Sleman Prioritaskan Pelaku Ekonomi Lokal Sebagai Soko Guru Perekonomian

DSC_0511 (1024 x 683)Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat di  Sleman memprioritaskan pelaku ekonomi lokal sebagai soko guru perekomian di Kabupaten Sleman. Hal ini selaras dengan tema pembangunan Sleman pada 2017 mendatang yakni “Memberdayakan potensi ekonomi lokal menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Sleman yang berbudaya”.

“Tema ini menggugah untuk menjadikan ekonomi lokal sebagai modal utama pembangunan di Kabupaten Sleman,” kata Sri Purnomo disela-sela menghadiri peresmian pabrik pengemasan gudeg kaleng di komplek pasar Tlogorejo Sleman, Kamis (6/10) sore. Peresmian dilakukan oleh Menteri Perdagangan RI,  Enggartiasto Lukita yang juga dihadiri anggota DPR RI Komisi VI Handayani Endang Sri Karti.

Menurut Sri Purnomo, dengan upaya mendorong UKM di Sleman untuk terus mengembangkan diri sehingga tidak dipandang sebelah mata oleh pasar. Untuk mendorong pengembangan Industri kecil dan menengah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus memberikan program peningkatan kapasitas serta rutin menyelenggarakan pelatihan dan bimbingan teknis. Disamping itu, Pemkab Sleman juga memberikan dana penguatan modal bagi kelompok usaha dan koperasi di Kabupaten Sleman.

“Hingga bulan Agustus 2016, Pemkab Sleman telah menggulirkan dana penguatan modal sebesar Rp 11,6 miliar kepada 217 orang/ kelompok/ koperasi,” kata Sri Purnomo.

Pemkab Sleman lanjutnya pada tahun 2016, telah menganggarkan Rp 40 juta sebagai stimulan sertifikasi HKI. Dana stimulan ini ditujukan untuk mengapresiasi dan melindungi hasil karya warga Sleman serta meningkatkan pemahaman masyarakat pelaku ekonomi akan pentingnya HKI sebagai salah satu upaya peningkatan pendapatan pelaku ekonomi. Upaya yang telah dilakukan Pemkab Sleman berhasil meningkatkan jumlah usaha industri dari pada tahun 2014 saat ini menjadi atau meningkat 1,83%.

Kendala yang tengah dihadapi pelaku usaha kecil saat ini adalah pemasaran produk agar lebih dikenal pasar. Untuk itu, Pemkab Sleman berupaya memfasilitasi promosi UKM secara online dengan meluncurkan  sebagai laman e-commerce khusus UKM di Kabupaten Sleman.

Sementara Menteri Perdagangan RI,  Enggartiasto Lukita  menyampaikan komitmennya dalam mendorong usaha kecil menengah dan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemkab Sleman yang telah mendorong kemajuan UMKM di Kabupaten Sleman.

Adanya pabrik pengemasan gudeg kaleng ini merupakan inovasi yang luar biasa bagi dunia usaha di Sleman dan menyampaikan penghargaan kepada LIPI yang telah memberikan pendampingan bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha kuliner makanan  tradisional kekayaan makanan khas Jogja.

Jenis makanan khas ini berbeda dengan daerah maupun negara lain. Inovasi pengemasan dengan kaleng yang mampu bertahan hingga 2 tahun maka mempunyai nilai tambah yang sangat besar karena bisa dibawa kemana saja dalam waktu yang cukup lama.

Enggartiasto Lukita mengakui usaha UKM yang palig sulit adalah menembus pasar maka kewajiban pemerintah adalah membantu UKM agar bisa memasarkan produknya. Menteri secara khusus menunjuk asosiasi ritail untuk dapat menampung dan memasarkan produk gudeng kaleng produk PT Risquna Dewaksara.

Kegiatan usaha seperti ini sesuatu yang sangat positif apalagi membuka diri kepada masyarakat untuk memanfaatkan mesin untuk ikut diawetkan dan diproduksi di pabrik ini. Mesin yang dipake merupakan produk kita sendiri yang walaupun merupakan inovasi produk negara lain. Namun hal ini sudah biasa dilakukan oleh negara-negara lain sebagai suatu riset yang mampu dikembangkan ke arah yang lebih baik.




