Keseruan Beternak dan Berkebun di Agrowisata Bumi Merapi

Sleman – Banyak cara dilakukan untuk refreshing mengisi waktu liburan dari rutinitas kerja maupun libur sekolah. Sebagian besar orangtua memilih mengajak anaknya untuk mengunjungi lokasi wisata. 

Salah satu tempat wisata yang dapat dikunjungi untuk refreshing atau mengisi waktu liburan adalah Agrowisata Bumi Merapi. Wisata edukasi yang terletak di Jalan Kaliurang Km 20, Hargobinagun Pakem, Sleman ini akan mengajak pengunjung, terutama anak-anak mempelajari potensi wisata alam berupa peternakan dan perkebunan.

“Ada beberapa wahana yang ditawarkan dalam Agrowisata Bumi Merapi yang menempati arela seluas 6,3 hektar,” kata Deni Purniawan dari Bagian Pemasaran Agrowisata Bumi Merapi ketika menerima kunjungan dari Dinas Pariwisata DIY, Minggu (4/9)4.

Wahana yang ditawarkan antara lain wahana kambing PE, wahana hidroponik, wahana biogas, wahana taman reptil, wahana taman kelinci, kemah keluarga dan kemah sekolah.

“Selama ini para pengunjung Agrowisata Bumi Merapi selain dari kalangan keluarga, kebanyakan dari sekolah-sekolah. Anak-anak akan senang ketika berinteraksi langsung dengan kambing dan kelinci,” kata Deni.

Di agrowisata ini, peternakan dikelola secara terpadu yaitu sistem peternakannya dengan ragam pengolahan yang terpadu, seperti pengolahan pakan yang dibuat sendiri hingga pengolahan limbah ternak yang dijadikan sebagai bahan gas alternatif, yakni biogas. Sehingga semua yang terkait dengan peternakan semua tidak ada yang terbuang secara percuma.

Untuk masuk lokasi kalau hanya sekedar berkeliling lokasi dipungut retribusi Rp 10 ribu, dan kalau ingin didampingi guide retribusinya Rp 25 ribu. Didampingi  guide pengunjung dapat berkeliling melihat koleksi hewan ternak yang ada. Pengunjung akan dibuat gemas melihat kelucuan-kelucuan kelinci yang berada dalam kandang yang tersusun rapi dan bersih.

Selain kelinci, beragam jenis kambing juga turut menambah wawasan pengunjung tentang hewan ternak. Di samping peternakan di sini juga dibudidayakan aneka jenis tanaman herbal maupun tanaman hidroponik.

Para pengunjung yang datang, lanjut Deni biasanya adalah rombongan pelajar maupun keluarga. Biasanya para pelajar yang datang akan diajak untuk berkebun dan berternak. Di lokasi ini, pengelola juga menyediakan lahan khusus untuk berkemah.

Hewan ternak yang ada dan dijadikan salah satu keunggulan wisata ini antara lain puluhan ekor kambing PE dan puluhan ekor kelinci dari 16 jenis kelinci. Sementara untuk taman reptil yang menjadi unggulan adalan ular phiton sepanjang 7 meter, ada kura-kura, iguana, biawak dan lainnya.




Ratusan Petugas Disiapkan Untuk Mengawasi Hewan Kurban‬

sapiSleman – Menjelang hari raya Idul Adha 1437 Hijriyah, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman saat ini telah menyiapkan ratusan petugas pengawas hewan kurban.‬

‪Kepala Bidang Peternakan DPPK Kabupaten Sleman, Ir Suwandi Aziz mengatakan, pengawasan sudah dimulai dilakukan di pasar-pasar hewan yang banyak menjual hewan kurban.‬

‪”Kami juga memberikan sosialisasi bagi masyarakat dalam proses pemotongan hewan,” kata Suwandi Aziz.‬

‪Menurut Suwandi Aziz, masih ditemukan masyarakat kurang teliti dalam menjaga kebersihan hewan yang akan disembelih untuk kurban.‬

‪”Petugas pemantau pemotongan hewan kurban yang diterjunkan ke lapangan berjumlah 140 orang, ditambah relawan sebanyak 20 orang,” katanya.‬

‪Suwandi menambahkan, pengawasan kurban juga akan dibantu oleh mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM.‬

‪”Panitia kurban harus memperhatikan proses cara pemilihan hewan, merebahkan hewan, dan penanganan daging hewan kurban. Sebab masih ada panitia kurban yang kurang teliti dalam menjaga kebersihan proses penyembelihan,” tutur Suwandi.‬

‪Suwandi mengatakan, kebiasan merokok dan tidak menggunakan alas yang bersih saat mengurus daging hewan kurban masih sering ditemukan.‬

‪”Guna memberikan keterampilan yang lebih baik, kami memberikan pelatihan khusus bagi panitia kurban dan takmir masjid di Kabupaten Sleman,” katanya.

