‪Musim Hujan, Sleman Waspadai Banjir dan Longsor‬

Sleman – Musim hujan sudah berlangsung saat ini. Dampak musim hujan banjir dan tanah longsor diperkirakan bakal mengancam di sejumlah kawasan di Kabupaten Sleman terutama di kawasan sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Ancaman itu muncul seiring dengan musim hujan yang sudah berlangsung sejak pertengahan September lalu.

“Selain potensi banjir dan tanah longsor, angin kencang dan petir masih berpotensi di awal musim hujan,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Rabu (5/10).

Dikatakan Makwan,  pada musim hujan ini potensi tanah longsor berdasarkan peta dan kebiasaan bakal terjadi di tempat yang tinggi dan tanah yang tidak begitu kuat. Di Kabupaten Sleman empat-tempat itu antara lain terdapat di kawasan bagian utara serta timur yaitu di Pakem, Cangkringan dan perbukitan di Prambanan.

Sementara menurut Makwan bahaya banjir mengancam kawasan di sekitar sungai besar. Seperti Kali Gendol, Kali Opak, Kali Kuning, Kali Boyong dan Kali Krasak. Kali Boyong jika banjir bisa mencapai Kali Code yang melintasi dua kabupaten dan Kota Yogyakarta, sehingga membahayakan warga yang tinggal di sekitarnya.

‬”Bahaya banjir itu tak cuma di sunggai-sungai besar. Sungai-sungai kecil pun harus diwaspadai,” kata Makwan.

Jika hujan lebat, lanjut Makwan terjadinya peningkatan debit air di kawasan hilir secara mendadak dan juga menyebabkan sungai kecil ikut meluap, termasuk Kali Gajah Wong yang melintasi Sleman, Jogja dan Bantul.

Untuk mengantisipasi bencana banjir ini BPBD Sleman dikatakan Makwan, sudah memastikan tanggul-tanggul sejumlah sungai yang melewati wilayah setempat dalam kondisi aman dan sudah siap menghadapi curah hujan tinggi.‬

‪”Tanggul sungai yang rusak telah diperbaiki semua, dan siap saat musim hujan ini. Meski demikian tetap perlu diwaspadai ketika ada penyumbatan alur dan hujan yang terlalu ekstrim,” tuturnya.

‪Ketika ada hambatan aliran atau penyumbatan akibat sampah, maka itu sangat berbahaya, sehingga kemampuan pemantauan sangat diperlukan ketika terjadi curah hujan tinggi.‬

‪”Yang perlu diwaspadai saat turun hujan deras yang cukup ekstrim adalah penyumbatan aliran sungai karena sampah,” katanya.‬

‪Makwan mengatakan, untuk memantau aliran sungai ini pihaknya bermitra dengan seluruh komunitas relawan yang ada di Kabupaten Sleman.‬

‪”Relawan sangat diperlukan kemampuannya untuk memantau, memahami perilaku sungai, serta kecepatannya menyelamatkan korban,” kata Makwan.‬

‪Makwan mengatakan, musim hujan sebelumnya, di Kabupaten Sleman terjadi setidaknya ada 12 peristiwa bencana akibat luapan sungai. Itupun hanya di sungai yang mempunyai hulu Sungai Winongo.




Agar Eksis Ditengah Persaingan Bupati Himbau Perajin Genteng Terus Berinovasi

IMG_9312 (2)Sleman – Persaingan produksi bahan atap bangunan semakin ketat. Terutama produk genteng dengan beraneka ragam jenis dari berbagai macam bahan dan model yang saat ini beredar dipasaran.

Mengantisipasi persaingan tersebut Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI berharap sentra genteng di Sleman khususnya Godean untuk terus berinovasi dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses industri dan pemasaran.

“Persaingan semakin ketat, dengan inovasi dan pemanfaat teknologi tentunya akan mempermudah dalam pengembangan dan pemasaran industri genteng di Godean ini,” tutur Sri Purnomo disela-sela pengukuhan Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal di Kwagon Desa Sidorejo Kecamatan Godean, Selasa (4/10).

Sri Purnomo juga menjelaskan bahwa Kecamatan Godean merupakan pusat industri genteng terbesar untuk wilayah Kabupaten Sleman. Bahan baku lokal untuk produksi genteng juga berasal dari wilayah setempat. Menurutnya bahan baku tanah liat dari Godean juga memiliki kualitas yang baik dan dapat bersaing dengan produk genteng dari luar wilayah Sleman.

