Korpri Serahkan Tali Asih bagi Anggotanya yang Purna Tugas

IMG_9392 (1)Sleman – Sebanyak 307 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sleman yang purna tugas menerima tali asih untuk periode II Tahun 2016 purna tugas per 1 Juli 2016 hingga 1 Desember 2016.

Penerima tali asih terdiri atas anggota Korpri yang purna tugas/pensiun sesuai batas usia pensiun sebanyak 261 (PNS dan BUMD), pensiun dini 17 orang, meninggal dunia sebelum memasuki batas usia pensiun sebanyak 29 orang (1 Juli hingga 20 Desember 2016). Penyerahan tali asih ini dilakukan dalam rangka memperingati ulang tahun  Korpri ke 45 di Pendopo Parasamya Sleman, Selasa (20/12).

Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas pengabdian dan loyalitas dalam menjalankan tugas kepemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman.

Disampaikan Sri Muslimatun bahwa sebagai pensiunan PNS masih memiliki kewajiban moral untuk turut serta menyukseskan pembangunan khususnya di Kabupaten Sleman. Di samping itu, juga dapat menjadi motivator dan penggerak bagi masyarakat untuk turut serta aktif dalam pembangunan daerah.

Dengan bekal dan pengalaman selama aktif menjadi aparat pemerintah dapat berperan positif dalam masyarakat untuk menggalakkan semangat gotong-royong dan menggiat­kan pembangunan secara swadaya dan mandiri sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.

Sementara  Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MH sebagai perwakilan purna tugas menyampaikan ucapan terimakasih atas pemberian tali asih ini.

“Semoga dengan pemberian tali asih ini bukan berarti telah selesai masa pengabdian ini, namun justru bisa mampu meningkatkan dan memotivasi semangat kami  untuk tetap menjalin silaturahmi dan tetap semangat menjalankan tugas pengabdian dalam mengisi pembangunan bermasyarakat,” kata Julisetiono.

Sedang Retno Susiati S,H selaku Ketua Peringatan Ulang Tahun Korpri ke 45 mengatakan program tali asih merupakan program prioritas Dewan Pengurus Korpri Sleman yang dicanangkan dan dimulai sejak tahun 2013 sampai dengan sekarang. Anggota Korpri Kabupaten Sleman saat ini terdata sebanyak .

Retno Susiati menambahkan maksud dan tujuan acara tersebut bertujuan untuk memberikan penghargaan bagi anggota Korpri yang purna tugas. Diinformasikan penyerahan tali asih tersebut dilakukan oleh Dra Hj Sri Muslimatun MKes didampingi Pj Sekda Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno. Kemudian penyerahan tersebut dilanjutkan Iswoyo Hadiwarno didampingi Wakil Ketua Dewan Pengurus Korpri, R Djoko Handoyo SH.




Jelang Natal Pemantauan harga Sembako di Pasar tradisional Godean

Sleman – Menjelang perayaan Natal 2016 dan Tahun baru 2017 harga kebutuhan pokok mengalami perubahan, hal tersebut diakibatkan oleh permintaan yang tinggi dari masyarakat yang biasanya menjelang akhir tahun banyak menyelenggarakan acara hajatan dan liburan sekolah sehingga banyak harga dari komoditas sembako mengalami kenaikan. 

Seperti yang terjadi di Pasar Tradisional Godean beberapa komoditi kebutuhan pokok mengalami kenaikan seperti pemantauan pada Senin (19/12) yang dilakukan oleh  Biro Administrasi Perekonomian Setda DIY dan Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Sleman.

Pemantauan dipimpin langsung oleh Kasubag Perindustrian dan Perdagangan Setda DIY, Ny  Suwarsih dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kabupaten Sleman. Menurut Suwarsih dilakukannya pemantauan harga tersebut dimaksudkan untuk memperoleh data tentang harga dan kondisi ketersediaan stok  komoditi bahan pokok di pasar tradisional Godean yang nantinya bisa diinformasikan kepada masyarakat.

