Sri Muslimatun Dinobatkan sebagai Duta Anggrek DIY

Sleman – Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun, MKes dinobatkan sebagai Duta Anggrek Tingkat DIY. Penobatan tersebut dilakukaan oleh Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) DIY, Dr Endang Semiarsih MS MSi, Sabtu (15/10) di Taman Anggrek Titi Orchids Jl. Boyong Pakem Sleman bertepatan dengan  Festival Anggrek Vanda Tricolor 2016.

Endang mengatakan bahwa potensi tanaman anggrek di DIY sungguh luar biasa, termasuk dengan potensi anggrek Vanda Tricolor var Suavis yang merupakan tanaman anggrek khas lereng Merapi.

PAI DIY sendiri pada saat ini telah berangotakan sekitar 100 orang yang kedepan diharapkan akan lebih banyak lagi yang bergabung. Untuk itu diperlukan sosok yang mampu mempromosikan potensi tersebut. Untuk itu sungguh tepat memilih Wakil Bupati Sri Muslimatun untuk menyandang gelar sebagai Duta Anggrek DIY.

Sementara itu  Sri Muslimatun menyatakan kebanggaannya dipilih sebagai Duta Anggrek DIY. Diharapkan melalui peran tersebut dapat memberikan kontribusi dan mendukung promosi pariwisata melalui potensi anggrek Vanda Tricolor var Suavis.

Sri Muslimatun menilai bahwa anggrek Vanda Tricolor var Suavis memiliki daya ungkit yang besar terhadap kepariwisataan di DIY. Tanaman Anggrek merupakan potensi tanaman yang yang berkelas dan memiliki nilai jual yang tinggi sehingga diharapkan melalui pembudidayaan tanaman anggrek dapat sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan bagi masyarakat pecinta anggrek.

Sedang  inisiator Festival Anggrek Vanda Tricolor Hj Sri Suprih Lestari  menyatakan kebanggaannya bahwa Festival Anggrek Vanda Tricolor var Suavis 2016 dapat berlangsung dengan sukses.

Tercatat sebanyak 25 peserta telah mengikuti festival tersebut. Selain itu dalam ajang festival anggrek tersebut terdapat 27 penggemar dan pecinta anggrek yang datang untuk mengikuti pelatihan budidaya anggrek. Sedangkan selama festival berlangsung tercatat lebih dari 200 pengunjung mendatangi festival tersebut.

Diharapkan tahun mendatang peserta festival akan lebih banyak lagi dan para peserta akan lebih mempersiapkan tanaman anggreknya dengan lebih baik untuk mengikuti festival.

Sedang Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Senin (17/10) mengatakan bahwa gelaran Festival Anggrek Tricolor var Suavis kali ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) DIY didukung oleh Fakultas Biologi UGM, Pemkab Sleman, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan Fakultas Pertanian Universitas Janabadra.

Adapun hasil kejuaraan dalam Festival Anggrek Vanda Tricolor var Suavis tersebut adalah Juara 1 Aniek Sulistyanti asal Jogja, Juara 2 Supriyono asal Kebumen, Juara 3 Ny Giyo asal Jl. Kaliurang Sleman dan Juara Favorit Julian Rizki asal Magelang.

Ketiganya secara berturut-turut memperoleh tropy dan uang pembinaan dari Bank Sleman, Juara 1 mendapat Tropi Bupati Sleman dan uang pembinaan Rp 2,5 juta, Juara 2 Tropy Fakultas Biologi UGM dan uang pembinaan Rp 2 juta, Juara 3 Tropy PAI DIY dan uang pembinaan Rp1,5 juta, dan Juara Favorit Tropy Titi Orchid dan uang pembinaan Rp 750 ribu,-.

Sedangkan untuk lomba foto terpilih Juara 1 “Warna Alami Vanda Tricolor” karya Nico Cornelius, Juara 2 “Vanda 1” karya Lina dan Juara 3 “Ekssotisme Vanda Tricolor” karya Addien Muhammad. Ketiganya memperoleh piagam, uang pembinaan masing-masing sebesar Rp1 juta, Rp 750 ribu, dan Rp 500 ribu, dan hadiah anggrek Dendrobium.