Sri Purnomo berharap dengan dikukuhkannya Desa Sidorejo sebagai sentra industri genteng Godean dapat memajukan industri dan mengembangkan potensi yang ada di Sidorejo. Untuk itu Sri Purnomo juga mengajak seluruh pelaku industri, stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama menggunakan produk lokal agar menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Sementara Sukiman selaku Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal menjelaskan bahwa jumlah pengrajin genteng di wilayah Sidorejo sebanyak 85 perajin dari total 358 perajin genteng yang ada di Kecamatan Godean. Menurutnya berbagai macam model genteng diproduksi di wilayahnya seperti Genteng Paris, Turbo, Kodok, Magas, Morano, dan Mantili.

“Selain memproduksi genteng kami juga memproduksi wuwung dan bata merah,” jelas Sukiman.

Sukiman berharap dengan dikukuhkannya asosiasi sentra genteng tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dapat melindungi produksi genteng asli Kabupaten Sleman agar pemasaran genteng lokal dapat berkembang sehingga industri rumah tangga pengrajin genteng dapat bertahan ditengah persaingan.

Selain itu Sukiman juga berharap agar Pemkab Sleman melarang produksi genteng dengan bahan baku dari luar wilayah Sleman agar terjaga kualitas dan produksi genteng yang dipasarkan sesuai asal kewilayahan.




Masih Banyak Usaha Mikro Yang Belum Tersentuh Perbankan

IMG_9906Sleman – Usaha mikro kecil banyak berkembang di Kabupaten Sleman. Namun keberadaan usaha mikro kecil ini kebanyakan belum tersentuh perbankan dalam permodalannya. Melihat hal seperti ini Bank Sleman berkomitmen membantu usaha mikro kecil yang selama ini belum tersentuh perbankan.

“Di Sleman usaha mikro kecil ini jumlahnya sangat banyak dan perlu dibantu untuk mengangkat produk-produk lokal. Kalau usaha dalam skala besar, itu sudah menjadi segmennya bank-bank besar. Kami lebih suka membantu usaha-usaha mikro yang selama ini kesulitan mendapat akses perbankan,” kata  Dirut PD BPR Bank Sleman, Muh Sigit di sela-sela kunjungan  ke usaha mikro di Sleman, pekan lalu.

Dalam kunjungan tersebut melihat usaha pembuatan kerajinan aksesoris kuda di Ngawen Sidokarto Godean dan usaha anyaman mendong di Dusun Plembon Sendangsari Minggir.

Dikatakan Sigit, usaha kecil mikro di Sleman jumlahnya mencapai lebih dari 26 ribu unit usaha mikro. Namun yang tersentuh perbankan belum ada separohnya. Hal ini bisa terjadi karena mereka sulit mengakses perbankan. Salah satunya terkendala segala macam perizinan, seperti izin usaha dan tidak adanya jaminan kredit.

“Kami memberi solusi dengan memberi kredit khusus dari Bank Sleman yang tidak mensyaratkan banyak perizinan dan jaminan. Para pelaku usaha mikro itu mendapat kredit Rp 1 juta saja sudah bersyukur dan bisa digunakan untuk mengembangkan usaha. Untuk itulah Bank Sleman hadir dan membantu mereka,” tutur Sigit.

Diungkapkan Sigit, Bank Sleman sudah menyalurkan kredit untuk usaha mikro dan kecil menengah sekitar Rp 486 miliar. Kredit tersebut diberikan tidak hanya untuk usaha yang sudah punya izin usaha, tetapi diberikan untuk pelaku usaha yan tak berizin usaha cukup surat keterangan dari desa.

“Dan alhamdulillah, kredit macet dari dana yang kami salurkan tersebeut masih di bawah 1 persen,” kata Sigit.

Hal itu dibenarkan oleh Dwiyanto yang menekuni usaha mendong di Minggir. Melalui kredit murah dari Bank Sleman, produk kerajinan mendong di Dusun Plembon Sendangsari tersebut semakin eksis dan diminati pembeli dari Jerman dan Jepang.




Pemkab Sosialisasi Satu Juta Domain Gratis

IMG_9964Sleman – Pemberian domain gratis bagi komunitas dan UKM di Kabupaten Sleman oleh Kemenkominfo RI mendapat apresiasi Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI.

Dalam sosialisasi satu juta domain gratis yang diselenggarakan, Selasa (4/10) di The Sahid Rich Hotel, Sri Purnomo menyampaikan bahwa di era teknologi informasi yang berkembang pesat, program tersebut tentunya memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mempublikasikan usaha sehingga mendorong pergerakan ekonomi local ke arah yang lebih baik.