‪Sementara menurut Kasi Kesehatan Hewan Bidang Peternakan DPPK Sleman, Nanang Danardono, upaya ini dilakukan agar daging hewan kurban yang beredar di masyarakat terbebas dari penyakit.

“Pengawasan ketat harus dilakukan berdasarkan pada kurban tahun lalu, dari sapi yang disembelih pada Idul Adha tahun lalu, sembilan persen di antaranya terindikasi berpenyakit cacing hati,” kata Nanang.‬

‪Kasus cacing hati pada domba dan kambing masing-masing sebanyak 0,2 persen, dari penyembelihan domba dan kambing ekor.‬ Nanang menambahkan, temuan cacing hati pada hewan kurban sembelihan tersebar di 17 Kecamatan secara merata.

‪”Bila ditemukan saat disembelih, maka daging hewan masih bisa dikonsumsi. Tinggal hatinya saja yang dibuang, karena hanya bagian itu yang rusak,” katanya.




Kemah Budaya Dekatkan Generasi Muda Dengan Budaya Lokal

Sleman – Bupati Sleman menyambut baik penyelenggaraan kegiatan kemah budaya yang diselenggarakan di Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi Sleman, disamping untuk lebih mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda, kegiatan tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk menambah wawasan tentang potensi yang dimiliki oleh daerahnya.

Bupati Sleman menyampaikan hal tersebut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes ketika membuka Kemah Budaya di desa Wisata Pulesari Turi, Jumat (2/9). Disampaikan Bupati bahwa  menumbuhkan rasa cinta dan handarbeni terhadap budaya dan potensi lokal yang kita dimiliki merupakan tanggungjawab kita bersama.

Dan kegiatan Kemah Budaya ini merupakan salah satu wujud nyata dari langkah strategis yang ditempuh membentuk generasi muda Sleman yang tau, mengerti, mencintai dan merasa handarbeni atas asset-asset budaya yang adiluhur maupun potensi yang dimiliki Kabupaten Sleman.

“Yang jelas pada era global saat  ini, kehidupan sebagian warga masyarakat khususnya generasi muda mulai jauh dari nilai-nilai budaya kita sendiri,” kata Sri Muslimatun yang membacakan sambutan Bupati.

Pola hidup gotong royong dan tepo seliro yang dulu merupakan pola hidup nenek moyang, pada saat ini cenderung berpola hidup individualistis. Pola hidup gotong royong tidak hanya diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dalam pembangunan fisik semata. Semangat gotong royong juga dapat diaplikasikan dalam setiap peristiwa sosial kemasyarakatan yang membutuhkan penyelesaian secara bersama-sama.

Dan kearifan lokal tepo seliro tidak hanya diartikan sebagai tenggang rasa saja, tetapi lebih dimaknai sebagai  rasa empati yang mampu membangun konektifitas satu dengan yang lain hingga menumbuhkan rasa kebersamaan yang universal. Dengan demikian dinamisnya sosok jiwa muda akan lebih terarah pada perilaku-perilaku yang positif dan konstruktif.

Pada kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga mengajak peserta kemah budaya untuk memanfaatkan kemah budaya tersebut de­ngan sebaik-baiknya, untuk kembali mengaplikasikan nilai-nilai budaya lokal da­lam kehi­dupan sehari-hari, serta mengenal potensi-potensi yang dimiliki.

Sedangkan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Dra  Endah Sri Widiastuti menyampaikan bahwa kemah budaya tersebut bertujuan sebagai ajang silaturahmi generasi muda khususnya siswaa SMA/SMK di Kabupaten Sleman, serta untuk menimbulkan sikap saling asih, asah dan asuh dan semangat persatuan dan kesatuan bagi para siswa, juga saebagaai pemahaaman nilai budaya.




Sleman Waspadai KLB DBD dan Virus Zika‬

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman sudah mengeluarkan surat edaran Sleman untuk mewaspadai terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) dan virus zika. Kedua penyakit itu disebabkan dari nyamuk yang sama, yakni aedes aegepty. Apalagi sekarang ini jumlah penderita DBD di Sleman terus meningkat dibandingkan tahun lalu.‬

‪Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes mengatakan, jumlah kasus DBD di Sleman hingga awal September ini sudah mencapai 611 penderita. Sementara tahun 2015 lalu  hanya mencapai 520 penderita.