RTH Perkotaan Sleman Belum Ideal

Sleman – Konservasi air di Sleman tetap terjaga dan air hujan  bisa meresap. Dan salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat Ruang Terbuka Hijau (RTH). Hanya saja luasan RTH perkotaan di Kabupaten Sleman masih jauh dari standar lingkungan hidup. Saat ini luasan RTH perkotaan hanya 20% dari total luas wilayah perkotaan.‬

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Drs Purwanto mengatakan, luas wilayah perkotaan Sleman hektar, sementara RTH hanya 588,93 hektar atau 20%.

“Idealnya, RTH perkotaan Sleman seluas 30 persen. Jadi masih kurang 10 persen untuk memenuhi standar yang ditentukan,” kata Purwanto, Senin (17/10).

‪Menurutnya RTH perkotaan Sleman tersebar di sejumlah titik. Ada lima macam peruntukkan, seperti habitat liar atau sempadan sungai seluas 335,5 hektar, taman kota (4,17 hektar), lapangan olahraga (68,36 hektar), area pemakanan (93,68 hektar), serta koridor atau sempadan jalan seluas 87,22 hektar.

Akibat terbatasnya luasan RTH perkotaan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Peraturan Daerah (Perda) No.1/2016 mewajibkan seluruh desa untuk membuka RTH baru.‬

‪“Luasan RTH yang diwajibkan bagi masing-masing desa adalah 20 persen dari total luas desa. Kami sebisa mungkin akan terus memperluas RTH perkotaan,” kata Purwanto.‬

‪Langkah tersebut dilakukan, dikatakan Purwanto, untuk mengimbangi cepatnya alih fungsi lahan yang terjadi di Sleman. Selain itu, kebutuhan RTH dilakukan untuk menjaga kemampuan tanah dalam meresap air dan menghasilkan oksigen, sehingga suhu udara dapat tetap stabil.

“Sekarang pembangunan hotel, mall, dan perumahan banyak dilakukan. Luas RTH semakin menyempit. Padahal keberadaannya sangat penting,” tutur Purwanto.

‪Jika RTH semakin berkurang, maka keberadaan cadangan air tanah dan bawah tanah juga akan semakin berkurang. Kondisi ini dapat mengancam ekosistem lingkungan, termasuk bagi kehidupan manusia. Di antaranya masyarakat akan mengalami kesulitan untuk memperoleh air bersih.

Apalagi wilayah Kabupaten Sleman secara geografis berada dihulu untuk Kota Yogyakarta dan Bantul. Sehingga Sleman menjadi andalan untuk pasokan air ke Jogja dan Bantul.




Prambanan Miliki Lima Potensi Bencana Sekaligus‬

Sleman – Dibandingkan 16 kecamatan lainnya di Kabupaten Sleman, Kecamatan Prambanan yang berada di Sleman timur  merupakan wilayah yang paling rawan mengalami bencana. Uniknya, wilayah ini memiliki lima potensi bencana sekaligus.‬

‪Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Kunto Riyadi mengatakan, Kecamatan Prambanan termasuk daerah yang memiliki kerawanan bencana cukup banyak. Pasalnya, dari tujuh macam bencana yang berpotensi dan mengancam wilayah Sleman, lima di antaranya berada di wilayah Prambanan.‬

‪“Kelima bencana itu mulai bencana tanah longsor, angin kencang, banjir, kekeringan dan gempa bumi,” kata Kunto, Senin (17/10)

‪Meski memiliki potensi bencana yang besar namun Kunto menilai masyarakat di Kecamatan Prambanan sudah tangguh dan siap menghadapi kemungkinan terjadi bencana. Saat bencana terjadi, katanya, relawan dan warga cepat menanganinya. Karena itu Kunto  berharap, masyarakat memiliki kesadaran tinggi terkait mitigasi bencana.‬

‪“Kesiapsiagaan bencana warga termasuk tinggi. Sampai saat ini di Sleman sudah ada 49 kelompok relawan yang anggotanya 1600 orang dan sudah mempunyai identitas jelas dan dilengkapi sarana informasi. Pusdalop Pakemjuga sudah cukup canggih 24 jam siap, tim TRC siap, relawan tersebar di seluruh wilayah Sleman dan mereka selalu siap siaga membantu pemerintah saat terjadi bencana,” kata Kunto.‬

