Bencana Longsor Ancam Warga Prambanan
Sleman – Bencana longsor masih menjadi ancaman bagi warga yang bermukim di Kecamatan Prambanan, Sleman. Saat ini terdapat lebih dari 600 warga tinggal di daerah perbukitan yang rawan mengalami pergerakan tanah.
Untuk antisipasi, BPBD Sleman telah memasang 33 alat early warning system (EWS). Alat sistem peringatan dini sederhana ditempatkan di 30 titik, sedangkan tiga EWS lainnya berupa rain gauge dan sirene tilt meter. Sirene EWS akan berbunyi jika sewaktu-waktu terjadi pergerakan tanah.
“Lokasi yang rawan terutama di kawasan perbukitan. Diantaranya Desa Wukirharjo, Gayamharjo, dan Sumberharjo Prambanan,” kata Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Kunto Riyadi MPPM, Minggu (9/10).
Untuk itu dikatakan Kunto masyarakat Prambanan diminta lebih berhati-hati dan waspada saat turun hujan deras. Jika terjadi bencana, mereka diminta segera menuju titik kumpul untuk proses evakuasi. Beberapa lokasi pengungsian sementara telah disiapkan seperti balai desa, dan gedung sekolah.
Sebelumnya, warga juga telah dibekali wawasan tentang langkah evakuasi lewat berbagai kegiatan pelatihan. “Musim hujan ini harus lebih waspada. Potensi longsor semakin meningkat karena air hujan masuk ke dalam rekahan, dan bisa menggerus tanah,” kata Kunto.
Sementara Camat Prambanan, Drs Abu Bakar mengatakan, pihaknya telah cek lokasi yang berpotensi mengalami pergerakan tanah. Tinjauan ini untuk memastikan kesiapan pengurangan risiko bencana yang sewaktu-waktu muncul.
Sementara itu, Kepala BPBD DIY Drs Krido Suprayitno mengatakan, keseluruhan EWS yang dipasang oleh pemerintah maupun masyarakat secara mandiri sebanyak 200 unit. Piranti EWS itu selain dipasang di lokasi rawan longsor juga di area sungai yang berpotensi terjadi banjir.
Saat ini pihaknya tengah berkonsentrasi terhadap antisipasi banjir lahar di sejumlah sungai yang berhulu Merapi. Diantaranya di Kecamatan Tempel, Pakem, dan Cangkringan.
“Kami sedang berkonsentrasi melakukan pembenahan sungai di tiga kecamatan itu untuk mengantisipasi resiko bencana,” kata Krido.


