Paroki Gamping Juara Lomba Paduan Suara Gerejani

Sleman – Kelompok Paduan Suara Gereja Paroki Gamping keluar sebagai juara I dalam ajang lomba Paduan Suara Gerejani yang dilaksanakan  di Rumah Dinas Bupati Sleman, Sabtu, (17/12).

Sementara Juara II diraih Paroki Nandan Sariharjo Ngaglik, Juara III Paroki Kalasan. Untuk Juara Harapan I GKJ Rewulu, II GKJ Gejayan dan III GKJ Mlati. Paduan suara gerejani menurut Aji Wulantoro SH, selaku Ketua Panitia Natal 2016 Pemkab Sleman diikuti oleh 9 group, sebelumnya yang mendaftar ada 11 group.

Lomba ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Natal PNS, TNI, POLRI, BUMD di lingkungan Pemkab Sleman. Untuk kriteria penilaian meliputi materi, penampilan, olah vocal dan yang lebih penting lagi bagaimana membangun kebersamaan umat gerejani agar dengan semangat Natal bisa memaknai kelahiran Yesus sebagai utusan Allah yang membawa kedamaian bagi umat.

Dewan Yuri yang dihadirkan untuk menilai penampilan peserta lomba ada 3 yakni Dra Lilik Siswanto dan Drs Langgeng Sumujud Guru olah vocal SMM Jogja, serta Yulius Istarto, MSn Dosen music Universitas Satya Wacana Salatiga.




‪Kecamatan di Sleman Jadi Pusat Kebudayaan‬

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman memiliki kebijakan, yaitu seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman harus menjadi pusat kebudayaan dan kesenian.‬

‪”Kecamatan diposisikan sebagai tempat yang memberikan ruang gerak terhadap tetap terjaganya eksistensi serta tumbuh dan berkembangnya kebudayaan lokal yang berbasis pada nilai-nilai budaya masyarakat,” kata Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Kepala Disbudpar Sleman, Jumat (16/12).‬

‪Dijelaskan Ayu, kecamatan bukan hanya sebagai pelayan pemerintahan, tetapi harus menjadi pusat kebudayaan dan kesenian masyarakat.‬

‪”Camat bukan hanya melayani masyarakat saja, tetapi juga harus mampu mendorong tumbuh kembangnya seni dan budaya di wilayahnya,” kata Ayu.‬

‪Menurut Ayu, kebudayaaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.‬

Ada 7 aspek kebudayaan meliputi, bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, sistem organisasi sosial, sistem ilmu pengeyahuan, sistem religi dan kesenian.

‪Ayu mengatakan, potensi seni dan pariwisata di Kabupaten Sleman meliputi bangunan perjuangan sebanyak 33 unit, bangunan candi sebanyak 72 unit, bangunan situs 116, goa bersejarah tiga buah, makam bersejarah empat, dan rumah tradisional 414.‬

“Sedangkan untuk kelompok kesenian tercatat seni musik ada 850 kelompok, seni sastra yang meliputi teater macapat, geguritan dan sastra tutur ada 52 kelompok, drama tari seperti srandul, inkling, langen purbo, jeberjues, emprak dan dadung awukada 12 kelompok, wayang 31, lawak empat, ketoprak 45 dan sanggar seni rupa satu,” tambah Ayu.‬

‪Kemudian untuk kelompok wisata meliputi, wisata alam 4, wisata budaya 10, wisata agro empat, desa wisata 38, wisata pendidikan lima, wisata museum 13, wisata monumen 2, wisata candi 13 dan wisata sejarah 11.




Satpol PP Segel 6 Salon

Segel SalonSleman – Sebanyak enam salon dan spa salah satu kawasan ruko di Jl Gito Gati, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman disegel oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman dibantu jajaran Kepolisian dan TNI, Jumat (16/12).

Kepala Seksi Penegakan Perda Satpol PP Sleman, Rusdi Rais mengatakan bahwa penyegelan tersebut dilakukan karena pihak pengelola salon tidak mendapatkan izin gangguan sesuai Perda Kabupaten Sleman No. 5 tahun 2014.

“Kami sudah memberikan peringatan 3 kali, bahkan sudah ada yang disidangkan. Kami memberikan batas waktu terakhir tanggal 15 Desember, dan ternyata mereka telah menutupnya sehingga kami melakukan penyegelan saja,” ujar Rusdi.

Terkait izin Rusdi menegaskan pihaknya tidak akan mengeluarkan izin untuk usaha salon spa tersebut karena selain melanggar Perda juga diindikasikan telah disalahgunakan untuk praktek prostitusi.