‪Titambahkan Kunto, BPBD Sleman juga memberikan pelatihan secara rutin. Tentu disesuaikan dengan resiko bencana yang dihadapi. Penanganan korban bencana erupsi dengan tanah longsor tentu tidak sama. Termasuk simulasi. Kalau terjadi bencana, baik masyarakat maupun relawan sudah benar-benar tanggap,” imbuhnya.‬

‪Mitigasi bencana yang ditanamkan kepada warga juga termasuk tata letak rumah. Seperti tidak menempatkan ruang tidur yang berdekatan dengan tebing. Ruangan yang dekat tebing bisa digunakan sebagai dapur atau gudang. Untuk tempat tidur, ruang keluarga atau yang sering buat aktivitas juga harus jauh dari tebing.‬

‪“Merelokasi mereka untuk pindah bukanlah hal yang mudah. Makanya kami sarankan agar mereka mengatur tata letak rumah mereka. Tujuannya untuk meminimalisir korban jiwa jika terjadi bencana,” tuturnya.‬

Sementara ‪Camat Prambanan, Drs Abu Bakar mengatakan, sejumlah titik lokasi di Prambanan yang berpotensi longsor meliputi Desa Gayamharjo, Wukirsari, Madurejo, Sambirejo, Bokoharjo hingga Sumberharjo. Potensi bencana itu mengancam ribuan jiwa mereka tersebar di hampir seluruh desa.‬

‪“Keberadaan perbukitan di Prambanan rawan tanah longsor. Berdasarkan pemetaan yang kami lakukan dari 62 padukuhan, 18 di antaranya rawan longsor. Selama musim penghujan ini, bencana yang sering muncul justru pohon tumbang akibat angin kencang,” katanya.‬




Tujuh Jenis Bencana Berpotensi di Sleman‬

Sleman – Kabupaten Sleman memiliki indeks resiko bencana yang tergolong tinggi. Dari pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, setidaknya ada tujuh jenis bencana yang berpotensi terjadi di Sleman. Tujuh musibah alam itu antara lain erupsi Gunung Merapi, banjir lahar, gempa bumi, tanah longsor, angin kencang, petir, dan kebakaran.‬

‪Menurut Plt Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Drs Kunto Riyadi, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi resiko bencana terutama melalui peningkatan kapasitas masyarakat.

“Kami sudah membentuk beberapa sekolah siaga bencana, dan sister school. Selain itu, sarana fisik dan non fisik juga terus ditingkatkan termasuk menambah alat sistem peringatan dini,” kata Kunto, Minggu (16/10).‬

‪Diprediksi kejadian bencana akan meningkat pada bulan ini mengingat masa peralihan musim. Peningkatan intensitas bencana bahkan telah terjadi sejak beberapa minggu terakhir terutama angin kencang, dan longsor. Dia pun menghimbau masyarakat untuk waspada.

Terlebih bencana angin ribut susah dipetakan. Namun dari pengamatan kejadian tahun-tahun sebelumnya, angin kencang biasa terjadi di sebaran lokasi yang sama seperti Kecamatan Depok, Minggir, Ngaglik, Sleman, dan Pakem.‬ Peta lokasi longsor di Sleman selama ini tercatat di Pakem, Cangkringan dan Prambanan daerah perbukitan.‪ Untuk antisipasi kerugian jiwa maupun materiil, warga diminta memangkas batang pohon yang terlalu rimbun.

“Cukup dikurangi saja batang yang dirasa membahayakan, jangan dipangkas habis,” ujar Kunto.‬

‪Selain itu, penempatan papan reklame juga perlu diperhatikan. Jika sudah tidak layak, pemilik diminta untuk segera memperbaiki agar tidak ambruk. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Yogyakarta Tony Agus Wijaya mengatakan, di awal musim penghujan ini curah hujan masih bervariatif. Ditandai cuaca panas di siang hari, dan turun hujan pada sore hari.‬

‪Di permulaan musim hujan ini, potensi terjadinya cuaca ekstrem juga meningkat seperti petir, angin kencang, dan hujan dengan intensitas tinggi. Karenanya, pemerintah daerah dan masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan.‬

‪Selama ini, wilayah Kabupaten Sleman yang cenderung memiliki intensitas hujan lebih tinggi berada di daerah utara seperti Tempel, Cangkringan, Pakem, dan Turi. Namun masyarakat perkotaan juga perlu waspada dengan memeriksa saluran air agar tidak ada genangan air atau banjir limpasan.

