Festival Ratu Boko Diharap Bisa Dongkrak Jumlah Wisatawan‬

14257641_1379046362110581_8420378831787248926_oSleman – PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman akan menyelenggarakan Festival Ratu Boko.

“Penyelenggaraan event budaya dan pariwisata merupakan salah satu strategi untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisata di Kabupaten Sleman,” kata Riki SP Siahaan, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko di Pemkab Sleman, Kamis (15/9).

Menurut Riki, penyelenggaraan Festival Ratu Boko yang kedua tahun 2016 ini diharapkan mampu mendongkrak jumlah wisatawan ke situs-situs bersejarah di Kabupaten Sleman. Agendanya akan digelar mulai 20 sampai 25 September 2016. Ditargetkan mampu menarik pengunjung sebanyak 10 ribu orang.

“Kami punya target dua ribu pengunjung per hari,” kata General Manager Pemasaran Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Emilia Eny Utari yang juga mendampingi Riki.

Target pengunjung Ratu Boko pada tahun ini sebanyak wisman. Dengan komposisi wisatawan Nusantara orang. Sementara target wisatawan Nusantara pada September 2016 ini sejumlah 21 ribu pengunjung, dengan wisatawan mancanegara orang.

‪Adapun tema yang diangkat pada festival kali ini adalah ‘Boko Tempo Dulu’. Selain menampilkan pertunjukkan musik dan kesenian tradisional dari berbagai seniman di Jogja, Festival Ratu Boko pun akan dimeriahkan oleh stan-stan usaha kecil menengah (UKM). Rencananya akan ada pula pameran kuliner tempo dulu yang menyuguhkan jajanan masa lalu. ‬

‪Menurut Emilia, Festival Ratu Boko akan dibuka mulai pukul  WIB sampai WIB. Sehingga pengunjung bisa menikmati malam di sana. Adapun waktu kunjungan utama Ratu Boko dimulai pada sore hari sampai tenggelamnya matahari.

“Boko itu eksotik. Apalagi saat sunset. Makanya yang berkunjung sekarang kebanyakan datang pada sore hari,” kata Emilia. ‬

‪Emilia menambahkan selain sebagai tempat wisata budaya dan sejarah, Ratu Boko juga cocok untuk dijadikan sebagai lokasi gathering. Karena suasananya yang nyaman dan pemandangannya yang cantik. Untuk menikmati eksotisme Festival Ratu Boko pengunjung hanya dibebani tiket masuk.‬ Tiket masuk untuk umum Rp 25 ribu dan untuk pelajar Rp .

‪Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM menyampaikan, Festival Ratu  Boko merupakan upaya kerja sama untuk meningkatkan jumlah wisatawan di Kabupaten Sleman. Selain agenda tersebut, Disbudpar juga terus menggalakan promosi wisata melalui media sosial.‬

‪”Kami terus memaksimalkan sarana teknologi untuk meningkatkan kunjungan ke Boko dan destinasi lainnya,” ujar Ayu.

Ayu juga berharap upaya-upaya tersebut membuat aktivitas pariwisata dapat semakin berkembang, hingga akhirnya mampu memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.




Tekan Kasus Kekerasan Pada Anak, Pemkab Sleman Gelar Deklarasi

Pembacaan DeklarasiSleman – Berbagai kasus kekerasan terhadap anak saat ini semakin marak bermunculan. Di Kabupaten Sleman sendiri pada tahun 2015 kasus kekerasan terhadap anak mencapai 157 kasus. Hal tersebut terntunya  menuntut perhatian lebih dari seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat.

Demikian diungkapkan Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes disela-sela Deklarasi Akhiri Kekerasan Pada Anak dalam rangka memperingati Hari Anak di Gedung Serbaguna Denggung Sleman, Kamis (15/9).

“Bukan jumlah yang sedikit, oleh karenanya kita memerlukan langkah konkrit dalam upaya menghentikan kasus kekerasan terhadap anak,” kata Sri Muslimatun.

