akan menggelar Pameran Foto di Jogja City Mall tanggal 20-23 Oktober 2016. Dengan tajuk Pameran Foto Pasar Tradisional dan Momen Satu Abad Sleman, Pemkab Sleman berusaha menampilkan dan mempromosikan pasar tradisional di tengah menjamurnya toko modern.

“Dinas Pasar Kabupaten Sleman selama ini telah melakukan upaya penataan serius di pasar-pasar tradisional seluruh Sleman agar mampu bersaing dan meninggalkan kesan kumuh, kotor, dan becek yang selama ini menempel pada pasar tradisional,” kata Sri Winarti.

Pada pameran foto tersebut Kepala Dinas Pasar, Dra Tri Endah Yitnani MSi akan mempromosikan komoditas jajanan pasar khas dari pasar-pasar tradisional di penjuru Sleman.

“Besok itu ada keripik belut dari pasar Godean, wader Progo dan tape godong jati dari pasar Kebon Agung, bebek bacem, abon lele, jenang upeh dari pasar Ngino, dan aneka keripik sayuran seperti kenikir dari pasar Prambanan. Jajanan-jajanan itu tidak hanya dipamerkan, tapi juga dijajakan. Silakan pengunjung dapat membeli jajanan-jananan khas dari pasar tradisional di wilayah Sleman,” terang Tri Endah Yitnani.

Pameran foto ini sekaligus juga akan memamerkan hasil lomba foto Momen Satu Abad Sleman yang sudah berlangsung bulan Mei lalu.




UPT BP3K Gelar Potensi Pertanian di Ngemplak dan Cangkringan

Sleman – Gelar Potensi Pertanian ini di UPT Balai Penyuluhan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Ngemplak Cangkringan sebagai ajang untuk menampilkan dan mengenalkan potensi-potensi pertanian yang ada di Kecamatan Ngemplak dan Cangkringan dalam bidang Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

“Diharapkan dengan diselenggarakannya gelar potensi ini dapat memotivasi para kelompok tani untuk dapat terus berinovasi dalam bidang Pertanian, Perikanan dan Kehutanan,” kata Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes disela-sela  gelar potensi pertanian di UPT BP3K wilayah Ngemplak dan Cangkringan, Selasa (18/10).

Disampaikan Sri Muslimatun bahwa dengan mengusung tema “Dengan Hari Pangan Sedunia Kita Tingkatkan Pemanfaatan, Nilai Tambah dan Konsumsi Produk Pangan Lokal”.

Sri Muslimatun juga berharap kegiatan Gelar Potensi pertanian kali ini mampu menjadi motivasi serta menumbuhkan semangat dan kesadaran masyarakat khususnya para petani di Ngemplak dan Cangkringan.

Untuk dapat terus mengembangkan dan memanfaatkan produk pangan lokal tidak hanya sebagai pangan alternatif namun lebih dari itu pengembangan pangan lokal akan berdampak positif bagi pengembangan ekonomi masyarakat sehingga dapat berimplikasi bagi peningkatan derajat kesejahteraan keluarga.

Disampaikan pula oleh Sri Muslimatun bahwa Optimalisasi keberadaan produk pangan lokal dapat terwujud jika sumber daya manusia pengolah produk-produk tersebut memiliki kompetensi yang baik serta inovasi untuk mampu mengolah produk lokal yang ada sebagai sumber pangan sehingga mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarga.

“Untuk itu saya menghimbau para petani khususnya di daerah Ngemplak dan Cangkringan untuk terus berani mengeksplore diri dengan ide-ide kreatif dalam mengolah dan memanfaatkan produk pangan lokal yang kita miliki. Inovasi dan kreatifitas inilah yang menjadi modal bagi peningkatan nilai tambah produk pangan lokal yang ada,” kata Sri Muslimatun.

Berkaitan dengan ini, hal yang tidak kalah penting adalah kesigapan para penyuluh pertanian untuk dapat terus memberikan pendampingan dan motivasi bagi para petani untuk dapat terus berinovasi, oleh karenanya Sri Muslimatun berharap para penyuluh dapat terus meningkatkan pendampingan terhadap masyarakat agar dapat meningkatkan potensi dan nilai tambah pada produk pangan lokal di Kabupaten Sleman.

Sedangkan Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi menyampaikan bahwa disamping gelar potensi  juga dilakukaan pengukuhan kelompok tani sebanyak 25 kelompok, lomba mewarnai gambaar tingkat SD, lomba memasak  kelompok wanita tani berbahan pangan lokal non beras, non terigu, lomba asah terampil pertanian tingkat SMA dan lomba memancing.




