Minat Masyarakat Terhadap Seni dan Budaya Tinggi‬

Sleman – Kecintaan dan minat masyarakat Sleman  untuk melestarikan seni dan budaya dinilai cukup tinggi. Selain kelompok-kelompok kesenian dan budaya untuk tetap melestarikan, minat masyarakat untuk menyaksikan kegiatan tersebut juga cukup besar.‬

‪Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir  AA Ayu Laksmi Dewi TP MM, Senin (26/9) mengatakan minat masyarakat untuk menyaksikan kegiatan seni dan budaya cukup tinggi. Hal itu menjadi salah satu alasan Disbudpar sering menyelenggarakan event-event seni dan budaya.

Disebutkan event seperti Pelangi Budaya Merapi yang baru selesai dilaksanakan selama tiga hari Jumat-Minggu (23-25/9) di komplek lapangan Denggung dan lapangan Pemkab Sleman  juga bagian dari pembinaan kelompok-kelompok seni dan budaya yang ada di wilayah Sleman.

‪Kondisi tersebut, menurut Ayu, dapat dilihat dari  pelaksanaan Kirab Pelangi Budaya yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman tersebut, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan beragam pentas dan atraksi kesenian jathilan, orchestra serenade, tarian teatrikal, flashmop di Panggung KRT Pringgodiningrat.

“Meski diselingi hujan, antusiasme peserta dan masyarakat cukup tinggi menyaksikan parade tersebut,” kata Ayu.‬

‪Ditambahkan Ayu, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional masyarakat. Pasalnya potensi seni dan budaya di wilayah Sleman cukup besar berikut kreativitas masing-masing.

“Pentas kesenian dan budaya yang ditampilkan menyesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing wilayah. Mereka mampu mengemas penampilannya sesuai kreatifitas tiap-tiap kelompok,” tutur Ayu.




Pembangunan Pariwisata Hendaknya Terintegrasi dan Multisektor‬

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengatakan pembangunan pariwisata hendaknya dilakukan terintegrasi dan multisektor untuk menciptakan akselerasi yang seimbang.‬

‪”Baik wisata alam, pendidikan, budaya, olah raga maupun wisata minat khusus oleh seluruh pemangku kepentingan,” kata Sri Muslimatun, Senin (26/9).‬

‪Menurut Sri Muslimatun, upaya pengembangan ini dilakukan mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu sektor strategis, sebagai salah satu penopang pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sleman yang tumbuh cukup stabil dengan peningkatan rata-rata sebesar 5,28 persen dengan kondisi pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 4,72 persen.‬

‪”Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman pada 2015 mencapai wisatawan, yang terdiri wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara, atau meningkat 26,18 persen dari tahun sebelumnya dengan jumlah wisatawan,” katanya.‬

‪Dari angka statistik tersebut lanjut Sri Muslimatun, masih optimis dapat meningkat sebagaimana target kunjungan wisatawan 2016 Kabupaten Sleman sebesar wisatawan.‬

‪”Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inovasi dengan menciptakan event-event rutin, guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik nusantara maupun manca negara,” tuturnya.‬

‪Sri Muslimatun menambahkan upaya ini selaras dengan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan lama tinggal wisatawan di Kabupaten Sleman.‬

‪”Sleman merupakan kawasan yang strategis, memiliki berbagai `comparative advantage` dengan potensi kewilayahan yang menarik di berbagai sektor, yang telah didukung dengan ketersediaan tenaga kerja terampil dan terdidik, aksesibilitas yang memadai, serta ketersediaan prasarana dan sarana yang mendukung upaya pengembangan pariwisata berkesinambungan di Kabupaten Sleman,” katanya.




Semula Kawasan Kumuh, Sekarang Brajan Jadi Sentra Kerajinan Bambu

IMG_0686Sleman – Pada mulanya Dusun Brajan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman adalah kawasan yang kumuh dengan ekonomi masyarakat dibawah garis kemiskinan. Namun berkat kesadaran masyarakat untuk hidup lebih baik, Dusun Brajan menjadi Dusun yang berkembang terutama dalam hal kerajinan bambu.

Berkat kegigihan masyarakatnya untuk meningkatkan perekonomiannya Dusun Brajan telah dikukuhkan menjadi Sentra Industri Kerajinan Bambu oleh Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes,  Senin (26/9). Pengukuhan tersebut merupakan wujud komitmen Pemkab Sleman dalam pengembangan produksi kerajinan bambu menindaklanjuti Surat Keputusan Bupati Sleman No. 57 Tahun 2016 tentang Sentra Industri di Kabupaten Sleman Tahap II.

Sulisman selaku Ketua Kelompok Pengrajin Bambu Brajan menjelaskan bahwa Dusun Brajan mulai merintis menjadi sentra kerajinan bambu dimulai pada tahun 1991. Sebelum tahun 1990 awalnya Dusun Brajan merupakan kawasan kumuh dengan ekonomi masyarakat dibawah garis kemiskinan, hampir setiap rumah terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan jarang anak-anak muda yang bersekolah karena kekurangan biaya.