Sri Muslimatun menjelaskan bahwa dalam upaya menuju Kabupaten Layak Anak berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman diantaranya melalui pembentukan Gugus Tugas KLA Kabupaten, Kecamatan, maupun desa, desa ramah anak, pembentukan satgas perlindungan perempuan dan anak ditingkat desa.

Serta, pencanangan sekolah ramah anak, pembentukan Forum Anak Sleman (Forans), pembentukan Forum Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (FPK2PA), pembentukan UPT. P2TP2A serta berbagai upaya lainnya.

Melalui deklarasi yang diselenggarakan oleh Badan KB,PM dan PP Kabupaten Sleman tersebut Sri Muslimatun berharap dapat menjadi media dalam menekan bahkan menghentikan kasus kekerasan terhadap anak di Sleman.

Menurut Sri Muslimatun deklarasi tersebut menjadi wujud keseriusan Pemkab Sleman dalam upaya pemenuhan hak-hak anak

“Selain itu saya berharap melalui deklarasi ini dapat menumbuhkan kesadaran berbagai unsur yang terlibat seperti jajaran sekolah, orangtua bahkan anak-anak itu sendiri untuk bersama lebih perduli terhadap kasus kekerasan pada anak. Mengingat kondisi terbebasnya anak dari tindak kekerasan dapat terwujud jika setiap unsur yang terlibat secara bersama dapat mengupayakannya,” tambah Sri Muslimatun.

Sementara Sekretaris Menteri Kementerian PPPA, Dr Wahyu Hartomo MSc, yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi  langkah Pemkab Sleman dalam penyelenggaraan deklarasi tersebut. Menurutnya kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen jajaran pemerintah dalam melindungi hak-hak anak.

“Di era yang semakin maju ini narkoba dan pornografi menjadi masalah serius. Hal tersebut tidak terlepas dari peran gadget yang dapat digunakan untuk akses informasi secara bebas. Saya berharap orangtua dapat meluangkan waktu untuk anak setidaknya 20 menit saja, selain mengontrol perkembangan anak juga menjaga kedekatan antar orangtua dan anak,” ungkapnya.

Kepala Badan KB,PM dan PP Kabupaten Sleman, dr Nurulhayah MKes menyampaikan bahwa tujuan diadakannya kegiatan deklarasi tersebut menurutnya untuk menumbuhkan kepedulian, kesadaran dan peran aktif setiap individu, keluarga, masyarakat, dunia usaha, pemerintah dan negara dalam menciptakan lingkungan yang berkualitas untuk mengakhiri kekerasan pada anak.

“Kegiatan ini dihadiri oleh 1600 anak-anak Sleman yang juga bertujuan untuk memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat dan anak,” kata Nurulhayah.

Deklarasi Akhiri Kekerasan Pada Anak ditandai dengan penandatanganan Komitmen dari Dewan, TNI-Polri, Pemkab Sleman yang diwakili oleh gugus tugas KLA dari unsur Perencanaan, Pendidikan, Kesehatan, Kependudukan, pemberdayaan dan Sosial, Kecamatan, Desa, PKK, dan Forum Anak Sleman, dalam acara tersebut.

Dalam kegiatan tersebut juga digelar permainan tradisional dari anak-anak di 17 Kecamatan dan sekolah ramah anak.




Kecanduan Pornografi Berbahaya bagi Anak

Melihat Permainan AnakSleman – Kecepatan komunikasi menjadi hal yang penting di zaman modern seperti sekarang ini. Untuk memenuhi kebutuhan itu, tidak jarang orangtua membekali anak dengan perangkat modern seperti gadget. Namun dari sudut pandang lain, kehadiran alat berteknologi canggih itu dapat menjadi bumerang. Tanpa pengawasan yang ketat, anak-anak justru bisa terjerumus dalam lembah pornografi.