Disampaikan pula bahwa yang dipantau adalah komoditas yang dibutuhkan masyarakat, namun saat dilakukan pemantauan khusus di pasar Godean beberapa komoditi mengalami kenaikan meskipun tidak terlalu tingggi, dan sebagian harga lainnya stabil.

Dikatakan  Suwarsih bahwa pemantauan harga tersebut sebagai upaya tindak lanjut akan adanya fluktuasi harga dan ketersediaan sembako sebagai kebutuhan masyarakat menjelang dan sesudah perayaan Natal 2016 dan Tahun Baru 2017.

Menyinggung stok barang, masyarakat tidak perlu kawatir karena stok sampai hari Natal dan Tahun Baru dapat tercukupi. Kendati demikian, memang diakui  beberapa komoditi barang kebutuhan harganya masih cukup tinggi, seperti daging sapi, daging ayam, telur dan juga gula pasir.

Setelah dilakukan pemantauan beberapa komoditi seperti daging sapi kualitas 1 harganya Rp per kg, telur ayam negri Rp per kg, bawang merah kualitas 1 Rp per kg.

Bawang putih kualitas 1 harganya Rp per kg, cabe merah besar naik menjadi Rp per kg, cabe rawit merah harganya masih tinggi Rp per kg, Minyak goreng barko harganya Rp sementara Minyak goreng curah sawit harganya Rp .***




Wisata Tradisional Banyak Dilirik Wisatawan

Sleman – Pengembangan wisata ke depan akan banyak menyuguhkan potensi desa wisata.‬ Saat ini trend minat wisatawan mulai bergeser. Dari yang modern ke destinasi yang menyuguhkan wisata lokal dan tradisional.

“Kita dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melihat pengembangan wisata ke depan akan banyak menyuguhkan potensi desa wisata,” kata Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Senin (19/12).

Menurut Ayu saat ini wisatawan cenderung ingin melihat dan terlibat dalam aktivitas tradisional di desa wisata. Sebab pengembangan desa wisata menjadi aspek penting yang perlu dilakukan.

“Syarat pengembangan desa wisata di Sleman, bersifat dari, oleh dan untuk warga masyarakat. Dengan demikian pengembangan desa wisata hendaknya berpola bottom-up,” kata Ayu.‬

‪Jika masyarakat dilibatkan, lanjutnya, mereka akan merasa handarbeni terhadap potensi yang dimikilinya. Mereka juga akan bersemangat dan penuh kesadaran membangun desa wisatanya. Aspek keberlangsungan menjadi hal yang utama, dalam arti pemanfaatan potensi yang dimiliki bukan untuk eksploitasi namun untuk mempertahankan dan melestarikan potensi tersebut.

Dikatakan Ayu, pihaknya memang terus  mengembangkan Desa wisata sebagai salah satu unggulan destinasi wisata wilayah. Pengembangan desa wisata di Sleman dipadukan dengan program kegiatan bidang lain seperti pertanian, perikanan, perindustrian dan lingkungan. Melalui desa wisata, wisatawan dapat ikut mempelajari berbagai hal yang telah menjadi budaya masyarakat serta kearifan lokal setempat.‬




Bupati Resmikan Wisata Edukatif Geo Tubing Lava Bantal

Sleman – Alternatif wisata edukatif baru berupa Geo Tubing Lava Bantal Kalitirto Kecamatan Berbah diresmikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Minggu (18/12) sore.

Wisata alam tersebut diinisiasi oleh Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) bekerjasama dengan Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Desa Kalitirto Kecamatan Berbah Sleman. Selanjutnya Pokdarwis tersebut mengadakan kerjasama dengan kelompok Tirta Wisata. operaror wisata Tubing Lava Bantal di desa tersebut.

Sri Purnomo, menyambut baik keinginan masyarakat dalam menghidupkan wisata baru perairan.