Keadaan tersebut menjadikan masyarakat Brajan harus memutar otak yang pada akhirnya dengan bekal kemampuan menganyam bambu mereka mulai memberanikan diri memproduksi kerajinan hingga sekarang.

“Dengan bambu tersebut lambat laun kehidupan ekonomi masyarakat Brajan meningkat yang akhirnya bisa bertahan dan menjadi sumber penghasilan warga hingga sekarang,” kata Sulisman.

Menurut Sulisman pada tahun 2004 Dusun Brajan dicanangkan menjadi Desa Wisata Cinderamata Kerajinan Bambu. Sempat vakum beberapa tahun baru pada tahun ke 5 dikelola dan dikembangkan lagi oleh warga masyarakat.

Saat ini di Dusun Brajan terdapat kurang lebih 120 pengrajin dan 8 pengepul produk kerajinan. Brajan juga menjadi tempat study wisata kerajinan dengan menyediakan homestay yang mampu menampung 50 orang.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sleman, Drs Pustopo menyampaikan bahwa tujuan pengukuhan sentra industri adalah untuk meningkatkan kompetensi sentra dalam kancah ekonomi global. Selain itu juga untuk meningkatkan peran serta kelembagaan sentra dalam pemberdayaan ekonomi melalui sentra industri kecil.

“Pada tahun 2015 Kabupaten Sleman mengukuhkan 10 sentra kerajinan, dan 2016 ini mengukuhkan 6 sentra termasuk Dusun Brajan,” jelas Pustopo.

Sementara Sri Muslimatun berharap dengan dikukuhkannya Dusun Brajan, Sendangagung, Minggir Kabupaten Sleman dapat meningkatkan dan pengembangkan potensi kerajinan bambu yang ada di  wilayah Brajan.

Muslimatun juga  mengajak seluruh pelaku industri, stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama memajukan potensi UKM yang ada di masing-masing wilayah. Salah satu caranya adalah dengan ikut menggunakan produk-produk tersebut, sehingga produk-produk UKM dapat menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Lebih lanjut Muslimatun menambahkan bahwa salah satu pelaku usaha yang memiliki eksistensi penting dalam pembangunan perekonomian daerah di Sleman adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Keberadaan UMKM, memiliki hubungan positip dalam program pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pada akhir tahun 2015 Kabupaten Sleman memiliki UKM,” kata Sri  Muslimatun.




Bupati Panen Perdana Cabai di Mlati

1044457_318383841887279_7301434520895394162_nSleman – Kelompok Tani Manggala Jodag Desa Sumberadi Kecamatan Mlati Sleman melakukan panen perdana cabai jenis Kecana dan Gorga, Senin (26/9). Panen perdana dilakukan oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI dan Kepala Dinas Pertanian DIY serta Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman, didampingi Camat Mlati.

Ketua Kelompok Tani Manunggal, Legio Jawab menyampaikan kelompoknya yang beranggotakan 35 orang mengelola sawah seluas 5 ha untuk ditanami cabai sejak 25 Juni 2016, memanfaatkan bantuan APBD Sleman berupa NPK Mutiara 6,25 ton, pupuk organik 32 ton, mulsa 61,5 rol, bibit 100 pak dan sujen 10 pak, plastik sungkup 5 rool pelubang mulsa 15 buah pupuk padat 20 pak, horman tanaman 10 liter, poliback kecil 150 pak, dan multivator.

Sampai saat ini telah dipanen 4 kali dan untuk panen pertama mendapatkan 5 kg per 1000 m2 dengan 1500 pohon, kedua 15 kg, ke tiga 20 kg dan ke empat 25 kg dan perkiraan panen mencapai 20 kali. Perkiraan 1 batang menghasilkan 0,8 ons cabai.

“Untuk pemasaran saat ini bekerjsama dengan Aspartan (Asosiasi Pasar Tani Sleman) dengan harga Rp 20 ribu dari harga pasaran saat ini Rp 10 ribu dan dikirim ke Pangkal Pinang Kalimantan perhari 2 kwintal,” kata Legio.

Sementara Sri Purnomo menyampaikan betapa menjanjikannya prospek pertanian di Sleman.

“inti keberhasilan petani adalah harus selalu berinovasi, membuat kelompok-kelompok, dan selalu berkomunikasi dengan daerah lain. Karena di Indonesia yang wilayahnya luas dengan beribu-ribu pulau, harga komoditas antar wilayah bisa berbeda jauh. Di Sleman bisa saja harganya murah tapi nanti begitu dibawa terbang ke luar pulau bisa sangat mahal,” kata Sri Purnomo.

Mengenai kurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani, lebih jauh Sri Purnomo meyakinkan kepada generasi muda bahwa pertanian bisa dijadikan profesi yang menghasilkan asalkan menjalaninya juga harus total. Apabila hanya dijadikan sambilan maka hasilnya juga tak akan seberapa.

Apalagi lanjut Sri Purnomo  dengan teknologi di era modern sekarang lebih mudah untuk memantau cuaca sehingga petani juga lebih mudah untuk mensiasati jenis tanaman apa yang cocok di musim-musim tertentu.

