‪Wisata Tebing Breksi Tetap Aman Dikunjungi

Sleman – Tempat wisata Taman Tebing Breksi di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman, pada musim hujan seperti saat ini tetap aman dikunjungi wisatawan meskipun berada di wilayah rawan longsor.‬

‪”Kami telah menyiapkan berbagai upaya antisipasi dan fasilitas untuk pendukung keamanan wisatawan,” kata Ketua Desa Wisata Sambirejo, Prambanan, Kholiq Widiyanto, di Sleman, Senin (3/10).‬

‪Kholiq mengatakan fasilitas pendukung keamanan, di antaranya satu penangkal petir dengan radius jari-jari 150 meter. Di atas tebing pada tepinya juga sudah dikelilingi dengan pagar pengaman.‬

‪”Harapan kami dengan persiapan pengamanan ini semoga tidak ada kejadian apa-apa, terutama terhadap pengunjung Taman Tebing Breksi,” kata Kholiq.‬

‪Objek wisata Taman Tebing Breksi yang mulai dikelola warga setempat sejak beberapa tahun lalu itu, berada di daerah perbukitan Prambanan, tepatnya di Desa Sambirejo dengan memanfaatkan tebing, yang dahalu merupakan kawasan penambangan batu oleh warga setempat.‬

‪”Sudah bertahun-tahun dulu dijadikan tambang batu, lalu jadi seperti itu. Sebagian warga masih melakukan aktivitas penambangan batu. Selain ada juga yang beralih untuk menjadi pelaku wisata,” katanya.‬

‪Kholiq menambahkan  Taman Tebing Breksi yang berada satu jalur dengan situs sejarah Budaya Candi Ijo ini dalam beberapa waktu terakhir mulai banyak dikunjungi wisatawan.‬

Wisatawan sudah cukup banyak yang datang ke Taman Tebing Breksi, apalagi beberapa waktu terakhir banyak `event` seni, budaya, maupun olahraga yang diselenggarakan di kawasan Taman Tebing Breksi.




Sleman Optimalkan Pariwisata Melalui Kepramukaan

Penyerahan Bendera Saka Pariwisata kepada Ketua Majlis    Pembimbing Saka PariwisataSleman – Kabupaten Sleman telah memiliki Saka Pariwisata sejak tahun 2014. Keberadaan Saka Pariwisata ini dimaksudkan untuk mendidik generasi muda yang berkualitas sekaligus mendukung dan mengoptimalkan pemasaran pariwisata. Hal tersebut dikarenakan Pramuka merupakan akar budaya yang kuat dan memiliki peran yang strategis untuk membangun bangsa.

Demikian disampaikan  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM selaku Ketua Majelis Pembimbing Saka Pramuka Pariwisata Kwarcab Sleman periode 2014 – 2019, usai membuka Pendidikan Dasar Saka Pariwisata di Sleman, Senin (3/10).

Menurut Ayu  bahwa Saka Pariwisata memiliki peran yang signifikan dalam upaya mendukung perkembangan kepariwisataan Kabupaten Sleman melalui aktivitas nyata yang dilakukan oleh para generasi muda.

“Program ini akan memberikan manfaat ganda yaitu pembinaan generasi muda sekaligus upaya promosi dan pemasaran pariwisata. Hal ini dinilai penting karena Kabupaten Sleman memiliki potensi pariwisata yang sangat prospektif untuk dikembangkan,” kata Ayu.

Dengan adanya Saka Pariwisata yang terbagi atas 3 krida, yaitu krida penyuluh wisata, krida kuliner wisata dan krida pemandu wisata diharapkan kedepan perkembangan kepariwisataan di Kabupaten Sleman dapat semakin baik.

“Dengan demikian semakin banyak komunitas yang peduli dan berkontribusi nyata terhadap kepariwisataan Sleman maka sektor ini akan dapat tergarap dengan baik dan didukung oleh banyak pihak,” tuturnya. Ujungnya destinasi wisata di Sleman dapat menjadi acuan dan pilihan utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Jogja.