“Beberapa waktu lalu di kawasan ini juga ada pengunjung yang meninggal dan ada temuan praktek prostitusi sehingga kami tidak akan memberikan izin,” tegasnya.

Sementara itu Kanit Sabhara Polsek Ngaglik Suradal Riyanto menjelaskan bahwa pihaknya telah berulang kali melakukan tipiring. “Meskipun sudah kami tipiring namun mereka tidak kapok,” ungkapnya.

Selain melakukan penyegelan, Satpol PP juga mencopot spanduk salon yang terpasang.




Sleman Kembangkan Batik Pewarna Alami

IMG_8581Sleman – Batik Indonesia telah ditetapkan  oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Kabupaten Sleman saat ini menjadi satu-satunya yang mengembangkan teknologi pembuatan pewarna alami tak hanya di Indonesia namun juga satu-satunya di Dunia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Prof Suratman selaku Wakil Rektor Universitas Gajah Mada Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dalam audiensi dengan Bupati Sleman terkait penelitian pewarna alami di Pemda Sleman, Kamis (15/12).

Dalam audiensi tersebut Suratman menyebutkan bahwa kerja sama Pusat Kajian Pewarna Alami UGM dengan  Pemerintah Kabupaten Sleman selain untuk meminta dukungan juga bertujuan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berwawasan lingkungan, dengan pemanfaatan Sumber Daya Alam/Sumber Daya Manusia daerah yang berkualitas tinggi sehingga mampu bersaing dengan produk dari luar negri.

“Hingga Januari 2015 Indonesia masih mengimpor pewarna sintetis untuk tekstil hingga ton perbulannya sekalipun penggunaan pewarna sintetis tekstil dalam kapasitas sangat besar sudah dilarang. Padahal Indonesia memiliki kemampuan penghasil pewarna alami blue indigo terbesar di pasar dunia dan pewarna alami memiliki manfaat yang baik untuk tubuh,” ungkap Suratman.

Sementara Bupati  Sleman, Drs H Sri Purnomo MKes  menanggapi bahwa Jogja sebagai kota yang terkenal dengan batiknya, dimana pasar batik di DIY memberikan kontribusi yang besar bagi pengusaha dan pengrajin batik.

Limbah sintetis dari pewarna batik juga tidak sesuai dengan Keputusan Bupati Sleman Nomor 17/ tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Bupati tentang tatakelola batik ramah lingkungan (eco batik) sehingga dibutuhkan keseriusan untuk mengembangkan pewarna alami yang ramah lingkungan.

Beberapa tantangan seperti kualitas dan kuantitas pewarna alami yang masih rendah hingga harga batik pewarna alami yang kurang bersaing di pasaran juga harusnya secepatnya dicarikan solusinya melalui penelitian  pada Pusat Kajian Pewarna LPPM UGM.

Apabila permasalahan seperti tersebut sudah teratasi maka pengusaha dan pengrajin batik yang menggunakan pewarna alami dapat meningkatkan pasaran produksinya dengan pewarna alami yang lebih berkualitas dan bervariasi. Sehingga hal ini mampu menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat itu sendiri.

“Dengan adanya kerja sama Pusat Kajian Pewarna Alami LPPM UGM dengan Pemerintah Sleman maka diharapkan hal-hal yang masih lemah dalam penelitian ini khususnya faktor teknologi dalam standarisasi kualitas pewarna alami dapat teratasi. Sehingga pada sisi kualitas pewarna alami sendiri dapat bersaing dengan pewarna sintetis,” jelas Sri Purnomo.

Edia Rahyuningsih selaku ketua koordinator  Pusat Kajian Pewarna Alami mengatakan bahwa dari sisi harga, batik pewarna alami juga mampu bersaing dengan batik pewarna sintetis.

“Sebenarnya harga dari batik pewarna alami ini tak kalah saing dengan batik pewarna sintetis yang mulai dari Rp 120 ribu, sementara batik pewarna alami mulai dari harga Rp 200 ribu yang tidak terpaut jauh dalam sisi harga yang masih terjangkau,” jelas Edia.

“Dibutuhkan sinergi dengan penelitian lainnya seperti riset motif, bahan dan juga pemasaran sehingga dapat menghasilkan produk komersial yang berkualitas dan dapat bersaing demi mewujudkan Sleman sebagai sentra batik pewarna alam tak hanya ditingkat nasional, melainkan hingga tingkat internasional dimana pada saat ini hanya Sleman yang baru mengembangkan teknologi pembuatan pewarna alami,” kata Edia.




Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi Gelar Kenduri

Menyiram JipSleman – Ada bermacam cara dilakukan masyarakat untuk mewujudkan rasa syukur atau nikmat yang diterima dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Seperti yang dilakukan Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) dalam mensyukuri nikmat dan rezeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan dengan  menggelar kenduri di Kali Kuning Pakem Sleman, Kamis (15/12). 

Kanduri diikuti oleh anggota AJWLM  yang jumlahnya mencapai 60 kelompok. Ke 60 kelompok anggota AJWLM tersebut tersebar di Kecamatan Pakem dan Cangkringan.

Maksud dari kenduri tersebut menurut Daldiri, ketua I  AJWLM adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas segala keberhasilan, keselamatan yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Disamping itu juga dengan kenduri tersebut diharapkan kedepan akan lebih memberikan keberhasilan bagi AJWLM maupun masyarakat di sekitar Pakem dan Cangkringan, terlebih dalam menghadapi liburan sekolah dan tahun baru tersebut.

Dan harapannya dengan kegiatan tersebut akan diberikan berkah dan rizki yang barokah, memberikan keselamatan bagi awak AJWLM maupun masyarakat /wisatawan. Disampaikan Daldiri bahwa anggota AJWLM yang jumlahnya 60 Komunitas tersebut memiliki armada 550-an kendaraan/Jeep.

Sedangkan paket dalam lava tour Merapi tersebut ada tiga paket, yaitu Paket Short dengan mengunjungi 4 titik antara lain  bekas padukuhan Petung korban erupsi Gunung Merapi, padukuhan Jambu yang terdapat batu Allien, untuk paket short dengan jarak tempuh  PP sekitar 30 Km dan lama tempuh sekitar 3 jam. Untuk paket Medium jarak tempuh PP sekitar 34 Km dan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3,5 jam  dengan mengunjungi 5 titik wisata.

Sementara untuk paket Long obyek yang dikunjungi lebih lengkap termasuk makam Mbah Marijan yang lokasinya di  Glagaharjo Cangkringan, jarak tempuhnya PP sekitar 40 Km dengan durasi waktu saekitar 4 jam.

Yang jelas tambah Daldiri wisatawan akan disuguhi dan menikmati indahnya susuran Kali Kuning dan bekas erupsi Merapi yang tersebar di wilayah Kecamatan Cangkringan.

“Wisatawan juga bisa belanja dan menikmati kuliner khas Pakem dan Cangkringan, pendeknya wisatawan akan dibuat puas dengan keramahan khas pedesaan,” kata Daldiri.

Sementara  Ketua II Bambang Sugeng menambahkan bahwa selama kegiatan wisata Lava tour tidak pernah terjadi kasus/insiden dan kedepan pelayanan kepada wisatawan akan terus ditingkatkan agar memberikan kepuasan pada wisatawan.

Disampaikan Bambang bahwa  wisata Lava tour yang menyusuri Kali Kuning dan bekas eruspi Merapi tersebut menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan yang tidak bisa dijumpai di tempat lain, bahkan kondisi bekas erupsi Merapi tidak bisa dijumpai di negara lain, mengingat Gunung Merapi mempunyai kekhasan tersendiri.

Terkait Kenduri di Kali Kuning tersebut Bambang menyampaikan bahwa kenduri diikuti oleh 60 Komunitas AJWLM dengan 60 tumpeng dan uba rampe lainnya, termasuk puluhan ingkung ayam dan jajan pasar. Dalam acara kenduri tersebut doa dipimpin oleh sesepuh setempat dan diikuti oleh semua komunitas.

Manariknya l usai kenduri tumpeng dan ubo rampe lainnya dimakan dan dinikmati bersama atau bisa disebut Kembul Bujono. Termasuk wisatawan yang saat itu berada di lokasi tersebut ikut berbaur dan  menikmati nasi tumpeng dan ubo rampe lainnya.

Salah satu wisatawan,Novarani  yang kebetulan mengunjungi dan berada di lokasi kenduri menyampaikan rasa puasnya bisa mengunjungi dan menikmati susuran Kali Kuning dan bekas eruspi Merapi di wilayah Cangkringan, dan kedepan akan mengunjungi obyek wisata tersebut karena terkesan dengan wisata tantangan dengan menyusuri sungai dan medan terjal dengan dengan mobil/Jeep terbuka, hingga bisa menikmati pemandangan yang indah Gunung Merapi.