Wakil Bupati Sleman Terima Plakat dari Menteri Pariwisata

IMG_8531041685790Sleman – Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes menerima plakat Sustainable Tourism Observatory (STO) dari Menteri Pariwisata Arif Yahya, Rabu (7/9) malam di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City Tangerang Banten. Serah terima plakat STO tersebut bersamaan dalam agenda Pembukaan PATA Travel Mart 2016.

Kabupaten Sleman merupakan salah satu dan satu-satunya dari DIY dari 20 destinasi wisata nasional yang ditetapkan sebagai pilot project program Sustainable Tourism Development yang merupakan kerjasama antara Global Sustainable Tourism Council dan Kementerian Pariwisata RI.

Sri Muslimatun mengungkapkan bahwa pendampingan program Sustainable Tourism Development (STD) di Kabupaten Sleman telah dilaksanakan oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka untuk menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Program ini merupakan upaya terpadu dan berkelanjutan terhadap praktek-praktek lingkungan secara preventif dan tehnik-tehnik untuk mencapai produktivitas proses, produk dan pelayanan untuk peningkatan efisiensi dan pengurangan resiko terhadap manusia dan lingkungan,” kata Sri Muslimatun.

Sementara tujuan program ini adalah untuk menciptakan produksi yang bersih dan efisien sumberdaya, sehingga akan dapat terwujud usaha pariwisata yang lebih baik, lingkungan yang lebih bersih dan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan. Dengan inisiasi program UNIDO ini diharapkan akan menumbuhkan budaya hemat dan bersih diberbagai sektor di Kabupaten Sleman.




Digagas, Wisata Edukasi Tetenger Merapi

Sleman – Tetenger erupsi Merapi di Dusun Bakalan, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan akan dikembangkan menjadi kawasan wisata edukasi. Untuk mencapai sasaran itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman telah menyiapkan rencana pengembangan lahan di sekitar lokasi tetenger.

“Kami akan upayakan membeli tanah di sekitar tetenger Merapi. Sekarang masih tahap negosiasi, jika semua proses sudah rampung akan segera dibangun area wisata edukasi,” kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Disbudpar Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi, Selasa (7/9).

Pengembangan ini terutama menyasar lahan yang terletak di sisi barat. Di area ini masih terdapat sejumlah rumah yang terkena lahar saat kejadian erupsi Merapi 2010. Bekas bangunan itu akan dijadikan destinasi wisata edukasi tentang mitigasi bencana erupsi. Kehadiran spot wisata ini juga  diharapkan bisa menjadi pengingat bagi warga sekitar maupun pengunjung dari luar daerah tentang kedahsyatan letusan Gunung Merapi.

“Luapan laharnya sampai ke daerah Bakalan yang jaraknya belasan kilometer dari puncak Merapi. Ini setidaknya menggambarkan betapa dahyatnya bencana itu sehingga di masa mendatang bisa dilakukan langkah antisipasi,” kata Evi panggilan Shafitri.

Meski demikian lanjutnya, sampai saat ini pihaknya belum dapat memastikan waktu penyelesaian tahap negosiasi pembelian tanah. Objek tetenger erupsi Merapi 2010 sebelumnya telah diserahterimakan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kepada Pemkab Sleman. Tujuannya untuk dijadikan wisata edukasi.

Sementara itu, Camat Cangkringan, Edy Harmana menilai perlu adanya intervensi pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata di wilayah lereng Merapi.

“Banyak potensi yang ada di daerah ini yang bisa dijual ke wisatawan, tidak cuma tetenger. Contohnya di lokasi dekat tetenger itu ada bekas jalur lahar panas yang masih alami dan belum tersentuh aktivitas penambangan,” tutur Edy.

Namun sayangnya, sisa material erupsi yang terletak di Dusun Bakalan itu belum tertata dengan baik. Karenanya perlu kerjasama lintas sektor termasuk dengan Disbudpar Sleman dan  BPPTKG Jogja.




DP2K Sosialisasikan Penanganan Hewan Kurban

Sleman – Hari Raya Idul Adha tinggal beberapa hari lagi, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DP2K) Kabupaten Sleman telah melakukan sosialisasi tentang tata cara penanganan hewan kurban.

“Dalam sosialisasi penanganan hewan kurban ini juga  melibatkan petugas dari Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Sleman terutama dari segi ilmu fiqih,” kata Kepala Bidang  Peternakan DP2K Sleman, Ir Suwandi Aziz, Selasa (6/9).

Menurut Suwandi Aziz, ‪setidaknya ada tiga aspek yang ditekankan dalam  sosialisasi yaitu pemilihan hewan kurban, cara merebahkan hewan dan penanganan daging. Untuk pemilihan hewan kurban, rata-rata masyarakat sudah memahami ciri hewan yang layak hewan kurban.‬

‪Dikatakan Suwandi Aziz, biasanya yang antusias ditanyakan itu tentang cara merebahkan hewan yang akan disembelih. Lokasi penyembelihan  juga harus diperhatikan. Sebab berdasarkan pengalaman alas yang digunakan kurang memenuhi syarat. Karena hanya ditempatkan di tanah atau daun pisang saja.
Karena itu kepada masyarakat

‪disarankan menggunakan plastik transparan sebagai alas saat menanganan daging kurban. Untuk petugas juga disarankan mengenakan masker. Karena selama ini, beberapa dari mereka yang sambil merokok. Bahkan tetap mengenakan alas kakinya.

“Meski sederhana, namun tindakan tersebut membuat daging kurban menjadi kurang higienis,” kata Suwandi Aziz.‬

‪Sementara untuk masyarakat yang ternyata memiliki penyakit TBC lanjutnya, disarankan tidak mendekat di sekitar tempat penyembelihan. Bahkan lokasi penanganan daging, karena sangat rentan terjadi penularan. Untuk petugas yang sedang flu atau batuk, masih boleh. Asal mengenakan masker.