“Kecanduan pornografi sangat berbahaya karena bisa merusak lima syaraf otak. Hal ini sudah dibuktikan dari penelitian di beberapa negara,” kata Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI,  Dr Wahyu Hartomo MSc, disela- sela menghadiri deklarasi akhiri kekerasan anak di Gedung Serbaguna Sleman, Kamis (15/9).

Karena itu, Wahyu menyarankan agar anak usia SD dan SMP sebaiknya diberikan ponsel yang sekedar berfungsi sebagai alat komunikasi. Penggunaan telepon genggam yang memiliki fitur canggih dikhawatirkan mendatangkan unsur pornografi, yang pada akhirnya sulit dicegah.

Pendampingan juga perlu dilakukan di sekolah oleh pihak guru. Semisal dengan mengeluarkan larangan siswa membawa ponsel ke sekolah agar bisa fokus belajar.

Wahyu menambahkan, selain pengawasan penggunaan gadget, antisipasi kekerasan terhadap anak juga dapat dilakukan lewat komunikasi yang intens dengan orangtua. Sesibuk apapun orang tua sebaiknya menyempatkan waktu minimal 20 menit untuk berkomunikasi dengan anak.

“Adanya deklarasi ini diharapkan angka kekerasan terhadap anak di Sleman dapat dikurangi. Apalagi secara nasional, datanya terus meningkat,” kata Wahyu.

Wahyu juga menegaskan, anak-anak merupakan investasi masa depan sehingga harus dijaga dan dipenuhi haknya terutama menyangkut pendidikan, dan kesehatan serta hak untuk bersuara. Anak-anak perlu diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang maju sebagai mitra orang dewasa.

Secara riil, upaya untuk mencegah kekerasan itu salah satunya dengan membentuk forum perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat. Masing-masing kabupaten ada dua desa yang ditunjuk sebagai percontohan.

Untuk Sleman yakni Desa Mororejo Tempel, dan Trihanggo Gamping.  Desa percontohan itu  akan diberi peralatan seperti laptop dan LCD guna mendukung upaya advokasi.




‪Wisata Candi di Perbukitan Prambanan Mulai Dikenal‬

IMG_20160914_142053 (1)Sleman – Sejumlah wisata candi yang terdapat di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman saat ini mulai dikenal dan dikunjungi masyarakat atau wisatawan.‬

‪”Event-event yang digelar di wilayah perbukitan Prambanan sedikit banyak turut membantu mempromosikan candi-candi di pelosok perbukitan Prambanan, sehingga saat ini mulai banyak dikenal,” kata Ketua Desa Wisata Sambirejo, Prambanan Sleman, Kholiq Widiyanto, Rabu (14/9).‬

Menurut Kholiq, beberapa candi di wilayah perbukitan Prambanan yang mulai terlihat meningkat kunjungannya, yaitu di Candi Ijo. Candi Barong, serta Candi Miri.‬

‪”Kunjungan ke candi-candi itu sekarang mulai banyak peminatnya,” kata Kholiq.‬

Di Candi Ijo, tingkat kunjungannya hampir seimbang dengan Taman Tebing Breksi. Wisatawan yang ke lokasi ini hanya mengeluarkan uang untuk karcis parkir saja.‬

‪”Kunjungannya tinggi, tapi fasilitas lahan parkir masih kurang luas,” katanya.‬

‪Kholiq mengatakan lokasi candi ini hanya berjarak sekitar 500 meter ke arah timur dari Taman Breksi. Kemudian di Candi Barong, jumlah wisatawan memang tak seperti di Ijo.‬

‪”Kalau di Candi Barong memang mulai ada peminatnya tapi masih tergolong sedikit,” tutur Kholiq.‬

‪Sementara di Candi Miri hanya orang-orang tertentu saja yang berkunjung. Karena kondisi medan jalannya yang masih rusak.‬ Kalau di Miri, wisata minat khusus, pengunjungnya belum terlalu banyak.‬ ‪Bergeliatnya wisata candi di pelosok perbukitan ini juga terlihat dengan semakin banyaknya event yang digelar.‬