“Saya senang melihat semangat masyarakat dalam menumbuhkan ekonomi masyarakat. Dengan menghidupkan potensi wisata perairan didaerahnya,” kata Sri Purnomo.

Hanya saja untuk wisata Tubing Lava Bantal ini Sri Purnomo mengingatkan beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kebersamaan dalam mengelola  obyek wisata sungai ini.

“Kebersamaan dalam pengelolaan sangat menentukan, dan bila ada 10 kelompok dalam Pokdarwis di Kalitirto ini maka sungai akan dapat dikelola denga baik akan jadi faktor utama dalam kehidupan kita,” katanya.

Dengan pengelolaan sungai yang orang tidak akan buang sampah di sungai sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

“Jika lingkungan sungai terjaga kebersihannya tentu akan menarik wisatawan melakukan wisata tubing,” tambah Sri Purnomo.

Pemandu wisata juga diminta untuk menjaga wisatawan yang dipandunya dengan baik. Termasuk menjaga keamanannya. Sri Purnomo minta keamanan dalam berwisata tubing ini diperhatikan dengan baik. Diupayakan seminimal mungkin atau nol persen kecelakaan.

“Para pemandu yang sudah dilatih oleh Disbudpar dan instansi terkait diharapkan bisa mengimplementasikan ilmunya dan tidak boleh lengah sebab menyangkut keselamatan jiwa manusia yang dipandunya disungai,” kata Sri Purnomo.

Sementara Ketua BPPS, Guntur Eka Prasetya SH MH mengatakan kawasan Lava Bantal di Kali Opak ini sangat ideal untuk segera dipasarkan sebagai tujuan baru wisata edukatif.

Guntur menegaskan dengan objek geowisata edukatif Tubing Lava Bantal tersebut sebelumnya telah dilakukan tubing (wisata air arus menggunakan ban) percobaan (trial) sekitar 25 pioner. Jarak tempuh sementara 2 km memerlukan waktu 60 menit saat arus deras. Dapat lebih lama jika debit arus Kali Opak di bawah standar.

Guntur juga menjelaskan saat ini sudah dipersiapkan  100 set perlengkapan tubing, lengkap dengan standar keamanan untuk wisata arus air. Sedang pelatihan pemandu wisata dan sosialisasi Tubing Lava Bantal dilakukan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Ditargetkan, pada  Desember objek ini dapat menjadi alternatif wisata libur akhir tahun.

Sedang Kades Kalitirto, H Suparwoto mengatakan wisata edukatif Geo Tubing Lava Bantal Kalitirto Berbah ini dikelola Pokdarwis Amarta Manunggal yang dibentuk 4 November 2016 dengan 20 anggota pemandu yang mengurusi kegiatan wisata edukatif tubing dan siap memandu wisatawan.

Peresmian ditandai dengan penyematan jaket dan topi serta penandatanganan prasasti oleh Bupati Sleman. Bupati Sri Purnomo juga sempat mencoba wisata tubing tersebut.




‪Di Sleman Penyerapan Dana Desa Capai 99,1 Persen‬

Sleman, InfoPublik – Penyerapan dana desa di Kabupaten Sleman pada 2015 mencapai Rp 27,796 miliar lebih atau sebesar 99,1 persen dari Rp 28,048 miliar lebih.‬

‪”Melalui pelaksanaan program dana desa 2015 seluruh desa di Kabupaten Sleman telah mengalami peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur,” kata Dra Hj Sri Muslimatun MKes, Wakil  Bupati Sleman pada refleksi tiga tahun UU Desa di Desa Pendowoharjo Sleman, Sabtu (17/12).‬

‪Menurut Sri Muslimatun, peningkatan kualitas dan kuantitas tersebut di antaranya melalui pembangunan jalan desa, pembangunan jembatan desa, pembangunan irigasi tersier serta pembangunan infrastruktur lainnya.‬