Pendidikan dasar Saka Pariwisata Cabang Sleman lanjutnya akan dilaksanakan ditiga lokasi, yaitu di Kecamatan Depok, Kecamatan Godean dan Kecamatan Kalasan. Pendidikan dasar Saka Pariwisata yang dilaksanakan di SMK PI Ambarukmo, kemarin merupakan yang pertama kalinya dan diikuti oleh 30 peserta.

Adapun materi yang disampaikan dalam pendidikan dasar tersebut meliputi “Saka Pariwisata” oleh Bambang Pamungkas dan Tri Muryanti, “Sadar Wisata” oleh Niana Rochma SS, “Ekowisata” oleh Wijaya SHut MSc dari Pusat Studi Pariwisata UGM dan “Paket Wisata Ekowisata” oleh Guntur Eka dari ASITA.




Bupati Resmikan Gapura Dusun Clumprit

DSC_0518Sleman – Gapura senilai Rp 61 juta  di Dusun Clumprit Desa Sardonoharjo Kecamatan Ngaglik telah diresmikan oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Minggu (2/10) yang ditandai dengan pengguntingan buntal. Disamping peresmian Gapura juga dilakukan peresmian Perpustakaan Darul Ilmi di Masjid Baiturahman dusun setempat.

Usai peresmian gapura, Sri Purnomo dan rombongan meninjau pembangunan jalan Dusun yang telah diaspal beberapa waktu lalu dan Perpustakaan masjid Darul Ilmi. Hadir mendampingi Bupati antara lain Camat Ngaglik Anggoro Aji Sunaryono SH, Kepala  Desa Sardonoharjo.

Selain  itu Sri Purnomo juga menyerahkan santunan kepada anak yatim di dusun Clumprit, atas prakarsa Takmir masjid Baiturahman. Usai penyerahan santunan, Sri Purnomo menyampaikan bahwa tradisi yang dilakukan masyarakat dusun Clumprit dengan pengajian menyambut Tahun Baru Hijriyah sangat baik dan perlu dilestarikan, terlebih pada kesempatan tersebut dilakukan penyerahan bantuan kepada mereka yang berhak menerima , seperti anak yatim/piatu.

“Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dusun Clumprit perlu lebih digalakkan lagi, termasuk dengan pendatang yang berada disekitar Dusun Clumprit supaya hidup  guyub rukun dalam pembangunan,” kata Sri Purnomo.

Disampaikan pula bahwa kalau masyarakatnya aktif dan giat maka Bupatinya juga akan aktif untuk mengunjungi dalam mendorong pembangunan. Terkait dengan perpustakaan Sri Purnomo menyampaikan bahwa minat baca orang Indonesia masih kalah dibanding dengan negara negara maju.

Untuk itu Sri Purnomo berharap agar  kondisi tersebut bisa berubah dan menjadikan minat baca orang Indonesia menjadi lebih baik. Disamping itu dengan adanya beberapa perpustakaan Desa dan beberapa perpustakaan masjid menjadikan kualitas dan kuantitas minat baca menjadi lebih baik.




‪”Mina Ngremboko” Budidayakan Ikan di Lahan Pekarangan Kosong Milik Warga

Sleman – Dengan memanfaatkan lahan pekarangan kosong milik warga,  Kelompok Petani Ikan “Mina Ngremboko” Dusun Bokesan Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman membudidayakan ikan air tawar.