Hadapi Cuaca Ekstrim Bulan Oktober, BPBD Sleman Waspadai 4 Bencana

Sleman – Menghadapi cuaca ekstrim bulan Oktober ini di Kabupaten Sleman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman berupaya mengantisipasi terhadap ancaman 4 bencana yang kemungkinan bisa terjadi. Ancaman bencana tersebut antara lain angin ribut/ putting beliung, petir, banjir dan longsor.

“Berdasarkan surat dari BMKG sudah diinformasikan bahwa terjadi prakiraan maju musim penghujan untuk wilayah Kabupaten Sleman yaitu akhir bulan September 2016 dengan curah hujan sampai dengan 300 ml/bulan dan akan terjadi hujan lebat dengan intensitas 30-40 ml. Mengingat terjadinya pancaroba diperlukan antisipasi bencana angin ribut, petir, banjir dan longsor,” kata Drs Kunto Riyadi MPPM, Plt Kalak BPBD Sleman, Kamis (6/10).

Berkaitan dengan hal tersebut dikatakan Kunto, BPBD Sleman melakukan upaya penanggulangan bencana angin ribut, petir, banjir dan longsor. Menurut Kunto, bencana angin putting beliung kemungkinan terjadi merata diseluruh wilayah Sleman mengingat ancaman bencana angin ribut sampai saat ini belum dapat dipetakan pola tempat kejadiannya.

“Upaya pengurangan risiko bencana adalah dengan menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pemangkasan ranting pohon yang menjulur ke bangunan rumah atau fasilitas umum lainnya,” kata Kunto.

Sementara untuk bencana petir biasanya terjadi hampir bersmaan dengan angin ribut karena pekatnya konsentrasi awan cumulonimbus. Mengurangi dampak bencananya dengan cara menghimbau kepada masyarakat untuk mematikan TV, radio yang memiliki antena luar pada saat terjadi petir.

Sedang curah hujan yang tinggi dalam durasi waktu yang lama dapat berpotensi menjadi banjir baik banjir aliran sungai maupun banjir lahar hujan. Untuk bencana tanah longsor berbeda dengan ancaman bencana lainnya, bencana tanah longsor sudah terpetakan di wilayah Kecamatan Prambanan. Disinggung kondisi Gunung Merapi, dikatakan Kunto berdasarkan surat dari BPPTKG Jogja, saat ini Gunung Merapi dalam  kondisi normal.

“Berdasarkan surat daro BPPTKG Jogja indikator visual dan tehnis Merapi  menunjukkan gejala normal. Karena itu antisipasi dan aktifitas seperti biasa. Kita cukup canggih bisa monitor keadaan Merapi kecuali  diluar dugaan,” tutur Kunto.




Keberadaan Korpri Jadi Bagian Kehidupan PNS Sleman

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan bahwa penyelenggaraan Musyawarah Korpri Kabupaten Sleman  merupakan langkah yang sangat strategis untuk memelihara dinamika organisasi. Selain itu diharapkan melalui  kegiatan musyawarah tersebut akan muncul berbagai agenda dan action plan dari Korpri Kabupaten Sleman yang merupakan aspirasi dari anggota Korpri dalam upaya menunjukkan dan memperkokoh eksistensi Korpri sebagai sebuah organisasi.

“Diharapkan agar kegiatan musyawarah tersebut dapat menjadi  media koordinasi antara seluruh pengurus dalam upaya melaksanakan program kerja yang dicanangkan. Bahwa seiring dengan besarnya tuntutan dan tantangan yang dihadapi PNS Kabupaten Sleman dalam menyelenggarakan Good Governance, peran Korpri juga harus semakin mampu merespon kebutuhan anggotan,” kata Sri Purnomo usai membuka Musyawarah Korpri  Kabupaten sleman tahun 2016 di lantai III Pemkab Sleman, Kamis (6/10).