“Dengan adanya peningkatan kasus DBD tersebut, Sleman perlu mewaspadai KLB DBD dan virus zika,” kata Linda di Sleman, Jumat (2/9).‬

‪Guna mengantisipasi kasus DBD dan virus zika, Pemkab Sleman melalui Dinas Kesehatan sudah membuat Surat edaran sejak beberapa waktu yang lalu.

“Apalagi sekarang ini sudah ada negara yang positif terkena virus zika. Sehingga kami meminta kepada masyarakat untuk waspada KLB DBD dan virus zika karena penyebabnya sama dari nyamuk aedes aegepty, ” kata Linda.

Untuk memberantas sarang nyamuk, Dinas Kesehatan Sleman setiap Jumat mengadakan kegiatan monitoring jentik. ‪Dan Jumat (2/9)  kegiatan pemantauan jentik dilakukan oleh Dinas Kesehatan, petugas Puskesmas Godean I dan satgas kader kesehatan andalan cilik (kancil) Puskesmas Godean I di Kragilan Sidoluhur Godean. Hasil pemantauan tersebut, angka bebas jentik 87, 15 persen, sedangkan idealnya 95 persen.‬

Ditambahkan Linda dalam rangka mencegah mencegah DBD dan virus zika adalah pemberian informasi yang benar tentang penyakit DBD dan virus zika. Khusus penyakit zika, petugas dari Dinas Kesehatan juga memberikan informasi tentang cara penularan, kelompok beresiko dan cara pencegahan penularan.




Sleman Tanam Pohon Buah Bersama ANZI di Cangkringan

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes bersama ANZI Pacific Forum VI dan Lions Clubs mengadakan penanaman 1000 pohon buah (Tree Planting) di Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan Sleman, Jumat (2/9). Pohon buah yang ditanam antara lain Manggis, Mangga Manalagi, Durian, Pala, Jambu Bol ditanam dalam acara tersebut. 

Kegiatan penanaman pohon yang mengangkat tema ‘Protect Our Environmet” tersebut,  dikatakan Ketua Panitia Tree Planting, Jono Koesmo merupakan rangkaian kegiatan ANZI dan Lions Club bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam upaya pelestarian lingkungan.

Acara tersebut menurut Jono juga  dihadiri perwakilan dari berbagai negara seperti Australia, New Zealand, India, Jepang, Indonesia, Malaysia, dan Amerika. Selain sebagai kegiatan pelestarian lingkungan, Jono menjelaskan bahwa dengan kegiatan  yang menghadirkan perwakilan dari negara asing tersebut diharapkan dapat menarik wisatawan mancanegara berkunjung ke Sleman.

“Jogja khususnya Sleman memiliki potensi wisata yang besar, kami berharap kegiatan ini juga dapat menarik minat wisatawan mancanegar,” kata Jono.

Sementara Sri Muslimatun menyampaikan bahwa sebagai Kabupaten yang terletak di bagian hulu, Kabupaten Sleman menjadi kawasan konservasi air bagi Kabupaten-Kabupaten setelahnya. Kualitas lingkungan hidup Kabupaten Sleman tidak hanya berdampak langsung bagi kualitas kehidupan Kabupaten Sleman sendiri namun juga berdampak bagi Kabupaten-kabupaten lainnya.

Untuk itu, Pemkab Sleman beserta seluruh komponen masyarakat memiliki tanggungjawab untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup secara keseluruhan.

Sri Muslimatun juga menyambut baik terlaksananya kegiatan ini, yang tentunya akan menjadi daya dukung bagi terwujudnya kelestarian alam dan lingkungan hidup di Kecamatan Cangkringan. Menurutnya melalui kegiatan penanaman pohon ini, maka fungsi pohon sebagai penahan laju air akan berimplikasi terhadap kuantitas air tanah yang dihasilkan, sehingga keberadaannya akan meningkatkan cadangan air tanah.

Disamping itu, manfaat secara ekologis, yakni dapat menjaga dan mempertahankan kesuburan tanah, karena air hujan tidak langsung jatuh ke tanah dan menggerus bagian tanah yang subur. Selain itu keberadaannya juga dapat berfungsi dalam pelestarian keanekaragaman hayati.

Sri Muslimatun juga berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Sleman khususnya di Kecamatan Cangkringan.

Ditambahkan Sri Muslimatun,  Kabupaten Sleman terbuka untuk kegiatan CSR lainnya, seperti bedah rumah sebagai upaya meminimalisir kemiskinan di Kabupaten Sleman, konservasi lingkungan melalui pelepasan bibit ikan, dan lainnya.