Dalam Visi Kabupaten Sleman 2016-2021, peningkatan aplikasi dan integrasi system e-Government merupakan salah satu poin penting yang terus digalakkan di berbagai bidang. “Tugas tersebut tidak mudah mengingat perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak dapat dijangkau semua lapisan masyarakat,” kata Sri Purnomo.

Hal tersebut lanjut Sri Purnomo, membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk memberikan kemudahan akses teknologi informasi bagi masyarakat. Program Satu Juta Domain Gratis tersebut menjadi solusi untuk mendorong pertumbuhan e-commerce local, menumbuhkan konten positif dalam negeri sekaligus melokalisir akses internet dalam negeri. Mempercepat akses internet serta mewujudkan akses internet yang lebih terjangkau.

Disampaikan pula bahwa Data domain yang telah terdaftar dalam program satu juta domain hingga hari ini baru mencapai domain dari total target sebesar domain di DIY.

Sri Purnomo berharap melalui sosialisasi ini dapat memacu masyarakat Sleman yang memiliki usaha kecil untuk segera mendaftarkan diri untuk memiliki domainnya. Terlebih saat ini tuntutan kemudahan transaksi online menjadi syarat wajib bisnis e-commerce. Kepada seluruh peserta sosialisasi Sri Purnomo berharap, peserta dapat menjadi agen perubahan di lingkup komunitas.

“Sosialisasi program ini tidak hanya berhenti disini namun harus kembali disebarluaskan oleh masing-masing peserta sehingga dapat mengundang lebih banyak pengguna domain ‘.id’ (baca: dot id),” katanya.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah upaya maintenance domain itu sendiri. Banyak pengguna web yang hanya bersemangat di awal pembuatan domain namun justru lupa memperbaharui konten domain sehingga tidak menarik user untuk mengakses domain tersebut.

Terkait hal tersebut, Sri Purnomo minta kepada dinas terkait untuk mengawal proses ini dengan membekali dan meningkatkan kemampuan para pengguna domain serta secara berkala melakukan evaluasi sehingga domain-domain yang telah terdaftar dapat terus berkembang dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi di wilayah Sleman.

Sedangkan Kepala Dinas Hubkominfo Kabupaten Sleman Drs Agoes Soesilo Endiyarto SE mengatakan bahwa  peserta sosialisasi sebanyak 200 orang yang terdiri dari Desa se Kabupaten Sleman, UKM, Sekolah dan komunitas pelaku pariwisata.




Festival Anggrek Tricolor Digelar di Sleman

Sleman – Kabupaten Sleman merupakan kawasan wilayah dilereng Gunung Merapi yang memiliki potensi dan kecocokan lahan untuk budidaya anggrek. Namun pada saat ini anggrek Tricolor khususnya Tricolor Merapi dinilai semakin langka.

Untuk mengantisipasi keprihatinan tersebut Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) DIY dan Fakultas Biologi UGM didukung Pemkab Sleman menyelenggarakan Festival Vanda Tricolor Var Suavis.

Demikian diungkapkan  Ketua Panitia Festival Vanda Tricolor, Ir Kadarso MS ketika melakukan  koordinasi persiapan acara tersebut di Taman Anggrek Tiri Orchids Jl Boyong Harjobinangun Pakem Sleman, Selasa (4/10).

Kadarso menambahkan bahwa Festival Anggrek Tricolor tersebut selain dimaksudkan untuk melestarikan dan menumbuhkembangkan tanaman anggrek Vanda Tricolor juga untuk meningkatkan apresiasi terhadap tanaman anggrek secara umum. Festival akan dilaksanakan pada tanggal 15-16 Oktober 2016 di Taman Anggrek Tiri Orchids. Peserta terbuka untuk umum dari berbagai daerah.

Selain itu panitia juga menggelar pameran dan bursa anggrek, demo merangkai anggrek Vanda Tricolor, dan pelatihan budidaya anggrek. Peserta yang dinyatakan sebagai pemenang akan memperoleh sertifikat dan bantuan stimulan pemeliharaan.

Bagi calon peserta festival ini diharapkan untuk mengirimkan tanaman anggrek yang difestivalkan paling lambat pada tanggal 13 Oktober 2016 di Taman Anggrek Tiri Orchids Sleman.

Sementara Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA mengatakan bahwa Festival Anggrek Tricolor ini merupakan event yang strategis yang diharapkan dapat mendukung kepariwisataan daerah.

Oleh karenanya diharapkan event ini dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya, sehingga menjadi event pariwisata yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh masyarakat umum dari berbagai daerah.

Diharapkan para peserta selain nantinya mengikuti event festival anggrek ini juga sekaligus dapat mengeksplore destinasi lain dikawasan lereng Merapi dan destinasi lain di Jogja secara umum.