“Pada bulan ini gelombang laut juga diprediksi tinggi berkisar 2,5-4 meter. Tapi umumnya nelayan sudah paham, dan biasanya menunda melaut selama satu minggu,” kata Tony.




Jumlah Peserta Festival Anggrek Vanda Tricolor Meningkat

IMG_9626Sleman – Sebanyak 25 peserta dari DIY-Jateng mengikuti Festival Anggrek Vanda Tricolor bertempat di Taman Anggrek Titi Orchids Harjobinangun Pakem yang diselenggarakan pada Sabtu-Minggu 15-16 Oktober 2016. Jumlah peserta tersebut menurut Ir Kadarso selaku ketua panitia festival Anggrek mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang diikuti 18 peserta.

Kadarso menyampaikan bahwa acara yang merupakan kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman bersama Perimpunan Anggrek Indonesia (PAI) DIY, dan Fakultas Biologi UGM tersebut bertujuan untuk menumbuh kembangkan kecintaan masyarakat pada anggrek terutama jenis Vanda Tricolor dan kemudian dapat membudidayakannya.

Dalam kegiatan tersebut juga diadakan bursa dan pameran anggrek, demo merangkai anggrek, pelatihan budidaya anggrek, serta lomba foto anggrek. Menurutnya Anggrek jenis Vanda Tricolor dipilih karena jenis tersebut dapat ditemukan disekitar Gunung Merapi meskipun populasinya sudah semakin berkurang.

“Saya berharap melalui even ini Vanda Tricolor asli Merapi semakin dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat. Karena belum banyak yang tahu jika jenis anggrek ini mempunyai nilai jual yang cukup tinggi,” jelas Kadarso, Sabtu (15/10).

Dr Endang Semiarti selaku Ketua PAI menyampaikan bahwa Festival Anggrek yang difokuskan pada jenis Vanda Tricolor karena menurutnya jenis tersebut mulai banyak dilirik para penghobi dan kolektor anggrek. Vanda Tricolor merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki aroma wangi dengan ciri perpaduan warna ungu bertotol kecoklatan dibibir bunga dan warna kekuningan dibagian tengah.

“Berdasarkan hasil penelitian di Merapi terdapat 5000 jenis anggrek dari total yang ada diseluruh dunia. Di Merapi sendiri jenis Vanda Tricolor ada yang asli Merapi dan ada yang dari luar daerah kemudian ditanam disana,” jelas Endang.

Endang menambahkan bahwa dalam penilaian Vanda Tricolor yang diikutsertakan dalam festival tersebut melihat dari beberapa aspek antara lain bentuk daun, warna, dan kesuburan tanaman. Tantangan membudidayakan Vanda Tricolor menurutnya adalah jangka waktu tumbuh daun yang cukup lama mencapai 7 tahun dari bibit ditanam.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes yang hadir secara langsung membuka festival tersebut menyampaikan apresiasinya karena penyelenggaraan festival ini merupakan salah satu upaya yang strategis untuk melestarikan sekaligus menjadi upaya konservasi bagi keberadaan anggrek alam khususnya Vanda Tricolor.

Selain itu juga menjadi wadah bagi para pecinta anggrek untuk dapat menyalurkan hobi dan kemampuan sekaligus menjadi sarana yang baik untuk mempromosikan dan memperkenalkan berbagai potensi wisata Merapi yang kita miliki. Dalam kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga dianugerahi sebagai Duta Anggrek Sleman oleh Ketua PAI Dr Endang Semiarti.

“Saya berharap kegiatan ini dapat diselenggarakan sebagai kegiatan tahunan sehingga dapat menjadi kegiatan pariwisata yang dapat menjadi daya dukung kepariwisataan daerah. Saya juga berharap melalui ajang festival anggrek ini, dapat menggerakkan perekonomian masyarakat sehingga dapat berkontribusi secara positif bagi kesejahteraan masyarakat sekitar,” kata Sri Muslimatun.