Oleh karena itu Sri Purnomo berharap agar kegiatan musyawarah tersebut dapat mengembangkan pemikiran yang mengarah kepada peningkatan profesionalisme aparatur, meningkatkan mutu pelayanan tanpa diskriminatif, memantapkan netralitas dan obyektifitas pelaksanaan tugas serta peningkatan kesejahteraan anggota KORPRI itu sendiri.

“Yang jelas keberadaan Korpri Sleman dalam menjalankan kepengurusannya harus menjadi bagian kehidupan PNS Kabupaten Sleman. Artinya program kerja Korpri Sleman diharapkan dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh anggotanya dan ditingkatkan dari tahun ke tahun, sehingga eksistensi Korpri Kabupaten Sleman dapat dirasakan secara nyata baik dalam meningkatkan profesionalisme PNS maupun dalam peningkatan kesejahteraan PNS,” katanya.

Peran PNS yang tergabung dalam wadah Korpri sangatlah besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pemerintahan dan terciptanya pelayanan prima kepada masyarakat. Banyak hal yang telah dilakukan untuk membawa Sleman ini menjadi kabupaten yang berprestasi di Indonesia.

Kedepan Sri Purnomo berharap Korpri lebih menggali potensi yang ada pada anggotanya, bukan hanya untuk peningkatan kesejahteraan anggotanya, tapi juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sleman.

Hal lain yang perlu lebih diperhatikan adalah masalah transparansi anggaran. Korpri harus menjadi contoh juga bagi organisasi lainnya dalam pengelolaan anggaran yang transparan dan tertib administrasi.

Dengan demikian anggota akan memberikan kepercayaan secara itu Sri Purnomo juga mengharapkan dukungan Korpri unit kerja yang sangat strategis untuk ikut melakukan pembinaan terhadap anggota ke arah profesionalisme. Keberadaan Korpri di unit kerja sebagian besar belum terlihat eksistensinya, aktivitas yang dilakukan masih berorientasi merespon kegiatan yang dilakukan oleh Korpri Kabupaten.

Sedangkan Ketua Dewan pengurus Korpri Kabupaten Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno menyampaikan bahwa tujuan musyawarah  Korpri tersebut untuk melaporkan hasil kerja kepengurusan Dewan Pengurus Korpri periode 2010-2016, juga untuk mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan serta menyusun program kerja  periode 2016-2021.




Agar Tetap Eksis, Perajin Genteng di Sleman Harus Punya Ciri Khas

IMG_9361Sleman – Kecamatan Godean dan Kecamatan Seyegan  sudah sejak lama menjadi sentra produksi genteng di Kabupaten Sleman. Agar keberadaan genteng Godean dan Seyegan tetap eksis harus selalu mempertahankan kualitas dan punya ciri khas itu Desa Margodadi Kecamatan  Seyegan yang juga merupakan sentra Industri Genteng bagi Kabupaten Sleman  telah dikukuhkan sebagai desa sentra industri Genteng, Rabu (5/10).

Pengukuhan dilakukan oleh Asekda Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih. Pengukuhan ditandai dengan penyerahan SK pengukuhan yang diterima ketua Sentra Genteng Margodadi Marsono. Usai pengukuhan, Suyamsih menyampaikan bahwa Industri genteng Margodadi Seyegan telah berkontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat Seyegan. Hal tersebut mengartikan bahwa maju dan mundurnya kegiatan industri genteng di Seyegan akan memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakatnya.

“Saat ini di pasaran banyak produk-produk baru genteng dengan berbagai macam bahan dan model. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan usaha atap bangunan semakin ketat,” kata Suyamsih.

Berkaitan dengan hal tersebut lanjutnya, diharapkan industri genteng Seyegan dapat memenangkan persaingan ini. Dan untuk memenangkan persaingan, para perajin genteng harus mau berinovasi dan memanfaatkan berbagai teknologi yang berkembang untuk mendukung industri genteng mulai dari proses produksi sampai dengan sistem pemasarannya.