Pangkalan Diminta Patuhi HET Elpiji‬

Sleman – Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Ir Sapto Winarno mengatakan pihaknya telah mendesak seluruh pangkalan di wilayah Sleman tidak menjual elpiji khususnya ukuran tiga kilogram melebihi harga eceran tertinggi atau HET .‬

“Kami sudah membuat kesepakatan dengan para pemilik pangkalan agar mematuhi aturan HET.‬ Jika ada pangkalan yang melanggar ketentuan tersebut dan menjual elpiji tiga kilogram di atas HET, maka kami akan langsung memberikan sanksi tegas,” kata Sapto, Selasa (18/10).‬

‪Dikatakan Sapto,  sebenarnya kuota gas elpiji tiga kilogram untuk wilayah Sleman sebanyak tabung per hari sudah mencukupi kebutuhan masyarakat.‬

‪”Kuota itu sebenarnya mencukupi kebutuhan masyarakat, tetapi kenapa ada keluhan kelangkaan elpiji tiga kilogram di masyarakat. Ini mengindikasikan ada masalah dalam distribusi hingga ke masyarakat,” kata Sapto.‬

‪Kelangkaan elpiji tiga kilogram di Kabupaten Sleman terjadi sejak akhir September atau awal Oktober ini. Sejak gas hilang di pasaran, warga kesulitan mendapatkannya.‬

‪Ditengarai celah tersebut dimanfaatkan oleh oknum pangkalan dan pengecer dengan menaikan harga elpiji tiga kilogram dari harga normal. Bahkan, harga eceran elpiji tiga kilogram di beberapa wilayah seperti Condongcatur dan Maguwoharjo, Depok mencapai Rp per tabung.‬

‪Akibat kesulitan mendapatkan gas 3kg, beberapa warga terpaksa membeli gas isi 5,5 kilogram atau nonsubsidi dan harga jualnya pun lebih mahal.‬ Tidak hanya membeli gas nonsubsidi isi 5,5 kilogram, warga juga bisa menukar tabung elpiji tiga kilogram dengan isi 5,5 kilogram. Warga yang memiliki dua tabung gas tiga kilogram dapat menukarnya dengan isi 5,5 kilogram.‬

‪”Tukar dua tabung gas `melon` dengan gas isi 5,5 kilogram, itupun harus menambah biaya . Ada juga yang tukar tambah sampai Rp2 lebih,” kata salah seorang warga Ngaglik Sleman.




Pemkab Sleman Terus Upayakan Penurunan AKI dan AKB

Sleman – Dalam menurunkan  Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) diperlukan  upaya peningkatan kesehatan. Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun Mkes mengatakan AKI  terjadi akibat komplikasi pada saat persalinan sehingga dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat serius.

”Penyebab langsung kematian maternal yang umum terjadi adalah pendarahan, eklamasi dan infeksi,” kata Sri Muslimatun di sela-sela Sarasehan Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Anak di Aula A Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Selasa (18/10).

Menurut Muslimatun, sebagai upaya preventif,  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Kesehatan secara rutin melakukan pemantauan ibu hamil dengan faktor resiko dan Ibu Hamil Faktor Resiko Tinggi melalui Peta Ibu Hamil di 1212 dusun di Kabupaten Sleman.

“Upaya penurunan AKI ini juga didukung peran serta aktif masyarakat melalui Gerakan Sayang Ibu dan Implementasi Desa Siaga serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan mengoptimalkan SMS gateway untuk memastikan Ibu hamil mendapatkan pertolongan persalinan yang cepat, aman dan efektif,” kata Sri Muslimatun.

Sedangkan bagi ibu hamil dan nifas yang tidak memiliki jaminan kesehatan lanjutnya, Pemkab Sleman juga memfasilitasi jaminannya melalui Program GARBA yang diampu oleh Jamkesos Provinsi.

”Upaya kesehatan yang diberikan diantaranya dengan Penguatan Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar) dan Rumah Sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif). Untuk memberikan kesadaran tentang pentingnya pertolongan persalinan oleh tenaga professional, Pemkab Sleman juga menyelenggarakan Kelas Ibu Hamil di 25 Puskesmas di seluruh Kabupaten Sleman,” tambah Sri Muslimatun.

Sementara  Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes menjelaskan sarasehan yang diikuti oleh 26 Rumah sakit/klinik pratama dan 6 puskesmas se Kabupaten Sleman tersebut adalah untuk mencari solusi bersama untuk percepatan dan mempertahankan penurunan AKI dan AKB.

Berdasarkan data, AKI dan AKB di Kabupaten Sleman sudah lebih baik dari target angka secara nasional. Tahun 2015 tercatat bayi lahir hidup dan kematian bayi lahir 51 atau sebesar 3,61%. Hal ini tentunya cenderung berkurang dari tahun 2014 dimana bayi lahir hidup sejumlah dengan jumlah kematian bayi 67 atau sebesar 4,65%.

”Sejalan dengan SDGs pada 2030 bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu hingga dibawah 70 per kelahiran hidup dan mengakhri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah denganberusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per KH dan Angka Kematian Balita 25 per KH,” jelas Linda.