‪”Kami terus berusaha mengembangkan usaha pembibitan maupun pembesaran ikan air tawar. Belum lama ini lahan seluas satu hektare di dekat Sungai Gendol diubah menjadi kolam ikan,” kata Ketua Petani Ikan “Mina Ngremboko”, Saptono di Sleman, Jumat (30/9) .‬

‪Menurut Saptono, setiap rumah warga juga diwajibkan untuk mempunyai kolam ikan. Terutama mereka yang masuk dalam anggota kelompok “Mina Ngremboko”.‬

‪”Upaya ini dilakukan dan dikembangkan agar kebutuhan bibit ikan air tawar di seluruh nusantara bisa terus terpenuhi. Selain itu masyarakat setempat bisa semakin sejahtera di tempat asalnya sendiri. Bibit ikan dari sini, saat ini sudah hampir terdistribusikan ke suluruh Indonesia,” katanya.‬

‪Saptono mengatakan, selain budidaya ikan, juga tanaman telah dirambah KPI Mina Ngemboko. Terutama jenis-jenis tanaman yang bisa sebagai penyerap air.‬

‪”Dengan demikian maka ekowisatanya bisa nyambung,” katanya.

Wisatawan yang berkunjung ke desa wisata Dusun Bokesan ini  tak hanya belajar mengenai budi daya ikan saja. Namun, anak-anak bisa mengenalkan berbagai jenis tanaman dan semakin peduli terhadap lingkungannya,” tutur Saptono.‬

‪Sementara Bendahara KPI “Mina Ngremboko”, Jarot Wibowo mengatakan selain bibit juga hasil produksi makanan ikan telah banyak permintaan.‬

‪”Kami di sini juga membuat pakan ikan sendiri, untuk menekan biaya dalam budi daya ikan. Selain itu juga berbagai olahan makanan berbahan dasar ikan, seperti abon ikan, bakso ikan dan lainnya,” katanya.‬

‪Ia menambahkan, dari berbagai jenis usaha yang dikembangkan KPI “Mina Ngremboko” ini omzet per tahun bisa mencapai lebih dari Rp12 miliar.‬

‪”Omzet hingga Rp 12 miliar lebih ini berasal dari penjualan bibit ikan, pakan ikan dan produk olahan lainnya. Budi daya ikan telah banyak meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Dusun Bokesan,” kata Jarot.




Kesenian Tradisional Didorong Dukung Objek Wisata‬

‪Sleman – Kesenian tradisional maupun upacara adat yang banyak terdapat di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman didorong untuk dapat mendukung objek wisata daerah Sleman.‬

‪”Kesenian tradisional dapat ditampilkan di objek-objek wisata di lereng Merapi sehingga bisa memberikan warna di setiap objek wisata,” kata Camat Cangkringan, Drs Edi Harmana, di Sleman, Jumat (30/9).‬

‪Menurut Edi, dengan penampilan kesenian tradisional tersebut diharapkan pengunjung tidak merasakan kebosanan dengan destinasi yang monoton.‬

‪”Dorongan ini ditujukannya ke objek wisata lingkup Lava Tour Merapi. Karena destinasinya hanya itu-itu saja,” kata Edi.‬

‪Edi menambahkan wisatawan yang menyewa jip wisata kemudian dibawa berkeliling di seputaran lereng Merapi. Melihat bekas-bekas erupsi 2010.‬

‪”Kalau ke makam ya hanya melihat makam saja. Saya ingin ketika di suatu tempat singgahan, ada yang menyambut. Utamanya kesenian adatnya sendiri. Seperti jathilan, atau tari-tarian lainnya agar pengunjung tidak bosan,” tutur Edi.‬

‪Edi mengatakan, dengan memberikan warna di objek wisata ini, maka “Lava Tour Merapi” akan terus bisa hidup. Meski saat ini objek-objek wisata lainnya mulai tumbuh di Sleman.‬

‪Penggunaan kesenian adat seperti ini juga telah dilakukan di Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Pakem Sleman. Pada kegiatan tertentu pihak pengelola mengundang kesenian yang khas dari Sleman.‬

‪”Ini sekaligus menghidupkan kesenian tradisional. Setiap tahun selalu ada seperti keroncong atau jatilan dari Kaliurang,” kata Kepala UPT MGM, Suharno.