‪”Selain itu dari dana desa juga telah dilaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan bagi kelompok masyarakat di bidang ketrampilan, kewirausahaan, usaha ekonomi desa, serta beberapa desa digunakan untuk dana penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),” kata Sri Muslimatun.‬

‪Dana desa lanjutnya juga terbukti mampu meningkatkan partisipasi, swadaya dan gotong royong dalam bentuk, barang, uang maupun tenaga kerja melalui kegiatan yang dilaksanakan secara swakelola dengan ditopang pelaksanaan gotong royong oleh warga setempat.‬

‪”Di sisi lain, keberadaan dana desa juga membuka lapangan kerja bagi warga setempat dengan sistem upah yang dibayarkan melalui kegiatan yang didanai dari dana desa dan sumber pendapatan desa yang lain,” tambahnya.‬

‪Sri Muslimatun juga mengatakan, pada 2016 ini Kabupaten Sleman memperoleh dana desa sebesar Rp 63,014 miliar lebih dengan realisasi penggunaan hingga Oktober sebesar Rp 50,411 miliar lebih atau 80 persen.‬

‪”Dalam pelaksanaan dana desa terdapat beberapa masalah, di antaranya penyaluran Dana Desa dari pemerintah pusat masih mengalami keterlambatan, yang berakibat pula pada penyaluran ke desa, sehingga waktu pelaksanaan juga berkurang bagi desa, peraturan dari pemerintah pusat masih kadang-kadang berubah-ubah sehingga pemerintah daerah menunggu untuk membuat kebijakan,” katanya.‬

‪Bagi aparatur pemerintah desa, keberadaan dana desa menjadi tantangan, peluang, dan tanggung jawab yang semakin besar dalam pengelolaan keuangan desa, yang dituntut untuk transparan dan akuntabel, sehingga perlu didorong dan ditingkatkan kapasitasnya secara berkesinambungan.‬

‪”Kami sampaikan pula, bahwa Kabupaten Sleman saat ini memiliki 19 BUMDes yang berada di Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Turi, Kecamatan Berbah, Kecamatan Sleman, Kecamatan Kalasan, Kecamatan Prambanan, Kecamatan Pakem, Kecamatan Ngaglik, Kecamatan Gamping dan Kecamatan Seyegan, dengan unit usaha yang bervariatif sesuai dengan potensi ekonomi desa,” tutur Sri Muslimatun.‬

‪Keberadaan BUMDes, lanjutnya, tentu berimplikasi positif baik bagi pemerintah desa maupun masyarakat, diantaranya meningkatkan pendapatan asli desa (PADes), meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena keberadaannya membuka peluang kerja bagi masyarakat, serta mendorong berkembangnya perekonomian desa.‬

Selain itu jika merujuk pada unit usaha yang dijalankan, misal pada sektor pariwisata tentu keberadaannya juga akan turut mendongkrak sektor usaha atau jasa lainnya.‬

‪Refleksi tiga tahun UU Desa ini juga dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi,  Eko Putro Sandjojo beserta rombongan, Sekjen Kementarian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Dr Anwar Sanusi, Ketua Komite I DPD RI Akhmad Muqowam dan sejumlah pejabat lainnya.

‪Dalam kegiatan tersebut juga dibagikan buku Jelajah Desa Nusantara dan Buku Menuju Desa Wisata Kepada Wakil Bupati Sleman, Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Kepala Desa Pandowoharjo.

‪Anwar Sanusi pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa refleksi tiga tahun UU Desa tersebut bertujuan untuk merefleksikan tiga tahun pelaksanaan UU Desa dan prospek ke depan dalam mendorong kemandirian, demokratisasi, dan kesejahteraan bagi msyarakat desa.‬

‪”Selain itu juga mengabarkan praktik implementasi UU Desa dari desa-desa dari sejumlah daerah di Indonesia,” katanya.