Sementara menurut Kepala Seksi Kesehatan Hewan Bidang Peternakan DP2K, Drh Nanang Danardono dalam sosialisasi petugas dari DP2K fokus pada tata cara penanganan daging kurban. Sedang petugas yang dari Kemenag  fokus menjelaskan dari ilmu fiqih. Karena kurban itu tidak sebatas menyembelih hewan saja. Tetapi ada manfaat lebih, terutama dari segi agama.

“Harapannya tentu agar proses penyembelihannya sesuai dengan syariat. Mengingat Idul Adha merupakan salah satu peringatan hari besar agama,” kata Nanang.




Sleman Mantapkan Ketahanan Pangan Masyarakat‬

Sleman – Pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Sleman diupayakan untuk terus mampu memantapkan ketahanan pangan masyarakat.‬

‪”Bahkan upaya tersebut juga diupayakan agar tetap mampu mewujudkan surplus pangan, baik bahan pangan nabati maupun hewani,” kata Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes di Sleman, Senin (5/9).

Menurut Sri Muslimatun  pada tahun 2015 produksi padi sawah di Sleman meningkat dari 314 ribu ton menjadi 328 ribu ton atau naik 4,54 persen dibandingkan dengan pada 2014.‬

‪”Produksi tersebut dapat menghasilkan beras 207 ribu ton meningkat dari 198 ribu ton bila dibandingkan produksi 2014,” katanya.‬

Ia mengatakan surplus beras juga mengalami kenaikan, yaitu dari 108 ribu ton lebih pada 2014 menjadi 115 ribu ton lebih pada 2015 atau naik 6,65 persen.‬ Sementara ketersediaan bahan pangan pokok di Kabupaten Sleman mengalami surplus. Hingga Mei 2016, data kelebihan beras mencapai ton.‬

‪Selain beras, sejumlah komoditi lain juga tercatat surplus diantaranya kacang tanah sebesar ton, dan cabe merah ton. Kondisi surplus juga dijumpai pada komoditi daging sapi sebesar 417 ton, daging ayam ton, dan telur ayam ton.‬

Untuk, cadangan pangan pemerintah daerah hingga Mei 2016 mencapai ton beras, dan cadangan pangan masyarakat sebanyak 112 ton gabah kering giling.

Adapun sasaran luas panen padi sepanjang Oktober 2015-Maret 2016 tercatat sebesar hektar, sedangkan bulan April-September 2016 seluas hektar.‬ Sehingga, total luasan pada periode musim tanam tahun ini sebesar hektar.




Taman Tebing Breksi Butuh Transportasi Khusus‬

Sleman – Destinasi wisata Taman Tebing Breksi di perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman, membutuhkan tersedianya sarana transportasi khusus bagi wisatawan yang tidak menggunakan kendaraan pribadi.‬

‪”Kunjungan wisatawan ke Taman Tebing Breksi saat ini semakin ramai, sehingga perlu ada angkutan khusus bagi wisatawan yang tidak menggunakan kendaraan pribadi,” kata Pengelola Taman Tebing Breksi yang juga Ketua Desa Wisata Sambirejo, Prambanan, Kholiq Widiyanto, Senin (9/5).‬

‪Biasanya kata Kholiq wisatawan ini menggunakan jasa ojek sepeda motor dari kawasan wisata Candi Prambanan.‬

‪Menurut dia, tidak adanya transportasi ini sering terjadi pelaku wisata di Taman Tebing Breksi terkadang harus kerja dua kali melayani wisatawannya.‬

‪”Selain bertugas di objek wisata Taman Tebing Breksi, pengelola juga harus mengantar pengunjung kembali ke Prambanan, yang sebelumnya datang memakai ojek. Pengunjung mayoritas memakai kendaraan pribadi. Sebagian kecil, mereka memakai jasa ojek,” katanya.‬

‪Kholiq mengatakan, ketika ada wisatawan seperti itu, biasanya tukang ojek diminta untuk pulang lebih dahulu. Kemudian, wisatawannya meminta ke pengelola wisata untuk diantar, selepas menikmati Taman Tebing Breksi.‬

‪Kalau tukang ojeknya diminta untuk nunggu tarifnya lebih besar nanti. Jadi minta pengelola untuk mengantar. Biasanya minta diantar ke objek wisata sekitar, misal seperti Rumah Dome, Batu Papal, Candi Ijo, dan Arca Gupala. Setelah ke beberapa lokasi itu, baru meminta untuk diantar ke Prambanan tempat awal keberangkatannya.

‪Kholiq mengatakan, hal tersebut memang menjadi tambahan pemasukan bagi pengelola yang mendapatkan order seperti itu. Namun, pelayanan di objek wisata jadi tidak maksimal ketika pengunjung sedang ramai. Apalagi saat di akhir pekan atau hari libur.‬

‪”Pengunjung bisa mencapai lebih dari dua ribu orang. Kalau pas ramai, kami juga harus kerja sama dengan rumah warga sekitar. Untuk dijadikan sebagai kantong-kantong parkir,” katanya.‬

‪Kholiq mengatakan, pihaknya lebih berharap pada pemerintah daerah setempat, agar ada transportasi khusus wisata yang bisa diakses oleh wisatawan untuk berkunjung ke Taman Tebing Breksi.‬

‪”Adanya layanan tersebut juga tidak akan merugi karena objek wisata di Sambirejo, mulai banyak peminatnya. Sekaligus nanti bisa mengurangi pemakai kendaraan pribadi yang datang ke sini. Sekarang ini, sepeda motor dan sepuluh mobil, sudah penuh di tempat parkir,” katanya.