‪”Banyak kegiatan dilakukan di komplek wisata perbukitan yang bertujuan juga sebagai  promosi candi. Ada Temple Run, Bike Night Heritage, Gatering Opel Blazzer, dan masih banyak lagi,” katanya.‬

‪Adanya peningkatan peminat ini diharapkan bisa semakin berpengaruh terhadap perekonomian warga setempat.‬

“Paling tidak, mulai banyak warung-warung makan ataupun tempat istirahat,” ungkap Kholiq.




Minat Baca Warga Sleman Meningkat

Bupati Sleman Kunjungi StandSleman – Minat baca masyarakat di Kabupaten Sleman terus mengalami peningkatan. Peningkatan minat baca tersebut merujuk pada jumlah kunjungan perpustakaan yang terus meningkat tiap tahunnya, yakni sebesar pengunjung pada tahun 2013, meningkat menjadi di tahun 2014 dan mengalami peningkatan lagi menjadi pengunjung pada tahun 2015.

Demikian diungkapkan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI Disela-sela Acara Gemilang Perpustakaan Dalam Rangka Memperingati Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung perpustakaan yang diadakan oleh Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, pada Rabu (14/9).

Menurut Sri Purnomo, perpustakaan yang represenatif dan didukung dengan koleksi buku yang lengkap, diharapkan akan memotivasi para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum untuk memanfaatkan perpustakaan yang ada di Sleman.

Saat ini terdapat 873 perpustakaan di Sleman, sedangkan koleksi buku yang dimiliki oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman hingga saat ini mencapai judul buku dengan jumlah sebanyak eksemplar.

”Pemanfaatan dan keberadaan perpustakaan perlu terus distimulasi karena menjadi salah satu sarana prasarana penunjang dalam peningkatan kualitas pendidikan,” tutur Sri Purnomo.

Sri Purnomo menambahkan bahwa untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di pelosok-pelosok daerah, Pemkab Sleman telah memiliki 5 armada keliling yang menjangkau 60 lokasi layanan.

Selain itu, terdapat juga kantong-kantong perpus­takaan yang dikelola oleh desa dan masyarakat setempat. Hingga saat ini Kabupaten Sleman memiliki kantong perpustakaan di 18 lokasi. Pemerintah Kabupaten Sleman juga membentuk rintisan desa gemar membaca di 8 lokasi.

”Keberadaan perpustakan desa inilah yang hendaknya dapat terus kita kembangkan baik melalui penataan manajemen pengelolaan perpustakaan desa, maupun melalui pencanangan berbagai inovasi yang tujuannya adalah tentu saja untuk menumbuhkembangkan minat baca serta mengoptimalkan keberadaan perpustakaan desa bagi kemajuan masyarakat setempat,” papar Sri Purnomo.

Sementara Kepala Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman, Dra Sri Hartati menyampaikan bahwa pencanangan bulan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan diharapakan dapat meningkatkan budaya gemar membaca bagi masyarakat.

Sri Hartati juga menjelaskan bahwa dalam upaya peningkatan gemar membaca dalam acara tersebut juga diadakan workshop dengan materi Kebijakan Pengembangan Budaya Gemar Membaca di DIY dan motivasi pengelolaan perpustakaan dan Budaya Gemar Membaca.

”Tujuan Acara Gemilang Perpustakaan ini adalah mensosialisasikan makna Hari Kunjung Perpustakaan dan memasyarakatkan perpustakaan agar budaya gemar membaca masyarakat semakin meningkat,” ungkap Sri Hartati.

Bupati Sleman juga menyerahkan langsung trophy, piagam, dan uang pembinaan pada 34 prestator dibidang lomba perpustakaan, minat baca, menulis, dan permainan tradisional.