Sri Purnomo juga berpesan kepada para petani untuk tidak sekedar mengandalkan bantuan dari Pemerintah, tetapi bantuan yang diterima digunakan sebagai stimulan dan modal untuk diteruskan dalam kegiatan pertanian berikutnya. Walaupun nanti sudah tidak mendapat bantuan apabila memang menguntungkan bisa dilanjutkan dalam menanam cabai dengan modal sendiri.

Acara diakhiri dengan dialog antara para petani cabai se kabupaten Sleman dengan Bupati Sleman, Kepala Dinas Pertanian DIY dan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman.***




Kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi 2016, Sanggar “Kembang Sakura”

IMG_0603Sleman – Kontingen Sanggar “Kembang Sakura” terpilih sebagai Penyaji Terbaik 1 dalam Kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi 2016, yang diselenggarakan Minggu (25/9)  di Kompleks Pemkab Sleman. Kontingen ini mengungguli kontingen lain dengan nilai 1306 sehingga berhak atas hadiah sebesesar Rp 8 juta.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM, Minggu (25/9)  saat penutupan rangkaian Pelangi budaya Bumi Merapi 2016 di Panggung Lapangan Tenis Kompleks Pemkab Sleman.

Menyusul Penyaji Terbaik 2 Plumeria Jogja dengan nilai 1289 memperoleh hadiah Rp 6,5 juta, Penyaji Terbaik 3 RM Pringsewu dengan nilai 1288 memperoleh hadiah Rp 5 juta, Penyaji Terbaik 4 Sindu Kusuma Edupark (SKE) dengan nilai 1260 memperoleh hadiah Rp 4 juta, Penyaji Terbaik 5 Batik Parang Kaliurang dengan nilai 1257 memperoleh hadiah Rp 3,5 juta dan Penyaji Terbaik 6 SMAN 1 Seyegan dengan nilai 1244 memperoleh hadiah Rp 3,5 juta.

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan pemenang Festival Kesenian Sleman, yaitu Penyaji Terbaik 1 Grup Srandul “Manunggal Budaya” dari WukirsariCangkringan memperoleh hadiah sebesar Rp 4 juta, Penampil Terbaik 2 Grup Dhadungawuk “Ngudi Laras” dari Tlogoadi Mlati memperoleh Rp 3,5 juta, Penampil Terbaik 3 Grup Kethoprak Lesung “Wulucumbu” dari Kecamatan Gamping memperoleh Rp 2,5 juta.

Sedangkan, Penyaji Terbaik 4 Grup Kethoprak Ongkek “Bayu Tetuka” dari Pandowoharjo Sleman memperoleh Rp 2 juta, dan Penyaji Terbaik 5 Grup Kethoprak Lesung “Tunas Budaya” dari SelomartaniKalasan memperoleh Rp 2 juta.

Sedangkan untuk Festival Bregada Prajurit Tradisional sebagai Penyaji Terbaik 1 Bregodo Dandang Reksadari Sawahan Pandowoharjo Sleman dengan nilai 1036 memperoleh Rp 5 juta, Penyaji Terbaik 2 Bregodo Pawireng Sigenting dari Gentingan Sidoagung Godean, dengan nilai 1035 memperoleh Rp 4,5Juta, Penyaji Terbaik 3 Bregodo Sastro Wilogo dari Menulis Sumbersari Moyudan dengan nilai 1028 memperoleh Rp 4 Juta.

Dan, Penyaji Terbaik 4 Bregodo Bondo Kala dari Tirtomartani Kalasan, dengan nilai 1026 memperoleh Rp 3 juta, Penyaji Terbaik 5 Bregodo Wargo Upayadari Jelapah Sindumartani Ngemplak  dengan nilai 1012  memperoleh Rp 2 juta, dan Penyaji Terbaik 6 Bregada Kromodipo dari Sumberan Candibinangun Pakem dengan nilai 1011 memperoleh Rp 1,5 juta.

Dalam kesempatan tersebut sekaligus juga diumumkan kejuaraan Lomba Film Indie dan lomba Karya Tulis Kunjungan Museum. Untuk Lomba Film Indie dengan hasil Terbaik 1 dari SMKN 1 Godean judul karya “Nagarangsang” dengan nilai 810 memperoleh Rp 3 Juta, Terbaik 2 SMK BOPKRI 1 Yogjakarta, judul karya “Merapi”, dengan nilai 740 memperoleh Rp 2,5 Juta, dan Terbaik 3 SMKN 5 Yogjakarta, judul karya “Gareng Petruk” dengan nilai 730 dengan uang pembinaan Rp 2 Juta.

Lomba karya tulis kunjungan museum bagi siswa SMP dimenangkan Pandith Ilham Sofyan Syah dengan judul “Museum Pendidikan Indonesia”, Valda Sadina Istiazah dengan judul “Museum Gunungapi Merapi”, Galuh Ciptasari dengan karya “Museum Gunungapi Merapi”. Ketiganya berasal dari SMPN 2 Godean.