“Para perajin genteng Seyegan harus yakin dapat memenangkan persaingan karena setiap produk atap bagunan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sehingga yang menjadi tantangan bagi perajin sekarang adalah bisa apa tidak mempublikasikan kelebihan-kelebihan dari genteng Seyegan sehingga dapat menarik minat masyarakat. Banyak media yang dapat digunakan untuk itu, salah satunya melalui internet,” kata Suyamsih.

Teknologi informasi sekarang semakin murah dan mudah, sehingga sayang bila tidak dimanfaatkan untuk memajukan setiap usaha yang dijalankan. Suyamsih juga berpesan kepada semua perajin genteng di Seyegan khususnya dan Kabupaten Sleman umumnya untuk tetap gigih dan tidak mudah menyerah.

“Hadapilah setiap tantangan bahkan hambatan dengan kerja keras dan kesungguhan berusaha untuk terus meraih  sukses,” katanya.

Ditambahkan Suyamsih bahwa setiap kegiatan yang menyangkut kontrak kerja pembangunan di Sleman harus selalu menggunakaan genteng Sleman.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Sleman, Drs Pustopo mengatakan  tujuan pengukuhan sentra industri genteng untuk meningkatkan kompetensi sentra dalam kancah ekonomi global khususnya dalam cabang industri kimia bahan bangunan, dan untuk meningkatkan peran serta kelembagaan sentra dalam pemberdayaan ekonomi melalui sentra industri kecil.




Lindungi Penemuan Kreatif Masyarakat, Pemkab Sleman Berikan Dana Stimulan

Sleman – Untuk membantu masyarakat dalam pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berkomitmen untuk terus mengembangkan kawasan berbudaya HKI sebagai implementasi Keputusan Kementrian Hukum dan HAM tentang Penetapan Kabupaten Sleman sebagai Kawasan berbudaya HKI. 

Bupati Sleman, Drs H  Sri Purnomo MSI mengungkapkan hal tersebut usai membuka  Seminar Hari Teknologi Nasional ke 21 Tahun 2016 di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Sleman, Rabu (5/10).

Sri Purnomo menjelaskan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Pemkab Sleman telah menganggarkan Rp 40 juta sebagai stimulan biaya sertifikasi HKI di tahun 2016. Dana stimulan tersebut ditujukan untuk mengapresiasi dan melindungi hasil karya warga Sleman serta meningkatkan pemahaman masyarakat pelaku ekonomi akan pentingnya HKI sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan pelaku ekonomi.

”Pemkab Sleman mendorong berkembangnya iklim budaya kreatif dengan mendorong kecamatan sebagai pusat pengembangan budaya dan pusat pertumbuhan ekonomi serta mengapresiasi karya cipta warga Sleman melalui peningkatan kualitas produk, promosi produk, fasilitasi sertifikasi produk, pembinaan dan fasilitasi stimulan pendaftaran HKI,” jelas Sri Purnomo.

Sementara Kepala Bappeda Kabupaten Sleman, drg Intriati Yudatiningsih MKes menyampaikan bahwa pelaksanaan seminar peringatan hari teknologi yang mengambil tema ”Inovasi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa” tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM petani dan UMKM di Kabupaten Sleman.

Selain itu juga bertujuan untuk membangun jejaring antar akademisi, bisnis, pemerintah, dan komunitas. Menurut Intriati inovasi merupakan sebuah hal baru yang pada dasarnya adalah hasil dari sebuah produk. Proses berlangsungnya secara sistematis dan terintegrasi sebagai hasil kosep dari ‘berawal diakhir dan diakhir berawal’.

”Diharapkan dengan seminar ini pelaksanaan Sistem Informasi Daerah dapat meningkatkan nilai tambah yang pada akhirnya dapat mencapai kemandirian dan daya saing produk Kabupaten Sleman,” kata Intriati.

Dalam acara tersebut Bupati Sleman juga secara simbolis menyerahkan bantuan stimulan sebesar Rp 4,4 juta untuk biaya pendaftaran sertifikasi HKI pada Suryadi SPd dengan nama paten penemuan Media Tanam Dari Plastik Kresek (Mediokres) dan Rp 6,3 juta  pada SMK Diponegoro Aliudin dengan nama paten penemuan Motor Anti Begal.